Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Setegar Karang


__ADS_3

Aku meminta Ihsan untuk menjemputku. Waktu itu dia mengajak Aarin bersamanya. Sebelum pulang ke Jakarta, kami mampir ke rumah Reza sebentar untuk mengambil barang-barangku. Kupikir setelah hari itu aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi.


"Tunggu di sini. Jangan kabur," kata Ihsan kepadaku. Lalu dia berpesan pada Aarin untuk menjagaku. "Langsung teriak panggil aku kalau dia coba-coba melarikan diri. Biar kupatahkan kaki-kakinya."


Aku tak menggubris perkataan Ihsan, aku juga tidak berniat melarikan diri sebab aku tahu Ihsan pasti bisa mengatasi situasi, dan dia tidak akan membiarkan Reza menemuiku dalam keadaan seperti itu.


Ihsan cukup lama di dalam sana, aku tahu dia pasti sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia keluar, Reza mengikutinya. Dia sudah berganti pakaian dengan kaus polos tanpa lengan, dan luka di bahunya sudah terbalut rapi, aku lega, dia sudah mengobati lukanya.


"Mau menemuinya?" tanya Aarin.


Aku menggeleng meski sebenarnya aku sangat ingin menemuinya, meminta maaf karena telah melukainya. Tapi aku terlalu pengecut, hatiku yang sakit itu seolah merantaiku untuk tetap di tempat.


Sekembalinya Ihsan, dia langsung menceritakan apa yang sudah terjadi -- sesuai dengan penjelasan yang dituturkan Reza kepadanya. Dia memutar badan menghadapku yang duduk di kursi belakang. "Mas Reza bilang dia tadi mengejarmu, tapi kehilangan jejak. Dan katanya, dia sama sekali tidak berbohong, dia memang pergi ke rumah sakit, tapi ternyata Salsya sudah dibawa pulang oleh Kayla. Sebab itu Mas Reza menemui Salsya di rumah Kayla. Waktu Mas Reza sampai di sana, dia malah melihat Salsya mau terjun bebas dari lantai atas. Mas Reza berusaha membujuk Salsya supaya mengurungkan niatnya. Tapi, ya begitu, dia malah meminta Mas Reza untuk menikahinya. Jadi Mas Reza terpaksa berjanji. Tapi katanya dia tidak bersungguh-sungguh. Dia hanya--"


"Terserah," potongku. "Dia hanya punya dua pilihan, menyelamatkan Salsya dengan mengorbankan aku, atau mempertahankan aku dan membiarkan Salsya mati, itu pun kalau dia tidak berpura-pura. Kurasa mereka kombinasi yang tepat, wanita yang penuh kepura-puraan dan lelaki lemah yang mudah tertipu air mata buaya."


Aarin berdeham. "Mungkin sebaiknya diobrolkan dulu, Mbak."


Aku menggeleng. "Kita langsung pulang ke Jakarta."


Aarin kembali menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, bersamaan dengan Ihsan yang mulai menstarter lalu melajukan mobilnya ke jalan. Sementara aku menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang melintas dengan air mata yang terus mengaburkan pandanganku. Aku tahu, Reza pasti masih berdiri di sana sampai ia benar-benar tidak melihat lagi mobil Ihsan terparkir di depan rumahnya.


Maafkan aku Mas, aku tidak bisa lagi bersamamu. Selamat tinggal.


Yeah, hatiku sakit. Seperti seorang pengembara yang jenuh, kini aku kembali ke rumah. Ke pelukan ibuku.


"Bunda merindukanmu," katanya saat menyambut kepulanganku. Dia langsung memelukku, lalu menggandengku dan mengantarku ke kamar. Segera setelah kami memasuki kamar, ibuku meletakkan tangannya di bahuku. "Bunda tahu Nara gadis yang kuat," katanya. "Semuanya pasti akan baik-baik saja."


Aku mengangguk dan menyunggingkan senyuman yang terlihat tegar.


"Mau Bunda ambilkan sesuatu?" tanyanya. "Apa pun."

__ADS_1


Aku menggeleng. "Tidak usah," sahutku.


Ibuku menatapku lama tanpa mengatakan apa pun, matanya berkaca-kaca. Kuulurkan tangan dan memegang tangannya. "Nara baik-baik saja, Bund. Nara mau mandi, nanti Nara turun. Nara lapar, belum makan siang," imbuhku -- berusaha menunjukkan kalau aku baik-baik saja.


"Oke," sahutnya. Kemudian dia menangkup wajahku dan mencium keningku. "Bunda tunggu di meja makan."


Aku mengangguk dan terus tersenyum sampai ibuku meninggalkan ruangan, kemudian aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan mengembuskan napas pelan. Kucoba memikirkan ulang semua yang dijelaskan Ihsan kepadaku, tentang kejadian yang sebenarnya -- yang diceritakan Reza kepadanya. Dan pada akhirnya, bagiku, tetap, Reza-lah yang bersalah. Aku sudah memperingatkannya dari awal, jangan memberikan Salsya peluang untuk kembali hadir ke dalam hidupnya. Kejadian seperti inilah yang kutakutkan, di mana seorang perempuan "malang" memanfaatkan rasa iba seorang lelaki terhadapnya. Dan, yeah -- akulah yang menjadi korban -- aku lagi.


Kukeluarkan ponselku dari dalam tas, kuhapus semua foto Reza dari akun sosial media yang kupunya. Lalu aku mengganti semua foto profilku dengan foto lama, foto saat aku berumur dua belas tahun. Aku ingin seperti dua belas tahun yang lalu, aku yang mampu menata hatiku dari kehancuran -- kehancuran yang disebabkan oleh seorang lelaki yang mestinya sangat berarti dalam hidupku.


