Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Hadiah Untukku


__ADS_3

"Sayang. Sayang... bangun."


"Kenapa?" Mataku masih terpejam.


"Bangun dan cepat mandi. Kita mau pergi."


"Ke mana?"


"Jangan banyak tanya. Cepat atau aku yang memandikanmu, mau?"


"Iya, iya, aku bangun, Mas. Biar aku mandi sendiri," kataku masih dengan malas-malasan.


"Lama," protesnya. Dia menggendongku dan langsung membawaku ke kamar mandi.


Rasa kantukku langsung lenyap begitu saja. Aku memekik, "Mas... turunkan aku. Aku mau mandi sendiri...."


Dan, yap, dia menurunkan aku -- persis di bawah shower, dan langsung menyalakan keran. "Sialan! Dingin...," teriakku.


Tapi Reza malah tertawa sampai ngakak, seakan-akan hal itu adalah lelucon yang sangat lucu. "Maaf, ya. Aku hanya bercanda. Biar kusiapkan air hangat."


"Biar aku sendiri. Kamu keluar." Kudorong dia, lalu aku pun menutup pintu.


"Cepat, ya Sayang...," teriaknya dari balik pintu. "Mandinya jangan lama-lama. Cepat dandan dan jangan lupa nanti siapkan pakaian ganti."


"Cerewet...! Memangnya kita mau ke mana? Mau berenang?" Tak ada jawaban. Sunyi, sepi. "Mas? Halo? Mas?"


Huh! Dia sudah pergi tanpa menjawab pertanyaanyku.


Kurang dari dua puluh menit perjalanan, kami tiba di pelabuhan Tanjung Benoa. Aku yang keheranan mulai rewel bertanya kenapa dia mengajakku ke pelabuhan.


"Kita akan berlayar."

__ADS_1


"Berlayar?"


"Yeah. Hadiah yang kujanjikan hari itu."


Mulutku membulat tanpa suara saking senangnya. Langsung kudekap Reza dengan penuh suka cita. "Terima kasih. Kamu selalu tahu apa yang kumau. Aku senang."


Dia pun membalas pelukanku dan mencium keningku, tanpa kata, tanpa suara, dia hanya menyampaikan rasa sayang dan cintanya dengan pelukannya yang hangat. Yeah, pelukan itu sudah kembali hangat seperti sebelumnya. Pelukan yang sangat kusukai keeratannya, yang hanya dengan kedua tangannya, tapi terasa mendekap seluruh tubuhku dari kepala hingga ke ujung kaki.


"Aku bisa memelukmu sepanjang malam, tapi nanti. Sekarang kita nikmati dulu apa yang ada di depan mata, ayo."


Kami pun tergesa karena kapal yang akan kami naiki akan segera melepaskan jangkarnya. Setengah berlari, kami menuju Quicksilver Cruise yang akan segera diberangkatkan oleh nahkodanya, sebuah kapal pesiar yang akan menemani kami hari ini menuju Pantoon Nusa Penida.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanyaku yang masih ngos-ngosan.


"Tidak kenapa-kenapa," sahutnya santai. "Makanya tadi kubilang cepat, supaya santai."


"Salahku? Enak saja. Ini salahmu, tahu! Kamu yang tidak bilang mau mengajakku ke mana."


Kuciumi pipinya setelah kami duduk. "Aku yang salah. Maafkan Nara, ya, Mas?" Jurus jitu senyuman maut ala putri manja pun kusuguhkan ke hadapannya.


Reza tersenyum, lalu menyandarkan aku ke dadanya, merangkulku dan mengelus kepalaku. "Iya, Sayang. Aku sayang kamu."


Uuuh... manisnya kekasihku.


Sesampainya di Nusa Penida, kapal merapat di Pantoon, sebuah pelabuhan terapung milik Quicksilver Bali yang terdiri dari dua lantai dan diisi dengan bangku-bangku panjang tempat para pengujung beristirahat, ibaratnya itu tuh saungnya. Di sana juga disediakan berbagai macam fasilitas wisata air, seperti banana boat, snorkeling, kapal semi submarine dan waterslide yang bisa dimainkan sepuasnya.


