
Tujuan pertama kami adalah area becek, lapak-lapak penjual ikan segar. Setelah itu, barulah kami ke lapak pedagang ayam, lalu, kami berkeliling ke lapak pedagang sayuran. Senyumku terukir tatkala kulihat untaian pete di lapak salah satu pedagang.
"Kenapa? Mau beli pete?" ibuku bertanya.
"Mas Reza suka pete," kataku. "Doyan malah."
"Kalau begitu kamu masak untuk dia, dong, Sayang."
"Ah, Bunda. Bunda kan tahu Nara tidak bisa masak."
"Belajar dong... kan sebentar lagi kamu jadi istri."
Aku nyengir. "Mas Reza kan punya restoran. Tiap hari bisa makan di sana."
"Eh, Sayang... walaupun begitu, dia pasti kepingin sesekali makan masakan istrinya."
Hihi! Aku terkikik. "Dasar, Bunda. Mulai, deh, keluar jiwa novelisnya."
"Bunda serius lo, Sayang. Lagipula, apa coba yang bisa kamu berikan sebagai ungkapan rasa sayang? Dia kan orang kaya, dia tidak perlu apa-apa, termasuk barang mahal sekalipun," katanya, mulutnya tetap berceloteh meski tangannya sibuk memilih tahu, tempe, dan berbagai sayuran.
Aku memikirkan kata-kata ibuku yang menurutku benar adanya. Meskipun sebenarnya hal itu tidak begitu diperlukan, aku percaya Reza mencintaiku tanpa aku harus melakukan apa pun. Tapi... yeah, tidak ada salahnya membalas kasih sayang yang ia berikan kepadaku dengan memberikan sesuatu yang sederhana seperti makanan. Ah, tapi aku kan tidak bisa masak.
"Bagaimana kalau tidak enak, Bund? Bagaimana kalau Mas Reza tidak suka? Nara kan bisa malu."
"Seperti yang pernah kamu tulis di novel, dong. Tokoh utama pria akan tetap memakan apa pun yang dimasak oleh si wanita."
"Ya salam... Bunda... Bunda. Ini kan dunia nyata, Bund. Bukannya dunia fiksi. Keseringan ngehalu, begini ni jadinya."
Si ibu yang punya lapak ikut mesem-mesem mendengar percakapan kami. "Pete ndak usah dimasak rapopo atuh, Neng. Dadi lalapan ae wis. Sing penting ono nasi anget karo sambel. Mantap tenan iku," katanya ikut nimbrung dalam bahasa Jawa. Entah benar entah tidak, kira-kira seperti itu kalimat yang bisa kutangkap. Aku kan bukan orang Jawa, harap maklum saja kalau aku salah dengar dan salah tulis. Hihi.
Komentar si ibu membuatku berpikir lagi, Reza kan suka sambal pecel lele kaki lima, sambal buatan ibuku malah lebih enak. "Bunda yang bikin sambelnya, ya?" bisikku sambil cengengesan.
"Nduk... Nduk. Iku retine bukan awakmu sing masak," katanya seraya memukul kepalaku dengan seikat kangkung. Ampun deh ibuku, dia malah ikut-ikutan menggunakan bahasa Jawa.
Aku geleng-geleng kepala. "Bunda kok bisa bahasa Jawa, ya?"
"Yo iso, wong aku pernah nge-kost bareng konco ku, de'e wong Jowo. Wis toh. Piye iki? Mau beli pete ora?"
Aku bingung, dan akhirnya menggeleng. "Emm... lain kali saja. Orang Mas Reza-nya sudah di Bogor sana."
"Masa? Semalam Bunda tanya katanya malam ini atau selasa besok baru pulang ke Bogor."
__ADS_1
Hah?
"Serius? Berarti Mas Reza masih di sini? Kok dia tidak bilang ke Nara?"
Ibuku hanya mengangkat bahu, lalu membayar belanjaannya, dan memberikan sekantung besar sayur mayur itu kepadaku. Weleh-weleh... beratnya bebanku. Tak apalah, demi Bunda, gumamku seraya meringis. Kami pun bergeser ke lapak lain untuk membeli telur ayam. Selagi ibuku sibuk memilih telur itu satu persatu, aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Reza.
"Kamu di mana, Mas? Kamu masih di sini, ya? Kok kamu tidak memberitahuku?"
Reza berdeham. "Kamu itu, ya... nanya nggak pakai jeda lagi."
"Jawab saja, Mas...."
"Iya, iya... aku sengaja."
"Alasannya?"
"Simple, kalau kamu tahu aku masih di sini, kamu pasti minta aku menemuimu."
