
Hari itu pertama kalinya aku tidur siang dalam masa pengembaraanku. Kepalaku terasa sakit akibat kurang tidur. Aku baru saja tertidur sekitar lima menit, tapi suara Reza dari luar pintu kost tiba-tiba saja membuatku terbangun. Aku berdiri, membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Melihat kedua mataku yang merah, dia langsung memegangi kedua pundakku dan bertanya kenapa.
Kukatakan dengan jujur kalau aku sedang sakit kepala. Kujelaskan bahwa itu penyakit lamaku. Daya tahan tubuhku yang kurang bagus, aku akan demam, sakit kepala, dan parahnya bisa pilek dan bersin-bersin jika aku kurang tidur. Karena itu aku tidak pernah tidur larut sebelumnya, maksudku... setelah beberapa kali aku mengalami sakit seperti itu. Melihatku yang menderita gejala demam, Reza langsung merasa bersalah. Sebab, tadi malam ia mengajakku pulang terlalu larut.
Kuputar bola mataku dengan malas. "Bukan salahmu. Kamu kan tidak tahu," ujarku. "Aku yang salah karena aku tidak berterus terang."
"Harusnya kamu bilang, supaya kita--"
"Aku tahu. Aku salah. Sori...."
"Kamu sudah makan? Sudah minum obat?"
"Tidak perlu. Aku cuma butuh tidur, Za."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah...."
Dia mengangguk sekali. "Baiklah, kalau begitu kamu tidur sekarang," katanya seraya memutar tubuhku dan menggiringku ke tempat tidur.
Aku yang masih canggung hanya duduk di atas kasurku sambil memijat kepala. Beruntung Reza menangkap kecanggungan itu, dia pun mengambil bantal dan meletakkan bantal itu di atas pangkuannya. "Sini," katanya mengisyaratkan agar aku tidur di pangkuannya. Dengan canggung aku pun menurut, merebahkan kepalaku ke bantal di atas pangkuannya. Aku meringkuk dengan posisi miring menghadapnya, menciumi aroma tubuhnya yang membuatku merasa sangat nyaman.
Reza membuka ponselnya lalu memutar lagu Dengarlah Bintang Hatiku milik Demeises. Aku merasa dia memutar lagu itu untukku meski sebenarnya sedikit kurang pas untukku.
Aku punya raga yang utuh, hanya hatiku saja yang cacat, cacat karena perbuatan seseorang yang kubenci. Ayahku.
"Pejamkan matamu," katanya sambil membelai-belai rambutku. Aku pun memejamkan mata, menikmati saat-saat bersamanya, merasakan kasih sayang yang selama ini belum pernah kudapatkan dari sosok orang asing. Dan, yeah, jangan tanya kenapa aku menurut tidur di pangkuannya, atau kenapa aku membiarkan dia membelai rambutku. Aku tidak tahu kenapa, sama seperti semalam saat aku membiarkan dia menggandeng tanganku. Yang aku tahu, aku sangat menginginkan dan sangat menikmati kasih sayang yang ia berikan untukku.
__ADS_1
Lagu kedua dari playlist yang diputar Reza adalah lagu Cinta Surga milik Aurel Hermansyah feat Teuku Rassya. Aku juga masih sempat mendengarkan lagu ketiga dari playlist itu. Lagu Kupilih Hatimu, milik Ussy Sulistiawaty dan suaminya, Andhika Pratama. Aku hanya mendengar setengah dari lagu ketiga, karena setelah itu aku sudah benar-benar tertidur.
Sekitar dua setengah jam kemudian, kira-kira selama itu, aku terbangun dengan posisi yang masih sama, hanya saja tanpa Reza di dekatku. Aku menoleh sembari memutar posisi tubuhku, Reza tidak ada di sana. Aku pun berusaha untuk duduk, bersandar ke dinding dengan menaruh dua tumpuk bantal untuk menyanggah bagian belakang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Reza pun kembali sambil menenteng dua ember cat beserta peralatan mengecat lainnya, juga plastik berisi makanan dan minuman. Aku bisa melihat samar-samar isinya dari luar plastik itu.
"Kamu sudah bangun ternyata. Bagaimana? Sudah mendingan?"
Aku mengangguk pelan. "Kamu beli cat? Untuk apa?"
"Merubah ruangan ini," jawabnya singkat.
Aku paham maksud perkataannya adalah mengganti warna cat dinding yang sudah pudar itu. Warna biru yang sudah sangat lusuh, seolah cat itu sudah berumur lebih dari satu dekade. Hari itu rupa-rupanya dia menyuruh karyawan resto untuk membeli cat, juga makanan itu, lalu mengantarkannya ke alamatku.
"Jangan, Za. Nanti yang punya kost marah," kataku.
"Kok bisa?"
Dia menoleh. "Memangnya kenapa? Kan dia yang untung, tempat kost-nya dicat ulang, gratis lagi."
Kenapa? Ya ampun. "Ya heranlah, kamu kan orang asing, bukan penghuni kost, tapi dengan mudahnya diizinkan untuk melakukan sesuatu sesukamu."
