Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
4 April


__ADS_3

Reza memandangiku dengan tatapan sendu sewaktu aku berbaring di sofa. Waktu itu masih sangat pagi, aku baru saja hendak melanjutkan tidurku.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku. Aku pun berdiri, membawa selimutku dan berbaring di sisinya -- di atas bed rumah sakit.


Kendati menggeleng lemah, Reza tetap menjawab pertanyaanku. "Tentang hari ini," katanya. "Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk kita." Dia meraih tanganku dan menelusurkan jarinya di garis-garis telapak tanganku. "Tapi takdir--"


"Ssst... tidak ada gunanya menyesali semua yang sudah terjadi. Kita ambil hikmahnya, kejadian ini justru membuat cinta kita semakin mengakar kuat, kan? Dan lihat, kamu bahkan sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk bermanja-manja padaku."


Bibirnya menyunggingkan senyuman malu, dia memalingkan muka, dan aku berani bersumpah aku melihatnya tersipu-sipu. Cute sekali dia kalau tiba-tiba tersipu begitu.


Sesaat kemudian ia menciumi tanganku -- lebih tepatnya menciuminya sambil menghirup aroma vanilla yang khas dari kulitku. Oh yeah, perlu digaris bawahi yang kumaksud bukanlah kecupan tangan yang payah ala aktor yang kaulihat di film-film, adegan-adegan yang biasa dipertontonkan saat aktor dan aktrisnya baru pertama kali berkenalan, atau di saat mereka melakoni adegan makan malam romantis di sebuah restoran mewah, atau pun adegan sesaat setelah pernyataan cinta. Bukan yang seperti itu. Baiklah, kuanggap kau paham maksudku. Dan kuakui aku suka sekali saat Reza melakukan itu, bahkan meski hanya sekadar berlama-lama menempelkan tanganku di wajahnya, itu seakan menyiratkan betapa ia membutuhkan aku di sisinya, dan, itu juga seolah salah satu caranya bersyukur atas kehadiranku sebagai teman hidupnya. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam mendiskripsikan, tapi begitulah Reza -- perlakuannya terhadapku adalah wujud dari perasaannya yang begitu dalam. Walaupun aku pernah menudingnya memperlakukan aku semena-semena seperti budak, jelas aku tidak serius waktu itu.


"Terima kasih. Kamu sudah bersedia mengurusi dan menemaniku. Kamu bersedia kurepotkan. Entah apa jadinya aku tanpamu di sini."


Aku mengangguk. Dalam sepersekian detik itu aku jadi teringat sesuatu -- tentang amanah ibunya. "Aku jadi teringat saat Ibu memintaku untuk mengurus dan menemanimu. Waktu itu kamu bilang kalau kamu bisa mengurusi dirimu sendiri, katamu -- kamu tidak perlu merepotkan aku. Tapi sekarang lihat, kamu manja sekali." Kucubit hidungnya dengan gemas. "Aku senang bisa mengurusimu, Mas. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan."


"Thanks, kamu teman hidup terbaik. Kamu tidak bosan, kan, menemani aku di sini?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak bosan sama sekali. Asal ada kamu dan bersamamu, di mana pun akan selalu menyenangkan."


Aku tahu, dia pasti ingat aku pernah mengucapkan kalimat itu beberapa hari lalu, sewaktu kami bersiap-siap berangkat ke Cianjur. Aku senang pagi-pagi begini sudah melihat senyuman di wajahnya, walaupun sebenarnya aku masih sangat mengantuk.


"Aku mau tidur lagi, ya," kataku. Aku pun menarik selimut. Dengan bersandar di dadanya, kupejamkan kembali mataku, kulanjutkan tidurku di dalam pelukannya yang hangat.


Well, meski batal menikah pada hari ini, setidaknya kami masih bersama. Masih di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kami. Seperti Alfi dan Mayra yang hari itu datang sekitar jam sembilan pagi. Mereka datang dengan membawa roti tawar dan selai srikaya kesukaan Reza sebagai buah tangan.


"Ini, kubawakan kesukaanmu," kata Mayra pada Reza, persis setelah ia bercipika-cipiki denganku.


Reza pun berterima kasih dan langsung memintaku menyiapkan roti untuknya.


"Bagaimana rasanya terkurung di sini selama tiga hari?" tanya Mayra.


"Menyenangkan," Reza dan aku menjawab kompak.

__ADS_1


"Apanya yang menyenangkan?" tanya Mayra lagi. Dia dan suaminya tiba-tiba langsung menyeringai, dan, menatap aneh pada kami berdua, seolah kami adalah pasangan teraneh di abad modern ini.


Aku dan Reza saling melirik, dan saling melempar senyuman. "Menyenangkan karena ada dia," Reza menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


Ya ampun... sudah dua bulan lebih aku bersama Reza, hampir setiap hari malah, tapi rasanya tetap saja -- hal istimewa sekecil apa pun yang dilakukannya selalu membuatku berdebar. Aku berusaha meredam jantungku yang bergejolak dan berusaha menahan senyumku yang tak henti-hentinya mengembang.


"Dia mengurusku dengan baik, dengan penuh cinta," katanya lagi.


Mayra mendengus. "Dasar gombal," ledeknya, lalu ia melempari Reza dengan bantal. Untung saja infus di tangannya sudah dilepas, sehingga Reza bisa menangkap bantal itu dengan mudah.


