
"Bangun...," seru Reza sambil mengacak-ngacak rambutku.
Agak menyebalkan!
"Aku masih ngantuk, Mas."
"Oke. Kalau begitu ke curugnya batal, ya?"
"Kamu mah begitu."
Aku mencebik. Dengan merengut aku memaksakan diri untuk bangun. Untung saja aku sudah mandi dari subuh. Jadinya tidak lecek-lecek amat karena baru bangun tidur dan walau tanpa mekap. Rencana awal kami ingin langsung bergegas menuju Curug Cikondang, The Little Niagara milik Cianjur. Tapi, sebelum masuk ke mobil, aku ingat dengan buah strawberry-ku yang kusimpan di kursi belakang. Dengan mewek, kutunjukkan buah merah yang sudah tidak segar lagi itu kepada Reza. Memang belum busuk, masih bisa untuk camilan. Tapi... tentu saja itu tidak akan terasa segar lagi kalau untuk dibuat jus buah, apalagi untuk hiasan kue. Sebab, rupanya sudah jelek karena hampir dua puluh empat jam keluar dari lemari pendingin.
"Salahmu sendiri. Kamu kebanyakan mampir di sana-sini. Coba saja kita langsung pulang ke Jakarta, kan beda ceritanya," komentar Reza mencabik-cabik hatiku. "Apa? Mau ngambek? Hmm?"
Aku merengut. "Kamu tega sekali, ya, komentarnya begitu. Nggak ngenakin, tahu! Nyelekit!"
"Nyelekit? Apa itu?"
Aku pun melengos. "Auh ah! Kamu menyebalkan," rajukku, yang pagi itu memang sudah badmood karena dipaksa bangun.
Setelah membuka pintu mobil, aku pun merebahkan sandaran kursiku dengan maksimal, lalu berbaring dengan memunggungi Reza selama di perjalanan.
"Ayo, turun," ajaknya.
Sampai? Aku bingung, kami berkendara baru sekitar tiga puluh menit. "Memangnya sudah sampai?"
"Sampai, di kebun strawberry."
Kebun strawberry? Serius? Aku kegirangan dan langsung duduk tegak. Eum... Aku langsung memeluknya dengan penuh cinta. Badmood-ku langsung luntur tak berbekas sama sekali. "Thank you, Mas. You are the best. Aku sayang kamu." Rasa bahagiaku sungguh tak terbendung.
...Sweetberry Agrowisata...
...Villa Green Apple Garden...
...Jl. Mariwati Cipanas - Puncak...
...Cianjur 43253...
...Jawa Barat...
...BUKA SETIAP HARI...
...Senin – Jum’at :...
...Pukul : 07.30 – 17.00 WIB...
...Sabtu, Minggu & Libur Nasional :...
...Pukul : 07.00 – 17.30 WIB...
Itu -- informasi yang kami dapatkan dari google. Kami datang kepagian dan harus menunggu sekitar dua puluh menit. Sementara Reza memanfaatkan waktu itu untuk mengisi perut, aku memanfaatkan waktu untuk berdandan.
"Jangan terlalu merah," tegurnya saat aku melukiskan lipstik ke bibirku. "Nanti aku bingung yang mana bibirmu dan yang mana buah strawberry."
Aku mengecupkan kedua bibirku dua kali supaya lipstikku merata. "Mas... Mas. Bingung atau tidak kan tidak ada pengaruhnya. Kamu bilang seperti itu seolah kamu mau menciumku."
Reza menolehku, dia baru mau membuka mulut untuk bicara, tapi aku lebih dulu menyalipnya, "Mau bilang apa? Kamu sudah beberapa hari tidak menciumku."
"O ya?"
"Sok pikun."
"Kemarin waktu di Kawah Putih--"
"Itu cuma sentuhan bibir. Bukan ciuman," sanggahku, memotong kalimatnya lagi.
Dia tersenyum nakal. "Oke. Jadi kamu kangen dicium?"
Menyebalkan. "Tidak! Sama sekali tidak kangen."
"Yakin?" tanyanya lagi. Sementara aku hanya merengut. "Kalau diam berarti iya?"
Kucubit pinggangnya sampai dia menjerit. "Kamu menyebalkan!" kataku.
Reza cekikikan. "Sudah jam tujuh. Ayo."
