Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Kejadian Malam Itu


__ADS_3

Hampir jam satu dini hari, aku belum bisa tidur. Kakiku pegal luar biasa, meski sudah dipijit oleh tukang pijit panggilan yang diundang ke villa oleh Alfi, meski selonjoran, meski kucoba memejamkan mata, tapi aku tetap tidak bisa tidur, hanya ditemani alunan musik dari earphone di telingaku. Aku tidak bisa mendengar suara apa pun selain musik yang mengalun merdu itu.


Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sampai sekian puluh menit, rasa kantuk pun mulai datang. Tetapi...


Sekelebat bayangan hitam membuatku tersentak.


Aku tak berdaya. Beberapa orang bertopeng dengan pakaian serba hitam langsung menyergapku, menutup mulutku, menahan kaki dan tanganku. Salah seorang naik ke atas tempat tidur dan mengambil posisi persis di atasku. Sambil nyengir bak setan dengan tanduk merah -- dia mengeluarkan sepotong kain dari sakunya, lalu dengan kecepatan setan orang itu menutup mulut dan hidungku.


Obat bius. Aku tahu itu obat bius. Aku tidak bisa melawan. Mataku langsung berkunang, kepalaku terasa berat, seperti berton-ton semen menimpaku. Dan semua menjadi gelap.


Aku pingsan.


"Sayang? Kamu sudah sadar?" suara gemetar Reza yang duduk di sisi tempat tidur menyambutku setelah aku tersadar beberapa menit kemudian. Wajahnya pucat pasi, jelas matanya seperti orang yang habis menangis. Dan aroma minyak kayu putih yang menusuk memasuki indera penciumanku.


Well, otakku memutar kejadian sebelum aku pingsan. Ini semua bukan mimpi. Kepalaku masih terasa ngilu seperti ditusuk-tusuk. Rasa cemas, panik, bingung, tiba-tiba menyergapku. Segala pikiran negatif bermunculan dan berkecamuk di dalam otakku, mentalku terguncang, berharap yang terjadi sebelum aku pingsan tadi hanyalah sebuah mimpi, tapi itu benar-benar nyata, benar-benar terjadi. Bajuku robek di sana sini, kancing-kancingku...


Semuanya terlepas.


Oh Tuhan, apa yang orang-orang itu lakukan kepadaku? Apa aku...? No, please... aku harap ini hanya mimpi.


Air mata mulai mengalir dengan sendirinya. Aku ingin tahu apa yang terjadi kepadaku setelah aku pingsan. Suaraku tercekat, tenggorokanku rasanya tercekik, tak ada suara yang keluar dari mulutku. Sementara semua mata yang menatap seolah menelanjangiku. Aku ingin berdiri, ingin kusibakkan selimut yang menutupi kakiku, tapi Zaza mencegahku. Aku memaksa, aku tetap menyibaknya. Dan, rasanya semakin menyesakkan.


Darah?


Seprai putih itu dikotori bercak darah, begitu pun dengan celana yang kupakai. Aku hancur. Hatiku tercabik-cabik. Betapa malangnya nasibku. Tangisku langsung pecah. Habis sudah.


Ya Tuhan....

__ADS_1


Seketika itu Reza langsung memelukku.


"Darah? Berarti Reza belum pernah nyentuh Mbak Nara?" bisik Zia pada Ari, tapi tetap terdengar oleh semua orang.


Suara desisan terdengar dari mulut Ari. "Jaga mulutmu, Yang," sahutnya.


"Kasihan, setelah ini pasti Mas Reza langsung ngajak putus," Raheel ikut berbisik.


Geram. Reza meradang. "Tolong kalian semua keluar," Reza yang mulai panas mengusir mereka secara halus.


Semua orang keluar satu persatu. Menyisakan aku dan Reza yang masih berpelukan, hanya berdua dan berisakan air mata, tanpa bicara.


Di luar kamar, orang-orang itu bergunjingan. Dimulai dari Aarin yang mengucapkan kalimat penyesalan, sebab dia yang malam sebelumnya tidur denganku, malam itu malah tidur di kamar Raline dan Raheel.


"Kalau kamu tidur di sana, kamu juga kena perkos*, dong," sahut Rafasya, aku mengenali suaranya.