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kamu tidak mau menemuiku? Bosan, ya?"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau meninggalkanmu dengan lambaian tangan. Takut nanti kamu menangis."
"Nanti malam atau besok, sebelum subuh. Biar bisa ngebut."
Hmm....
"Jangan begitu, Mas. Nanti--"
"Tenang, Sayang. Aku pasti hati-hati. Aku juga tidak mau mati penasaran."
"Ah, monyet! Eh, maaf, maaf." Aduh, Biyung. Lagi-lagi aku keceplosan.
"Mulutmu itu, ya. Kugigit nanti, keceplosan terus. Dijaga dong bicaranya."
Aku nyengir. Namanya juga keceplosan, kan tidak sengaja.
"Kamu lagi di mana? Kok ramai?"
"Aku lagi di pasar."
"Lo?"
__ADS_1
"Tenang, Mas. Aku pergi dengan Bunda, kok."
"Oh... syukurlah kalau kamu tidak sendirian."
"Iya. Sudah dulu, ya, Mas. Aku cuma mau tanya itu."
"Oke. Nanti kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah."
Aku pun mengiyakan dan pangsung menutup sambungan telepon. Kemudian, kuceritakan pada ibuku apa alasan Reza tidak memberitahuku kalau ia belum pulang ke Bogor.
"Kan bisa kirim makanan pakai ojek."
Usul yang bagus. Aku manggut-manggut karena sepaham dengan usul itu. Aku pun langsung meminta ibuku membelikan pete dan bumbu-bumbu yang diperlukan untuk membuat sambal.
"Alhamdulillah, ya... akhirnya, anak Bunda mau juga belajar masak."
Ah, Bunda. Belum apa-apa sudah membuatku malu.
Well, sesampainya di rumah, kami langsung menyibukkan diri di dapur. Ibuku mendikte takaran-takaran dan tahapan-tahapan cara memasak semua yang ingin kumasak, juga membantuku menyiapkan semuanya. Katanya, selagi aku yang berdiri di depan kompor dan aku yang memasukkan ini itunya -- itu artinya aku yang masak. Tentu saja, ibuku ikut mencicipi dan mengatakan oke kalau semuanya sudah oke. Dan... nasi hangat, ayam bakar yang sebelumnya kuungkep dulu, tahu dan tempe goreng, sambal, lalapan timun, kol, selada, dan pete, semua sudah siap. Aku yakin Reza pasti suka. Rasanya tidak aneh sedikit pun. "Yes, aku bisa masak. Kamu hebat Inara," gumamku memuji diri sendiri.
"Kamu mau antar sendiri ke sana?" tanya ibuku saat ia melihatku meraih kunci motor dari atas lemari es.
Aku mengangguk sambil nyengir. "Ini kan makanan, Bund. Kalau ada yang iseng icip-icip, atau menaruh sesuatu, kan bahaya."
"Idih... bilang saja kalau kamu mau ketemu Reza."
Tidak, kok. Tidak salah lagi. Haha!
"Bunda memang yang paling tahu." Kukecup pipinya dan aku pun langsung berpamitan.
Yap, aku melajukan motor cukup kencang karena hari sudah hampir jam dua belas siang, sebab aku tahu kebiasaan Reza yang makan siang selalu tepat waktu, persis setelah selesai salat zuhur yang juga ia tunaikan tepat waktu.
Beruntung, dia baru keluar dari musala saat aku tiba di restoran. Awalnya aku ingin langsung menemuinya, tapi aku berubah pikiran. Bila Reza tidak ingin berpisah denganku dengan lambaian tangan, baiknya aku menghargai pilihannya itu. Jadi, kuputuskan untuk menitipkan makanan hasil masakanku itu ke salah satu karyawannya. Dia nampak tersenyum dan matanya berbinar saat menerima makanan yang kutitipkan itu. Meski dia tidak bertanya itu dari siapa, tapi ekspresinya menyiratkan kalau dia tahu itu makanan dariku. Aku pun berbalik dan tersenyum dengan penuh kemenangan.
Hal ini menurut orang lain pasti aneh. Jelas-jelas Reza seorang pemilik restoran dan sedang berada di restoran, tapi malah dibawakan makanan dari rumah. Tapi... demi melihat senyum manis di wajahnya itu, aku bisa cuek pada semua hal. Masa bodoh. Dan dari senyuman itu, aku tahu bahwa dia senang kutitipi makanan, meski aku tidak tahu dia akan suka atau tidak setelah mencicipinya.
Beberapa menit setelah itu, dia mengirimkan pesan whatsapp kepadaku.
》 Ini yang dimaksud dengan sederhana, namun indah kau mencintaiku. Terima kasih, Sayang.
Ah... senangnya.
__ADS_1