"Seorang Reza Dinata bisa melakukan apa pun," katanya. "Termasuk meyakinkan orang lain dengan mudah. Dengan catatan -- kalau aku mau."
Aku tertegun. Jawaban itu membuatku terdiam sejenak. Aku jadi berpikir: bagaimana kalau semua yang terjadi -- bagaimana kalau diriku -- sekadar lelucon konyol baginya? Bagaimana seandainya Reza Dinata adalah aktor paling hebat sedunia bahkan lebih hebat dari Reza Rahadian dan aku tidak berarti apa-apa baginya? Bagaimana seandainya dia tidak bermaksud mengajakku lebih jauh dalam hubungan ini? Bagaimana kalau semua ini hanya sekadar omong kosong? Sebuah kebohongan besar? Atau aku dianggap gampangan?
Tolol! Tolol! Tolol! Bodohnya aku.
__ADS_1
Aku mengutuk diriku sendiri. Aku pun teringat, aku sendiri yang mengatakan kalau kami hanya berteman. Lantas jika demikian, apa salah Reza? Semuanya salahku. Aku yang salah karena secara perlahan aku mulai menaruh harapan lebih pada sosok Reza Dinata.
Reza tahu apa yang ada di kepalaku. Dia menoleh ke arahku untuk membaca ekspresiku. "Hei, Ra," katanya sembari mendekat, dia duduk di hadapanku, lalu menempatkan kepalaku di lekuk lehernya. Satu tangannya mengelus-elus belakang tubuhku, dan satu lagi melingkar ke belakang kepalaku. "Sori, sori. Maaf aku salah bicara. Aku tidak bermaksud menganggap kalau kamu mudah termakan omonganku, atau menganggap kalau kamu perempuan yang mudah ditaklukkan. Tidak sama sekali. Maaf. Jangan berpikir yang aneh-aneh, ya. Jangan berpikir negatif." Kemudian ia mengecup puncak kepalaku.
Kami berpelukan dalam hening, cukup lama, lebih dari lima menit, kurasa. Pelukan yang menenangkan. Setelah itu barulah dia melepaskan pelukannya.
"Aku ada beli makanan. Kamu mau makan?"
Aku tidak menjawab. Tapi Reza tetap mengambil plastik berisi makanan itu dan mengeluarkan isinya. Sandwich panggang isi keju dan cappucino dengan es terhidang di atas meja, lalu ia menyodorkan makanan itu ke depan mulutku. Aku pun menggigitnya, dan mengunyahnya dengan pelan.
"Inara," panggilnya lembut. "Aku serius, aku minta maaf."
Aku mengangguk. "Lupakan. Jadi kapan mau mewarnai ruangan ini?" tanyaku -- berusaha melupakan dan menyingkirkan jauh-jauh berbagai pikiran negatif dari otakku.
"Sekarang? Habiskan dulu makananmu."
Proses mewarnai itu tidak sekadar mewarnai dinding ruangan, tetapi juga mewarnai tubuh kami. Dengan sengaja, Reza menyentuhkan telapak tangannya yang bercat itu ke wajah dan tanganku, aku pun membalasnya. Lagi-lagi dia menampakkan sisi lain dari dirinya, dirinya yang jahil. Dan cat berwarna itu pun akhirnya berhasil mewarnai kehidupan kami. Satu hal yang sederhana, tapi memberikan begitu banyak makna. Reza melukiskan cintanya dengan nada dan warna, dengan cinta yang bisa kuceritakan suatu hari nanti. Meski hari itu dia belum mengatakan bahwa dia mencintaiku.
"Reza," aku berkata dengan gaya teatrikal.
Waktu itu kami sedang berdiri saling membelakangi bak adegannya Dara dan Mita dalam videoklip Cinta Terlarang, sambil memandangi dinding-dinding yang sudah dicat dengan rapi.
"Apa?" dia menjawab cepat, menirukan gaya melodramaku.
Aku berdeham. "Kalau menurutmu -- kamu bisa dengan mudah meyakinkan orang lain, kenapa kamu tidak berusaha meyakinkan orang tua--"
Kalimatku terputus, sebab Reza langsung berbalik lalu memutar tubuhku. Kemudian dia menangkup wajahku dengan tangannya yang berlumur cat.
__ADS_1
"Aku bisa kalau sekadar meyakinkan," katanya sambil menatap mataku dalam-dalam. "Tetapi, meyakinkan saja itu tidak cukup. Mereka menuntutku untuk berjanji. Aku harus menjanjikan kalau aku bisa lebih kaya dari lelaki pilihan mereka. Kamu tahu, aku tidak mampu berjanji, aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tidak yakin apa aku bisa. Kalau aku nekat berjanji, dan tidak mampu memenuhi janjiku dalam waktu satu tahun, mereka ingin aku berpisah dengan anaknya. Dan kamu tahu, aku tidak menginginkan pernikahan yang mengandung banyak hal mudarat di dalamnya. Aku menginginkan sebuah pernikahan yang suci dan murni, bukan pernikahan di atas surat perjanjian. Paham?"