Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Rindu


__ADS_3

》Kehadiranmu di sisiku membuatku benar-benar ketergantungan. Sendiri tanpamu itu rasanya aneh. Andai saja kamu ada di sini, lukaku pasti tidak akan seperih ini, karena kamu adalah penawar dari segala rasa sakitku dan penawar di setiap kesedihanku. Andai kamu merasakan, aku sangat merindukanmu.


Kurasa Reza sengaja menulis kata-kata bodoh itu via whatsapp untuk menarik perhatianku. Tetapi aku tidak bisa mencegah diriku -- aku tetap peduli terhadapnya. Bagaimana kalau dia membiarkan dirinya sakit demi mendapatkan perhatianku? Bagaimana kalau keras kepalanya melebihi keras kepalaku?


《Bodoh! Minum obat pereda nyerimu.


》Baiklah, akan kuminum. Terima kasih atas perhatianmu. Setidaknya aku tetap merasakan kalau kamu selalu ada untukku.


《Jangan GR! Aku peduli sebab aku yang menyebabkan luka itu. Jangan bertingkah seolah aku ini masih kekasihmu.


》Aku tidak akan berdebat denganmu. Aku tahu, kamu juga tahu, dan kita sama-sama tahu, tentang apa yang ada di hati kita. Ikatan itu tidak akan pernah terputus meski kita terpisah ribuan mil jauhnya. I love You, Nyonya Inara Dinata.


Oh Tuhan, kenapa semua ini begitu rumit? Kalau bersamanya adalah hal yang sulit, kenapa menjauhinya malah lebih sulit? Kenapa perasaan ini begitu menyiksaku?


Aku tahu Reza benar tentang ikatan itu, ikatan di antara kami -- ikatan yang tidak akan pernah terputus -- atau sebenarnya hanya belum terputus, meski kenyataannya hati ini sudah hancur. Tapi...


Hei, dia cocok sekali dengan Salsya, suka sekali menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan perhatian. Sialan! Kenapa aku harus peduli?


Kutaruh ponselku. Aku keluar dari kamar, aku butuh udara segar. Dan sialnya, kota ini sekarang serasa terbuat dari racun, udaranya mengandung timbal, asap knalpot, dan racun-racun yang dapat membunuh jantungku.


Aku pergi ke beranda depan, ada Ihsan yang sedang duduk sendiri di sana. Dia sedang asyik dengan ponselnya.


"Hei, kenapa? Kok manyun?" tanya Ihsan begitu menyadari keberadaanku yang sedang berdiri di dekat pintu. Kepalang aku sudah berdiri di sana, aku pun menghampirinya. "Oh ya, Mas Reza tadi mengunggah video di instagram, hashtag-nya untukmu seseorang yang kurindukan -- Karena Ku Sayang Kamu. Well, ini lagu Dygta dalam versi Reza Dinata. Mau dengar?"


Aku menggeleng, pura-pura tidak peduli pada video itu. "Kenapa, sih, Mas Reza masih saja bersikap manis seolah tidak terjadi apa-apa? Barusan dia juga whatsapp, dia bilang lukanya perih. Terpaksa aku menanggapinya. Gara-gara aku dia terluka. Wajar, kan, aku peduli? Aku masih cinta."


Ihsan tersenyum kecil. Dia menangkap maksud di balik kalimatku yang bertele-tele itu. "Kamu pikir Mas Reza menolong Salsya karena dia masih mencintai Salsya?" tebak Ihsan, tepat dan tanpa basa basi.


"Bisa saja, kan?"


Dia mengangguk. "Yeah, bisa jadi. Siapa yang tahu," katanya. "Tapi menurutku bukan karena masih cinta. Maaf, lo, ya, aku bukannya membela Mas Reza. Aku hanya menjelaskan hal ini dari sudut pandangku. Misalnya aku ada di posisinya Mas Reza, kalau kamu yang mengancamku untuk bunuh diri, aku akan peduli, sebab aku mencintaimu sebagai saudariku. Atau kalau Aarin yang mengancamku, aku akan peduli sebab aku mencintainya, dan dia pacarku. Sedangkan kalau orang lain yang melakukan itu, aku juga akan tetap peduli, peduli sebagai sesama manusia. Karena apa? Karena tidak semua orang bisa bersikap acuh terhadap orang lain, orang-orang yang ada di sekitarnya. Tidak semua orang bisa bersikap acuh sepertimu."


Aku mendengus. "Lalu, apa sikapku salah?"


"Entahlah," kata Ihsan seraya mengangkat bahu. "Tanyakan itu pada hatimu. Tapi yang pasti, tidak ada yang menyalahkanmu, Mas Reza juga tidak. Setiap orang punya karakternya masing-masing." Ihsan diam sejenak, kemudian berdiri. "Aku mau ke bawah, lapar. Mau ikut?"


Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah kenyang," kataku. Dan, kuputuskan untuk kembali ke kamar sepeninggal Ihsan ke lantai bawah.


Seandainya kau ada di sini denganku


Mungkin ku tak sendiri


Bayanganmu yang selalu menemaniku


Hiasi malam sepiku


Kuingin bersama dirimu


Ku tak akan pernah berpaling darimu


Walau kini kau jauh dariku


Kan s'lalu kunanti


Karena ku sayang kamu

__ADS_1


Hati ini selalu memanggil namamu


Dengarlah melatiku


Kuberjanji hanyalah untukmu cintaku


Tak kan pernah ada yang lain


Adakah rindu di hatimu


Seperti rindu yang kurasa


Sanggupkah ku terus terlena


Tanpamu di sisiku


Ku kan selalu menantimu


Ah, kenapa juga aku mendengar suaranya? Tapi...


