
Kami makan malam penyambutan anggota baru The Fantastic Eleven di villa dengan menu dari Dinata Resto, berbagai macam masakan khas Bali dan berbagai macam olahan seafood. Meski tidak menyewa jasa dekorasi, tapi semua orang berhasil menyulap pekarangan belakang villa itu menjadi tempat party yang oke, berkat arahan dari Hengky tentunya. Suasana taman yang nyaman yang kulihat siang itu -- berubah bak suasana party di hotel berbintang. Gemerlap lampu ala lampu disco yang berwarna-warni menghiasi setiap sudut taman, lengkap dengan musik dengan volume cukup kencang. Semua makanan disusun di atas meja besar, siapa pun bebas mau makan apa saja, lalu duduk di kursi-kursi yang sudah disusun di sekitar kolam.
Malam itu, sebelum makan malam dimulai, Reza dan aku membicarakan tentang rencana pernikahan kami pada sepupu-sepupuku, bahwa kami berencana memakai jasa Wedding Organizer milik Hengky, jasa tata rias pengantin oleh Zaza, jasa photographer Dimas dan Zizi untuk dokumentasi, juga Zia sebagai penanggung jawab menu apa saja yang akan dipakai di acara resepsi pernikahan kami. Mereka semua mengatakan oke, mereka siap.
"Kalau begitu, mulai besok dan selama kita di sini, di setiap tempat yang akan kita kunjungi, kita adakan sesi foto prewedding. Setuju?" tanya Dimas.
Belum sempat aku dan Reza merespons, semua orang langsung berteriak setuju dengan penuh kekompakan, kecuali tiga anak kecil yang sudah pulas tidur di satu kamar, mereka ditemani babysitter-nya Tirta.
"Aku dan Mas Dimas bawa kamera," kata Zizi.
"Aku bawa peralatan mekap," sahut Zaza.
"Bagaimana busananya? Kamu banyak bawa pakaian ganti, kan?" tanya Zia sang koki cantik berkulit putih yang pernah berprofesi sebagai model.
"Tenang," kata Mayra. "Untuk busana semuanya oke, nanti kita pilih di butikku. Mau model apa dan tema apa, semuanya oke. Asal jangan yang nyeleneh." Ia terbahak sendiri.
Ih, aneh, ya?
"Kalau begitu berarti Mayra bagian busana, aku bagian art director, pengarah gaya," timpal Zia.
Hmm....
"Mbak Zia, aku boleh ikut jadi art director juga?" tanya Aarin dengan tiba-tiba.
Zia mengangguk setuju. "Boleh dong," sahut Zia.
Aku menelan ludah mendengar ucapan mereka semua, jelas ada udang di balik batu, terlebih saat kulihat Ihsan yang sempat menahan tawa saat Zia mengiyakan pertanyaan Aarin. Lalu kukatakan pada mereka semua -- aku dan Reza ingin berdiskusi sebentar, di luar.
"Kenapa?" tanya Reza.
__ADS_1
Aku bingung, takut salah bicara dan malah membuat orang lain tersinggung. "Emm... sebenarnya aku senang mereka semua peduli dan mau ambil peran masing-masing. Tapi aku yakin tidak sebatas itu, Mas. Ujung-ujungnya nanti kita dijadikan konten youtube, terus jadi bahan promo bisnis mereka. Pasti Mayra juga menjadikan kita sebagai model rancangannya. Kalau kamu keberatan nanti aku bilang pada mereka kalau foto kita hanya untuk konsumsi pribadi, tidak boleh diunggah ke sosial media. Ya?"
"Kalau hasilnya oke ya tidak masalah," jawabnya. "Aku tidak keberatan kalau mereka mau mengunggahnya ke sosial media. Hitung-hitung kita bantu mempromosikan usaha mereka, kan? Lagipula menurutku ini bagus, kamu kan mau punya ruang galeri, nanti dinding-dinding ruang galerinya penuh dengan foto-foto prewedding kita. Kamu mau, kan?"
Aku lega. "Yeah, kalau kamu setuju, aku juga," kataku.
Kemudian kami kembali ke ruang diskusi itu dan menyampaikan bahwa kami setuju dengan rencana-rencana mereka. Kami akan menjadi model yang menurut, bukan bersikap seperti klien yang banyak maunya.
"Mas Reza, kami boleh jadikan momen ini sebagai konten youtube kami, kan?" tanya Rafasya.
Tuh, apa kataku. Aku sudah hafal betul semua karakter mereka.
Reza mengangguk. "Silakan," katanya.
