
Entah Reza bersembunyi di mana, aku tidak bisa menemukannya. Kupanggil-panggil namanya, dia tidak menyahut. Aku pun menyerah, lalu pergi ke halaman belakang.
Aku mondar-mandir di pinggir kolam. Aku resah, aku gelisah. Seperti lagu Kisah Kasih di Sekolah. Dan, aku berkeringat. Padahal, angin malam berembus dengan kencang.
Aduh... selama itukah dia membutuhkan waktu untuk membaca suratku, berpikir, dan mengambil keputusan? Sungguh, dia membuatku resah, gelisah dan hampir nelangsa.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Bahkan lebih dari dua puluh menit. Reza tidak kunjung muncul. Sambil mondar mandir aku menggigit-gigiti kukuku, menyibak-nyibakkan rambutku yang tertiup angin, dan mengelus-elus tanganku yang mulai kedinginan. Yah, akhirnya aku duduk, menekuk kedua kakiku dan menahannya dengan kedua tangan. Kubenamkan wajahku di antara kedua lutut.
Tuhan, aku pasrah, batinku. Tentu saja. Mungkin dia akan menganggap kalau aku ini wanita gila. Siapa yang mau menikah dengan wanita gila, liar, dan tidak bisa mengendalikan diri sendiri?
Eh? Apa ini?
Reza mendekapku dengan selimut yang kemudian menyelubungi tubuh kami. Kuberanikan diri menatap wajahnya. Dia tersenyum. "Aku. Cinta. Kamu," ucapnya.
Aku terdiam. Aku menunggu dia mengucapkan kalimat-kalimat lain sebagai tanda bahwa hubungan kami tetap berlanjut, kami baik-baik saja, tetap sakinah, mawaddah, warahmah. Eh?
"Aku mencintaimu apa pun dan bagaimanapun dirimu. Terima kasih karena kamu sudah jujur kepadaku. Kita akan tetap menikah. Aku, kamu, kita. We are the best couple forever and ever."
Itu -- itu yang ingin kudengar. Segera saja aku menyurukkan kepalaku ke dadanya. Aku bahagia. Aku bahagia. Aku bahagia. Saking bahagianya air mataku bahkan menetes deras dngan hebatnya.
"Mau berdansa denganku?"
"Sekarang? Dengan penampilan seperti ini?"
"Memangnya siapa yang mau melihat?"
"Yeah. Ayo," sahutku.
Di bawah taburan kerlap-kerlip bintang di angkasa, di dalam balutan selimut, dihangatkan oleh dekapan seorang Reza, dan bertemankan alunan merdu suara Once dalam lagu Dealova, sungguh betapa bahagianya aku malam ini. Rasa-rasanya -- semua beban di hatiku -- luruh, sehingga keesokan paginya, kami bisa meninggalkan Bali dengan perasaan bahagia.
Pesawat yang kami tumpangi mendarat sempurna di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta jam delapan lewat sepuluh menit. Penerbangan pagi tak membuat mataku terpejam satu menit pun, padahal jelas-jelas semalam aku kurang tidur. Sementara Reza, dia rebah di bahuku dengan mata terpejam dan begitu damai.
Ada satu kejadian yang kubenci dalam perjalanan hari ini. Ketika kami mampir di minimarket untuk membeli minuman, entah kebetulan atau sudah takdirnya, dari sekian banyak minimarket di Jakarta, kenapa aku bisa bertemu dengan ayahku dan Yanti beserta anak-anaknya, dan seorang anak kecil dalam gendongan ayahku, cucu dari anak tirinya -- di minimarket yang sama?
Reza dan aku tidak menyadari keberadaan mereka jika saja si laki-laki asing itu tidak menyapa kami ketika kami baru hendak masuk ke minimarket. Saat aku menoleh dan menyadari keberadaan mereka di sana, seketika itu juga rasa benci dan amarah langsung bertahta di hatiku. Tapi demi janjiku kepada Reza, demi hubungan kami, juga demi tidak mempermalukan calon suamiku di depan umum, aku memilih menghindar.
