
"Mbak," panggil Aarin seraya mengetuk pintu kamar.
Rileks. "Masuk saja, Rin," sahutku, tanpa merubah posisiku yang duduk bersandar pada Reza, seolah Aarin adalah orang yang sudah lama kukenal dan akan maklum dengan kemesraan kami.
Aarin pun masuk, diiringi Ihsan di belakangnya. Ihsan pun nampak biasa saja melihatku dipeluk oleh Reza. Dia menyodorkan plastik berisi obat dan suplemen untukku.
"Thanks, Brother," ucapku semringah.
Ihsan mengacungkan jempol dan langsung duduk bersandar di tempat tidur Aarin.
"Aku suka melihat persaudaraan kalian," ujar Reza. "Kalian saling menyayangi."
Aku tersenyum kecil. "Bukan. Dia itu takut Bunda marah kalau dia membiarkan aku sakit," jawabku, persis setelah aku menenggakkan suplemen dengan bantuan air mineral.
Ucapan itu, ucapan yang bukan dari hati, hanya sekadar ceplosan yang meluncur tanpa maksud menyakiti.
Ihsan berdeham. "Tunggu nanti saat aku menjadi wali nikah yang menikahkanmu, baru kamu merasakan besarnya rasa sayangku padamu."
Aku tertegun mendengar jawaban Ihsan, membuatku refleks flash back ke masa lalu. Bagaimana Inara kecil dan Ihsan kecil tumbuh besar bersama, bagaimana dia melindungiku dulu saat anak-anak remaja nakal mencoba mendekatiku, dan dia jugalah yang mengajakku untuk belajar ilmu bela diri, katanya aku harus bisa melindungi diriku sendiri, karena dia tidak selalu bisa bersamaku.
"Hei, Tampan. Terima kasih, ya. Aku juga sayang padamu," kalimat itu, rasa-rasanya ucapan sayangku yang pertama, setidaknya begitulah yang kusadari saat kami sudah dewasa. Ihsan hanya mengacungkan jempolnya.
Sesaat kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu di luar kamar yang kami tempati. Aarin yang tadinya duduk di depan Ihsan segera beranjak untuk membukakan pintu. Itu Raline.
"Ada yang mencari Mas Reza," katanya.
"Siapa?"
"Katanya namanya Salsya."
Wajah Reza langsung berubah. Ekspresi yang sulit kujelaskan. "Oke," sahutnya, lalu dia mengajakku ikut keluar bersamanya.
__ADS_1
Praktis, aku terbelalak. Aku tidak menyangka dia akan mengajakku.
"Ayo," katanya. Dia sudah berdiri, danĀ mengulurkan tangan.
Kusambut tangannya, kuikuti langkah kakinya. Sampai kami benar-benar bertatap muka dengan Salsya.
"Hai," sapa Reza.
Perempuan itu tersenyum. Dia masih secantik dulu, seperti potret yang kulihat di dalam album foto waktu itu.
"Sya, kenalkan ini Inara, calon istriku."
Jantungku berdetak, seperti tabuhan genderang yang mau perang. Rasa takut, cemas, khawatir, marah, dan segala perasaan buruk perlahan merasuk.
"Salsya," ucapnya dengan menjulurkan jabat tangan. Dan, kusambut jabat tangannya dengan cengkeraman kuat. "Aw!" Dia kesakitan.
Rasakan. Masih untung tidak kupatahkan. "Oh, sori," kataku.
Reza hanya menggeleng melihat kelakuanku yang barbar. "Oh ya, ada apa?" tanya Reza kemudian.
What?
Reza menolehku, dan kupelototi dia, kode bahwa aku tidak mengizinkan. "Sebentar, Sayang. Kamu tunggu dulu di sini."
Argh! Dia tak mengindahkan penolakanku.
Mereka berjalan sedikit menjauh beberapa meter dariku. Bicara pelan. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Malahan, aku seperti kambing congek dibuatnya. Sementara Salsya meraih dan menggenggam tangan Reza, nampak memohon sesuatu. Tak lama, dia pun memeluknya dengan girang. Tanduk merah di kepalaku pun langsung mencuat.
Menyebalkan!
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Entah berapa detik, dia tidak melepaskan Reza dan Reza juga tak melepaskan diri darinya. Seolah lupa kalau ada aku di sana.
__ADS_1
Mereka membuat darahku mendidih. Tanganku mengepal gemetar. Aku ingin melangkahkan kaki dan menyingkirkan wanita itu. Ingin kulempar tubuh mungilnya dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Ingin kupatahkan tangannya yang berani-beraninya memeluk Reza di depan mataku.
"Jangan," ucap Ihsan yang menahan lenganku. Seakan dia tahu betul apa yang ingin kulakukan pada wanita sialan itu.
Eh? Sejak kapan Ihsan di belakangku? Aku tidak menyadarinya.
"Tolong, tahan emosimu, oke?"
Aku melotot. "Lepas!" kataku.
Aku kembali melihat ke depan, Salsya sudah beberapa langkah meninggalkan Reza yang masih berdiri kaku di sana, sampai Salsya menjauh dan pergi dengan motornya. Ihsan pun melepaskan cengkeraman tangannya. Lalu, Reza menghampiriku, tepat di hadapanku. Tapi hening, tak ada satu ucapan pun keluar dari mulutnya. Wajahnya menunduk.
Persis sesaat setelah ia mengangkat wajahnya, aku melayangkan tamparan keras ke pipinya.
Plak!
Aku marah, sebab di mataku dia bersalah, dia membiarkan wanita itu menggenggam tangannya, bahkan memeluk tubuhnya, tubuh yang dulu pasti sering saling menempel -- lekat bak prangko. Dan sekarang terjadi lagi, persis di depan mata kepalaku, wanita yang baru saja ia perkenalkan sebagai calon istri di depan mantan pacarnya itu.
Merasakan sakit, ia pun langsung mengelus pipinya dengan tangan.
Aku kesal. Rasanya serba salah. Semua yang terjadi salah. Yah, salah. Benar-benar salah. Aku melangkah mundur, belok, dan lari. Sesampainya di kamar, kudapati Aarin yang sedang duduk di atas tempat tidur. Dia nampak bingung melihatku yang sedang menangis.
"Kalau ada yang datang, tolong jangan dibuka. Siapa pun. Oke?"
Aarin hanya diam, tak mengiyakan, nampak bingung dan tak mengerti. Aku langsung menyelinap ke dalam selimut. Kuambil ponsel dan earphone. Kuputar musik dengan volume full. Aku tak bermaksud mendengar musik, hanya untuk menghindari pertanyaan dan ajakan bicara dari siapa pun. Sebab, hatiku perih, sakit, aku marah pada Reza yang seolah menyiramkan air garam di lukaku yang masih menganga. Aku takut dia akan kembali pada masa lalunya, meninggalkan luka baru yang lebih dalam dari lukaku yang sebelumnya. Aku takut -- takut kalah.
Awan hitam itu datang lagi. Dan...
Dan...
Gelap.
__ADS_1
Obat yang kuminum mulai bereaksi, rasa kantuk mulai merayap, menjalar, dan aku pun terlelap.
Terima kasih telah menutup kisahku malam ini.