Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Romantic Dinner


__ADS_3

Percuma. Aku tidak bisa tidur sama sekali, karena memang aku tidak mengantuk dan kepalaku sama sekali tidak sakit. Berada dalam satu ruangan yang sama dengan Reza tapi tanpa bicara, rasanya justru lebih menyiksa batinku. Bagaimana aku bisa tidur kalau begini? Tapi berbeda dengan Reza, dia bisa tertidur dengan nyenyak di sampingku.


Dan, beberapa saat kemudian, aku yang sedari tadi pura-pura tidur harus membuka mataku saat bel berbunyi. Aku pun membuka pintu dan mendapati Mayra dengan papper bag di tangannya.


"Meski kalian tidak jadi pergi, dress ini tetap kuantarkan ke sini, sebab ini sudah dibayar. Aku turut sedih, harusnya sore ini menjadi sore yang indah untuk kalian," tuturnya.


Aku bengong karena aku tidak mengerti. "Mas Reza tidak mengatakan apa-apa, May. Memangnya dia mau mengajakku ke mana?"


"Mana aku tahu," sahutnya dengan dua bahunya yang terangkat. "Yang aku tahu dia memintaku untuk menyiapkan dress untuk sore ini dan sudah dia bayar. Ya aku tahu dia tidak akan meminta uangnya kembali, tapi ini kan sudah dibayar, bukan hak-ku lagi. Makanya tetap kuantarkan ke sini. Dan tolong diterima, jangan disia-siakan. Mungkin suatu saat kamu bisa memakainya. Oke?"


Aku mengangguk dan berterima kasih pada Mayra dan dia pun langsung pergi. Waktu itu jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh lima menit. Kupikir aku punya waktu untuk mandi dan sedikit berdandan, atau paling tidak membiarkan Reza melihatku cantik dengan memakai dress itu -- Long dress tanpa tali tanpa lengan, hem ruffle asimetris -- yang  menurutku terlalu seksi untukku, apalagi dengan warna merahnya yang elegan. Dasar Mayra. Terpaksa aku mengurai rambutku untuk menutupi bagian pundakku. Tapi tidak apa-apa, mungkin bisa sedikit menyenangkan hati Reza jika ia melihatku sudah cantik saat dia bangun nanti.


Kuambil peralatan mekapku yang sederhana itu dan kubawa ke toilet untuk berdandan di sana. Sekitar jam enam lewat sedikit, aku selesai berdandan, lalu membangunkan Reza yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia yang masih sangat mengantuk berusaha bangun dan duduk bersandar di tempat tidur. "Cantik," pujinya.


"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanyaku langsung ke intinya.


Dia meraih ponselnya untuk memastikan jam berapa saat itu. "Jam enam," gumamnya. "Oke. Aku mandi dan siap-siap dulu. Tunggu, ya."


Dia pun berlalu ke kamar sebelah tanpa menjawab pertanyaanku. Saat itulah aku berdiri di depan cermin, hendak memastikan penampilanku apakah sudah oke. Kulihat pantulan diriku di cermin, dan kusadari aku tidak memakai kalung dari Reza. Aku berusaha mencarinya, aku ingat sekali kalung itu kulemparkan ke tempat tidur. Kubolak-balik selimut dan seprai, berkali-kali, tetap saja nihil.


"Ayo," ajaknya. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan kameja merah lengan panjang, senada dengan dress yang kupakai.


Ouwww... oke, dia menyamai warna dress-ku. "Oh, ya. Sebentar, Mas. Aku... maksudku, apa kamu melihat kalungku?"


Reza mengangguk. "Ada padaku," jawabnya sembari melangkah menghampiriku lalu menarikku ke depan cermin. Dia berdiri di belakangku, menyibakkan rambutku ke sisi kanan, kemudian memasangkan kembali kalung itu. Setelah itu dia mencium dan menempel lama di leherku. Aku merinding, darahku pun berdesir. Rona merah langsung menghiasi pipiku.

__ADS_1


"Kamu sengaja melepasnya tadi? Hmm?"


Ya Tuhan, Reza menatapku lekat di cermin dengan kedua lengannya memeluk erat tubuhku, sementara aku tidak berani menatapnya karena aku merasa bersalah.


"Emm... ti--"


"Jangan bohong."


"Maaf, Mas."


Huh!


