
Saat makan malam, kami makan malam bersama Alfi dan istrinya, Mayra, juga putra kecil mereka yang bernama Tirta. Alfi adalah teman akrab Reza semasa kuliah. Dia memimpin perusahaan tour and travel untuk salah satu anak perusahaan milik keluarganya, karena itulah Alfi dan Mayra pindah ke Bali setelah mereka menikah. Tetapi Alfi dan Reza tetap menjaga kontak di antara mereka, dan pasti menjadwalkan pertemuan setiap kali Reza datang ke Bali. Sedangkan Mayra adalah seorang perancang busana, dia suka sekali merancang kebaya dan gaun pengantin katanya. Seperti itulah yang dijelaskan Reza padaku.
Alfi memiliki postur tubuh dan perawakan persis seperti Reza. Yang membedakan mereka hanya wajah dan rambutnya. Reza yang agak gondrong, berbanding terbalik dengan Alfi yang hampir pelontos. Aku yakin saat itu rambutnya baru saja dipotong beberapa hari sebelum bertemu kami. Sedangkan Mayra nampak sangat anggun, rambutnya panjang, lurus, berwarna hitam, kulitnya putih, dan wajahnya seperti bidadari. Dan aku merasa aneh melihat Tirta yang berambut keriting keriwil-keriwil. Kalau saja dia tidak seputih Mayra, tentu aku langsung berpikir kalau Tirta bukanlah darah daging mereka.
Malam itu, sesampainya kami di meja resto, kepala pelayan mengambil setumpuk menu dan langsung menghampiri meja kami, tetapi Reza tidak melihat daftar menunya dan juga tidak mengizinkan aku membaca menunya. Dia langsung mengatakan pesanannya, dua porsi nasi campur dan seporsi bebek betutu, juga teh melati hangat untukku dan wedang jahe untuknya. Sedangkan Alfi memesan seporsi lobster ukuran jumbo, dua creamy latte, dan seporsi salad panggang untuk Mayra.
Seperti biasa, aku suka sekali mengamat-amati sekeliling cabang Dinata Resto yang kudatangi. Di resto Bali, dinding-dindingnya dicat warna merah pastel, semua kursi makannya terbuat dari rotan, dan ada berbagai jenis kapal digantung di langit-langit -- kapal penjelajah, kapal perang, kapal pesiar, dan kapal nelayan, juga perahu layar, tetapi dalam versi-versi mini -- jenis yang bisa dibeli di toko mainan, lalu kaurancang dan cat sendiri. Dalam cahaya lilin remang-remang, efeknya sangat romantis. Kami duduk di meja yang sangat nyaman di bagian belakang, persis di seberang gambar raksasa perahu layar tua yang sedang melayari samudra berombak-ombak. Diam-diam aku mengeluarkan buku catatanku dan menuliskan kata Berlayar di urutan kesekian dari banyaknya impian-impian gilaku. Mungkin suatu saat akan tercapai. Biasanya aku akan lupa jika aku tidak langsung menuliskannya. Lalu aku menutup dan menyimpan kembali buku itu ke dalam tasku.
Sebelum pesanan kami datang, aku permisi ke toilet. Aku minum dua botol air mineral selama diperjalanan dari Jakarta menuju Bali. Juga sebotol air karena merasa kepedasan saat makan sate lilit dengan sambalnya yang teramat pedas, tapi sebenarnya memang aku yang tidak terlalu tahan dengan rasa pedas, walaupun aku suka memakan makanan yang pedas. Sangat pedas dalam versiku adalah sedikit pedas bagi pecinta cabe. Sedangkan sangat pedas versi mereka adalah suatu takaran yang bisa membuatku sampai diare. Selain itu, aku juga menghabiskan seporsi jus semangka. Hal itu menyebabkan aku harus ke toilet, dan Mayra tiba-tiba mengatakan kalau dia ingin ikut ke toilet -- dia ingin pipis juga.
Di dalam toilet, kami sempat sedikit mengobrol. Mayra mengatakan kalau dia senang sekali mendengar kabar bahwa Reza akan segera menikah, dia berjanji bahwa dia pasti akan datang bersama suami dan anaknya.
