Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Falling In Love


__ADS_3

Reza menghabiskan hari terakhirnya di Surabaya bersamaku. Dia mengajakku menempuh jarak lebih dari delapan kilometer selama dua puluh lima menit menuju Food Junction Grand Pakuwon Surabaya, yang merupakan pusat wisata kuliner di kota itu, lokasi asik untuk berbincang bersama, menikmati kuliner, wahana-wahana permainan, dan pastinya punya spot-spot cantik untuk mengabadikan momen bersama.


Lokasi bangku yang ada di taman tepi danau menjadi lokasi favoritku. Di spot itu, kami mengambil gambar dengan latar belakang danau buatan serta bianglala. Saat malam, seluruh lampu hias akan mewarnai setiap sudutnya. Sedangkan untuk wahana permainan, aku menyukai trampolin.


"Kita mau main apa lagi?" tanya Reza. "Naik sepeda air, mau?"


Belum sempat aku menjawab, Reza sudah menarikku sampai ke tepi danau, kemudian dia menggendongku. Aku sempat berteriak kaget dan menyuruhnya menurunkan aku dari gendongannya. Tapi, dia malah tetap keukeuh menggendongku dan baru menurunkan aku di atas sepeda air. Dia sedikit pun tidak merasa malu dilihat banyak orang di sekitar kami.


"Aku dulu pernah main sepeda air, waktu masih kecil. Tapi aku sudah lupa bagaimana rasanya. Aku cuma tahu lewat foto. Menyesal rasanya setelah bisa merasakan suatu perasaan, tapi aku malah hidup dalam rasa hambar."


Reza menggeleng, lalu meraih tanganku. "Sudah," katanya. "Tidak ada gunanya mengingat hal-hal buruk di masa lalu. Kita masih punya banyak waktu untuk meraih kebahagiaan kita. Asal kamu selalu memberiku kesempatan, oke?"


Aku mengangguk. Kurasakan detak jantungku berdegup hebat ketika aku menatap matanya. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku menyadari bahwa aku juga telah jatuh cinta. Hatiku mengakui: I am falling in love with you, Mas Reza Dinata.


Well, saat makan malam, satu-satunya menu yang kupilih berdasarkan keinginanku sendiri yaitu bebek Pak Janggut, untuk minumannya chocholate ice dan milkshake, sedangkan untuk camilan, apa pun yang dibeli oleh Reza, pasti akan kucicipi.


"Kamu mau menyukai apa pun yang kusukai. Apa salahnya kalau aku juga belajar menyukai apa pun yang kamu sukai," ujarku.


Tetapi, aku menyesal karena telah mengucapkan kalimat bodoh itu ketika aku tahu kalau dia sangat menyukai mayones, dan dia memintaku untuk mencobanya.

__ADS_1


"Demi kamu," kataku.


Kumasukkan benda yang menurut lidahku rasanya super aneh itu ke mulutku, aku mencoba menelannya, tapi hasil akhirnya adalah aku muntah-muntah, dan tidak hanya mayones itu yang keluar, tapi juga bebek yang sebelumnya masuk ke perutku juga ikut keluar. Aku cemberut.


Reza memandangku dengan tatapan memelas. "Sori. Kalau tahu kamu sampai muntah, aku tidak akan memintamu untuk mencobanya. Kita beli bebek lagi, ya?"


"Terserah."


"Oke. Kalau begitu dibungkus saja, ya."


"Terserah."


"Ter... tidak jadi. Aku mau pulang," kataku.


Di sepanjang jalan, aku terus mendiamkannya, bahkan sampai kami masuk ke dalam mes. Di dalam sana sudah tersedia paper bag yang aku tahu isinya pasti pakaian ganti untukku. Kuambil dan kubawa masuk ke kamar mandi. Setelah mandi aku langsung naik ke tempat tidur. Aku tidak tahu Reza ada di mana saat itu.


Jam di ponsel menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Reza membuka pintu kamar, dia sudah berganti pakaian: celana panjang tentara dan T-shirt warna abu-abu polos. Dia tampak kelimis, sudah mandi dan sudah bercukur.


"Kamu masih ngambek?" tanyanya sembari mendekat. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Kamu tidak perlu lagi mencoba apa pun yang kusukai, dan kamu juga tidak perlu lagi memaksakan diri untuk mencoba sesuatu yang tidak kamu sukai. Tolong, aku tidak mau melihatmu seperti ini. Kamu mau, kan, memaafkan aku?"

__ADS_1


Aku terkesan karena dia bisa begitu tulus padaku. Tetapi, aku tidak mau mengucapkan kata-kata untuk memujinya. Kutarik dia ke dalam pelukanku dan kusembunyikan wajahku di lehernya. Beberapa menit berlalu dan dia melepaskan diri dariku, sambil memandangiku dengan kepala dimiringkan. Sebabnya karena aku menangis. Aku tidak bisa menahannya waktu itu, Reza merabai tetes-tetes air mata di lehernya. Sialan, aku menyumpah-nyumpahi diriku sendiri. Dalam sekejap rupa-rupanya aku sudah berubah menjadi makhluk cengeng dan melankolis yang gampang mengeluarkan air mata.


Sambil terseduh-seduh, aku menjauhkan diri dari Reza dan membungkus tubuh serta kepalaku dengan selimut. Meringkuk membelakanginya.


"Hei...," katanya. "Sayang, ayolah, ada apa? Kamu kenapa?"


Itu pertama kalinya -- secara resmi -- dia memanggilku sayang. Aku suka dia mengucapkannya, kedengarannya seperti sonata piano di telingaku.


"Tidak apa-apa. Aku cuma takut aku tidak bisa menjalani hubungan kita karena rasa takutku. Seperti aku tidak bisa mengalahkan rasa tidak sukaku pada mayones."


Reza tertawa terkekeh-terkekeh, lalu menyelinap masuk ke dalam selimutku.


Praktis, aku senewen. "Apa yang lucu?" tanyaku gemas.


"Kamu. Kamu yang lucu. Semula aku tidak yakin apakah kamu benar-benar suka padaku. Tapi sekarang aku tahu."


Ingin kukatakan padanya bahwa aku tidak pernah bertindak seperti itu. Aku bukan cewek segampang itu. Tetapi sepertinya daya tarik Reza sudah menjadi pisau yang menembus langsung tameng pertahananku. Aku merasa kerapuhanku menetes-netes dan menggenang di seluruh tempat tidur, digantikan oleh suntikan harapan baru yang segar darinya.


Reza memutarku sehingga aku menghadap ke arahnya. "Aku sangat menyayangimu." Ditangkupnya wajahku dengan kedua tangannya, dan diciuminya keningku dengan penuh perasaan. Dengan bibir dan jarinya dia mengusir pergi semua ketakutanku saat itu. "Biarkan aku memelukmu sampai kamu tertidur. Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah."

__ADS_1


__ADS_2