
Hari senin, Reza dan aku ikut membersihkan villa pribadi milik keluarga Alfi. Villa mewah dengan sepuluh kamar yang hampir dua bulan tidak dibersihkan. Sebab, mereka hanya membersihkannya enam bulan sekali, hanya ketika musim liburan, saat keluarga besar mereka datang -- berlibur di sana. Rasanya tidak sopan jika kami hanya datang di saat semuanya sudah beres, meski menggunakan jasa cleaning service panggilan. Setidaknya kami memastikan sendiri semuanya sudah oke.
Sepupu-sepupuku memutuskan untuk berangkat lebih cepat, siang itu juga, supaya bisa beberapa hari liburan di Bali katanya, dan rencananya mereka akan pulang pada hari minggu pagi. Dewi fortuna benar-benar berpihak kepada mereka. Bagaimana tidak, mereka bisa menempati villa mewah secara gratis berkat Ari yang berteman dengan Alfi, begitu juga dengan sarapan dan makan malam yang ditanggung oleh Reza. Bagaimana denganku? Aku bahagia, meski ada rasa agak kurang nyaman, agak sedikit tidak rela. Sebab aku masih mengharapkan waktu Reza hanya untukku, setelah beberapa hari dia meninggalkan aku dan berangkat sendirian ke Solo. Aku takut perhatiannya teralihkan dariku.
Melihatku yang tak bisa menutupi kemurunganku sejak pagi, Reza mengajakku jalan-jalan berdua setelah jam makan siang. Kami bermobil menuju Pantai Sanur, dan menghabiskan sisa siang yang sempit itu di sana, sebelum rombongan yang ditunggu-tunggu tiba di Bali.
Sebelum memutuskan ke sana, Reza menanyaiku aku ingin pergi ke mana, dan itu pertama kali dia menanyakan pendapatku tentang tujuan perjalanan kami, alasannya karena kami hanya punya waktu sedikit, sebelum menjemput sepupu-sepupuku di bandara. Waktu belum pas untuk duduk-duduk di tepi pantai, sunrise sudah lama lewat, sementara sunset masih sangat lama. Aku juga tidak mau pergi ke waterbom ataupun waterpark, karena kami sudah melakukan itu di Surabaya, meskipun suasananya berbeda, tapi pada intinya sama, bermain air. Aku tidak mau diajak berbelanja oleh Reza, setidaknya untuk saat itu, terkecuali saat aku sudah menjadi istrinya, pikirku. Aku juga mengakui aku kurang suka tempat-tempat bersejarah, dan terakhir kukatakan -- selain berenang dan menyelam, aku tidak menguasai olahraga air satu pun. Tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana. Akhirnya dia mengambil keputusan sendiri, dia mengajakku ke Pantai Sanur.
Lo, katanya belum pas untuk duduk-duduk di tepi pantai? Aku mengernyitkan dahi.
Pesisir Pantai Sanur berpasir putih, membentang luas dari utara ke selatan dengan air lautnya yang tenang. Andai kami datang di saat pagi, tentunya kami bisa melihat matahari terbit. Nuansa di Pantai Sanur memang berbeda dengan Pantai Kuta yang menyuguhkan sunset karena pantainya menghadap ke Barat, sedangkan Sanur menyuguhkan pemandangan matahari terbit, yang muncul dari garis cakrawala ufuk Timur.
Setibanya di Pantai Sanur, perhatianku langsung tertuju pada para wisatawan yang sedang asyik mengendarai jetski. Aku bahkan tidak memerhatikan apa yang dilakukan Reza saat itu, tahu-tahu dia menyodorkan jaket pelampung kepadaku. Awalnya aku kegirangan, tapi setelahnya aku jadi ragu. "Kamu bisa main jetski?" tanyaku.
Dia mengangkat alis dengan bibir tersenyum. "Tenang, aku sudah sangat berpengalaman. Tugas kamu hanya duduk, dan pegangan yang erat."
"Pegangan atau peluk?"
"Iya, peluk yang erat, Sayang."
"Oke, Masku...."
__ADS_1
Benar saja, dia sudah sangat lihai sekali mengendarai jetski, dan itu membuatku penasaran, siapa yang pernah duduk di tempatku, di belakang Reza, dan memeluk erat tubuhnya saat mengarungi lautan biru, seperti aku memeluknya kala itu. Tentu saja kutanyakan hal itu padanya tanpa menyebut-nyebut nama mantan pacarnya.
