
Adik lelakiku, Ihsan Satria, seorang karyawan perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan. Ihsan bertubuh atletis, rambutnya hitam, kulitnya lumayan putih. Bentuk wajahnya mirip denganku, terutama dulu waktu kami masih kecil, seperti anak kembar dengan jenis kelamin yang berbeda. Dia tinggal bersama ibuku di salah satu komplek di kawasan Pademangan, Jakarta Utara. Aku biasanya hanya bertemu Ihsan pada hari-hari perayaan, atau saat aku menemui ibuku, tiga sampai enam bulan sekali. Dan kami hanya bicara di saat ada hal yang penting untuk dibahas.
Ihsan meneleponku sehari setelah aku bertemu dengan ayahku secara tidak sengaja. Aku langsung menduga-duga kalau dia meneleponku karena ada hubungannya dengan pertemuanku dengan ayahku kemarin. Setelah menekan opsi terima panggilan, aku langsung bertanya ada apa dia meneleponku. Benar saja, tebakanku pas sekali tanpa meleset sedikit pun.
Lelaki yang mengaku sebagai ayahku itu menghubungi bibiku yang tinggal di Bogor, karena memang melalui dia satu-satunya ayahku itu bisa menanyakan kabarku dan adikku, hanya sebatas bertanya. Tapi kali ini yang dilakukannya di luar batas, seolah-olah aku ini adalah anak yang dibesarkan olehnya dengan kedua tangannya. Padahal sumpah mati, sekali pun dia tidak pernah datang menemuiku selama dua puluh dua tahun, bahkan lebih, malah hampir dua puluh tiga tahun lamanya.
Ihsan mengatakan bahwa ayahku yang payah itu menceritakan pada bibiku kalau aku sedang berada di Surabaya dan tinggal bersama dengan seorang lelaki. Dia meminta bibiku untuk menyampaikan itu pada ibuku, lengkap dengan pesan bahwa ibuku tidak becus mendidikku, anak perempuannya, sampai aku dinilai telah berbuat dosa dan membuat si ayah yang terhormat itu merasa malu. Ingin sekali aku mengencangkan dasinya kuat-kuat sampai dia tercekik dan kesakitan.
Aku benci dengan sikapnya yang sok suci. Andaipun benar seperti yang dia pikirkan, harusnya dia berpikir bahwa itu kesalahannya, bukan kesalahan ibuku. Harusnya dia yang mengakui kesalahan, bukan hanya bisa menyalahkan. Lagipula itu adalah sikap yang sok suci, apa pun kesalahanku harusnya dia sadar bahwa dialah penyebabnya, dia yang berdosa karena dia telah meninggalkan aku dan menelantarkan aku. Dia sok suci, dia lebih banyak berdosanya dibandingkan aku. Ingin aku mengatakan padanya andai aku melakukan kesalahan, itu berarti menurun dari sifat buruknya. Dan jika aku melakukan kebaikan, itu sama sekali bukan menurun dari sifatnya.
Aku menceritakan kejadian detail tempo hari pada Ihsan, bagaimana aku terpaksa menahan lapar hanya karena ingin kabur dari sana. "Tolol! Harusnya kupanggil security dan menyuruh mereka membawa orang itu pergi. Toh, semua karyawan resto tahunya aku itu calon istrinya Mas Reza."
"Ha Ha Ha!" Ihsan tertawa. "Kejam!" katanya mengataiku.
Whatever. "Omong-omong, bagaimana tanggapan Bunda?"
"Santailah. Bunda tidak menggubris. Dia percaya kita anak-anak yang baik. Tapi Bunda berpesan, pernikahan kalian itu lebih cepat lebih baik. Jadi orang asing itu tidak perlu sibuk memikirkanmu."
Aku hanya mengatakan, "Ya, ya, ya."
Sayangnya adikku yang tampan itu meneleponku pada jam istirahat makan siang. Jadi kami hanya bisa mengobrol sebentar. Dia akan meneleponku lagi nanti malam saat sudah pulang ke rumah katanya.
Aku mengambil buku notes, tempat aku menuliskan keinginan-keinginan gilaku. Sudah banyak hal yang kutulis di buku itu, seperti: membangun sebuah rumah, tidak perlu besar, kecil pun tidak apa-apa asal ibuku bisa tinggal bersamaku. Dan hari itu dengan sedikit emosi aku menuliskan keinginan baruku, operasi plastik, supaya ayahku yang payah itu tidak mengenaliku lagi. Tapi, beberapa saat kemudian, aku mencoret dua kata yang baru saja kutulis itu. Tentu karena aku mengingat ibuku dan Reza yang mencintai wajah ini, wajah cantik dan manis yang alami, tanpa dipermak sedikit pun, hanya sedikit mekap yang tipis. Aku harus berhenti berlari. Harus.
Well, pada delapan malam ponselku berdering lagi. Ihsan benar-benar meneleponku lagi malam itu, padahal aku mengira dia hanya basa-basi saja. "Tahu tidak, apa lanjutan cerita tentang kehebohan ayahmu yang payah itu?" tanya Ihsan tiba-tiba.
"Sebenarnya aku tidak mau tahu."
__ADS_1
"Tapi?"
"Ya, okelah. Silakan bercerita."
"Pasang telingamu baik-baik. Siap?"