Tuh, kan... ih! Dasar... Reza langsung keluar dari mobil tanpa menciumku lebih dulu.
Kami membeli tiket masuk dan langsung menuju hamparan perkebunan strawberry seluas tiga hektar dengan keranjang di tangan kami masing-masing. Ternyata, sensasi memetik buah strawberry yang segar ini melebihi espektasiku. Dan aku merasa benar-benar konyol, aku pernah pergi ke Batu Malang, dua kali ke Bandung, dan sering berkunjung ke Bogor, tapi tidak pernah menyinggahi perkebunan strawberry, padahal aku suka sekali buah merah merona yang manis cenderung asam ini.
__ADS_1
Setelah lebih dari satu jam menikmati keindahan hamparan perkebunan strawberry, kami pun langsung bergegas menuju Curug Cikondang di bagian selatannya Cianjur.
"Kamu sandaran melulu. Bagus lo pemandangan di sini," celoteh Reza yang menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan di kanan kiri-jalan dan membiarkan angin membelai wajahnya.
Aku tersenyum. "Bagusan pemandangan di depanku."
"Gombal!"
"Kamu merasa aku melihat ketampananmu, ya?"
"Terus? Apa?"
"Bukan. Yang kulihat lebih dari itu, sosok lelaki -- kekasihku yang penuh cinta."
Dari raut wajah dan ekspresinya, Reza nampak ingin tahu maksud kalimat yang baru saja kuucapkan itu.
Aku tersenyum. "Kamu itu pengertian. Aku ngambek sedikit, kamu bela-belain mecari lokasi untuk membeli strawberry baru. Aku terharu dengan sikap manismu. Terima kasih, ya."
"Ssst... jangan memujiku. Nanti aku melayang."
"Memang begitu kenyataannya, Mas."
"Ya... karena aku sayang kamu. Sudah menjadi tugasku untuk membahagiakanmu, ya kan?"
Sungguh manis. "Kalau kamu mau sesuatu dariku, kamu bilang, ya. Aku juga mau membahagiakanmu."
"Trims, Sayang. Kamu punya niat itu saja aku senang bukan kepalang," katanya lengkap dengan senyuman dan genggaman tangan yang lembut.
Setelah dua jam lebih berkutat di jalanan sambil mampir-mampir cantik dan ngemil-ngemil cantik, kami tiba di area parkir Curug Cikondang dengan selamat, kurang bugar, dan sedikit menjadi lebih jelek. Oh sori, cuma aku. Reza masih dengan ketampanan dan kebugaran yang sama, yang real dan hakiki.
"Kamu mau apa?"
"Mau dandan dulu, Mas."
"Ya salam...." Dia menepuk jidat.
"Kita kan mau foto, aku harus dandan dulu biar lebih kecceh...," kataku membela diri, membuat Reza menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara aku sibuk berdandan, Reza kembali menyempatkan diri mengisi perut. Dia meraih Laksa Cianjur yang tadi sempat kami beli, sengaja di bungkus sebab warungnya ramai dan kami tidak kebagian tempat duduk. Yah, ceritanya kami memang belum sarapan yang benar-benar sarapan, mengertikan maksudku? Yap, kami belum memakan sesuatu yang sifatnya mengenyangkan. Dan, dengan manisnya, Reza rela menyuapiku dan membiarkan aku dengan kesibukanku mempercantik diri.
"Kok kamu malah dandan? Memangnya tidak mau basah-basahan?"
"Oh." Dia manggut-manggut.
"Em, biasanya selesai lima hari. Tapi jaga-jaga saja, daripada nembus."
"Oke. I see. Omong-omong perasaanku tidak enak, jangan bilang kalau kamu mau pose yang nyeleneh."
Aku nyengir. "Emm... kamu kan biasanya mau, Mas. Please, ya? Please, please, please? Ya, Mas? Mau, ya?" Kuberikan dia senyuman manis sampai ia tak mampu menolakku.
Setelah Reza mengiyakan, aku pun memperlihatkan contoh pose yang kumaksud, sehingga ekspresinya langsung berubah drastis. Nampak lipatan-lipatan di dahinya -- mewakili perasaannya yang tak bisa ia ungkapkan karena dia sudah terlanjur mengiyakan.
