
Mayra menarik lenganku sewaktu kami hampir berpapasan dengan beberapa orang menyeramkan. Mereka mengenakan setelan jas rapi dan berkaca mata hitam. Salah satu diantaranya seorang lelaki yang menurut kaca mataku sebagai perempuan -- dia memiliki ketampanan wajah di atas rata-rata, terlebih dia tinggi dan berkulit putih. Bila kau ingin membayangkan seperti apa dia -- bayangkan saja sosok Hessel Steven dalam versi cowok dingin tanpa senyum, setampan apa pun orang itu dia tetap menyeramkan karena tampangnya yang dingin. Sementara beberapa orang lainnya berbadan besar seperti bodyguard.
Aku bertanya pada Mayra: siapa mereka dan kenapa kami harus bersembunyi.
"Dia Alvaro Pradipta. Mantanku," katanya. "Aku tidak mau bertemu dengannya."
Mayra berbohong. Aku tahu itu. Kukatakan kepadanya sebaiknya dia tidak membohongiku atau aku tidak akan memercayainya lagi. "Mas Reza pernah bilang kalau Mas Alfi itu cinta pertamamu dan kamu tidak pernah pacaran selain dengan Alfi." Ku-skak Mayra dengan pernyataan telak.
"Ok, fine. Dia mantan suami Salsya."
"Lalu, kenapa kita harus bersembunyi?"
"Ya... sebaiknya mereka tidak melihat kita."
"Alasannya?"
Mayra tidak menjawab, dia gugup bahkan tidak berani menatapku. Dan itu membuatku semakin penasaran.
"Apa ini ada hubungannya dengan penusukan hari itu?"
"Akan kujelaskan nanti. Sekarang kita pergi dulu dari sini."
"Pergi? Sementara Reza ada di sini dengan orang-orang itu? Tidak mau."
"Ikut aku, akan kuceritakan semua yang kutahu. Dan percayalah, mereka akan baik-baik saja."
Ia menggantung umpan informasi itu di depanku dengan kail yang terlatih dengan baik, dan aku tidak bisa menolaknya. Kesempatan untuk mendapatkan jawaban? Aku tidak bisa melewatkan hal itu, meski hanya secuil informasi.
"Baiklah. Aku akan ikut," kataku. Kupaksakan diri untuk tersenyum meski sejuta tanda tanya meletup-meletup di benakku.
__ADS_1
Mayra menyeretku, mengajakku bergegas ke parkiran. "Biarkan aku fokus menyetir dulu. Oke?" Dia langsung mengatakan itu sebelum aku sempat mencecarnya.
Huh! Meski sedikit kesal, aku mencoba untuk menjaga pikiran dan ekspresiku tetap baik-baik saja saat kami melaju menuju salon.
Begitu kami tiba di salon, Mayra memperkenalkan aku pada Alia, temannya yang bekerja di salon itu. Dengan cepat dia mengatakan apa yang harus Alia lakukan padaku sampai aku tidak punya kesempatan untuk bicara. Aku sudah mencoba menyelah percakapan di antara mereka tapi aku diabaikan.
"Tenang dan nikmati waktumu di sini," Mayra berkata seolah hanya ada kotoran ayam yang mengotori sepatuku dan dia hanya perlu menyuruh seseorang untuk membersihkannya, sebegitu sepelehnya sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yeah, kali ini Mayra benar-benar menyebalkan.
Pun Alia, yang juga menyebalkan. Dia langsung mengajakku ke sebuah wastafel pualam berukuran besar, urat-urat leherku terasa nyeri waktu aku menyurukkan kepala ke dalamnya. Alia menyampo rambutku, kemudian membawaku kembali ke kursinya dan menyisir rambutku yang kusut.
Aku tidak bisa rileks, aku jadi bergerak-gerak gelisah terus.
"Duduk yang rileks," Alia memohon.
Aku tidak tahu apa nama benda-benda yang ia gosokkan ke rambutku, benda itu seperti gel beraroma apel. Rambutku terasa lembut dan halus sewaktu aku menyapukan jemari di rambutku.
