
Kami tiba di rumah Ihsan sebelum jam makan siang. Seperti halnya ibunya Reza, ibuku juga sangat antusias begitu aku mengabari kalau Reza dan ibunya akan berkunjung hari itu. Maka saat Reza dan ibunya menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku, tentu saja ibuku langsung menerima lamaran itu dengan sukacita. Ibaratnya, apa yang disampaikan itu hanya formalitas, hanya seperti kata sambutan yang disampaikan seseorang dalam sebuah acara. Karena pada dasarnya, semua orang yang hadir sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan dua keluarga itu, dan sudah tahu apa jawaban si tuan rumah.
Sesuai rencana, hari itu kami akan makan siang bersama. Sesuatu yang luar biasa bagiku, karena kedua keluarga yang sebelumnya satu sama lain adalah orang asing, tapi bisa menyatu dengan begitu cepat pada pertemuan pertama. Ibuku dan ibunya Reza, yang sekarang kami sebut kedua ibu kami -- sudah sangat akrab, seperti dua saudari yang sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena latar belakang pengalaman masa lalu mereka yang hampir sama, begitulah pemikiranku.
Sambil menyantap potongan cumi kesukaannya, ibuku bertanya kapan rencana pernikahan kami. Padahal yang sebenarnya aku dan Reza bahkan belum membahas sampai ke sana.
"Minggu depan? Atau dua minggu lagi? Bagaimana?" sela calon ibu mertuaku itu -- menunjukkan ketidaksabarannya untuk menikahkan anak lelakinya.
Reza berdeham. "Kecepatan, Bu. Menurut Reza awal April saja. Kurang dari dua bulan. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lama."
Aku menangkap maksud ucapannya, dia tidak ingin aku merasa bingung kalau waktu pernikahan itu terlalu cepat.
"Sejak kapan kamu jadi so sweet begitu?"
"So sweet apanya?"
"Itu, kamu mau menikah di awal April. Pernikahan sebagai hadiah ulang tahun untuk Ibu, kan?"
Reza pun menanggapi ucapan ibunya dengan senyuman.
"Bagaimana, Sayang? Setuju menikahnya awal April?" tanya ibuku.
Aku mengangguk. "Nara ikut saja bagaimana maunya Mas Reza. Kalau Mas Reza mau pernikahannya di awal April, Nara setuju."
"Tuh, Mas. Mas Reza beruntung punya calon istri yang belum jadi istri saja sudah menurut apa kata calon suami. Apalagi kalau nanti sudah jadi istri, ya kan?"
Si pemilik tubuh atletis yang suka sekali menggoda saudari perempuannya, langsung bereaksi begitu ada celah. Semua orang tertawa mendengar ucapan Ihsan yang menggodaku.
__ADS_1
"Aduh!" ia berteriak kaget saat aku menginjak kakinya di kolong meja.
Ibuku menggelengkan kepala. "Harap maklum, Bu. Mereka berdua kalau bertemu ya seperti itu."
Reza dan ibunya sama sekali tidak merasa terganggu. Mereka malah tertawa melihat kelakuan adik lelakiku itu. Seketika aku merasa pipiku memerah, dan Ihsan malah tertawa.
Tetapi... setelah itu...
Bukan sebuah kebetulan ketika ayahku datang ke rumah Ihsan saat acara lamaran itu. Dia datang setelah kami semua selesai makan siang. Tentu itu berkat pemikiran ibuku. Dia tahu betul kalau aku tidak akan menikmati makan siangku jika orang itu datang lebih awal, bahkan Reza juga pasti tidak akan sempat menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya jika orang itu datang bersamaan dengan kami. Aku tahu ibuku sengaja mengundangnya atau tidak bisa menolak saat lelaki itu meminta izin untuk ikut hadir, supaya sekalian memperkenalkan Reza dan ibunya, supaya aku dan Reza tidak perlu repot-repot pergi ke Palembang untuk menemuinya. Ibuku juga pasti tahu aku akan sangat keberatan bahkan akan menolak gagasan itu yang menurutku sangat konyol. Walaupun begitu -- aku paham, mau dipandang dari sudut mana pun, karena dia aku terlahir di dunia ini, itu satu-satunya alasan keberadaannya di acara lamaranku.