Reza menjelaskan kepadaku bahwa pertama kali dia belajar jetski dulu waktu dia mengusir kegalauan. Mendengar kalimat itu aku langsung mengerti itu terjadi tiga tahun yang lalu, saat dia ditinggal menikah oleh mantan pacarnya. Dan setelah itu, mengendarai jetski menjadi hobinya setiap kali dia datang ke Bali, dan saat-saat itu dia hanya sendirian, katanya. Tapi, mana tahu? Seberapa jujur dia padaku? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Entah kenapa, untuk hal satu ini -- hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya, aku tidak bisa memercayainya seratus persen.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Nanti kesan romantis kita hari ini jadi hilang."
Aku nyengir. "Iya, oke. Kamu memang sangat romantis. You are the best."
Dia, Reza Dinata, seorang lelaki yang bisa membaca hati dan pikiranku hanya lewat tatapan matanya. Kok bisa? Apakah dia seorang cenayang? Kalau menurutmu karena cinta, bagaimana denganku? Aku tahu aku cinta, tapi aku tidak bisa membaca pikirannya. Hmm....
Setelah bermain jetski, dia bermaksud mengajakku terbang dengan parasailing. Tapi aku menolaknya, aku tidak punya keberanian untuk terbang tanpa Reza. dia pun mengganti gagasannya, dia mengajakku untuk menyelam ke bawah laut, tapi aku juga menolak, aku tidak membawa baju renang, tidak memakai tank top, juga tidak membawa pakaian ganti. Meskipun pakaianku sedikit basah karena bermain jetski. Dan tentu saja, aku tidak mau kalau hanya menyelam dengan memakai bra. Mungkin aku dipandang norak. Aku memang pendosa, tapi aku masih gadis yang dibesarkan dengan budaya ketimuran, meski aku tidak sepenuhnya menutup aurat. Dan di saat-saat seperti itu, pemikiran bahwa betapa naifnya aku -- kembali bermunculan di otakku.
Akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju bandara. Rombongan The Fantastic Eleven tiba di bandara sekitar satu jam kemudian -- tak lama setelah kedatangan Alfi dan Mayra yang juga datang untuk menjemput mereka. Seperti halnya Reza, Alfi, Mayra, dan Tirta, ada satu tamu lagi yang ikut meramaikan liburan kami, namanya Aarin Ali Khan, gadis cantik keturunan India, berkulit sedikit lebih cerah daripada kulitku, dia teman dekatnya Ihsan. Begitulah pengakuan Ihsan, dia tidak menyebut gadis itu sebagai pacarnya.
Setelah rapat dadakan itu rampung, kami semua sepakat melewati sore itu di Pantai Kuta. Aku ingin mengepang rambutku dengan kepangan kecil-kecil seperti gadis papua, sambil duduk di pantai menunggu sunset dan melewati senja bersama Reza. Momen yang sangat manis.
Suasana Pantai Kuta menjelang senja itu sangat ramai, banyak wisatawan-wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara menikmati waktu sore yang bersahabat. Turis-turis asing nan seksi dalam balutan bikini berseliweran di depan mata. Begitu pun dengan wisatawan lokal yang juga tak kalah seksi dengan bikini ala turis dari mancanegara. Ada juga yang sekadar jalan-jalan bersama keluarga ataupun duduk-duduk bersama beralaskan tikar, menemani anak-anak mereka yang asyik bermain pasir.
"Mas, lihat arah jam tiga," kataku. "Bagaimana? Kamu suka yang seseksi itu?"
Seorang turis wanita tengah duduk di atas pasir. Bagian dadanya besar dan sangat montok, terlebih dengan bikininya yang bermotif loreng dan warna kulitnya yang eksotis.
__ADS_1
Reza menggeleng. "No. Oversize," katanya seraya mengangkat tangan dengan mempraktikkan gerakan seperti merema*.
"Itu tanganmu maksudnya ngapain?"
"Kan untuk dipegang-pegang." Dia terbahak.
"Dasar cowok!"
"Setelah menikah apa salahnya? Kamu tidak mau?"
Aku mendelik. "Mas...," kataku gemas.
"Kamu sendiri yang nanya. Aku jawab, dong."
"Ya, ya. Kalau bibir seseksi itu, bagaimana?"
"Yang mana?"
"Itu, cewek Indo yang lagi makan es krim."
"Emm... seksi... tapi tidak tahu bagaimana rasanya. Aku sukanya bibir kekasihku, kecil, mungil, tapi manis. Omong-omong rasanya juga manis."
__ADS_1
Hmm... dasar gombal....