"Untuk kalian berempat, Ihsan bantu Mas Reza dalam urusan style," lanjut Zaza. "Terus Mas Hengki, Mas Alfi, dan Mas Ari, kalian bertiga bertugas mengurus anak-anak. Setelah sesi pengambilan foto prewedding itu selesai, baru semuanya boleh aktivitas masing-masing. Ok all?"
Zaza, selaku sepupu tertua dan ketua geng, menyampaikan kata pembuka sebelum acara makan malam itu. "Well, kita semua berkumpul di sini untuk penyambutan Mas Reza Dinata sebagai anggota baru, kami minta Mas Reza untuk sportif mengikuti aturan main yang kami terapkan. Oke? Dan untuk Mas Alfi, Mayra, dan Aarin, terima kasih karena kalian sudah ikut meramaikan acara kami malam ini. Jadi, untuk Mas Reza, acara ini adalah satu momen di mana kamu wajib menunjukkan seberapa besar perasaan Mas Reza pada Nara. Nah, sebelum ke acara selanjutnya, kita mulai dulu malam ini dengan acara makan malam bersama, khusus untuk Mas Reza, kamu dilarang makan selain dari makanan yang sudah digigit oleh Nara. Seseorang yang mencintai pasangannya -- tidak akan jijik memakan apa pun yang sudah digigit oleh pasangannya. Contohnya seperti ini," kata Zaza. Dia menyuapkan makanan yang sudah ia gigit ke mulut Hengky, suaminya yang duduk di sebelahnya. Begitu pun Hengky yang menyuapkan makanan ke Zaza, lalu memasukkan makanan itu ke mulutnya setelah Zaza menggigitnya.
Seperti biasa, Reza mengatakan, "Oke, tidak masalah," kalimat yang sudah berulang kali kudengar sejak pertama kali aku mengenalnya. Kalimat itu sudah benar-benar akrab di indera pendengaranku. Dan, tentu saja Reza mau makan dari bekas gigitanku tanpa rasa jijik sedikit pun.
Selama sisa malam, kami bermain I'll Find You. Permainan ini kami ciptakan waktu kami menguji Hengky, sehari setelah dia melamar Zaza. Judul permainan ini diambil dari inti permainan itu sendiri. Aturannya, calon anggota baru yang ingin masuk ke dalam geng, harus menemukan orang yang ia cintai dengan mata tertutup, dan hanya boleh menyentuh tangan, keseluruhan bagian wajah, dan keseluruhan bagian kepala. Sementara anggota geng lainnya akan berdiri, berbaris sejajar atau melingkar. Saat itulah calon anggota baru harus menentukan yang manakah orang yang ia cintai? Apakah dia bisa menemukannya dengan mata tertutup? Dan bisakah dia mengenali tanpa melihatnya? Di samping itu, jika calon anggota baru itu adalah lelaki, maka dia akan dijahili oleh para lelaki lainnya yang mengikuti permainan itu.
Aku sangat antusias. Aku ingin tahu apakah Reza bisa mengenali dan menemukan aku dengan mata tertutup? Mayra dan Aarin sudah diberitahukan terlebih dulu tentang permainan itu sebelum jam makan malam, jadi mereka berdua pun mengenakan dress lengan panjang dengan model yang sama dengan kami.
"Pantas saja kalian semua memakai baju dan berdandan dengan style yang sama," ujar Reza. "Tidak masalah. I'll find you," katanya. Dia melirik dan menunjuk ke arahku. Tatapan matanya membuat jantungku seketika berdetak sangat kuat.
Well, permainan dimulai dengan hentakan musik yang keras. Delapan orang perempuan berbaris secara acak. Aku berdiri di urutan ketujuh. Ada Raline di ujung sana, di urutan pertama. Yang dilakukan Reza pertama kali adalah menyentuh rambutnya. Dari situ kami semua menyadari bahwa Reza mencoba mengenaliku dengan rambut roll, keriting sosis dan terikat. Rambut Raline aslinya keriting mirip mie, begitu pun rambutnya Raheel, tapi mereka mengubahnya dengan rambut lurus ala salon alias rebonding. Karena rambutnya saja bukan tipe roll, Reza langsung bergeser.
