Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
The Last Day


__ADS_3

Minggu pagi. Rencana kepulangan sepupu-sepupuku berganti jadwal. Mereka akan pulang malam hari dengan penerbangan jam sembilan malam. Dari pagi hingga sore hari akan kami habiskan dengan menyusuri pantai-pantai yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Bali Selatan.


Pagi itu, Reza mengetuk pintu kamarku saat aku sedang menyusun barang-barangku ke dalam koper. Kusuruh ia langsung masuk, dan dia pun langsung menghampiriku, duduk di lantai, persis di sampingku yang duduk di sisi tempat tidur. Dia melingkarkan satu tangannya ke pinggangku, dan satu tangannya menggosok-gosokkan ibu jarinya ke pahaku yang berbalut rok berbahan jeans.


"Pasti ada yang ingin kamu katakan."


"Yap," sahutnya.


"Apa? Katakan saja."


"Mau melakukan sesuatu untukku?"


"Tentu, jika aku bisa. Katakan."


"Emm... kamu tahu, kita punya dua puluh foto outdoor dalam versi lokal."


Aku mengernyitkan dahi, sebab aku tidak mengerti apa maksudnya dan apa makna di balik angka dua puluh itu. Belum sempat aku bertanya, Reza langsung menjelaskan bahwa itu bermakna dua puluh Maret. Hari pertama kali dia tahu namaku dan tahu siapa aku, saat Zia dan Ari berniat menjodohkan kami berdua.


"Waw! Kamu punya ingatan yang luar biasa," pujiku. "Lalu, tanggal spesial apa lagi? Empat beas Februari?"


Dia menggeleng. "Itu nanti," katanya. "Untuk foto bulan madu kita. Untuk prewedding ini tanggal ulang tahunmu, dua puluh tujuh Juli. Masih kurang sekitar tujuh foto untuk itu. Dan...."


"Dan? Apa?" Kudekatkan wajahku ke wajahnya.


Uh! Dia menguncikan bibirnya ke bibirku, dan melepaskannya setelah beberapa detik. "Kissing style untuk empat belas Agustus. Mau melakukannya untukku?"


"Emm... well, apa imbalan yang kudapat?"


"Everything for you. I'm promise."


"Ok. Deal." Aku senang, aji mumpung. "Asal kamu minta izin dulu ke Bunda. Berani?"


"Sudah kulakukan. Bunda mengizinkan, Ihsan juga sudah mengizinkan. Hanya menunggu persetujuanmu. Say yes, please?"


Sengaja aku tidak langsung menjawabnya, hanya kuberikan senyuman kecil, sampai Reza mengernyitkan dahinya. "Yes, I will do it," kataku.


"Thanks. Love you." Satu ciuman kilat mendarat di pipiku, disusul dengan cengiran lebar yang khas dari wajah tampannya.

__ADS_1


Lima menit, katakanlah sekitar itu. Aku dan Reza pun keluar dari kamar dan langsung menemui Aarin dan Zizi di halaman belakang. Kutanyakan pada Aarin pose-pose ciuman ala Bollywood itu. Aarin pun menunjukkan gambar-gambar yang sudah ia download. "Ayo, kita mulai," kata Aarin sambil berdiri dari duduknya.


"Nampaknya semua orang sudah terkontaminasi virus edan," gumamku. Meski nervous, kucoba untuk serileks mungkin.


Aarin hanya tertawa, lalu menyuruh kami langsung menirukan ciuman ala poster ketujuh dari film Ki & Ka di meja makan dekat kolam. Setelah itu, untuk pose kedua, ciuman ala cover Nuvvele Nuvvele video song di salah satu dahan pohon yang rendah. Mau bagaimana? Tidak ada tiang, dahan pun jadi, begitulah kira-kira faktanya. Lalu Pose ketiga, ciuman ala cover Mera Pyar Tera Pyar video song, salah satu lagu soundtrack dalam film Jalebi, berdasarkan ide Aarin yang mengganti latar pintu gerbong kereta api dengan latar pintu villa. Pose keempat, masih dengan poster dalam film Jalebi, dengan latar jendela kereta api diganti dengan jendela villa. Dan pose kelima, di kolam renang, yang mengharuskan Reza membasahkan pakaiannya, pose ciuman dalam poster Niku Naku Nadumana video song.


"Pemotretan kilat di sepanjang karirku," Zizi berkomentar setelah lima gaya berciuman itu selesai direalisasikan. "Andai klien-klienku seperti kalian, luwes, sekali cekrek langsung bungkus."


O ya? Hebat dong aku?


Well, tempat pertama di hari terakhir kebersamaan kami di Bali hari itu, kami mengeksplor wilayah Nusa Dua. Ceritanya, demi foto prewedding kami, dan mumpung masih pagi dan dengan semangat yang tinggi, Alfi mengajak kami berwisata ke Pantai Gunung Payung. Karena untuk mencapai pantai ini, kami harus menuruni ratusan anak tangga dalam waktu dua puluh menit bagi mereka yang lincah. Sementara aku dan Reza tetap santai seperti biasa.


