Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Khilaf Termanis


__ADS_3

Kami melanjutkan agenda jalan-jalan di hari keempat. Di siang bolong, jam satu siang lewat lima belas menit, kami semua sudah siap berangkat. Hari ini tanpa mobil, semuanya naik motor, sebab rute perjalanan kami tidak terlalu jauh.


Seperti kata Ihsan, di depan semua orang, aku bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku masih dibonceng Reza. Di sepanjang jalan kami tidak bicara sama sekali. Aku juga sengaja berkumpul dengan sepupu-sepupuku sebelum kami berangkat, supaya Reza tidak mendekatiku dan tidak mengajakku bicara.


Agenda pertama kami waktu itu mengunjungi Pantai Atuh, pantai tersembunyi dan terpencil. Lokasinya dikelilingi oleh tebing batu yang tinggi yang seolah mengepung pantai. Batuan berwarna cokelat muda kekuningan ini berdiri kokoh di berbagai tempat. Tidak hanya di sekitarnya saja, tapi juga di area laut dan di tepi pantainya juga, seolah menjadi benteng yang menghalau terjangan ombak. Kulihat terumbu karang berwarna-warni, menari-nari di antara bebatuan karena diterpa ombak lautan -- mereka seolah menyindirku. Mereka yang diterpa ombak setiap saat, tapi mereka tetap indah. Berbeda denganku, yang selalu lemah dan takut pada cinta.


Demi menghormati semua orang, terutama Zizi, aku tetap mau melakoni sesi foto di sana. Kali ini bukan demi aku, bukan demi foto prewedding-ku, tapi hanya demi Zizi.


Aarin yang sangat memahami keadaan hatiku saat itu -- membisikkan sesuatu pada Zia. Aku tidak tahu tentang apa. Tapi di sana, Aarin yang menjadi art directort kami. Dia mengarahkan kami berpose bak Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur. Pose saat Shraddha mencengkeram leher kaus Aditya, dan mereka seolah akan berciuman. Aarin nampak sudah mempersiapkan pose itu sebelum kami berangkat ke sana. You are the best partner, Aarin.


Setelah mengambil satu foto itu, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sengaja menjauh dari Reza. Karena itulah Ihsan dengan setia menemaniku, juga Aarin.


"Foto, yuk? Sudah lama kita tidak foto berdua," kata Ihsan.


Dia benar. Kami memang sudah lama tidak berfoto berdua. Jadi okelah. Aku pun setuju. Setelah foto berdua, kami foto bertiga, Ihsan di tengah, aku di sisi kanan, dan Aarin di sisi kirinya.


"Aku mau upload," kata Ihsan kemudian. "Hashtag-nya bersama dua bidadari cantik. Coba kalau Bunda ikut, jadi hashtag-nya bersama tiga bidadari cantik."


Aku tersenyum mendengar itu. Selama ini aku kehilangan banyak momen persaudaraan kami karena aku sering jauh dari keluargaku. Dan sekarang aku senang, dia satu-satunya saudara sedarah yang kuakui, yang sekarang bisa bersamaku, masih seperti Ihsan-ku yang dulu. Seorang adik yang berperan sebagai kakak untukku. Kurasa usianya bukan dua puluh tiga, sikap dewasa Ihsan membuatnya nampak seperti umur tiga puluh dua.


"Aku ke sana, ya," kataku. Aku tidak mau mengganggu momen kebersamaan Ihsan dan Aarin. Kuputuskan untuk menyewa bean bag, kupakai kaca mata hitam, lalu memasang earphone. Memutar musik dengan volume keras dan menutup mata. Hingga aku benar-benar tertidur.


Cukup lama setelah itu, suara Reza membuatku terbangun. Dia melepaskan earphone dari telingaku. "Ayo, semua orang sudah naik ke atas," katanya.


Rasanya aku linglung. Aku harus mengumpulkan tenaga supaya bisa bangun dari bean bag.


"Kenapa?" tanyanya. Aku menggeleng. "Sini, biar kubantu," katanya, dia langsung menarikku untuk berdiri.