"Emm," gumamku.
"Dia... ingin... menjodohkanmu."
"Waw," kataku, tanpa kaget tanpa berteriak.
"Tidak kaget?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat. "Tidak, tapi kesal. Bisa-bisanya dia seperti itu, mau menghancurkan aku dua kali."
"Hush! Kamu belum lihat...."
"Apa?"
"Kuberi tahu, semakin lama melihatnya...."
"Mmm-hmm...."
"Dia justru terlihat lebih tampan dari Reza Rahadian yang asli."
Menyebalkan!
__ADS_1
Tawa Ihsan semakin meledak di seberang sana. "Cieee... yang sudah jatuh cinta," dia menggodaku dan terbahak-bahak.
Tidak lucu!
"Aku serius, kamu cepatlah menikah. Dia akan membawa calon suami untukmu minggu depan. Dia sudah meminta alamat rumah ini dari tante."
Kupijat pelipisku. Kepalaku berdenyut. "Terserah! Aku tidak akan peduli," sahutku.
"Aku tahu kamu tidak akan peduli tentang perjodohan itu. Tapi kamu pasti merasa terusik karena kelakuan ayahmu itu."
Ihsan selalu menyebut lelaki itu dengan sebutan "ayahmu." Terlihat jelas lukanya masih terasa. Hanya saja dia bisa bersikap lebih bijak daripada aku. Mungkin karena dia lelaki, dia pandai mengatasi perasaannya.
Kutanyakan pada Ihsan, kalau dia sudah tahu aku akan terusik, kenapa dia masih membahas soal itu padaku?
"Aku bukan bermaksud supaya kamu terusik. Tapi... supaya kamu cepat melangkah, supaya dia tidak mengusikmu lagi. Karena kamu tahu -- itu artinya dia juga mengusik Bunda. Aku benci kalau sudah seperti itu. Paham, kan?"
Aku menghela napas dalam-dalam. "Yeah, aku paham."
Aku tidak bisa tidur malam itu, tapi aku tidak bisa pergi ke mana-mana, kedua kakiku seperti direkatkan ke lantai oleh masa laluku, dan tak ada satu doa pun di neraka yang bisa melepaskannya dari belenggu itu. Aku masih bangun sampai larut malam dan menonton film-film Reza Rahadian, sebab menonton akting Reza Rahadian adalah cara ampuh untuk menghibur hatiku yang gundah. Aku menonton film Critical Eleven, Twivortiare, dan film Kapan Kawin? -- semuanya.
Sebenarnya aku sudah pernah menonton ketiga film itu. Hanya saja aku sangat suka dan tidak masalah jika aku menontonnya ulang. Seperti film Critical Eleven, aku suka totalitas seorang Reza Rahadian dalam karakter Ale yang bercumbu mesra dengan istrinya setelah pesta ulang tahun Ale. Adegan syur itu membuatku cengar-cengir sendiri. Aku rasa seseorang yang berada dalam keadaan hidup menyendiri pasti menyukai part-part romantis dalam film Critical Eleven, seperti juga genggaman tangan Ale dalam film itu yang mengingatkan aku pada Reza Dinata.
Setelah film itu aku menonton film Twivortiare. Ada adegan yang menjadi adegan favoritku, yaitu ketika pertama kali dr. Beno mencium Alex. Dulu aku suka adegan itu, dan menjadi lebih suka setelah aku mengalami hal yang sama, sewaktu pertama kali Reza menciumku. Situasinya memang berbeda, hanya saja permintaan maafnya yang sama, sama-sama dalam keadaan gerogi, merasa bersalah, malu, tapi sebenarnya ingin menikmati lagi. Aku sering me-reply adegan itu, tidak ada bosan-bosannya. Hanya saja rasanya aku ingin memprotes nama lengkap Alexandra Rhea, karena nama Rhea mengingatkanku dengan perempuan yang ikut andil dalam merusak kehidupanku. Perempuan itu merebut ayahku dariku. Aku sering meyumpah-nyumpahi dia semoga dia ditinggal selingkuh oleh ayahku, atau siapa pun lelaki yang dicintainya. Sama seperti rasa sakit hati yang dirasakan oleh ibuku.
Setelah film Twivortiare selesai, aku masih juga belum bisa tidur. Aku melanjutkan menonton film Kapan Kawin? -- dan aku menyukai hampir keseluruhan isi ceritanya.
Sama halnya dengan film Critical Eleven dan Twivortiare, Reza Rahadian sebagai Satrio dalam film Kapan Kawin? -- juga mengingatkan aku pada Reza Dinata, hanya di part Reza mempersembahkan sebuah lagu untuk Dinda, seperti Reza Dinata yang mempersembahkan sebuah lagu untukku.
__ADS_1
Aku termenung, sebelumnya kehadiran sosok Reza Dinata mengingatkanku pada aktor favoritku, karena wajahnya yang setampan Reza Rahadian. Tapi sekarang justru sosok Reza Rahadian yang mengingatkanku pada sosok Reza Dinata. Ada kerinduan yang mulai merasuki relung-relung hatiku. Kerinduan pada kehadiran Reza Dinata. Rasanya sesak. Andai dia ada di sini, tentu saat ini aku sudah tidur nyenyak di dalam pelukannya.