Pantai ini dilengkapi tebing-tebing tinggi yang bisa dikatakan mengisolasi tempat ini sehingga letaknya tersembunyi, seolah memberikan ruang lebih leluasa bagi insan yang ingin menyepi, yang mendambakan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk kota namun ditemani oleh alam cantik dan masih alami, itu yang membuatnya istemewa. Dan yang lebih menarik, pantai ini juga dihiasi cerukan-cerukan di kaki bukit yang terbentuk secara alami seperti membentuk gua-gua kecil. Oke punya.


Kami pun melanjutkan sesi foto prewedding kami dengan sebelas pose ciuman ala poster film Bollywood.


Pertama, pose yang paling mudah, ciuman ala poster film Fever. Kedua, ketiga, dan keempat, pose dari poster film Befikre. Sebenarnya ada enam poster berciuman untuk film ini, mungkin juga lebih. Tapi hanya tiga poster yang kami tiru, sebab dua poster lainnya berlatar belakang keramaian, dan satu poster lagi wajah bintangnya tertutup topi. Karena alasan itu Aarin tidak memilihnya. Kemudian pose kelima, pose poster kedua dari film Kites, dan pose keenam yang kami lakoni adalah pose poster ketujuh dari film Malang. Aku sangat suka dua pose ini.


Selanjutnya, pose ketujuh, adalah pose ala poster film Dirty Hari. Pose yang membuatku cenat-cenut, maunya sedikit lebih lama dengan pose seperti itu. Uuuh... pingin aku berteriak minta dinikahkan dengan Reza saat itu juga. Keadaan itu membuatku terkekeh dalam hati. Apalagi dengan pose kedelapan, pose ala cover video song Badnaamiyan, salah satu soundtrack dari film Hate Story IV.


Aku ingat betul, yang kami lakukan bukan hanya bersentuhan bibir seperti dua belas pose sebelumnya. Tapi benar-benar berciuman. Ceritanya, Zizi sudah mengatakan oke, yang artinya dia sudah men-cekrek pose itu. Tapi Reza yang posisinya menindihku, dengan sengaja tidak mau berdiri. Dia malah mengulum bibirku, memanfaatkan kesempatan karena Ihsan dan kumpulan para lelaki lainnya sedang duduk-duduk santai, agak jauh dari kami. Dia baru berhenti menikmati bibirku saat Mayra menjewernya. "Nakal," katanya. Seperti itulah mereka, seperti kakak adik yang saling menyayangi.


Euwww... cukup menyita waktu. Tapi sangat menyenangkan untuk mengoleksi foto-foto dengan nilai seni seperti itu. Tentu saja, akan menjadi hiasan dinding yang menawan jika kau mencetak dan membingkainya, lalu menempelkannya ke dinding rumahmu. Mau mencobanya?


Monggo....


Hanya beberapa menit dari Pantai Gunung Payung, kami beralih ke Pantai Pandawa. Kami tidak bermaksud berlama-lama di sini, hanya untuk menginjakkan kaki, menikmati keindahan di sekeliling pantai, dan mengabadikan momen dalam potret-potret kenangan manis. Sebab, meski pantai ini menawarkan panorama alam yang indah, pantai ini adalah kawasan ramai, seperti pantai-pantai Bali pada umumnya. Kami hanya berantrean untuk berfoto di ayunan yang instagramable itu. Setelah semua orang selesai, kami langsung beranjak pergi. Aku dan Reza pun hanya mengambil satu foto dengan pose ciuman mesra Aditya Roy Kapur di pipi kanan Shraddha Kapoor, saat Aditya memeluknya dari belakang dalam film Ok Jaanu.


Begitu pun di Water Blow Nusa Dua, kami hanya mampir sebentar, berswa foto dan basah-basahan. Bagai sayur kurang garam rasanya kalau tidak mampir dan menyaksikan sendiri fenomena semburan air di Water Blow Nusa Dua. Suatu tempat yang ketika kita baru sampai, suara ombak semakin membesar, dan beberapa saat kemudian, ombak itu menjadi tinggi dan semakin tinggi, lalu terpecah setelah menabrak karang. Boom! Ombak itu seperti melompat tinggi menyembur ke atas. Kurang afdol jika tidak ikut basah-basahan di bawah semburan airnya. Tentu saja harus dilengkapi dengan foto-foto manis pada detik-detik yang sama dengan semburan air.


Aarin mengarahkan kami dengan pose cover film Aashiqui 2. Pose seakan ingin berciuman, saat Aditya Roy Kapur melindungi dirinya dan Shraddha dari siraman hujan dengan menggunakan jaket, dan satu foto lagi ala film Ok Jaanu. Kali ini, aku yang memeluk Reza dari belakang, satu tanganku menempel di dahinya. Pose yang bisa kau cek sendiri di internet dengan kata kunci Ok Jaanu. Dengan pose seperti itu dan pose sebelumnya, aku tidak perlu berganti pakaian, sebab posisi badanku tertutup di belakang Reza. Untuk hal ini aku harus berterima kasih kepada Aarin, juga kepada Ihsan yang sudah mengajaknya liburan bersama kami. Kehadirannya sangat berguna sekali.