Perjanjian dan kesepakan kami hari ini: tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan, semua pelayanan paket wisata ini wajib dijajal. Banana boat, hayuk. Snorkeling apalagi, meskipun itu pengalaman pertamaku, dan itu salah satu tujuan Reza mengajakku, untuk snorkeling.


Lo? Kan kemarin sudah ke sana-sini? Hiks! Karena kemarin itu prinsipnya harus satu nusa, satu bangsa, dan satu rasa. Semuanya harus menikmati hal yang sama. Ada yang tidak mau snorkeling, artinya semua tidak boleh. Aneh, ya? Iya, kan sekelompok orang gila.


Lumayan puas snorkeling dan ternyata olah raga air itu membuat perut jadi lapar yang memang kebetulan sudah jam makan siang. Dan itu adalah salah satu hal yang menyenangkan karena all you can eat, kau bisa bolak-balik mengambil makanan sampai kenyang. Yang lebih menyenangkan lagi adalah makanannya enak, lauknya beragam dan lengkap, berikut makanan penutupnya juga disediakan.

__ADS_1


"Ingat, ya," kata Reza. "Jangan jaim. Cicipi semua menu yang halal."


"Kamu tidak malu apa? Pemilik restoran tapi begitu? Apalagi aku cewek."


"Hei, ingat. Di sini, aku bukan pemilik restoran, dan kamu bukan penulis. Kita adalah sepasang pengembara yang sedang berkelana. Oke?"


Haha! Aku tertawa, sebab Reza masih saja menyebut kata itu, PENGEMBARA. "Oke. Kamu, ya, yang ambil. Aku tinggal makan."


Reza pun memonyongkan bibirnya mendengar perkataanku.


Aku tersenyum semringah. "Hei, ingat," kataku menirunya. "Everything for me. Dan itu berlaku selamanya."


"Oke. Baik Tuan Putri Kesayangan. Everything for you," ia bersenandung sambil berjalan.


Setelah perut kami kenyang, kami pun langsung bersih-bersih dan berganti pakaian. "Salat, ya," pesannya padaku.


Nyesss... nampaknya dia sudah paham kalau aku jarang salat saat sedang di luar. "Iya, Mas," sahutku tanpa bantah, dan aku benar-benar melaksanakannya.


Setelah itu, kami naik ke perahu lagi, ke tempat kapal selam. Itu -- untuk pertama kali aku naik kapal selam dan melihat keindahan laut. Kami pun tak lupa mengabadikan momen-momen indah hari itu.


Ketika hari sudah semakin sore, waktunya untuk kembali ke Tanjung Benoa. Kami kembali masuk ke kapal pesiar yang akan membawa kami ke Tanjung Benoa, aku dan Reza memilih duduk di luar merasakan angin dan suara debur ombak. Sore itu matahari terbenam sungguh indah dan terasa dekat sekali. Aku menyukainya.


"Jadi, berlayar yang seperti ini sudah cukup atau mau yang sekelas titanic?"


Aku tersenyum, dan melingkarkan tanganku di sekeliling pinggangnya. "Yang seperti ini sudah cukup, kok, Mas. Tidak perlu dengan kapal segede gaban itu. Terima kasih, ya. Tapi kamu tahu dari mana aku kepingin berlayar?" Aku heran. Lalu kutatap matanya dengan lekat. "Kamu membaca buku notesku, ya?"


Reza pun memicingkan sebelah matanya, membuat bibirnya sedikit menyungging. "Yeah, pernah," jawabnya.


Kuputar mataku dengan malas. "Pantas saja."


"Bukan masalah, kan? Untuk selanjutnya, kamu bisa langsung mengatakan apa pun yang kamu mau. Atau kamu tulis dan biarkan aku membacanya. Everything for you. Ok?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Pasti."


__ADS_2