Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Sialan!


__ADS_3

Barusan Bunda meneleponku.


Bunda cerita kalau kamu sudah datang dan memperkenalkan diri.


Dan aku sudah mengatakan semuanya pada Bunda.


Bunda juga merestui asal... (nanti kita obrolkan).


Terima kasih karena kamu sudah membuka jalan itu sendiri.


Lalu kutekan opsi kirim.


Aku tidak mendapatkan balasan pesan atau telepon dari Reza selama beberapa jam, sampai cahaya matahari sudah digantikan dengan cahaya bulan. Dia baru meneleponku jam setengah delapan malam, dan menjelaskan padaku dia baru sampai rumah setelah magrib, Reza bercerita kalau dia pulang-pergi dengan KRL. Masih capek katanya kalau harus menyetir sendiri.


Salah sendiri. "Aku tidak memintamu mengantar paket itu langsung. Kan bisa lewat jasa pengiriman," kataku.


"Sebelumnya aku mengira kalau Bunda itu masih di Palembang. Eh, ternyata sudah pindah ke Jakarta. Ya apa salahnya kalau aku antar sendiri? Aku merasa ada kesempatan di situ, kesempatan untuk mengenal keluargamu lebih cepat. Tidak salah, kan? Ya... aku tahu kalau sebenarnya kamu itu bingung untuk memulai hubungan ini, kamu bingung bagaimana bercerita ke Bunda, kamu bingung kapan kamu bisa mempertemukan aku dengan Bunda. Dan kebingungan-kebingungan lainnya, ya kan?"


Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf untuk semua itu. Reza pun mengatakan kalau dia mengerti. Aku memang payah, pikirku. Tapi mana tahu, mungkin di luar sana masih banyak orang-orang payah sepertiku, orang-orang yang sudah masuk kategori dewasa tapi serba canggung ketika pertama kali jatuh cinta. Tidak mungkin kalau aku satu-satunya makhluk aneh di dunia ini.


Ah, itu tidaklah penting. Karena yang penting: aku mesti bertanya pada Reza apa yang dipesankan oleh ibuku tentang silsilah keluarga. Dan... hmm... dia malah meminta ibunya untuk menjelaskan semua itu kepadaku. Ibunya menjelaskan kalau dari pihak ibunya, mereka tidak punya siapa-siapa, seperti yang dijelaskan Reza waktu itu kalau ibunya dari panti asuhan. Sedangkan dari pihak ayah kandungnya, ayahnya dan kedua orang tua ayahnya adalah anak tunggal, kakek buyutnya juga anak tunggal, sedangkan dari nenek buyutnya punya beberapa saudara yang semuanya perempuan. Tapi ibunya sudah tidak pernah berhubungan dengan mereka semua semenjak perceraiannya dengan ayah kandung Reza dua puluh satu tahun silam. Dan sekalian aku bertanya apakah mereka bisa menerimaku dengan segala hal-hal yang ada dan segala yang terjadi dalam keluargaku. Tentu ujar ibunya, karena menurutnya semua itu bukanlah kesalahanku sebagai anak, dan tidak ada hubungannya denganku.


"Jadi, intinya Ibu sudah merestui, Bunda juga sudah merestui. So, bagaimana?" tanya Reza. Belum sempat aku menjawab, dia sudah mengatakan, "Tidak usah dijawab, ding. Nanti saja kalau kita sudah bertemu. Aku mau melihat langsung ekspresimu waktu kamu bilang iya."


Hah! Aku tergelak. "Percaya diri sekali. Kamu yakin aku akan menjawab iya?"


"Yakin. Kamu tidak akan mungkin bilang tidak," ujarnya dengan percaya diri. "Kalaupun ada sesuatu yang menjadi penghalang, setidaknya kamu ingat kalau aku sudah berjuang untukmu, sudah berusaha sendiri untuk mendapatkan restu seperti yang kamu mau. Tapi seperti yang pernah kukatakan, aku tidak akan pernah memaksa."


Mendengar kalimat itu aku jadi termenung. Kami seperti sedang berperahu di atas air yang tenang. Akan tetap di tempat jika Reza tidak berusaha mendayungnya. Sementara aku hanya duduk diam, membiarkan dia membawaku ke tempat yang ia tuju. Sempat terbesit dalam benakku bagaimana jika dia meninggalkan aku sendiri bahkan sebelum kami mencapai dermaga?


Tidak, tidak, tidak. Aku berusaha meyakinkan hatiku kalau Reza akan mewujudkan pernikahan itu, pernikahan yang sederhana di tepi pantai, kemudian kami akan tinggal di bawah atap yang sama, dan aku punya keinginan yang ingin kupraktikkan, seperti kisah cinta di dalam novel: bercinta di bawah bintang-bintang dan menikmati cokelat cair di tubuh satu sama lain. Dan masih banyak keinginan-keinginan lain seperti yang selalu kucatat dalam buku notesku. Bersama Reza Dinata, aku seperti menemukan jalan untuk bisa mencapai segalanya.