Selanjutnya, Pantai Geger Nusa Dua menjadi agenda kunjungan kami. Alasan kami menginjakkan kaki di sini tentu saja karena pantai ini masih cukup sepi dan indah seperti pantai lainnya yang berpasir putih dengan air lautnya yang biru. Juga karena karakteristik ombaknya yang berarus cukup tenang dan kontur garis pantai yang landai, sehingga aman dijadikan tempat berenang anak-anak. Selain berenang, Alfi, Hengky, dan Dimas mengajak anak mereka naik unta.


Selanjutnya, waktunya berfoto. Masih dengan pose ala Aditya Roy Kapur dan Shraddha Kapoor dalm film Ok Jaanu. Saat Shraddha berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan Aditya, lalu Aditya mencondongkan badan, sehingga wajah dan bibir mereka bersisa jarak sekian senti. Kami mengaplikasikannya dengan kombinasi latar pasir putih dan birunya air laut. Cekrek, selesai. Waktunya menikmati jam santai sebelum jam makan siang tiba.


"Mau berdansa denganku?"

__ADS_1


Berdansa? Di depan banyak orang? Haadeh... ada-ada saja.


Kami makan siang di The Pirates Bay. Sebuah tempat yang menjadi salah satu destinasi objek wisata di Bali dengan tema Bajak Laut. Setelah makan siang, sebagian dari kami melanjutkan sesi foto-foto, kulihat Raline dan Raheel menuju permainan flying fox, begitu pun yang punya anak, mereka mengajak anak-anak mereka bermain ala bajak laut.


"Kenapa? Papa Reza sudah berangan-angan punya anak, ya?" godaku.


Dia mengangguk dan tersenyum. "Em, aku menantikannya. Anak-anak yang senantiasa menyambutku pulang atau yang kuajak bermain pasir pantai di saat mereka masih kecil. Dan dua tim voli pantai yang menemaniku saat sore, saat mereka sudah beranjak remaja nanti. Dan aku bisa duduk manis di kursi penonton."


"Dua tim?" aku tercengang.


"Kenapa? Aku akan bantu mengurusnya."


"Itu artinya aku harus empat kali hamil, dong?"


"Ya dong. Kamu kan bukan kucing yang sekali isi langsung banyak."


Reza tergelak, matanya sampai menyipit saking senangnya. Entah senang karena berangan-angan punya banyak anak atau karena dengan leluconnya yang mengatakan bahwa aku bukanlah kucing.


"Kamu hanya perlu hamil. Aku yang akan berusaha untuk itu," ujarnya sambil tertawa.


"Oh, jadi maksudnya, aku hanya perlu menikmati proses saat kamu melakukannya? Hmm? Dasar!"


"Kan aku lelaki. Itu sudah tugasku. Kamu tinggal menikmati, lalu tekdung."


Aku ngakak. "Apa itu tekdung?"


Reza tidak menjawab. Dia hanya menahan tawanya. Matanya sampai memerah dan sedikit berair. "Aku senang melihatmu tertawa lepas," katanya.


"Hei, ayo," panggil Zizi, dia mengacaukan momen kami. Rasa-rasanya aku tidak melihat kapan dia melintasi kami. Setahuku dia masih menemani anaknya bermain bajak laut.


Dengan latar belakang kapal-kapal, Aarin menyuruh kami berpose ala Aishwarya Rai dan Ranbir Kapoor dalam salah satu foto pemotretan mereka dengan majalah Filmfare India. Pose saat Aishwarya Rai setengah rebahan dan bersandar di dada Ranbir. Sedangkan Ranbir merangkul dan mencium keningnya. Kira-kira seperti itulah.


"Satu foto saja, ya. Aku mau main lagi dengan anakku," ujar Zizi, setelah mengambil satu foto itu.


Aku melongo, tapi tidak tahu harus berkomentar apa. Serba salah. Seolah tidak bersyukur kalau aku mengeluh, jadi ya sudahlah. Lagipula, aku senang melihat ketiga  keluarga kecil itu bermain bersama.


Sore harinya, kami menghabiskan waktu cukup lama di Tanjung Benoa. Mulanya kami menyelesaikan sesi foto prewedding kami. Sisa tiga foto lagi. Pertama, pose dalam salah satu poster film Aishiqui 2. Pose hampir berciuman, dengan gitar di tangan Aditya. Kedua, pose dalam poster ketujuh dari film RDX Love. Ketiga, pose dalam poster utama film Namumkin Tere Bin Jeena.

__ADS_1


Keren. Yang kusesali, harusnya pose-pose seperti ini yang kami terapkan saat mengambil foto di Nusa Penida tempo hari. Tapi apa mau dikata, waktu tak bisa diputar kembali.


Akhirnya, pada jam delapan malam kami semua berpisah di parkiran bandara. Hanya menyisakan aku, Reza, Alfi, dan Mayra, juga Tirta yang tertidur di dalam mobil. Alfi dan Mayra akan membawa pulang mobil mereka masing-masing. Begitu juga aku dan Reza yang sudah masuk ke mobil -- bersiap untuk pulang.


__ADS_2