Aku memperkirakan bahwa Alfi dan Reza seumuran, karena itu aku menanyakan sudah berapa lama Alfi dan Mayra menikah. Bodohnya aku tidak dapat menyembunyikan ekspresi heran di wajahku ketika Mayra mengatakan bahwa mereka sudah menikah selama empat tahun, sedangkan anak mereka, Tirta sudah berusia lima tahun. Akhirnya, Mayra pun menjelaskan kepadaku bahwa Tirta adalah anak angkat mereka dari panti asuhan yang didirikan oleh ibunya Reza. Saat itu aku pura-pura tahu tentang panti asuhan itu. Padahal sebelumnya aku sama sekali belum tahu. Aku hanya tidak ingin kelihatan kalau aku ini belum tahu apa-apa tentang keluarga calon suamiku itu.
"Kenapa tidak mengadopsi anak yang masih bayi?" tanyaku.
Sambil mencuci tangan di wastafel, Mayra menjawab, "Tadinya kami berniat begitu. Tapi kami berubah pikiran setelah bertemu Tirta. Aku merasakan ada chemistry antara aku dan Tirta. Makanya aku memilih Tirta."
Aku tersenyum tipis kendati dalam pikiranku masih menyimpan rasa penasaran kenapa mereka sampai mengadopsi anak. Tapi aku memilih untuk menyimpan sendiri rasa penasaran itu. Aku tidak ingin salah bertanya dan menyebabkan kecanggungan lagi. Aku terdiam, tidak tahu ingin mengatakan apa, sampai akhirnya Mayra menggenggam tanganku.
"Aku tahu kamu menyimpan pertanyaan kenapa kami sampai mengadopsi anak," katanya. Mayra diam agak lama, barulah dia mengatakan, "Aku bukan wanita sempurna, aku tidak punya rahim. Dulu aku pernah kecelakaan dan itu mengharuskan rahimku diangkat. Awalnya aku tidak mau melanjutkan pernikahanku dengan Alfi. Tapi Alfi meyakinkan aku kalau dia bisa menerimaku apa adanya. Akhirnya kami menikah, dan mengadopsi anak."
Aku tersenyum lagi. "Kamu beruntung menemukan lelaki sebaik dia," kataku.
"Yeah, dia mengajarkanku untuk tidak menyia-nyiakan hidup, bahwa aku masih bisa bahagia meskipun aku memiliki kekurangan," ujarnya yang kemudian meneteskan air mata.
Aku yakin itu adalah air mata kebahagiaan. Mayra menyeka air matanya dengan tisu, dan kami langsung kembali ke meja.
Reza sudah menghabiskan setengah gelas wedang jahenya saat kami kembali, dan semua pesanan pun sudah terhidang di atas meja, bahkan Reza sudah memotong-motong kecil bebek betutu dan menaruhnya ke piringku. Kuucapkan terima kasih padanya karena sudah melakukan hal manis itu untukku.
Tirta tidak dipesankan makanan, dia makan salad dari suapan ibunya. Tapi...
__ADS_1
Astaga... aku menutup mulutku dengan tangan saat tanpa sengaja aku melihat ibu dan anak itu menambahkan ekstra mayones ke saladnya. Praktis, aku pun melirik ke Reza yang menahan tawa karena melihat ekspresiku. Aku tahu dia mengingat kejadian tragedi mayones malam itu, dan tawanya itu adalah menertawaiku.
"Kenapa?" tanya Alfi.
Aku melotot ke Reza supaya dia tidak menceritakan kejadian memalukan itu pada sahabat-sahabatnya. Tapi dia tetap saja menceritakan kisah itu pada mereka, dan akhirnya semua orang menertawaiku. Beruntung suasana hatiku sedang sangat senang, jadi aku tidak marah.
"Kalau begitu kamu jangan makan mayones, Za. Kalau tidak, Inara tidak akan mengizinkanmu menciumnya," ujar Mayra.
Reza dan aku sontak tertawa terbahak mendengar perkataan Mayra.
"Oke," kata Reza. "Akan kuingat."