Reza menarik napas panjang. "Lupakan," katanya. "Aku tidak akan lagi memintamu berjanji untuk tidak melepaskannya. Aku yang akan memahamimu, kamu punya alasan pada setiap hal. Aku akan selalu berusaha memahami itu."


"Maafkan Nara, ya, Mas?" Aku memohon dengan senyum manis menggoda.


Iiih... ini berbahaya. Bisa keterusan. Oh, no....


"Kita pergi, ya... jangan bikin dandananku sia-sia."


Hah!


Well, kurang dari dua puluh menit kemudian, kami tiba di pantai Jimbaran. Aku baru hendak membuka pintu mobil, tapi Reza langsung mencekal lenganku. "Biarkan aku yang membukakan pintu untukmu," katanya.


"Berlebihan kamu, Mas."

__ADS_1


Dia mengerling. "Biarkan aku melakukannya sekali ini, oke?"


Aku mengangguk dan tersenyum. Ada getar bangga memenuhi dada. Kusadari betapa beruntungnya aku memiliki Reza. Dia selalu berusaha membuatku bahagia, memperlakukanku dengan istimewa, dengan -- cinta.


Kami pun langsung menuju pinggir pantai, menempati kursi yang berderet di pinggir pantai dan langsung berhadapan dengan laut, di salah satu restoran yang sudah ia pesan, dan untungnya belum ia batalkan. Kedatangan kami disambut riang deru ombak dan langit malam yang bertabur bintang. Tidak lama setelah menikmati suasana pantai, pelayan menghampiri dan menyapa ramah, menanyakan apa yang hendak dipesan sembari menyodorkoan daftar menu. Karena tempatnya di bibir pantai, menu makanannya tentu didominasi oleh jenis seafood. Restoran atau lebih familiar dengan sebutan cafe di Jimbaran ini menawarkan hidangan laut dengan berbagai macam olahan. Ada ikan bakar, cumi-cumi bakar, kerang bakar, kepiting, lobster, dan udang. Reza memesankan semua jenisnya. Kalau ada si Patrick dan Squidward Tentacles mungkin akan dipesannya juga. Aku terkikik. Oh ya, dia juga memesan kelapa muda satu buah untuk kami berdua.


"Kamu pesan banyak makanan, kok kelapanya cuma satu?"


Dia tersenyum, nampak edan. "Biar uniklah," katanya. "Orang kan biasanya sepiring berdua. Kalau kita sekelapa berdua." Dia pun langsung tergelak, seolah dia lelaki paling lucu di dunia ini.


Baiklah, toh nanti bisa pesan lagi kalau kurang.


Setelah menunggu beberapa lama, hidangan kami pun tiba. Beberapa orang pelayan dengan cekatan membawa nampan yang dipenuhi makanan. Aroma hewan laut yang dibakar dengan bumbu khusus pun mulai merebak dan menggugah selera.


Makan malam yang begitu berkesan. Menikmati suapan demi suapan dengan sentuhan angin malam, dihiasi lilin-lilin kecil, di atas pasir putih dan langsung beratapkan langit beserta taburan bintang, ditambah indahnya kemilau lampu-lampu berwarna kuning di sepanjang pantai. Kami sepakat tidak membahas satu hal pun yang kiranya akan merusak suasana malam itu. Lebih baik diam, hanya saling menatap, melontarkan senyum, saling menyuapi, dan saling menyaksikan kebahagiaan di wajah satu sama lain. Tentu saja ia tidak lupa merekam momen bahagia kami saat itu, dan itu hukumnya wajib. Malam itu, dia menatapku seperti sebelum-sebelumnya, tatapan yang membuatku malu dan selalu salah tingkah.


"Belle fille," ucapnya dalam bahasa Prancis saat ia melihat rekaman video yang baru saja ia rekam. Aku tahu artinya "gadis yang cantik." Dia bermaksud memujiku tapi tidak bermaksud menyampaikannya langsung kepadaku.


Aku menatapnya. "Merci beaucoup," kataku. Aku mengucapkan terima kasih banyak.


"Hei, kamu bisa berbahasa Prancis?"


"Oui. Je parle un peu le français." (Ya. Aku bisa sedikit bahasa Prancis).


"Cette fille est très chouette." (Gadis ini luar biasa).

__ADS_1


Ah, gombal. Masa sih?


__ADS_2