Aku belum tahu apa yang benar-benar kuinginkan, aku juga tidak tahu apakah keputusanku itu sudah tepat. Tetapi aku tidak mau membiarkan diriku terus menaruh harapan pada lelaki yang tidak bisa menepati janji. Aku tidak mau membiarkan diriku larut dalam cinta yang tak jelas bagaimana akhirnya -- cinta yang membuat sakit rasanya hati ini di dalam. Siapa orangnya yang mau diperlakukan seperti ini? Yang jelas, aku tidak mau hidup dalam ketidakpastian.


Aku sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian saat ibuku memanggilku turun untuk makan siang. Waktu aku turun, ibuku, Ihsan, dan Aarin sudah duduk di meja makan. Aku merasa bersalah karena mereka mengorbankan waktu hanya untuk menungguku. "Terima kasih sudah menungguku. Tapi seharusnya itu tidak perlu," kataku.


"Dalam situasi seperti ini, kebersamaan itu penting," ibuku menyahut.


Sebenarnya aku sedang hilang selera, tetapi aku harus tetap makan, tidak ada gunanya menyiksa diri sendiri, sementara Salsya nun jauh di sana sedang merayakan kemenangan.


"Kamu percaya dengan apa yang diceritakan Mas Reza?" tanyaku.


"Percaya," katanya. "Kenapa? Kamu tidak percaya?"


Aku mengangkat bahu. Kutusuk brokoli dengan garpu dan terus makan. "Seandainya kamu ada di posisinya, apa yang akan kamu lakukan?"


Ibuku dan Ihsan bertukar pandang, bahkan Aarin mendadak berhenti mengunyah. "Mungkin aku akan melakukan hal yang sama," Ihsan menjawab.


Aarin tersedak. Dia megap-megap seperti ikan yang membutuhkan air. Kontan saja Ihsan langsung memberikannya air dan Aarin meminumnya langsung dari tangan Ihsan.


"Uuuh... so sweet...," seruku.


Ibuku hanya tersenyum tipis, rasa tidak nyaman menguasai dirinya. Tapi ia tidak akan pernah menunjukkan kerapuhannya di depan kami.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu," Ihsan berkata pada Aarin. "Itu hanya pengandaian. Lagipula, sedikit berbohong demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus, tidak apa-apa, kan?"


Tidak. Aku tidak sependapat. "Logikanya, kalau memang Salsya mau mengakhiri hidupnya, dia bisa melakukannya sebelum Mas Reza ke sana, atau dia bisa menabrakkan dirinya di jalan sewaktu dia keluar dari rumah sakit. Iya, kan? Terlalu kebetulan jika dia melakukannya saat Mas Reza masuk ke rumah itu."


"Tidak ada yang tahu kebenarannya," ibuku turut bersuara. "Apa yang dilakukan Reza, mungkin itu yang terbaik."


Aku mendesa*. "Dia menjerumuskan dirinya sendiri. Yang benar -- harusnya dia tidak usah ke sana," kataku tanpa mengalihkan pandangan dari piringku.


"Mau bagaimana, semuanya sudah terjadi," Ihsan berkata setelah menenggak habis minumannya.


Aku mengangguk. "Yeah, sudah terjadi." Lalu diam sejenak, mataku tertuju pada pisau di depanku. "Seharusnya pisau itu kutusukkan pada diriku sendiri. Terus berpura-pura kesakitan, dan... Tidak." Aku menggeleng. "Mana bisa aku seperti itu. Bodoh!"


Astaga, aku langsung menutup mulutku rapat-rapat. Semua orang jadi menatapku, tercengang. Aku tahu ibuku terluka mendengarnya.


"Ayolah... Abaikan kicauanku. Mana mungkin aku menyakiti diriku sendiri." Aku melepaskan garpu lalu menyentuh lengan ibuku. "Itu bukan caraku, aku tidak akan mempertaruhkan harga diriku hanya untuk dicintai."


Ibuku tersenyum tipis, tepatnya pura-pura tersenyum. "Habiskan makananmu dan segera istirahat. Berhenti membahas hal konyol seperti ini."


"Oke," kataku. Lalu kusunggingkan sebuah senyuman -- palsu.


Ketika makan siang itu selesai dan aku kembali ke kamar, ada banyak sekali pesan masuk di ponselku. Terutama di grup whatsapp The Fantastic Eleven. Semuanya di mulai oleh Raheel, dia men-screenshot status facebookku dan mengirimkannya ke grup whatsapp.


Mencintaimu seperti berjalan dalam labirin.


Membuang-buang waktuku hanya untuk tersesat.


Dua kalimat itu membuat semua orang bertanya ada apa dan bagaimana dengan rencana pernikahanku yang mestinya akan digelar enam hari lagi.


Enam hari lagi? Sudahlah. Lupakan. Pernikahan itu mustahil terjadi.


Dan sebenarnya aku tidak membaca ataupun memerhatikan keseluruhan chatting di grup itu, tapi yang pasti aku tahu, Ari -- satu-satunya yang tidak melontarkan pertanyaan, justru dia satu-satunya orang yang menjelaskan apa yang sudah terjadi. Front Pembela Reza, begitulah aku menyebut dirinya.

__ADS_1


Kumatikan ponselku. Sebagai gantinya aku mengambil laptopku, aku bisa menulis lebih banyak saat hatiku perih. Ini saatnya untuk menyelesaikan tulisanku.


Because this is me, meski aku menangis dalam kesendirian, tapi sakit hati itu tidak akan mampu membunuhku -- tidak akan kubiarkan kehancuran itu membinasakan aku. Aku punya jiwa yang kuat -- dan aku setegar karang.


__ADS_2