"Hei," kata Alfi, "jangan bilang kalau kalian...."
"Kalau sekadar mengecupnya sudah," sahut Reza.
"Kalau yang lebih dari itu?" tanya Mayra.
"Yang mana?"
"Ya... hampir," sahut Reza lagi.
Seketika suami istri itu terbahak-bahak menertawai kami. "Fix, berarti lu masih sama dengan Reza yang dulu. Belum ada kemajuan dalam urusan asmara."
"Lumayanlah," sahut Mayra atas ucapan suaminya. "Setidaknya sekarang Reza sudah merencanakan pernikahan. Soal bumbu-bumbu kemesraannya bisalah nanti setelah menikah."
"Dia pernah lebih dari mengecupku. Tapi sayangnya dengan emosi," ralatku.
"Emosi? Kenapa?" tanya Alfi dan Mayra berbarengan.
"Karena mendengar kalau aku akan dijodohkan. Dia jadi seperti kebakaran janggut."
__ADS_1
Eh?
Alfi dan Mayra tercengang dengan kompak. Hmm... aku tahu, tentu saja mereka mengkhawatirkan Reza. "Tapi itu tidak terjadi, kan?" Mayra bertanya.
"Dia jodohku," sahut Reza cepat. "Aku tidak akan melepaskannya. Tidak akan pernah."
Gara-gara ucapanku suasana makan malam itu tiba-tiba jadi terasa agak tegang dan obrolan itu terasa begitu serius. Aku mengambil minum dan menenggaknya sampai aku merasa lega. "Berarti kamu dan mantanmu juga tidak pernah berciuman?" tanyaku untuk mencairkan suasana.
Reza mengangkat bahunya seraya menggelengkan kepala. Sedangkan Alfi dan Mayra mencoba tersenyum, seolah berusaha kembali rileks dan melemaskan saraf-saraf mereka yang tegang.
"Omong-omong tentang mantan, dulu, waktu Reza ditinggal menikah, dia sempat melarikan diri ke sini."
"Jangan bahas masa lalu," tukas Reza karena mendengar perkataan Alfi, bahkan dia langsung melotot.
"Jangan protes, Mas," kataku. "Aku mau mendengarnya, atau aku tidak akan mengizinkanmu memelukku sampai hari pernikahan."
Well, akhurnya Reza mengalah dan mengizinkan Alfi menceritakan kisah itu. Katanya Reza tinggal di Bali selama satu bulan penuh, dia melampiaskan kegalauannya dengan belajar gitar, dan lagu pertama yang ia pelajari adalah lagu Kesepian milik Dygta.
Wow! Kali ini aku ternganga, ternyata itu salah satu alasan yang membuat Reza tertarik untuk mengenalku lebih jauh.
Pada masa-masa kegalauan itu Alfi dan Mayra memperkenalkan banyak gadis kepadanya, tapi tidak satu pun yang bisa mengusir kesepiannya dan tidak ada satu pun gadis yang ia tanggapi. Lalu kutanyakan pada Reza kenapa aku bisa dan kenapa dia mendekatiku?
"Akan kujawab nanti," katanya. "Tidak di depan mereka berdua."
Yap, Reza menganggap Alfi adalah manusia paling resek bila menyangkut kehidupan asmaranya.
"Oke," sahut Mayra. "Kalau begitu ceritakan bagaimana awal kisah kalian sampai akhirnya kalian menjalin hubungan."
Reza langsung menolaknya. Dia melotot kepadaku seraya mengatakan, "Jangan." Tapi Mayra mengatakan dia akan merancangkan kebaya dan gaun pengantin khusus untukku jika aku mau menceritakan kisah kami kepadanya.
Aku nyengir kegirangan. "Sori, Mas. Sepertinya kali ini kamu harus mengalah."
__ADS_1
"Baiklah. Tapi tidak sekarang dan tidak di depan Alfi. Silakan buat janji di lain hari, oke?"
Begitulah kisah malam itu, ada banyak drama saling pelotot-melototi antara aku dan Reza. Sejak malam itu, aku dan Mayra menjalin hubungan baik. Dia menjadi teman baruku, teman curhatku selain ibuku.