Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
You Are My Home


__ADS_3

Risau -- satu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Aku butuh seseorang untuk berbagi, orang yang bisa mendengarkan curahan hatiku, yang bisa mengerti dan memahami keresahan dan kegundahanku. Yeah, aku ingin curhat, sebab itu aku menelepon ibuku. Waktu itu sekitar jam sepuluh pagi, Reza sedang tidak di rumah. Aku bisa leluasa bercerita tentang segalanya, terlebih tentang sikap Reza beberapa hari ini yang selalu menghabiskan waktu di luar dan selalu pulang malam. Sambil sesekali mencelupkan kakiku ke kolam, aku mendengarkan nasihat ibuku dari seberang sana.


"Tetaplah sabar. Reza butuh waktu untuk sendiri, dia pasti punya alasan kenapa dia tidak menceritakan hal itu. Mungkin dia tidak mau membuatmu khawatir semisal kamu tahu kalau dia mau terbang. Sedangkan kalau kamu tahu, kamu pasti akan melarangnya. Iya kan?"


Hmm... aku menunduk. "Iya, Bund, tapi itu demi kebaikannya. Dia kan sedang--"


"Bunda tahu, Sayang. Bunda tidak menyalahkanmu, tapi kita juga tidak bisa menyalahkan Reza. Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi kesedihan. Contohnya seperti dirimu sendiri, kalau kamu sedih, kamu melarikan diri entah ke mana, apa Bunda bisa mencegahmu? Kamu selalu kabur. Kamu ingat?"


Kata-kata ibuku menohokku dengan telak. Keadaan ini rumit, aku bingung. Emosi Reza sedang tidak stabil, aku merasa bersalah jika aku membiarkannya dengan hal-hal yang menantang maut. Tetapi, jika aku melarangnya, itu pasti akan membuatnya semakin menjauh dariku, bisa-bisa aku dianggap tidak pengertian, karena belum tentu dia mau mendengarkan aku.


"Sabar, ya, Sayang. Bilang saja kalau kamu bisa menemaninya ke mana pun yang dia mau, dan kamu tidak akan melarang apa pun yang ingin dia lakukan. Tapi jangan memaksa kalau dia tetap menolak. Tetaplah bersikap lembut. Oke, Sayang?"


Yeah, Bunda benar, pikirku. Dan aku akan berusaha untuk lebih bersabar menghadapi Reza.


"Iya, Bund. Nara--"


Eh?


Aku tersentak kaget. Tiba-tiba Reza berdiri di belakangku, membenamkan wajahnya di lekuk leherku dan dipeluknya aku erat-erat. Aku pun langsung menyudahi telepon dengan ibuku.


"Mas? Ada apa?" tanyaku.


Reza menggeleng. Dia mengangkat wajahnya, lalu ia memelukku lagi lebih erat.


"Thanks."


"Untuk apa?"


"Untuk pengertianmu. Untuk memberi ruang. Untuk tidak marah-marah padaku karena sudah beberapa hari tidak menghabiskan waktu bersamamu, dan membiarkanmu sendirian."


Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kubelai wajahnya dan kukecup pipinya. "Bohong kalau aku bilang tidak apa-apa. Tapi aku berusaha untuk tidak marah. Aku mengerti. Aku tidak menyalahkanmu. Tapi harusnya kamu memberitahuku. Harusnya kamu ajak aku bersamamu. Jangan menghilang entah ke mana, lalu mengharapkan aku tidak usah cemas. Bukan begitu caranya."


Reza mendengarkan celotehanku tanpa bantah. Aku yakin dia bertemu Erik dan Erik pasti memberitahukan kedatanganku kemarin, sebab itu dia langsung pulang. Kalau tidak, pasti dia sudah melanglang buana lagi entah ke mana.


"Aku tahu. Aku minta maaf," katanya. Lalu dia melepaskan pelukannya, memutarku, dan menangkup wajahku. "Tapi harus kamu tahu, jujur, aku tetap ingat pulang karena aku ingat ada kamu yang menungguku. Trims, entah di mana aku kalau tidak ada kamu. I love you, Nara."


Lega. Aku tahu dia pasti kembali padaku. "I love you too. Aku akan terus berada di sisimu. Melekat seperti lem."