Di urutan berikutnya ada Mayra yang berambut lurus alami. Lalu Zaza, rambutnya juga lurus, begitu pun Zizi, satu-satunya hal yang sama di antara Zaza dan Zizi secara fisik -- hanya pada tipe rambutnya yang lurus, tapi dengan model rambut yang berbeda. Seperti penjelasanku sebelumnya, mereka tidak mempunyai wajah yang sama, hanya kembar, tapi tidak seiras, warna kulitnya pun berbeda, Zaza lebih putih dibanding Zizi. Orang asing tidak akan tahu kalau mereka adalah saudari kembar. Setelah Zizi, berikutnya ada Zia yang berambut ikal. Ketika Reza menyentuh rambutnya, dia agak ragu, karena hanya rambutku dan rambut Zia yang tidak lurus. Untuk meyakinkan itu, Reza menyentuh dan menggenggam tangan Zia, setelah beberapa detik dia melepasnya. Lalu bergeser ke urutan berikutnya.
__ADS_1
Aku berpikir, apakah Reza merasakan sesuatu saat dia menggenggam tanganku? Semacam getaran atau suatu energi yang berasal dari saraf atau aliran darahku? Sampai dia mencoba mengenaliku lewat sentuhan tangan. Ah, aku berpikir berlebihan. Mungkin dia sudah hafal dengan ukuran tangan dan jari-jariku yang mungil.
Ketika Reza selangkah lagi menuju aku, Alfi menyuruhku keluar dari barisan. Dia menggantikan posisiku di barisan itu. Disentuhnya wajah Reza dengan mesra, hingga kami semua tertawa geli melihat adegan itu berlangsung.
"Sialan lu, Al," pekiknya.
"Kok lu tahu ini gue?"
"Cuma lu doang yang pelontos di sini Alfi Wijaya, siapa lagi? Minggir sana."
Reza pun bergeser, ada Aarin di hadapannya. Dia menyentuh rambut Aarin yang lurus sepinggang. Lalu bergeser lagi, tidak ada siapa pun di depannya. "Baru tujuh orang," katanya. "Semuanya bukan Inara. Kalian tidak sportif."
"Oke. Ulang lagi dari awal. Inara masuk," perintah Hengky. "Nah, buktikan kalau lu bisa menemukan Nara di antara mereka."
Reza mengangguk. "Oke, sportif," katanya.
Kami berbaris lagi secara acak. Saat itulah para lelaki itu menjahili Reza, ada yang memeluknya, meraba-rabai tubuhnya, juga merema*-rema* bagian dadanya, bahkan ada yang mengecup pipi dan lehernya dengan begitu mesra. Mereka menjamah Reza, sangat menggelikan, tapi lucu, semua orang tertawa geli. Dalam barisan itu aku ada di urutan kedelapan, di sampingku ada Zia. Reza melewati semua perempuan berambut lurus sebelum kami.
Ketika di depan Zia, dan setelah menyentuh rambut Zia, dia lagi-lagi menyentuh dan menggenggam tangan Zia beberapa saat, lalu melepaskannya.
Tibalah giliranku, Reza dan aku berdiri berhadap-hadapan. Dia menyentuh rambut roll-ku yang terikat, lalu ia tersenyum, seperti senyum kemenangan. Dan aku malah berdebar, tidak tahu kenapa. Setelah itu dia meraih tanganku, menggenggamnya, lalu menyatukan jari-jari kami, dia menelusupkan jari-jarinya ke ruas jari-jariku hingga tertaut sempurna. Mendadak aku tersenyum, itu hal yang sering kami lakukan. Setelah itu dia menyentuhkan punggung tanganku ke indera penciumannya. Aku tahu, dia menciumi aromaku -- aroma vanilla dari kulitku. Kukira hanya aku yang suka menciumi aromanya, ternyata dia pun sama, dia juga suka mencium aromaku.
Selanjutnya, Reza menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu meraba-rabai setiap bagian wajahku secara perlahan. Nampak jelas dia mendramatisir suasana, terlebih saat dia menyentuh bibirku dengan jari-jarinya. Semua orang di sekitar kami tidak mengeluarkan suara apa pun, mereka hanya tersenyum cengengesan menyaksikan drama korea ala Reza. Terakhir, dia menyentuhkan keningnya pada keningku, "I love you," katanya, pelan sekali. Sontak saja semua orang bertepuk tangan, ada yang bersiul-siul, dan ada yang menggoda dengan kata cie-cie, cmiwww, uwuwww, ouwww so sweet, dan lain sebagainya.
"I'll find you," ucapnya saat membuka penutup matanya. Dia pun tersenyum lebar begitu ia melihatku benar-benar ada di hadapannya. Lalu membentangkan tangan dengan isyarat "peluk aku."
Dan, yeah, kami pun berpelukan -- hangat sekali.
"I love you too, Mas. Aku sangat bahagia. Karenamu."
__ADS_1