Aku berdeham. "Mas," panggilku dalam sambungan telepon itu. Aku merasa benar-benar payah, aku masih canggung memanggilnya mas.


"Emm?"


"Kamu bisa bermain gitar?"


"Bisa, sedikit," katanya.


"Oh, bagus."

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


Kukatakan padanya kalau aku kepingin melihat dia bernyanyi sambil bermain gitar di tepi pantai.


"Itu saja? Ada keinginan lain?"


"Tidak ada," sahutku.


"Bagaimana dengan tulisanmu?" tanyanya.


"Emm... ya begitu. Baru beberapa bab pertama. Aku tidak mendapatkan inspirasi dalam seminggu ini."


Reza terkekeh. "Pasti karena waktu dan pikiranmu tersita olehku, ya kan? Kalau benar begitu, berhenti dulu memikirkan aku, kamu boleh kembali ke dunia khayalanmu. Tenang saja, aku akan selalu memberikanmu ruang."


Setelah itu dia meminta alamat lengkap tempat kost-ku, karyawannya mau mengantarkan pakaianku yang tertinggal di sana tempo hari. Kukatakan padanya itu tidak perlu, biar besok aku sendiri yang ke sana untuk mengambilnya. Lagipula setelah kepulangan Reza ke Bogor, aku belum pergi ke mana-mana, dan tidak tahu mau pergi ke mana. Setidaknya aku punya alasan dan tujuan ke mana aku akan pergi, sekadar jalan-jalan atau cuci mata.


Siang itu, setelah aku menelepon ibuku dan menceritakan tentang silsilah keluarga Reza, aku langsung pergi ke Dinata Resto. Sesampainya aku di sana, kepala pelayan mengambilkan daftar menu dan langsung mempersilakan aku duduk. Ia memerintahkan karyawan lain untuk mengambilkan barang-barangku dan membawakannya padaku. Selagi menunggu pesananku, aku pergi ke toilet sebentar. Sebenarnya aku tidak terbiasa ke toilet umum, tapi hari itu aku terlalu banyak minum sehingga menyebabkan aku butuh ke toilet.


Waktu aku hendak kembali ke meja, aku mendengar suara asing yang tidak pernah kukenal.


"Inara?" kata orang itu.


Ayahku.


Dia kelihatan lebih tua daripada yang pernah kubayangkan, terutama karena rambut hitamnya yang lebat itu sudah banyak ubannya, tetapi fisiknya masih lumayan bagus. Ayahku laki-laki yang tampan, dengan tinggi badan lebih dari seratus delapan puluh senti, berkulit putih dan berlesung pipi.


Dia bersama seorang perempuan usia empat puluhan, dan seorang lelaki muda sebaya denganku, yang menurut tebakanku perempuan itu antara pacarnya atau klien yang minta diuruskan perpisahan dengan suaminya. Itu bukan selingkuhan-selingkuhan ayahku yang dulu merusak rumah tangga kedua orang tuaku, wanita itu bukan Yanti, juga bukan Rhea, karena keduanya pasti sudah setua ayahku, sebab aku tahu umur mereka tidak terpaut jauh dengan ayahku. Tapi terserahlah siapa pun dia.


"Inara? Sayang, itu kamu?" tanyanya.


Tolong, tolong bilang dia tidak menyebutku Sayang. Tolong bilang aku saja yang mengada-ada.


Kupikir kalau aku tidak bereaksi, kalau aku berjalan saja terus, dia akan mengira telah salah orang. Barangkali aku hanyalah orang yang mirip dengan cewek bernama Inara itu. Rupa-rupanya tidak berhasil.


Laki-laki itu mendekat saat aku kembali ke mejaku. Dia menatapku dengan lekat -- meski sebenarnya aku tidak melihat dia menatapku dan aku tidak menggerakkan kepalaku ke arahnya sedikit pun, tetapi aku merasakan kehadirannya dan merasakan tatapannya.


"Permisi. Ini barang-barang Mbak dan Mas Reza yang tertinggal di kamar," kata si pelayan.


Hei! Kenapa kau selalu datang di saat yang tidak tepat? Lagi. Ingin kuteriaki dia seperti itu.


Aku berdiri, mengambil paper bag yang sudah berada di atas meja itu, lalu pergi. Sempat aku melihat sekilas pelayan yang membawakan pesananku melongo karena aku pergi bahkan sebelum makanan itu terhidang di atas meja.

__ADS_1


"Mati kau! Mati!"


Aku menginjak-injak semut yang menggigitiku. Ada sepotong cokelat di atas rumput yang tak sengaja terpijak olehku.