Aku yang baru bangun dari tidur -- masih kehilangan keseimbangan saat berjalan, sebab itu aku terjatuh dengan posisi lutut dan telapak tangan bertumpu di atas pasir. Reza yang berjalan di belakangku dengan cepat menghampiri, meraih lenganku, dan menggandengku sampai ke atas. Meski masih marah, ternyata aku masih saja terlena dengan perlakuannya. Omong-omong, jika di adegan sinetron, pasti si cewek tidak sampai terjatuh karena keburu diselamatkan oleh cowoknya. Tapi tak apalah, meski tak sedramatis serial televisi, setidaknya aku tahu betapa pedulinya Reza kepadaku.


Rencananya, kami ingin mengunjungi Diamond Beach, tapi rasa-rasanya kami tidak sanggup kalau harus turun, kemudian naik lagi, sebab masih ngos-ngosan dari pantai Atuh. Maka dari itu, kami hanya mengambil foto dari atas tebing. Diamond Beach merupakan pantai yang menawarkan pemandangan tebing-tebing karst dengan bentuk meruncing menyerupai permata.


Aarin yang belum melihat senyumku, tetap pengertian, sebab itu dia menyuruh kami berpose ala Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur lagi, pose berdiri saling berhadapan, lalu berciuman -- tapi di antara bibir kami di sekat dengan telapak tanganku. Yeah, kuakui foto itu lucu, dan sempat membuatku tertawa kecil.


Selanjutnya kami menuju Pantai Suwehan. Yang ikonik di objek wisata pantai ini adalah sebuah batu besar berbentuk lancip berdiri tegak di tengah pantai, batu besar tersebut dikenal dengan nama Batu Jineng -- tempat kami mengambil foto terakhir untuk hari ini, dengan pose ala Aditya Roy Kapur dan Shraddha Kapoor. Foto mereka di rel kereta, tapi dalam versi kami diganti dengan latar belakang Pantai Suwehan dan batu Jinengnya yang ikonik.


Selesai berfoto, kupasang lagi earphone-ku, bahkan sampai kami pulang. Ternyata, berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja -- itu lebih menyakitkan daripada kabur dan hidup menyendiri. Dan rasa-rasanya, hari ini begitu panjang dan waktu berjalan dengan lambat, membuatku benar-benar meresapi rasa sakit di setiap detik waktu yang berjalan.


Sepulangnya kami ke penginapan, aku sengaja langsung pergi meninggalkan Reza di parkiran dan langsung masuk ke kamar. Tetapi, belum sempat aku menutup pintu, Reza sudah menerobos masuk, lalu mengunci pintu dari dalam.


"Keluar!" kataku.


"Tidak, sebelum kita bicara."


"Aku tidak mau bicara denganmu. Keluar atau aku akan teriak?"

__ADS_1


Tidak mempan. Amarahku justru semakin memancing emosi Reza. "Silakan!" tantangnya. "Silakan teriak, sampai Ihsan dan semua sepupumu datang. Aku akan membiarkan semua orang menghakimiku. Aku tidak akan melawan sedikit pun. Sekalian aku mau melihat -- apa kamu akan merasakan sakit kalau aku sakit? Silakan! Teriaklah. Teriaklah sekencang-kencangnya sampai semua orang datang ke sini."


Aku terdiam, hanya berdiri kaku di depan Reza. Ancamanku tidak berarti apa-apa baginya. Tidak mungkin aku akan membiarkannya sampai dihakimi oleh semua orang hanya karena dia masuk ke kamarku.


Sejenak kemudian, dia maju menghampiriku, membuatku sontak melangkah mundur bahkan sampai mentok ke dinding. Lalu, dia menahanku dengan kedua tangannya yang dijulurkan. Aku berusaha mendorongnya, tapi sia-sia, dia lelaki yang cukup kekar, tenaganya terlalu kuat untuk kulawan. Aku menyuruhnya untuk menyingkir baik-baik, tetapi dia tetap tidak mau. Dia tetap berdiri di situ setidaknya selama semenit, sikapnya itu serasa membakar diriku lewat kedua tatapan matanya.


"Minggir!"


"Tidak," sahutnya singkat dan tenang.


"Lepaskan aku! Aku mau kita berakhir."


"Tidak akan pernah. Tidak akan ada kata berakhir di antara kita. Karena sampai kapan pun juga, kamu itu milikku."