Well, untuk menebus rasa bersalahnya, siang itu Reza mengajakku ke bioskop untuk membuatku kembali ceria. Kami sedang tidak ingin pergi jauh-jauh. Kau tahu film apa yang kami tonton? Yap, film comedy horror, Djoerig Salawe. Lo, kok? Iya, yang nonton cuma Reza. Aku kan penakut, sebab itu aku lebih banyak menutup telinga. Bukannya menonton film, aku malah menonton Reza yang tertawa terpingkal-pingkal. "Benar-benar lucu," katanya.


Demi kamu Mas, tak apa aku ada di sini.


Yap, setidaknya ada sesi berbagi popcorn atau bercumbu mesra di sela-sela adegan film. Reza sudah kembali hangat dan bersikap manis kepadaku. Jadi, selama sekian puluh menit itu aku bisa berpura-pura segalanya hampir normal. Kurasa tujuannya bukan untuk membuatku kembali ceria, melainkan untuk dirinya sendiri, pilihan kata yang tepat sebenarnya bukan mengajak tapi minta ditemani, sebab... Reza yang menentukan film apa yang mau ia tonton, dia suka komedi dan suka horor, kesukaan yang bertentangan dengan kesukaanku. Tapi cinta butuh pengorbanan, termasuk melawan rasa takut. Atas nama cinta, aku telah membuktikannya, aku bisa melawan rasa takutku untuknya, demi dia.


Ah, jangan protes. Aku memang tidak menonton film itu, tapi setidaknya aku berani masuk ke bioskop itu, kan? Netizen dilarang julid!

__ADS_1


Well, setelah menonton film, kami pun pergi ke supermarket. Ada banyak keperluan dapur dan kebutuhan lainnya untuk dibeli.


"Kenapa mesti pilih gula jagung?" Reza bertanya padaku saat kami belanja.


Aku tersenyum. "Karena kamu," kataku. "Ayahmu punya riwayat diabetes, dan itu berpotensi besar menurun ke kamu."


Praktis Reza mengernyitkan kening. Sebelum dia bertanya dari mana aku tahu, cepat-cepat kukatakan kalau aku tahu soal itu dari ibunya. Ibunya menceritakan itu kepadaku sewaktu aku menungguinya di rumah sakit. Reza sedang keluar waktu itu.


Reza pun manggut-manggut, mencoba memikirkan ulang cerita-cerita seminggu yang lalu.


"Ibu memintaku untuk menemani dan mengurusimu. Kalau waktu itu kita sadari, sebenarnya Ibu sudah tahu apa yang akan terjadi."


Reza manggut-manggut lagi, dia sependapat denganku. "Lalu, Ibu bilang apa lagi?" tanyanya.


"Kamu mau tahu? Ada syaratnya, nanti kamu harus belikan es krim untuk kita berdua, dan kamu harus ikut makan es krim itu bersamaku. Bagaimana?"


Dia setuju. "Iya, oke," katanya bersemangat.


Aku tahu, dia sangat merindukan ibunya.


"Emm... Ibu bilang, katanya aku harus belajar dari Mbok Tin, tentang tata letak barang-barangmu," kataku, kulihat Reza langsung tersenyum, dia mengerti apa yang kumaksud. "Katanya kamu bakal rempong dan menyusahkan orang-orang kalau barang-barangmu tidak berada di tempatnya, karena kamu tidak becus dalam urusan cari mencari."


Ck! Aku terkikik. Tidak becus mencari, kalau mencari jodoh? Bagaimana?


"Tidak juga," dalihnya. "Aku itu cuma tidak suka buang-buang waktu. Merepotkan."


Aku berhenti sejenak, mengambil cokelat bubuk dari raknya, lalu bergeser sedikit, mengambil teh tarik. Aku mengingat-ingat, sudah cukup lama aku tidak meminumnya, terhitung sejak dekat dengan Reza. Aku malah sering minum teh melati seperti dirinya.


"Terus apalagi?" tanyanya memutus lamunanku.


Aku berpikir sejenak. "Kata Ibu, kamu itu tidak bisa menaruh perhatian pada hal-hal kecil. Contohnya, kamu abai waktu harus bayar listrik atau saat harus isi token listrik, pantas saja sewaktu kita di villa listriknya sampai padam. Dan wajar Ibu mau kamu cepat menikah, kamu tidak bisa mengurusi hidupmu sendiri."


"Hanya pada hal-hal tertentu, Sayang."


"O ya? Masa?"


"Serius. Tidak pada semua hal," sanggahnya lagi.


"Oke. Tidak ada yang melarangmu menyanggah hal itu."