"Serius, May. Makan saja harus disuapi."


Aku mendelik. "Kamu yang manja, selalu minta disuapi," kataku.


"Dia aslinya memang manja, Ra." Alfi berkata sembari menjangkau remote televisi dari atas meja. "Kalau sakit, manjanya malah semakin menjadi."


O-ow... yang bersangkutan terkekeh. "Dasar rese!" katanya. Ia melemparkan botol air mineral yang hampir kosong ke arah Alfi.


Beruntung Mayra sigap melerai mereka berdua sewaktu Alfi hendak melemparkan balik botol itu ke Reza. Kalau tidak, bercanda mereka akan keterusan dan Reza akan lupa pada bekas jahitan operasinya. "Jangan seperti anak kecil, ya. Ini rumah sakit."


"Well, kamu tidak lupa, kan, cara makan sendiri? Aku harus segera membawa Nara pergi," kata Mayra.


Aku yang tidak tahu apa-apa merasa kaget dan langsung menoleh ke arahnya. "Mau ke mana?" tanyaku.


"Salon and spa. Tidak jauh, kok. Di dekat sini ada," Mayra menyahutiku dengan santai.


Praktis aku menggeleng, ingin menolak.


"Akan kujawab semua pertanyaanmu nanti. Sekarang pergi dan bersenang-senanglah," kata Reza.


Jelas dia mengerti maksudku, sebab aku menoleh ke arah Alfi -- aku ingin tahu yang sebenar-benarnya perihal penusukan itu. Tapi aku selalu tidak berdaya jika Reza sudah mencetuskan -- katakanlah "perintahnya" -- kecuali di saat aku marah, itu tidak akan berlaku, aku tidak akan semudah itu menurut padanya.


"Baiklah, ayo." Mayra menghampiri Alfi dan menciumi tangan suaminya itu, mereka berpelukan, dan tak lupa kecupan manis pun mendarat di kening Mayra.

__ADS_1


Di saat itulah Reza memanggilku dan menjulurkan tangannya, cengirannya yang lebar dan matanya yang indah langsung menyipit menghiasi wajahnya yang tampan. Dia ingin aku melakukan hal yang sama.


"Tukang contek!" komentar Alfi -- yang sedikit pun tidak dihiraukan sama sekali oleh Reza


Sekali lagi, aku begitu penurut di saat hatiku sedang bahagia. Kuciumi tangannya selayaknya seorang istri menciumi tangan suaminya. Dan Reza mencium keningku, persis yang dilakukan Alfi kepada istrinya. Tak ayal, Alfi dan Mayra menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah konyol sahabatnya itu.


Sesaat kemudian, sewaktu aku dan Mayra hendak keluar dari ruang rawat itu, Reza memanggilku. "Jangan pergi lama-lama," katanya.


Dasar aneh. Dia sendiri yang menyuruhku pergi, dia juga yang memintaku jangan pergi lama-lama.


Aku mengangguk, dan kukatanan iya kepadanya. Aku pun membalik badan dan hendak melangkah lagi, tetapi Reza memanggilku lagi. "Kalau kalian ke salon, jangan potong rambut, jangan diwarnai, jangan diluruskan. Aku ingin rambutmu tetap seperti itu. Oke?"


Aku tersenyum. Yang dilakukannya itu terkesan konyol dan terkesan caper. Cari perhatian. Tapi toh aku menurut. "Iya, Mas...," kataku.


"Sayang," panggilnya lagi.


"Apa lagi, Mas?"


"I love you."


"Garing!" Mayra meledeknya dengan jengkel.


Aku tidak menyahut. Aku hanya tersenyum dengan sangat semringah, melambangkan kebahagiaan yang terpancar dari dalam -- jauh di dasar hatiku. "Aku pergi, ya?" kataku.


Kami sudah membuka pintu sewaktu Alfi memanggil Mayra.


"Kenapa?" tanya Mayra sesaat setelah ia membalik badan.


Kukira Alfi akan mengatakan sesuatu yang umum, misalnya menitip atau minta dibelikan sesuatu, atau sekadar mengatakan hati-hati. Tetapi yang ia ucapkan justru di luar ekspetasiku. "I love you," katanya, seperti yang dilakukan Reza.


Spontan Mayra berbalik menghampiri suaminya. Mereka berciuman bibir di depan kami. Huh! Aku sampai menelan ludah melihat adegan ciuman nyata di depanku. Sebab, aku tidak pernah melihat adegan seperti itu secara live.


"Kita lanjut lagi nanti di rumah," Mayra berbisik, tapi bisikan yang jelas bisa di dengar oleh semua orang. Ia berputar melihat ke arahku yang bengong, mematung di depan pintu. "Aku bisa menunggu kalau kalian ingin mencontek adegan tadi," katanya. Dia mengerlingkan matanya kepadaku.

__ADS_1


Aku menoleh ke Reza yang sedang mengatupkan bibir, dia menahan tawa melihatku yang norak ini. "Tidak," kataku. "Terima kasih atas tawarannya. Sebaiknya kita pergi sekarang."


Sialan! Mereka membuat hasrat yang mati-matian kutahan -- langsung muncul ke permukaan.


__ADS_2