Aku melotot lebar. "Bukan kamu yang menentukan. Kamu tidak bisa mengatur-atur aku. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan lelaki sepertimu, lelaki yang tidak bisa menepati janji. Lelaki yang dengan sengaja membiarkan orang lain hadir di antara kita. Kamu sama seperti ayahku. Sama persis malah."


Reza menghela napas, lalu memegangi pundakku. "Dengar, jangan selalu mengira bahwa setiap laki-laki akan pergi begitu saja dan akan mengecewakanmu suatu hari nanti. Jangan pernah berpikir kalau aku ini sama dengan mereka, apalagi sama dengan ayahmu."


"Kamu memang sama!" kataku. "Kamu sama berengseknya dengan manusia bedebah itu. Dan Salsya, perempuan janda sialan itu, dia itu murahan, pelacu,* persis Yanti dan Rhea. pelacu*-pelacu* yang bergelayutan di sisi ayahku. Kalian itu sama. Sampah! Kotor! Pergi kamu! Lepas!"


Alih-alih melepaskanku, Reza malah memelukku. Kurasakan kedua tangannya melingkar erat di tubuhku. Spontan kuinjak kakinya, aku langsung mendorongnya saat dia lengah karena kesakitan, dia pun terjengkang, jatuh ke lantai. Tapi aku malah kasihan dan merasa bersalah. Tak seharusnya aku sekasar itu.


"Maaf," kataku. "Aku tidak bermaksud menyakitimu." Kuhampiri dia dan kujulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Tapi dia malah menarikku dan membuatku jatuh tertelungkup di atas tubuhnya. Dengan geram dia membalikkan tubuhku, menindihku, dan memegangi kedua lenganku, membuatku tidak bisa bergerak. Tahu-tahu lidahnya sudah berada di dalam mulutku -- jauh di dalam kerongkonganku. Aku nyaris tidak bisa bernapas, tetapi aku menyukainya. Ingin kugigit lidahnya, kutelan dan kucerna supaya proteinnya memberikan gizi bagi tubuhku.


Saat-saat penuh kemunafikan itu pun datang. Entah karena apa, apa karena perasaanku atau karena setan yang berhasil membujukku, aku menerima ciumannya. Aku ingin Reza menjadi bagian diriku untuk selamanya. Kubebaskan tanganku menyentuh wajah dan lehernya, dan kubalas ciuman panasnya dengan gairahku yang membara. Reza mengalihkan ciumannya ke sekitar telingaku, lalu turun ke leherku. Aku menggeliat, menikmati setiap sentuhannya -- sentuhan yang memberikan sensasi nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Kunikmati tubuh kekarnya yang liar di atasku. Dia mencumbui leherku -- lama dan nikmat. Saraf-sarafku serasa bergetar begitu hebat dan menyemburkan hormon-hormon bahagia dari dalam. Aku - lepas - kontrol. Kunikmati setiap cumbuannya yang berjejak merah dengan gairah tak tertahan. Tanpa kusadari, bibirnya sudah berpindah -- hampir ke dada.


Tetapi saat itu Reza justru tersadar. Dia tersenyum, lalu menggeser tubuhnya. Diciumnya aku dengan manis, nyaris seperti ciuman seorang kakak seraya menyibakkan sejumput rambut yang menutupi mataku. Separuh tubuhnya tetap ada di atasku.


"Maaf, ya? Aku terbawa suasana," ujarnya.


"Tidak apa-apa. Aku suka," kataku tidak tahu malu.


"Beri aku kesempatan bicara, kamu mau, kan, mendengarku?"


Aku mengangguk.


Reza pun tersenyum. "Aku berani bersumpah, bukan aku yang menerima Salsya kembali bekerja di resto. Tadi pagi itu dia langsung berangkat ke Bogor, langsung menemui Ibu. Dia menceritakan bagaimana keadaannya, dan langsung meminta pekerjaan ke Ibu. Ibu tidak enak menolaknya, sebab itu Ibu mengiyakan."


Aku tetap terdiam. Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Tapi satu yang kuyakini, Salsya sengaja melakukan itu untuk mendekati Reza dan ibunya. Dia ingin kembali ke pelukan Reza. Aku yakin tentang itu.