Dia pun tersipu, meskipun dia menyangkal, tapi hal-hal itu tidak bisa dipungkiri. Dan aku beruntung, ibunya sempat menyampaikan hal-hal itu kepadaku, meski terdengar sepele, tapi itu hal-hal yang cukup penting untuk kupahami.


"Oh ya, Ibu juga bilang kalau kamu itu pemakan segala jenis makanan, tapi kalau kamu sedang bosan makan yang itu itu saja, solusinya mudah, cukup masak pekasam, peda, belukang, jenis-jenis ikan asin lainnya, juga ikan asap."


Reza mengangguk. "Balur dan Salai," katanya menegaskan.

__ADS_1


"Iyo, uji wong Palembang tu kalu ikan dienjuk garem terus dijemur namonyo balur, kalu diasap itu namonyo salai, nah kalu dipermentasi itu pekasam. Dak usah nak diomongke nian, aku ingat," ocehku dengan jengkel.


Well, aku mencebik. Sedangkan Reza terkekeh senang. "Gadis Palembang itu memang lucu, ya."


"Memangnya kamu paham apa yang kukatakan tadi?"


Sudahlah, yang penting dia tertawa senang.


Selanjutnya, seperti kesepakatan kami tadi, kami pun pergi ke kedai es krim.


Omong-omong, siapa yang tidak suka es krim? Makanan yang dingin dan menyegarkan ini disukai oleh semua orang dari segala usia. Terutama kaum cewek-cewek. Apalagi di siang bolong seperti hari itu. Segar. Kami memesan dua scoop gelato rasa cokelat.


"Enak, kan?" tanyaku.


"Mmm-hmm," Reza menyetujui, dia menyendok gelatonya.


"Ayo jalan," kataku sejenak kemudian. Kami menyusuri jalan, melewati beberapa toko, dan langsung masuk ke mobil begitu kami sampai di parkiran.


Waktunya pulang. Harusnya. Tetapi...


"Mas, kamu ingat waktu pertama kali aku bertemu Ibu. Waktu itu kamu bertanya kenapa kami menangis?" tanyaku.


Reza mengangguk. "Ingat," katanya, lalu dia diam sejenak, mencoba mengenang kembali masa itu. "Memangnya kenapa? Emm... maksudku kenapa kalian menangis waktu itu? Ibu mengatakan sesuatu padamu?"


Aku mengangguk. "Waktu itu Ibu minta aku berjanji."


"Janji? Janji apa?"


"Tidak perlu menyela, Mas. Cukup dengarkan aku. Oke?"


"Baiklah, aku akan menjadi pendengar yang baik. Ibu bilang apa?"


Oh... tak sabar sekali dia.


"Emm... waktu itu... Ibu minta aku berjanji untuk menikah denganmu. Kamu kan tahu sendiri, aku tidak suka berjanji, tapi karena Ibu menangis, jadinya waktu itu aku terpaksa berjanji. Katanya dia akan tenang kalau aku berjanji padanya. Malahan, Ibu terang-terangan bilang kalau mungkin umurnya tidak akan lama lagi dan dia menitipkan kamu padaku. Serius. Aku benar-benar tidak menyangka kalau itu semacam wasiat atau semacam amanahnya untukku."


Mata Reza berkaca-kaca. "Thanks, ya. Kamu bersedia memenuhi permintaan Ibu. Karena kamu, aku merasa hidupku masih berarti. Aku masih punya tujuan hidup dan masih punya tempat untuk pulang. You are my home, Nara. Kamu adalah rumah yang kutuju."


"Simbiosis mutualisme, apa jadinya aku dan entah ada di mana aku saat ini jika tidak ada kamu? Hmm?"


Reza tersenyum simpul, dan, dia kembali menjadi Reza yang usil. Dia mencoletkan es krimnya ke wajahku, persis di rahang kananku.


Ya Tuhan... iseng sekali. Aku pun menyodorkan tisu. "Kamu baru saja mengucapkan terima kasih. Sekarang sudah jahil lagi. Tanggung jawab, lo, ya. Bersihkan wajahku."


"Nope. Aku tidak butuh tisu," katanya. Dia menaruh es krimnya, lalu mendekat ke wajahku. Dan... kau tahu, kan, apa yang ia lakukan?

__ADS_1


Dasar modus, ya....


Tapi menyenangkan. Dan aku suka.


__ADS_2