"Aku... aku permisi ke toilet, Mas," kataku saat ayahku baru melangkahkan kaki hendak menghampiri kami. Secepatnya aku melesat masuk ke minimarket dan langsung menuju toilet. Sengaja aku berlama-lama di dalam sana, berharap ketika aku keluar nanti -- orang-orang yang kubenci itu sudah pergi jauh dari sana.
Untung saja toilet minimarket pada umumnya selalu bersih. Jadi, aku tidak merasa terganggu saat mengatur napas untuk meredam emosiku, meski tidak bisa meredam sepenuhnya.
Saat aku keluar dari toilet, Reza sudah berdiri di depan meja kasir. Sialnya, rombongan orang-orang yang merusak mood-ku itu masih saja ada di depan minimarket, membuat usahaku meredam emosi di dalam toilet menjadi sia-sia belaka. Senyum semringah ayahku di tengah-tengah keluarganya adalah salah satu hal yang sangat kubenci di dunia ini. Bukan karena perbandingan ibuku tidak sebahagia itu atau bagaimana. Tapi, karena kebahagiaan mereka itu mereka rasakan di atas penderitaanku, di atas perih luka-lukaku.
Reza langsung menghampiriku begitu dia melihatku dan meninggalkan belanjaannya yang masih dihitung oleh sang kasir. Ia meraih tanganku dan memintaku melemaskan jari-jari tanganku yang kukepal. Sebagai gantinya -- dia menelusupkan jemarinya ke ruas jariku. Aku tidak punya pilihan, aku tidak ingin bersikeras di hadapan Reza. Aku jadi menyesal telah mengucapkan janji konyolku lewat surat itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu dan tidak akan membiarkanmu melakukan hal-hal bodoh," katanya. Untungnya dia langsung menyadari reaksiku atas ucapannya itu. "Sori, maksudku hal yang tidak ada gunanya. Aku tidak--"
Aku mengangguk. "Tidak apa-apa, Mas. Lupakan saja."
"Kita temui ayahmu dulu, ya?"
"Tidak mau," tolakku.
"Aku tidak enak--"
"Aku. Tidak. Mau," kutolak ia sekali lagi dengan tegas. "Aku ingin pergi dari sini."
Reza menahanku. "Sayang..."
"Jangan paksa aku."
"Please...."
"Kita pergi baik-baik atau aku pergi sendiri?"
"Dengarkan aku."
"Mas!" pekikku dengan suara sedikit keras. "Terserah kalau kamu mau ke sana. Lepaskan tanganku. Biarkan aku pergi sendiri."
Setelah itu, Reza menggandengku ke kasir, dia tidak mau melepaskan tanganku walau sedetik, mungkin dia takut jika aku akan melakukan hal bodoh seperti ucapannya atau takut aku akan kabur dari sana. Kami pun langsung menuju mobil setelah Reza membayar dan mengambil sekantung besar belanjaannya. Kemudian, dia membukakan pintu, memastikan aku duduk di dalam mobil dan berpesan agar aku tidak pergi ke mana-mana. Lalu, ia menghampiri orang-orang itu dengan menyimpan belanjaannya lebih dulu ke kursi belakang.
Setelah beberapa menit, Reza kembali membuka pintu mobil di sebelahku dan langsung mencondongkan tubuhnya -- rapat ke tubuhku.
"Kamu mau apa?" sergahku.
Dia tidak menjawab malah langsung merebahkan sandaran kursiku secara perlahan sampai ke posisi maksimal. "Cuma mau merebahkan sandaran kursimu supaya kamu rileks." Dia tersenyum, kemudian berbisik, "Kamu berharap aku melakukan itu, ya? Hmm?"
"Sialan!" Tapi aku balas tersenyum. "Tentu saja tidak."
Naif....
"Masa?"