Uh... senangnya hatiku karena Reza memenuhi kemauanku. Lima pose ala film RDX Love pun terealisasi. Meski malu, dia bersedia bertelungkup di atas batu super besar dan aku berbaring di atasnya dalam pose pertama yang kami lakoni. Lalu pose kedua, masih dengan Reza yang bertelungkup, disusul aku yang ikut bertelungkup menindihnya. Dalam pose ketiga, giliran aku yang berbaring dengan satu kaki lurus dan satu kaki menekuk, sementara Reza duduk membungkuk di sampingku dan mencium perutku. Pose ke empat, pose yang membuat dia harus lebih menahan malu, tapi dia bersedia memenuhinya, dia bersedia mencium kakiku persis di poster RDX Love yang ketujuh belas versi Filmibeat. Dan pose yang paling kusukai adalah pose terakhir, pose kedelapan belas: pose setengah kayang, Reza menahan pinggangku dengan tangannya yang kekar, lalu mencium perutku dengan lembut.
"Trims... kamu rela menahan malu demi aku."
Dia mencium pipiku. "Everything for you," katanya -- balas berbisik di telingaku. Ah... meleleh aku dibuatnya, karena itu ia ucapkan setelah ia mau mempertaruhkan harga dirinya demi membahagiakan aku.
Selain pada Reza, terima kasih juga pada si photographer dadakan, Aarin dan Mayra. Sebab, keinginan gilaku ini berkat terkontaminasi virus-virus pecinta Bollywood dari Aarin, dan berkat setelan sabrina split skirt dari Mayra, pose ala Bollywood impianku pun bisa terealisasi. I love you all.
"Mau ke mana lagi, Sayang?" tanya Reza memecah kefokusanku menatap layar ponsel. Kami baru saja selesai berganti pakaian karena pakaian kami basah terkena percikan air, lalu berisitirahat di gazebo di sekitar curug sembari menentukan kami ingin ke destinasi wisata mana untuk selanjutnya. Sambil bersantai, kami makan siang dan menyeruput dawet yang Reza beli di jalan sewaktu kami menuju lokasi curug, sayangnya tingkat kedinginannya sudah berkurang, es batunya keburu habis karena terlalu lama ditinggal.
Kugelengkan kepalaku dengan pelan. "Aku bingung, Mas. Tidak ada itinerary yang jelas. Jadi, tidak tahu arah dan tujuan yang efisien. Dan...."
"Apa?" tanyanya.
"Taman, air terjun, danau. Apa kamu tidak bosan?"
"Asal ada kamu dan bersamamu, di mana pun akan selalu menyenangkan," ujarnya, ia tersenyum lebar.
Euw... aku hampir tersedak.
"Dasar, tukang jiplak!"
"Jadi mau ke mana?"
"Langsung menuju Jakarta saja kali, ya."
Dia mengangguk. "Oke," sahutnya tanpa menoleh. Ia sedang menikmati dawetnya. "Dawetnya manis, tapi lebih manis kamu."
__ADS_1
"Hoekkk. Dasar gombal!"
Kutaruh ponselku dan kembali fokus menikmati dawet.
"Kita ke Situs Gunung Padang, yuk?" ajaknya tiba-tiba.
Kali ini aku tersedak. "Aku tidak mau," tolakku.
"Karena kamu tidak mau mendaki? Dari informasinya ini bukan gunung sungguhan, Sayang. Ada tangga untuk sampai ke puncak."
Mulutku membentuk O bulat. "Eh, tapi bukan cuma karena itu. Aku takut ah ke sana. Seyem...."
"Seram?"
Aku mengaangguk. "Itu lokasi syuting film horor. Kalau tidak salah judulnya Gerbang Neraka, film yang dibintangi Reza Rahadian. Aku takut ah ke sana."
"Reza Rahadian lagi. Lama-lama aku bisa cemburu, lo."
Hah? "Apa sih, Mas? Kok nyambung-nyambungnya ke situ? Kita kan lagi bahas gunung itu, kenapa disangkut pautkan ke Reza Rahadian?"
"Oke, oke. Jadi, kamu mau, kan, menemani aku ke sana?"
Aku menggeleng kuat-kuat, bersikeras menolak.
"Itu kan cuma lokasi syuting, bukan berarti di sana benar-benar lokasi yang horor. Kamu biasanya suka apa pun yang berhubungan dengan Reza Rahadian."