"Jaga sikap," bisik ibuku. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan Reza dan ibunya, oke?" ibuku berkata seraya merema* lembut pundakku lalu mengecup kepalaku.
Ayahku datang dengan penampilannya yang necis selayaknya pengacara kondang dengan setelan jas kebanggaannya. Aku selalu muak melihatnya memakai jas, itu mengingatkanku pada luka ibuku, karena dulu Yanti pernah menghadiahkan jas pernikahan untuk ayahku, tapi pada akhirnya, justru Yanti menjadi penyebab keretakan pertama dalam rumah tangga kedua orang tuaku. Begitulah ayahku, seperti kucing yang diberi ikan asin, pantang ada perempuan yang mendekati, dia begitu mudah tergoda. Sayangnya sifat itu baru terlihat setelah mereka menikah.
Ayahku juga memakai dasi panjang, rasanya aku ingin sekali menarik dasi itu dengan kencang sampai dia kesakitan karena tercekik, sampai matanya melotot dan lidahnya terjulur keluar. Aku ingin melihatnya merasakan sakit, meski sakitnya tidak akan pernah sebanding dengan sakit hati yang kupendam selama bertahun-tahun. Sayangnya aku harus pandai-pandai menjaga sikap di depan calon ibu mertuaku. Belum lagi cara Reza menahanku. Karena dia duduk di sampingku, dia bisa menggenggam tanganku di bawah meja. Sesekali ia merema* lembut jemariku untuk memastikan supaya aku tetap tenang. Juga dengan pandangan matanya yang menyampaikan pesan, "Jaga sikapmu, Sayang. Tahan emosi, dan jangan marah. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri, karena aku tidak bisa meredam emosimu dengan memeluk dan menciummu di depan orang banyak." Kalimat itu ia tulis di whatsapp saat pertama kali kami melihat ayahku yang payah itu datang bersama seorang lelaki muda yang tempo hari kulihat bersamanya di Surabaya.
Lelaki bernama Rizki itu cukup tampan, terlebih dengan potongan rambutnya yang rapi. Dia nampak jelas sebagai orang berpendidikan, dia juga ramah, hanya saja aku tidak menyukainya karena dia kerabat ayahku.
"Itu laki-laki yang tadinya akan dijodohkan denganmu," Ihsan berbisik padaku.
Aku yang terlanjur membeku bukan karena rasa dingin tidak bisa meresponsnya. Rasa-rasanya aku seperti duduk di atas kompor. Panas! Detik pun terasa melambat. Aku tahu, kemungkinan besar aku akan meledak.
"Saya selaku ayahnya Inara, menerima niat baik Ibu dan Nak Reza. Sungguh suatu kehormatan bagi saya sebagai wali nikahnya, bisa menikahkan putri saya dengan orang yang mencintainya. Saya berharap, Nak Reza dan keluarga, juga Inara bisa meluangkan waktu untuk ke Palembang, berkenalan dengan keluarga besar kami," ujarnya.
Mendengar perkataannya yang menyebutkan dirinya sebagai wali nikah untukku, membuatku tidak tahan, apalagi dia memintaku untuk menemui keluarga besarnya. Aku tidak sudi. Aku jadi tidak peduli apa yang dikatakan Reza padaku, dan tidak peduli bagaimana pandangan calon ibu mertuaku terhadapku. Bahkan aku mengabaikan perasaan ibuku. Aku melepaskan genggaman tangan Reza, dan dengan lantang aku menyampaikan penolakanku.
"Permisi. Saya mau bicara, tolong semuanya diam, jangan ada yang berbicara, apalagi memotong perkataan saya. Oke?"
__ADS_1
Hening. Raut cemas pun langsung menaungi wajah setiap orang. Rada ngeri, tapi aku tetap nekat.
Aku berdeham. "Sebelumnya saya mohon maaf, tapi saya tidak berkenan Anda menjadi wali nikah untuk saya. Anda tidak berhak untuk itu. Lagipula saya punya saudara laki-laki yang sudah cukup umur. Dia bisa dan memenuhi syarat untuk menjadi wali nikah untuk saya. Saya tidak ingin kewajiban Ihsan digantikan oleh orang asing. Bisa dimengerti?"
"Maafkan Ayah, Nak," ucapnya lirih.
