
Aku terbangun karena mendengar suara Reza yang memanggil namaku dan mengetuk pintu kamar kost. Aku yang masih mengantuk berat berusaha memasang telinga baik-baik. Aku takut itu hanya khayalanku saja karena semalam aku terus membayangkan dia. Terlebih jam di ponselku menunjukkan hari baru jam tujuh pagi. Sempat kudengar dia bertanya pada tetangga sebelah, entah siapa, orang itu hanya menjawab bahwa dia tidak tahu. Tidak lama kemudian ponselku berdering, Reza mendengar nada dering ponselku. Pasti dia berpikir berarti aku ada di dalam, hingga dia mengetuk pintu lebih keras. Aku mengumpulkan tenaga untuk bisa bangun dan berdiri.
Reza sempat terdiam melihat keadaanku setelah pintu terbuka. Sementara itu aku ambruk lagi ke tempat tidur dengan posisi telungkup menutupi wajah. Lalu dia mendekat, duduk di sampingku, dan bertanya kenapa.
Aku memiringkan tubuhku, menghadap ke arahnya. Kuisyaratkan dia agar diam dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirku. "Aku tidur dulu, boleh?"
Dia hanya menganggukkan kepala dan setelah itu agak hening beberapa saat.
"Mas," panggilku. Itu pertama kali aku memanggilnya mas tanpa rasa canggung. "Kamu sedang santai atau... sibuk? Ada pekerjaan?"
Reza mengangguk. "Aku santai. Kenapa?"
"Aku mau meminta sesuatu. Tapi kamu jangan berpikir macam-macam. Jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku," kataku ragu-ragu.
Seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Mau minta apa?"
"Emm... tolong peluk aku. Aku mau tidur dalam pelukanmu. Apa boleh?"
Dia bengong sesaat. Mungkin dia merasa permintaanku itu aneh, atau aku yang menurutnya aneh. Tapi dia tidak menolak dan tidak bertanya apa-apa, hanya langsung merebahkan tubuhnya di sampingku.
Aku menggeleng. "Tidak jadi, aku belum mandi," kataku begitu tersadar dengan keadaanku yang lecek seperti uang kertas seribuan.
Dengan sigap Reza meraihku, dan langsung melingkarkan tangannya di pinggangku. "Tidak apa-apa. Aku suka kok aroma tubuhmu yang belum mandi. Enak."
"Ah, kamu... aku malu...."
"Kenapa malu?"
"Aku bukan susu kental manis."
"Maksudnya?"
"Enak, kan?"
"Oooh... maksudku aromamu sedap."
"Mie instan, dong?"
"Haha, lucu kamu, Sayang."
"Masa?"
Reza tersenyum, manis sekali. "Ayo, tidur. Kupeluk supaya tidurmu nyenyak."
__ADS_1
Aku memutar dan memunggunginya, lalu ia memelukku dari belakang. Aku merasa hangat, tenang, nyaman, lalu tertidur nyenyak dalam pelukannya, dan terbangun sekitar dua jam kemudian.
Kupandangi wajah lelaki di sampingku itu saat rasa kantukku sudah hilang. Awalnya aku melihat dirinya sebagai Reza Rahadian, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku melihatnya sebagai dirinya sendiri. Sebagai lelaki yang kucintai.
Kamu memang setampan Reza Rahadian, tetapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Melainkan karena caramu memperlakukan aku dan caramu mencintaiku. Terima kasih atas semuanya, Mas. Terima kasih juga, Tuhan. Engkau mengirimkan dia untukku.
Sejenak kemudian, sewaktu aku menyentuh wajahnya -- untuk pertama kali -- dia langsung terbangun. "Sori. Aku...."
"Tidak apa-apa," katanya. Dia meraih tanganku yang tadi refleks kutarik saat menyadari dia membuka mata. Lalu ia menangkupkan lagi tanganku ke pipinya.
Aku tersenyum malu. Jujur, aku suka bisa menyentuh wajahnya meski masih terasa canggung, dan kucoba membelainya meski jemariku masih terasa kikuk. "Tidur saja kalau kamu masih mengantuk," kataku.
Dia menggeleng, lalu bangkit, berganti posisi dari tiduran ke posisi duduk, "Sini," katanya, menyuruhku pindah ke bantal di atas pangkuannya. Aku pun menurut. "Sekarang kamu cerita, kamu kenapa? Ada apa?"
Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Aku tidak apa-apa," kataku. "Cuma tidak bisa tidur saja semalam. Aku nonton film Reza Rahadian tiga film sekaligus. Selesai salat subuh, aku baru bisa tidur."
"Kenapa kamu sampai tidak bisa tidur?"
"Emm... tidak kenapa-kenapa," kilahku.
"Aku tahu kamu kenapa-kenapa. Tidak mungkin kalau tidak ada sesuatu."
Aku diam, aku bingung harus mengatakan apa. Reza bukanlah anak kecil yang bisa kubohongi. Dengan mudah dia bisa menangkap ketidakjujuranku.
"Sayang? Ada hubungannya dengan ayahmu?" tebaknya dengan tepat.
"Kalau cuma itu tidak perlu kamu pikirkan. Ayahmu mungkin tidak mengenalimu."
Aku mengangguk lemah. "Aku memang tidak mempermasalahkan soal itu. Terserah dia mau berpikir apa saja. Aku cuma tidak suka kalau dia mengusikku dan Bunda."
Reza mengangkat dua alisnya, keningnya mengerut. Tersirat raut kebingungan di wajah tampannya.