Aku berdalih, "Untuk yang satu ini tidak sama sekali. Lagipula, sekarang kan aku sukanya apa pun yang berhubungan dengan Reza Dinata."
"Nah, Reza Dinata suka tempat-tempat bersejarah. Jadi bagaimana?"
Kuhela napas dengan berat. "Mas... please...."
"Sayang...."
"Jangan memaksa."
"Kamu orangnya tidak adil."
"Maksudnya?"
"Ya tidak adil. Aku mau melakukan apa pun untukmu, bahkan mencium kakimu hanya untuk sebuah foto, aku mau. Tapi giliran aku yang minta, kamu dengan mudahnya menolak. Egois, kan?"
Terpancing. "Kamu tidak ikhlas? Kamu mau hitung-hitungan denganku?" tanyaku sedikit memanas seperti kayu yang tersulut api.
Reza tidak menjawab. Dia mengalihkankan pandangan ke arah lain. Baru kali ini aku melihatnya ngambek. Catat: ngambek, bukan marah. Tapi kau tahu sendiri bagaimana keras dan egonya aku. Aku tidak mau mengalah.
"Aku pergi sebentar," katanya.
Saat itu aku tidak memerhatikan ke mana Reza pergi. Aku rasa saat itu dia mencoba meredam kekecewaannya, sebab dia pergi cukup lama. Tapi kali ini pemikiran-pemikiran aneh tidak menghinggapiku lagi. Wah, surprise, ada kemajuan. Aku tidak berpikir bahwa dia akan pulang dan meninggalkan aku di sana sendirian, atau mencari hal-hal lain yang menghiburnya, misalnya mendekati pengunjung lain yang cantik atau yang menarik perhatian, tidak sama sekali.
Dua puluh menit kemudian, atau lebih dari itu, Reza kembali. Aku tidak tahu pasti, tahu-tahu dia sudah ada di sampingku, dia duduk persis di sebelah kananku dengan posisi menghadap berlawanan arah.
"Aku minta maaf, ya?" katanya tiba-tiba. "Aku tidak bermaksud memaksakan kehendakku. Aku pikir mumpung kita berada di sini, bisa sekalian ke sana. Tapi tidak apa-apa. Kamu punya hak untuk menolak."
Deg!
Hatiku rasanya kena tonjok. Rasa bersalah pun langsung bertahta di hatiku, persis setelah tonjokan itu mengena tepat pada sasarannya.
"Aku yang minta maaf, Mas. Memang aku yang egois. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk membahagiakan aku. Aku sadar, tidak seharusnya aku menolak. Lagipula, selama kita bersama, rasanya aku tidak pernah melakukan sesuatu untukmu. Maaf, ya. Aku sudah berlaku tidak adil."
Dia tertegun. "Maaf, aku tidak sengaja tadi berkata seperti itu." Nampak jelas dia menyesali kata-kata yang tidak sengaja ia lontarkan tadi.
"Tidak apa-apa. Yang kamu katakan itu benar. Aku egois. Aku tidak adil."
Kami berdua terdiam -- sesaat, mungkin lebih dari tiga menit. Ini ceritanya bermaaf-maafan tapi masalah tidak selesai seutuhnya.
"Masih mau di sini? Atau mau melanjutkan perjalanan?"
Aku hanya mengangguk, lalu berdiri, yang artinya mari melanjutkan perjalanan. Kami pun berjalan menuju parkiran.
"Ayo, kita ke Situs Gunung Padang," kataku, persis setelah Reza menstarter mobil.
Dia menolak, bahkan tanpa menoleh, "Tidak usah. Aku tidak mau kalau kamu terpaksa."
Eit dah, ternyata begini kalau dia ngambek. Dengan pelan, kusentuh lengannya dan berusaha membujuknya. "Tidak, Mas. Aku mau, kok. Demi kamu."
"Ikhlas?"
Aku takut, tapi demi kamu. Tapi, toh, aku mengangguk. "Iya, aku ikhlas," kataku, meskipun ekspresiku tidak mengatakan demikian. Lagipula tadi aku sendiri yang menyuruhnya untuk mengatakan saja apa pun yang dia inginkan. Lagi-lagi aku termakan omonganku sendiri.
__ADS_1
Tapi ya sudahlah. Aku ikhlas demi membuatnya bahagia.