"Iya...," pekikku gemas.
"Tuh kan iya." Dia cengengesan.
"Tidak!" Kucubit kedua pipinya. "Kamu sengaja, ya, berlama-lama di atasku begini? Cepat berdiri, tutup pintu, dan masuk ke mobil. Antar aku pulang," kataku.
__ADS_1
Tanpa menyahut, dia menyelonong sesuai intruksi. Dan selang beberapa detik kemudian dia sudah masuk dan duduk di kursi kemudi, dia menyalakan mesin mobil dan menyalakan radio. Langsung saja terdengar celotehan penyiar radio begitu radio dinyalakan. Tidak lama kemudian terdengar suara merdu Nikka Costa dalam lagu First Love. Kebetulan aku suka lagu itu dan hafal liriknya -- hanya sebatas hafal liriknya sedikit dan bisa menyanyikannya ketika lagu itu di putar. Aku pun ikut bersenandung, juga sebagai cara menyingkirkan pikiran-pikiran lain tentang apa yang baru saja terjadi.
Reza membiarkan saja aku seperti itu sampai lagu itu selesai, sampai si penyiar radio kembali berceloteh. Barulah Reza bertepuk tangan dan berkomentar, "Katanya cuma suka lagu pop Indonesia."
Aku tersenyum. "Ada beberapa lagu bahasa Inggris yang aku suka, tapi tidak bisa kalau menyanyikannya sendiri. Cuma bisa mengiring kalau lagu itu sedang diputar."
Reza manggut-manggut. "Tapi tadi kamu sepertinya benar-benar menghayati."
"Iyalah," kataku. "Kan lagu itu tentang cinta pertama, ngena di sini." Aku menunjuk dadaku.
Praktis, dia tersenyum nakal. "Di dada? Coba lihat."
"Di hati, Mas...! Dasar mesum!"
Eh? Aku duduk tegak begitu menyadari Reza mengemudikan mobil bukan ke arah rumah Ihsan. "Kita mau ke mana?"
"Ke Bandung." Dia menjawabku dengan santai, tidak merasa bersalah sedikit pun karena membawaku pergi tanpa bertanya dan tanpa izinku.
Kugelengkan kepalaku beberapa kali. "Wah, wah... ini penculikan namanya, Mas."
"Kamu kan suka kuculik."
Lagi, kucubit dia sampai dia kesakitan, tapi kali ini persis di pinggangnya -- sampai di kegelian. "Percaya diri sekali kamu."
"Lepas, Sayang. Bahaya, aku lagi nyetir."
"Bilang ampun dulu."
"Iya... ampun, Sayang... ampun."
Well, kulepaskan cubitanku dan kupasrahkan dia mau membawaku ke mana pun yang ia mau.
"Kalau sudah takdirnya kamu bertemu mereka, tetap saja akan bertemu. Seperti tadi, kan, malah ketemu di Jakarta, padahal kamu takut bertemu mereka di Bandung, ya kan?"
Aku hanya mengangguk kecil, lalu kembali merebahkan diri. Reza meraih tanganku, menelusupkan jarinya ke ruas jari-jariku dan menciuminya dengan dalam. "Tidur, gih. Perjalanan kita cukup jauh," katanya.
Aku tersenyum. Senyum untuknya dan senyum karenanya. "Terima kasih. Aku sangat bahagia karena kamu mencintaiku setulus dan sedalam ini."
Dia pun balas tersenyum dan mengiyakan dengan sekali anggukan. "Everything for you."
Hari ini, untuk pertama kalinya, seseorang menyelamatkanku dari keberutalan sikapku terhadap orang-orang yang telah merusak kehidupanku di masa lalu. Mungkin tidak ada kata yang mampu mengungkapkan -- betapa bahagianya aku saat ini, saat bersamanya yang mencintaiku tanpa peduli pada semua masa laluku.
Dia, Reza Dinata, lelaki terbaik yang sangat mencintaiku.
__ADS_1