"Tidak perlu menangis berlebihan. Anggap saja pembobol jalan. Jadi, nanti malam pertamanya langsung lancar," celetuk Zaim yang kemudian ikut cekikikan, membuat Reza memanas dan keluar dari kamar.


Sementara aku masih membeku di atas tempat tidur. Aku tidak punya keberanian menampakkan wajahku di depan mereka semua. Reza mengamuk, terdengar suara Ari dan Alfi menahannya, menyuruhnya untuk sabar.


"Yang kena musibah itu sepupu kalian. Tega, ya, kalian berkomentar seperti itu," ucap Reza dengan penuh emosi, suaranya tinggi. Dan itu pertama kali aku mendengar suaranya dengan amarah.


Beruntung Alfi melerainya. "Sudah, Za. Tidak tepat kalau kalian ribut-ribut begini. Kasihan Nara."


Lalu hening. Tak ada suara sama sekali selama sekian detik, yang justru membuatku semakin tegang dan bertanya-tanya: apa yang terjadi di luar sana?


"Mas, mamaku pernah bilang, dalam situasi seperti ini, kita harus memberikan pertolongan pertama ke korban. Bawa ke rumah sakit atau klinik. Nanti dikasih pil pencegah kehamilan. Terus nanti dipasang IUD untuk mensteril sperm* supaya tidak berkembang," tutur Raline, yang merupakan anak seorang bidan.

__ADS_1


Benar. Apa yang dituturkan Raline itu benar. Aku langsung teringat pesan ibuku yang juga pernah menjelaskan tentang hal itu.


"Bawa ke klinik di pertigaan sana, Za. Kliniknya buka dua puluh empat jam. Dokternya perempuan, supaya Nara tidak risih pas dicek," Mayra ikut bersuara.


Kutarik jaket yang tergantung di belakang pintu. Aku tidak boleh berdiam diri. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri, pikirku. Karena aku masih punya kesadaran, aku masih mengingat ibuku yang selalu mengingatkan bahwa aku harus selalu berjuang hidup meski dunia menghancurkan aku. Meski semua ketakutan menyergapku dan memupus semua harapanku. Alih-alih menikah, Reza pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Aku akan malu dan tidak bisa lagi menampakkan wajahku di depan semua keluargaku, juga ketakutan akan hamil benih yang akan dicap masyarakat sebagai anak haram, terlebih takut terinfeksi penyakit kelamin.


Tidak. Aku tidak boleh larut dalam kenestapaan yang semakin dalam. Aku harus berjuang, setidaknya untuk diriku sendiri. Juga untuk Bunda. "Ihsan," panggilku setelah aku membuka pintu kamar.


Ihsan tidak ada, baru kusadari, dia langsung keluar dari kamarku begitu aku siuman tadi.


"Ihsan di kamar," sahut Aarin.


"Tolong panggil. Antar aku ke klinik."


"Mungkin sebaiknya Mbak pergi dengan Mas Reza. Tadi aku melihat Ihsan menangis, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mbak katanya," sahut Aarin lagi.


Aku langsung nyelonong keluar dari villa tanpa takut, meski saat itu baru sekitar jam dua pagi. Lalu Reza menyusulku. Dengan ego, aku melarangnya mengikutiku. Kukatakan padanya bahwa aku bisa pergi sendiri. "Jangan pedulikan aku!"


"Tolong, jangan buat aku merasa lebih gagal menjagamu. Aku salah, aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu. Tapi tolong, jangan buat kehadiranku lebih tidak berarti lagi dengan membiarkanmu pergi sendiri. Biarkan aku selalu ada untukmu. Aku mohon?" dia bicara sambil memegangi bahuku.


Ya Tuhan... kenapa dia begitu baik? Aku harus bagaimana? Haruskah aku menerima kebaikannya? Masih pantaskah aku yang tak berharga ini untuk lelaki sebaik dia?


Aku tidak pantas untukmu, Mas.


Aku terdiam. Di satu sisi aku ingin melepaskan dia, dengan keadaanku saat itu, aku merasa lebih tidak pantas daripada sebelumnya. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Tapi di sisi lain, aku juga tak kuasa menolak Reza yang memohon kepadaku.


Aku tidak tahu aku harus bagaimana?

__ADS_1


Oh Tuhan....


__ADS_2