"Aku tidak langsung mengatakannya padamu karena aku tidak mau kamu kecewa dengan keputusan Ibu. Kamu bisa mengerti, kan? Jangan lantas kecewa dan marah pada ibuku karena hal ini. Bisa?"


Dengan setengah hati kuanggukkan kepala. Kemudian Reza berusaha duduk, lalu membantuku untuk duduk.


"Maaf, Mas. Aku menyesal telah bertingkah keterlaluan," ujarku. "Aku menyesal tadi mendorongmu. Aku menyesal karena begitu emosional. Aku menyesal karena berkata kasar dan mengata-ngataimu. Apa kamu membenciku?"

__ADS_1


Dia tersenyum dan menatapku dengan tatapan mata penuh arti. "Aku tidak akan pernah bisa membencimu. Tidak akan pernah. Dengar, aku hanya kasihan pada Salsya, tidak lebih, dan tidak untuk kembali padanya. Jangan pernah berpikir kalau aku akan menyakitimu dengan cara apa pun. Oke? Sekarang rapikan dirimu, jangan sampai orang lain melihat dan mengira aku telah melakukan itu padamu."


"Mas?"


"Emm?"


"Setelah kemesraan kita barusan, apa di matamu... aku... murahan?"


Ia menggeleng. "Kemesraan kita tadi itu kesalahanku, kalau aku tidak melakukan itu, kamu juga tidak akan merespons. Itu sepenuhnya salahku. Jangan malu dan jangan merasa bersalah."


Aku mengangguk. "Jika kamu tidak tersadar, mungkin aku bersedia kamu melakukannya," akuku.


"Aku paham," katanya. "Tidak apa-apa. Asal hanya padaku dan tidak terbawa suasana saat bersama orang lain."


Nyesss... kucubit perutnya.


"Dasar barbar...."


Aku pun tertawa. "Sudah tahu aku barbar. Kenapa kamu masih mau? Jangan bilang aku tidak buruk seperti waktu itu. Aku jelas buruk. Dan kamu tahu itu."


"Emm... kalau begitu, jawabannya karena kita sama buruknya. Yeah, mungkin aku sedikit lebih baik." Dia terkekeh. "Yang penting hatimu baik, selamanya setia, dan hanya mencintaiku. Aku percaya kamu akan selalu setia di sisiku."


Sepercaya itu Reza akan kesetiaanku. Sedangkan aku? Aku selalu meragukan kesetiaannya. Dan itu karena ayahku. "Maaf, Mas. Aku tidak punya keyakinan sebesar itu terhadapmu."


"Tidak apa-apa. Akan kubuktikan. Asal kamu berjanji, setiap ada masalah, kamu akan selalu memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan. Janji?"


Aku mengangguk. "Aku janji," ucapku. "Janji kelingking."


Kami menghabiskan beberapa menit berikutnya dengan berpelukan, saling berkata jujur betapa sakitnya kami tanpa satu sama lain. Yeah, rasanya melegakan.


Dan, setelah cukup lama, hari pun sudah cukup larut, aku berdiri dan meregangkan tubuh, lalu berjalan menuju kamar mandi. Seraya meraih handuk, aku berbalik untuk menutup pintu di belakangku. "Aku mau mandi," kataku. "Tunggu dua puluh menit lagi, ya."


"Beritahu aku kalau kamu butuh seseorang untuk menggosokkan punggungmu," Reza berkata dari balik pintu.


Aku hanya tertawa. "Silakan bermimpi. Otakku sedang waras. Balik sana."


"Oke," sahutnya.


Dua puluh menit kemudian, aku berdiri di depan cermin -- aku sudah bersih dan sudah berpakaian, ada secarik kertas surat yang tertempel di sana. Segera saja kebahagiaan melandaku. Itu tulisan tangan Reza.


Hanya pesan singkat untukmu, Nara-ku Sayang, agar kamu tahu bahwa aku selalu memikirkanmu. Kuharap hari ini, besok, dan seterusnya, aku selalu bisa membuatmu bahagia dan menjadikan hari-harimu selalu indah.


Selamat malam dan selamat istirahat. Aku mencintaimu.


- Love R

__ADS_1


Mmm... manis sekali. Meski hanya hal sederhana, tapi itu membuatku tersenyum bahagia.


__ADS_2