Aku melotot seraya mengacungkan telunjuk ke wajahnya. "Jangan sebut diri Anda sebagai ayah saya!"
"Nak...."
"Saya tidak suka!"
"Ayah minta maaf. Apa yang bisa Ayah -- apa yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu? Akan kulakukan apa pun itu agar kamu bisa memaafkan semua kesalahanku."
Aku tidak menjawab. Hanya menatap lelaki itu dengan tatapan marah dan penuh kebencian.
Respons yang tidak kuharapkan, dia malah memelas. "Katakan, Nak. Apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan maaf darimu? Apa yang kamu inginkan dariku?"
"Diam!" bentakku seraya berdiri.
Saat itu hanya ibuku dan Reza yang mencoba meleraiku. Sedangkan ibunya, Ihsan, dan Rizki, mereka hanya diam membeku menyaksikan kehebohan hari itu. Menyaksikan aku dengan emosi yang meluap-luap. Aku benar-benar hilang kontrol. Tapi aku tidak mengakui bahwa aku sedang khilaf. Berlaku kasar dan bermusuhan dengan ayahku, bukanlah suatu kekhilafan. Saat itu ibuku menangis, entah apa yang ia rasakan. Mungkin dia merasa gagal mendidikku menjadi anak yang baik. "Sudah, Sayang. Jangan seperti ini," katanya memohon.
Lelaki itu ikut berdiri. "Biarkan saja," katanya. "Biarkan dia melampiaskan kemarahannya. Katakanlah, apa yang kamu inginkan?"
"Apa yang saya inginkan? Anda ingin tahu? Hmm? Saya ingin masa kecil saya bahagia bersama Anda. Saya ingin tumbuh besar dalam pelukan dan genggaman tangan Anda. Saya ingin Inara kecil -- Inara kecil, bermain dan bercanda bersama Anda. Saya ingin Anda mengajari saya bersepeda, mengajari saya mengerjakan PR, menemani saya tidur, dan banyak hal lain yang biasa dilakukan anak-anak bersama ayahnya. Saya ingin tumbuh besar dengan uang hasil keringat Anda, saya ingin Anda menafkahi saya waktu saya kecil. Bisa? Tidak, kan? Jangan Anda tanya apa yang saya inginkan dari Anda saat ini. Saya yang sekarang tidak perlu apa pun dari Anda. Sama sekali tidak. Saya juga tidak perlu berkenalan dengan mereka yang Anda sebut sebagai keluarga besar. Siapa? Kakek? Nenek? Saudari-saudari Anda? Juga mereka yang Anda sebut sebagai saudara dan sepupu-sepupu saya? Saya tidak butuh mengenal mereka. Bahkan saya sangat membenci mereka semua. Saya iri, saya iri mereka bisa tumbuh besar dengan uang yang Anda hasilkan, saya benci karena mereka semua mengambil hak saya. Terlebih pada anak Anda dengan Yanti. Anak hasil perselingkuhan, anak pelacur. Saya tidak sudi bersaudara dengan dia. Dan, ya, manusia seperti Anda dan burung kebanggaan Anda itu, burung Anda memang lebih cocok memasuki selangkanga* wanita pelacur seperti Yanti, juga selangkanga* Rhea. Bekas-bekas sarang tak bertuan yang bebas dimasuki burung jantan hanya untuk memuaskan nafs* birah*. Kalian itu Binatang! Binatang! Saya sangat malu darah Anda mengalir di dalam tubuh saya. Saya malu... punya ayah hidung belang. Memalukan! Jijik! Dasar lelaki berengsek!"
Kemudian aku berbalik, aku baru hendak melangkah pergi, tapi masih ada yang ingin kusampaikan.
__ADS_1
"Oh ya, saya tidak keberatan Anda hadir di hari pernikahan saya. Walau bagaimanapun juga, darah Anda yang kotor itu juga mengalir di dalam tubuh saya, kan? Dan saya ingin -- sedikit -- menghargai itu. Tapi hanya Anda sendiri, tidak untuk Yanti, Rhea, atau siapa pun wanita yang sekarang bersama Anda. Juga tidak untuk anak-anak Anda yang terlahir dari perempuan-perempuan pelacur itu. Saya permisi."