
Ada sisa beberapa hari yang berharga sebelum liburan kami berakhir. Aku dan Reza menghabiskan waktu dengan rutinitas yang penuh kebahagiaan. Misalnya, kami bangun pagi-pagi, dia dengan semangat berolahraga, dan aku suka sekali mengganggunya. Seperti sewaktu dia push up, aku dengan sengaja bertelungkup di atas tubuhnya dan menghitung berapa kali dia mampu push up dengan berat beban tubuhnya ditambah dengan aku di atasnya. Dan itu berlangsung setiap pagi. Dia yang memang rajin berolahraga, mendadak sangat menggemari push up hanya karena aku. Aku membuatnya selalu semangat menyambut pagi, katanya.
Siang harinya, kami menghabiskan sepanjang siang dengan bersendau gurau di ayunan, kadang-kadang bersantai dan berpelukan mesra di atas hammock, atau menonton film ala layar lebar dengan led projector dan bersantai dengan satu bean bag yang sama. Dia sengaja membeli bean bag ukuran besar supaya kami bisa bersantai-santai dengan satu bean bag berdua. Tentu saja, bukan dengan popcorn, melainkan dengan kuaci, kacang, dan sebotol teh melati dingin.
Saat sore menjelang, kami berjalan di tepi pantai, tertiup angin berembus, sejukkan hati, damaikan diri, melihat biru. Persis seperti lirik lagu Hidupku Kan Damaikan Hatimu miliknya Caffein itu. Bahkan Reza pernah dengan sengaja membawa gitar untuk menyanyikan lagu itu spesial untukku. Dia tidak pernah membiarkan aku sendiri atau memberikan peluang untuk hal-hal yang membuatku tidak nyaman -- meliputi hari-hari kami. Setiap sore, menghabiskan waktu dengan pantai-pantai yang berbeda adalah hal yang sangat menyenangkan. Pantai Balangan, Pantai Kedonganan, Pantai Jerman Tuban, Pantai Kelan, dan Pantai Segara, semua lokasinya tidak terlalu jauh dari villa, pantai-pantai yang tidak terlalu terkenal, tapi jauh lebih menyenangkan sebab tidak terlalu ramai pengunjung seperti pantai di Bali pada umumnya.
Sementara malam hari kami lewati dengan bermain gitar di dekat kolam. Dia, Bidadari Tak Bersayap, Kekasih Terhebat, tiga lagu terbaik Anji menjadi lagu favorit yang ia senandungkan untukku. Pernah juga kami hanya sekadar menatap indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit, dengan ritme dan nada lagu-lagu syahdu yang mengalun dari speaker portable mini yang hari itu kami beli. Hal-hal kecil semacam itulah yang paling berkesan bagiku. Juga cara-caranya memanjakan aku, dia selalu menungguku sampai tertidur, barulah ia pindah ke kamar lain.
"Aku akan merindukan saat-saat seperti ini," kataku, ketika dia merapikan selimutku saat aku bersiap-siap untuk tidur pada malam terakhir kami di villa.
Reza mengiyakan. "Kita akan selalu seperti ini, saat kita bersama. Terlebih nanti setelah kita menikah. Kebahagiaanmu akan sempurna dengan cintaku."
Cinta. Cinta. Cinta. Kata itu berputar-putar di otakku. Kupejamkan mata, bersandar lebih intim ke dadanya. "Empat April, cepatlah datang," senandungku.
"Sayang?"
"Emm?"
__ADS_1
"Sebelum empat April, ada tanggal dua puluh tiga Maret. Kamu ingat?"
Aku mulai cemas. "Yeah," kataku, tanpa bergerak sedikit pun.
"Bisa mengobrol sebentar?"
"Tentang apa?"
"Tentang tanggal dua puluh tiga itu. Kamu sendiri yang memintaku untuk berpikir ulang tentang pernikahan kita."
"Aku akan tetap menikahimu, apa pun yang terjadi," potongnya, membuat level kekhawatiranku menurun sesaat. "Tapi...."
Aku mengernyit. "Tapi apa, Mas?" tanyaku, dan level kekhawatiran itu kembali meningkat, meski tak setinggi sebelumnya.
"Tapi... kamu harus jujur tentang apa yang kamu tutupi dariku. Please?"
Aku diam sejenak. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kukatakan. "Aku...."
__ADS_1
"Kejujuran itu baik untuk dirimu sendiri. Supaya kamu tidak selalu merasa terbeban dan ketakutan. Kamu pasti akan merasa bebas setelahnya, tidak seperti beberapa hari ini. Sepulang kita dari Seminyak hari itu, kamu tidak seperti biasanya, kamu seperti menahan diri, takut kalau-kalau kamu salah bicara. Iya, kan?"
Aku mengangguk. Ternyata dia menyadari sikapku. "Tapi aku takut, Mas."
"Takut aku akan berubah pikiran? Takut aku akan meninggalkanmu? Begitu? Hmm? Dengar, percayalah, apa pun yang akan kamu katakan, semuanya tidak akan memengaruhi keputusanku."
Aku mengangguk. "Aku akan ceritakan semuanya. Tapi tidak sekarang."
"Jadi kapan? Bukankah sekarang waktu yang tepat, mumpung kita masih bersama? Setelah ini, kita tidak tahu, kan, kapan kita akan bertemu lagi?"
Kuhela napas dengan berat. "Jangan sekarang, Mas. Aku tidak siap. Tapi aku akan cerita secepatnya. Sebelum tanggal dua puluh tiga. Aku janji."
"Oke. Aku akan menunggu."
Aku merasa takut, meskipun dia meyakinkan aku bahwa keputusannya untuk menikah denganku tidak akan pernah berubah. "Mas, aku mau malam ini bersamamu sepanjang malam. Boleh?"
"Emm... baiklah. Aku temani. Sekarang tidur." Lalu dia berbisik mesra di telinga, "Aku sangat mencintaimu, Nara."
__ADS_1