Andai ayahku itu sekecil semut yang tidak akan diketahui orang saat aku membunuhnya, mungkin dia sudah lama mati. Aku lebih suka menyebut diriku sebagai anak yatim daripada mengakui manusia bedebah itu sebagai ayah kandungku.


Ponselku tidak berhenti berdering. Reza terus berusaha menghubungiku, tapi aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Aku meninggalkan pesan bahwa aku akan menghubunginya nanti, lalu aku mematikan ponsel. Aku tetap berada di taman resto cukup lama. Aku tidak ingin pergi dalam keadaan amarah menguasai pikiranku.


Aku marah pada diriku sendiri karena aku masih mengenali wajah lelaki tua itu, yang semenjak dua belas tahun terakhir tidak pernah kulihat sama sekali. Aku ingat terakhir kali aku menatap fotonya itu sehari sebelum ulang tahunku yang kedua belas. Harusnya dalam kurun waktu dua belas tahun itu aku sudah lupa. Harusnya, harusnya seperti itu. Supaya ketika aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, aku bisa mengatakan kalau aku tidak kenal dengannya.


Aku sering merasa kalau aku seperti orang gila. Misalnya saat aku membaca kalimat yang diucapkan salah seorang toko di dalam novel, seperti saat Trixie mengatakan: Seharusnya Thomas Doorley memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya, dan bahwa segala akibat perbuatannya itu akan menyakiti anaknya. Kalaupun Thomas Doorley tidak bisa bersama Joanna Grace, bukankah setidaknya dia masih bisa bersama Jacob?


Kalimat itu juga yang ingin kukatakan pada ayahku yang payah itu. Seharusnya ayahku memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya, dan bahwa segala akibat perbuatannya itu akan menyakiti aku, anaknya. Kalaupun dia tidak bisa bersama ibuku, bukankah setidaknya dia masih bisa bersamaku dan adikku?


Tetapi kalimat itu sudah sangat terlambat untuk diucapkan. Sangat terlambat.


Setelah satu jam kemudian, aku pergi dari sana. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku melihat ke luar kaca jendela taksi, melihat-lihat di sepanjang jalan, persis di depan sebuah masjid, aku menyuruh si supir berhenti, lalu memberikan sejumlah uang kepadanya. Aku turun dari taksi lalu masuk ke dalam masjid. Aku berharap hatiku bisa sedikit tenang setelah datang ke tempat itu.


Ketika aku keluar, aku melihat Jason, asisten pribadi Reza untuk cabang restonya di Surabaya, lelaki muda yang selalu berpenampilan necis dengan setelan jas. Dia sedang berdiri di depan mobilnya.


"Kamu mengikuti saya?" tanyaku.


"Maaf, saya hanya menjalankan perintah."


"Saya mau pulang."


"Mari, saya antar." Lalu ia membukakan pintu mobil untukku.


Aku diam beberapa saat, tapi setelah kupikir-pikir, paling tidak aku membuat Reza tenang jika aku diantar pulang oleh asistennya.


Setibanya aku di tempat kost, Jason menyodorkan satu plastik berisi dua porsi Bebek Pak Janggut dan satu plastik berisi milkshake plus chocholate ice. "Saya disuruh oleh Pak Reza," katanya. Aku pun berterima kasih, dan langsung masuk.


Reza sengaja menyuruh Jason membeli dua porsi, pasti dalam pikirannya supaya aku tidak perlu keluar lagi untuk makan nanti malam. Sementara satu porsi untuk makan siang, karena dia pasti mendapat informasi bahwa aku bahkan belum sempat makan siang saat kabur dari ayahku.


Bebek itu mengingatkan aku tentang malam yang tidak beres itu, tragedi mayones yang brakhir indah. Benda yang membuatku memuntahkan seporsi bebek, tapi benda itu juga yang membuatku tidur dengan nyenyak di dalam pelukan Reza.


Setelah menghabiskan seporsi bebek itu, aku sengaja mengirimkan foto tulang-tulangnya kepada Reza, aku ingin dia tahu kalau aku baik-baik saja, aku sudah pulang, dan aku sudah makan siang. Kukirimkan foto itu dengan menuliskan ucapan Terima kasih, dan terima kasih juga karena tidak ada mayones.


Satu dari sekian banyak hal yang kusukai dari Reza ialah pengertiannya. Dia tidak akan pernah memaksaku untuk langsung bercerita. Dia akan selalu memberikan aku waktu untuk menenangkan diri sejenak, dan menunggu sampai aku siap untuk menceritakan apa yang terjadi dan apa yang aku rasakan. Dan aku tahu, Reza Dinata adalah salah satu makhluk langkah yang masih tersisa di abad ini, di antara banyaknya lelaki berengsek yang terbalut jas mahal dan dasinya yang panjang.


Seperti ayahku yang payah itu. Ayah sialan!

__ADS_1


__ADS_2