Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Be My Best Love


__ADS_3

"Bagaimana dengan janji-janjimu selama ini? Kamu bilang... kamu bilang kamu akan menikahiku apa pun yang terjadi. Kamu bilang kamu akan selalu memperjuangkan aku. Tapi sekarang malah...?"


Ya Tuhan, suaraku parau menahan sesak.


"Aku minta maaf. Aku tidak cukup baik untukmu. Aku tidak pernah bisa membuat rasa benci dan dendammu luruh. Aku bukan lelaki yang tepat untukmu. Maaf."


Melesak. Aku pun mendesa* kecewa. "Baiklah, jika ini pilihanmu. Aku tidak bisa memaksa." Lalu aku berdiri, dan melangkah pergi.


"Ra...," suara itu sayup kudengar saat langkahku belum jauh. "Aku akan nengantarmu pulang. Biar aku yang menjelaskan hal ini pada Bunda dan Ihsan."

__ADS_1


Aku mengangguk. Kuhapus lelehan air yang meluncur dari sudut mata sambil mengangguk. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu repot-repot mendengarkan semua orang menceramahiku.


Dalam keheningan, kami melangkagkan kaki ke parkiran. Reza membukakan pintu mobil untukku. Aku pun masuk, duduk, dan menoleh ke luar jendela di sepanjang perjalanan. Sementara kami pulang menuju bandara, kemurunganku -- juga Reza, menyebar dan mengisi keseluruhan mobil, seperti kabut asap. Hati kami sama-sama hancur. Aku pun menyadari, akulah penyebabnya. Seharusnya aku bisa membunuh egoku, bukan mengikutinya yang belum ingin berdamai.


Di parkiran bandara, selagi kami menunggu karyawan resto untuk mengembalikan kunci mobil, Reza menelepon Ihsan, supaya Ihsan tidak pergi ke mana-mana sampai kami tiba di rumah. Dia hendak menjelaskan tentang pembatalan pernikahan ini.


"Mas...," panggilku. Air mata kembali merembes dari sudut mataku.


"Aku mau menuruti perkataanmu," potongku cepat sambil meraih tangannya, membuat dia terpaku dan matanya berbinar, seakan tak percaya dengan yang baru saja ia dengar dari mulutku. "Aku akan menuruti semua perkataanmu. Aku mau mencoba menerima ayahku. Tapi tolong beri aku waktu, tidak akan mudah bagiku untuk memaafkan semua kesalahannya di masa lalu. Kamu mengerti itu, kan?"

__ADS_1


Reza mengangguk kuat. Kebahagiaannya membuncah terlihat dari ekspresi wajahnya yang seketika berubah ceria. "Janji, kamu akan selalu menuruti perkataanku sebagai suami? Hmm? Kamu mau menjadi istri yang patuh pada suami? Iya, kan, Sayang?"


Aku mengangguk, mengucapkan janji dengan takzim, "Aku janji, sebagai istri, aku akan menuruti setiap perkataanmu."


Dia menarik kepalaku ke dadanya lalu mengecup lembut puncak kepalaku. Dengan kebahagiaan yang membuncah, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya, bersandar, dan membiarkan air mata membasahi kemejanya. "Terima kasih. Aku sayang kamu, Nara. Melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Aku bahkan rela melepaskanmu supaya kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku."


No. Kugelengkan kepalaku. "Aku hanya ingin menikah denganmu. Kamu jangan pernah meninggalkan aku, ya?"


"Tidak akan pernah, selama kita seiya sekata, dan bisa saling mendengarkan, kita akan selalu bersama, sama-sama belajar menjadi pasangan yang baik untuk satu sama lain. Emm?"

__ADS_1


Mataku basah dalam senyuman. Aku mengangguk-angguk. Tak dapat kutahan haru yang menyeruak. Kurengkuh erat tubuh Reza yang juga balas merengkuh tubuhku tak kalah erat.


I love You, Mas. Be my best love forever and ever.


__ADS_2