Sewaktu aku selesai dengan perawatan rambutku. Mayra sudah lebih dulu menikmati perawatan wajahnya. Semuanya terasa disengaja, seolah dia tidak memberikan aku kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaanku. Dan ketika giliran wajahku yang "diservis" barulah Mayra buka suara -- dia sudah ke salon beberapa hari lalu katanya, jadi hari itu dia tidak memerlukan perawatan rambut.
Aku tidak bisa menyahut karena perawatan wajah itu, apalagi bertanya, sebagai gantinya kuacungkan jempol sebagai tanda paham dan setuju. Fix! Dia sengaja.
"Seperti dugaanmu, lelaki tadi orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Reza."
Sudah kuduga, batinku. Aku mengangkat telapak tanganku. Dan Mayra mengerti kalau aku ingin bertanya kenapa, aku ingin tahu apa alasan Alvaro melakukan hal itu kepada Reza -- kenapa dia ingin membunuh Reza?
"Alasannya, karena dia menganggap Reza-lah penyebab rumah tangganya hancur. Dia tidak terima Salsya masih mencintai Reza, apalagi kalau mereka sampai bersama."
Auwww! Masker di wajahku retak. Aku tidak bisa menahan diri untuk bersuara. "Kan itu bukan salahnya Mas Reza. Salsya yang salah, dia yang terus-terusan mendekatinya."
"Aku tahu," kata Mayra sesaat kemudian. "Tapi dunia mereka tidak mengenal siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Mereka hanya tahu menjaga hubungan baik yang saling menguntungkan, atau membinasakan siapa saja yang dianggap pengganggu. Begitu."
__ADS_1
Ya Tuhan. Kucoba untuk tetap tenang dengan mengatur napas. "Untuk apa dia menemui Reza di rumah sakit?"
Mayra mengangkat kedua bahunya. "Alfi bilang untuk berdamai. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Semoga saja itu benar."
"Kalau tidak? Bagaimana?"
Mayra meraih tanganku dan merema* jemariku cukup kuat. Entah kenapa dan bagaimana, aku yakin sebenarnya Mayra sama takutnya denganku. "Alfi punya bukti otentik perihal penusukan itu," katanya. "Dan jika terjadi sesuatu padanya ataupun pada Reza, bukti itu akan tersebar dan menghancurkan Alvaro sendiri. Kurasa Alvaro tidak akan bertindak bodoh. Lagipula mereka tidak mungkin melakukan sesuatu di rumah sakit, di sana ada banyak bodyguard juga. Jadi, tenang saja. Maksudku, minimal kita coba untuk tetap tenang."
"Oke," aku berdiri. "Aku ingin kembali ke rumah sakit," kataku.
Mayra melotot, meski matanya menatapku begitu tajam, tapi dia tetap tidak menyeramkan, dia tetap saja cantik. Aku tidak takut bahkan sama sekali tidak ngeri sedikit pun.
"Kamu terlalu cantik. Tidak pantas berekspresi seperti itu."
Sontak saja, bibirnya yang manis itu langsung manyun. "Telepon Reza dan bicaralah dengannya selama kita dipijat nanti. Oke?"
Kurasa itu ide yang bagus. "Baiklah." Aku berdiri, kuambil ponsel dan earphone-ku dari dalam tas. Tetapi...
Aku cemas bukan kepalang karena Reza tidak menjawab teleponku. Dengan sigap, kusuruh Mayra menanyakan kondisinya pada Alfi.
"Lagi di toilet," kata Mayra, setelah dia mendapatkan jawaban dari Alfi. "Tenang, ya. Alvaro dan ekor-ekornya sudah pergi dari sana."
Fiuuuh... melegakan. Akhirnya aku bisa menikmati layanan pijat yang mampu merileksasi tubuhku yang terkurung di rumah sakit selama tiga hari tanpa mencemaskan keadaan Reza yang jauh dariku.
Dan yang lebih melegakan lagi, setelah dari toilet, Reza langsung meneleponku. Aku senang bisa mendengar suaranya dan tahu kalau dia baik-baik saja. Dia memintaku supaya aku cepat kembali ke rumah sakit. Katanya dia sudah merindu -- rindu berat.
Iyuuuuuh....
"Pokoknya cepat balik. Aku sudah tidak sabar, Sayang."
__ADS_1
Eh? Tidak sabar untuk apa?