"Dia ingin menjodohkan aku, Mas."
Bak disambar petir di siang bolong, Reza terdiam mendengar jawabanku, ekspresinya kaku, bahkan dia sempat membisu. "Kamu sendiri, bagaimana? Kamu bersedia? Apa kamu menerima perjodohan itu?"
"Hah?" aku heran kenapa dia malah bertanya seperti itu. "Dia tidak berhak sedikit pun tentang hidupku. Jelas aku tidak mau. Aku sama sekali tidak peduli dengan perjodohan itu. Aku cuma kesal karena dia datang lagi ke dalam hidupku, cuma itu."
Reza tidak bergeming. Dia hanya menatap fokus padaku, seolah mencari-cari kejujuran dari dalam diriku yang bisa ia temukan lewat tatapan matanya.
"Mas?"
Aku kaget, secepat kilat dia menyergapku, kedua tangannya menahanku dengan memegangi leherku. Dia meluma* bibirku dengan kuat, sampai terasa sakit dan membuatku tidak bisa bernapas, namun terpaksa kutahan. Meski aku tidak berusaha berontak, aku tidak bersedia membalas ciumannya. Aku bahkan enggan menikmati ciuman itu. Bukan ciuman seperti itu yang kuinginkan. Saat itu aku menangkap emosi yang bergemuruh dan bergejolak di dalam jiwanya. Dia meminta maaf setelah melepaskan ciumannya dari bibirku.
__ADS_1
"Mas... kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu. Aku tahu kamu kecewa karena kamu merasa takdir ini terulang lagi dalam hidupmu, ya kan? Tapi aku bukan seperti mantanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena dijodohkan dengan lelaki lain. Aku bisa berontak. Dia sama sekali tidak berhak menentukan masa depanku. Aku hanya ingin bersamamu, Mas."
Euw! Dia masih diam terpaku tanpa respons, tetap memandangiku dengan tatapan yang sama.
"Tatap lagi nanti. Aku mau mandi," cetusku.
Aku baru hendak berdiri, tapi malah tertahan dan terguling karena Reza. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam dadaku.
Ayo, cium dia. Nikmati bibirnya yang menggairahkan itu. Kau juga penasaran dengan keseksian yang ada di balik pakaiannya itu, iya kan? Lihatlah kekuatannya, Dia punya otot-otot yang kekar. Cusss! Lakukan, Nara! Dia akan membuatmu merasa terbang sampai ke surga. Surga, Nara. Surga. Surga yang menyenangkan. Si setan kecil berbisik di telingaku.
Aku menelan ludah. Mati-matian aku mengontrol diri. Kutepis semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di otakku.
"Mas...," panggilku pelan, "jangan khilaf, ya."
Ia menghela napas panjang. Reza mencoba menahan emosi-emosinya perlahan, lalu membantuku berdiri. "Ya sudah. Sana, mandi," katanya.
Selang beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, hanya rambutku yang masih teegelung handuk. Lagi-lagi Reza membuat jantungku berdebar-debar dengan memelukku dari belakang, dengan sengaja ia menenggerkan kepalanya di pundakku.
"Kamu deg-degan?" tanyanya usil.
"Emm... sedikit."
"Rileks. Aku hanya ingin memelukmu."
"Kangen, ya?"
Dia mengangguk. "Sangat," katanya. "Kangen sekali. Rasanya berat kalau harus menunggu akhir bulan yang masih lama. Apalagi...." Dia mengedikkan bahu dan suaranya jadi parau. "Andai saja kamu mau pulang lebih cepat. Kita bisa segera bertemu Ibu dan Bunda."
"Kamu takut? Kamu tidak percaya padaku? Hmm?"
Untuk sesaat Reza terdiam. "Bukan," katanya. "Aku cuma takut takdir tidak berpihak padaku. Aku hanya takut kehilanganmu."
Pesimis!
Aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu memutar tubuhku menghadapnya. Kuraih tangannya dan menggenggam tangannya degan erat. "Mas, kamu ingat, kan, kamu pernah berjanji kalau kamu akan memperjuangkan aku? Tolong bilang kalau kamu pasti akan menepati janji itu?"
Reza melepaskan tangannya dari gengggamanku, dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu ia mengecup keningku dengan lembut. "Aku masih ingat, dan aku masih berpegang teguh pada janji itu. Aku akan memperjuangkanmu sampai akhir. Apa pun yang merintangi, aku akan tetap berusaha memperjuangkanmu. Akan selalu memperjuangkan cintaku. Aku janji." Lalu ia mendekapku dalam pelukannya, menentramkan.
"Omong-omong, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mau ke sini?"
Ia mendesa*. "Aku mau memberimu kejutan. Tapi malah aku yang tekejut pagi-pagi melihatmu seperti tadi. Biasanya kamu sudah bangun, sudah mandi, malah biasanya sudah dandan rapi. Sudahlah, lupakan. Omong-omong, aku beberapa hari di sini, terus nanti aku mau pergi ke Solo. Empat atau lima hari lagi." Reza melepaskan pelukannya lalu menatapku. "Kamu ikut, ya? Temani aku?"
Jiaaaah....
__ADS_1
"Kenapa kamu minta ditemani? Tidak bisa jauh-jauh dari aku? Hmm?"
Dia menyentuhkan keningnya di sisi kepalaku, kemudian berbisik, "Kamu tahu jawabannya. Aku ingin selalu bersamamu. Selamanya."