Lagu itu untukku, aku tahu itu. Aku bahkan bisa merasakan kehadiran Reza hanya dengan mendengar lagu itu sambil memejamkan mataku. Sebab, Reza menyanyikannya dengan sepenuh perasaan. Perasaannya. Seperti aku, Reza pun percaya bahwa musik adalah bahasa kosmis yang berbicara langsung pada jiwa kita, meringankan kepedihan dan mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.


"Lagi dengar suara Reza, ya?" tanya ibuku saat aku membuka mata. Dia sudah berdiri di depanku sedari tadi. Alhasil aku cuma bisa nyengir dan tersipu malu, sebab aku ketahuan mendengarkan suara Reza sampai tidak tahu dan tidak mendengar saat ibuku mengetuk pintu kamarku.


Aku mengangguk. "Nara kangen," akuku.


"It's ok. Dengar saja kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik," katanya seraya menghampiriku, kemudian ia membungkuk dan menciumku. "Semoga itu bisa membuatmu tertidur. Bunda tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit."


Kugelengkan kepala, dan aku tersenyum. "Tidak akan," kataku. Aku menunjukkan earphone dan menyelipkannya ke telinga. "Suaranya akan membuat Nara tertidur. Bunda tidak perlu khawatir."


Begitu terbangun keesokan paginya, aku menyadari dua hal. Pertama, benar kata Reza, semuanya terasa aneh. Biasanya dia selalu menciumku sebelum aku tidur, atau pernah saat kami berjauhan, dia selalu meneleponku dan menungguiku sampai aku benar-benar tertidur. Sekarang aku merasa kehilangan, dan, meskipun aku tertidur, tidurku jadi tidak nyenyak, aku sering sekali terbangun sepanjang malam. Dan kedua, pagiku tak lagi indah. Aku sudah terbiasa menyiapkan sarapan untuknya, dan sekarang aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya.


Aku rindu.


Tetapi, begitu aku mengecek ponselku sebelum aku keluar dari kamar, notifikasi whatsapp dari Reza sudah menghiasi layar ponselku. Yap, setidaknya itu membuat perasaanku jadi sedikit lega.


》Selamat pagi gadisku yang cantik. Jaga dirimu dan jaga selalu hatimu.


《Hei! Kamu yang seharusnya menjaga hati. Berengsek!


》Wkwkwkwk Kamuuu... kekasih barbarku yang selalu kurindukan. Lusa kita baikan, ya. Kamu marahnya jangan lama-lama, jangan lebih dari tiga hari. Aku kesepian plus tidak kuat menahan rindu.


Sinting! Pantas saja dia sangat tergila-gila padaku. Ada yang tidak beres dengan otaknya. Seandainya tidak ada Salsya, kupikir Reza memang lelaki yang tepat untukku. Sepasang orang gila yang saling melengkapi.


Besoknya lagi, Reza kembali mengirim pesan via whatsapp dan masih berlagak bahwa semuanya baik-baik saja.


》Pagi ini aku masih belum bisa push up. Kuharap setelah ini kamu tidak lagi melukai bahuku, atau kamu tidak bisa lagi merasakan otot kekar ini memeluk erat tubuhmu. Dan yeah, ini bahuku -- tempatmu bersandar, bukan sejenis daging yang bebas kamu tusuk sebelum kamu jadikan sate.


Uuuh... entah kenapa aku jadi tertawa dan langsung berfantasi liar. Aku jadi membayangkan kemesraan kami kemarin, saat lengan-lengan kokoh itu melingkar di pinggangku, lalu aroma tubuhnya yang berkeringat, yang mampu membiusku dengan sensasi memabukkan, juga detak jantung dan deru napasnya yang mampu membuat hatiku berdebar tak karuan.


Ah, sudahlah. Aku tidak boleh menghabiskan waktu dengan fantasi-fantasi konyol tentang Reza. Tapi sejujurnya, pesan-pesan yang dikirimkannya memang membuatku merasa lebih baik. Aku tidak lagi mencemaskannya, tidak lagi memikirkan apakah lukanya masih sakit, apakah dia cukup makan, atau apakah dia cukup istirahat. Selain itu aku menyadari memang itu tujuannya, dia tidak ingin aku mencemaskan keadaannya, sekaligus dia ingin aku selalu mengingatnya dan terus berkomunikasi dengannya.


Tetapi...


Ternyata pada pagi besoknya lagi, Reza tidak mengirimkan whatsapp untukku, itu membuatku kembali merasa resah dan kembali mencemaskan keadaannya. Padahal aku dan dia baru putus tiga hari dan baru pagi ini saja dia tidak mencoba menghubungiku. Aku terpaksa merayu ibuku untuk meneleponnya, sekadar untuk menanyakan bagaimana kabarnya, apakah dia baik-baik saja, apakah dia sehat, dan bagaimana dengan lukanya -- apakah lukanya sudah membaik. Banyak yang ingin kuketahui tentangnya.

__ADS_1


"Reza baik, alhamdulillah sehat, luka Reza juga sudah mendingan," katanya. Aku bisa mendengar suaranya sebab ibuku mengaktifkan loudspeaker teleponnya.


"Well, kamu sudah dengar sendiri kan, Sayang?" ibuku berkata dengan keras. "Mas Reza-mu baik-baik saja. Bunda harus tanya apa lagi?" katanya.


"Ih, Bunda...," rengekku. "Nara kan bilang jangan beritahu Mas Reza kalau Nara yang nyuruh nanya. Bunda sengaja, ya? Bunda bikin Nara malu, tahu!"


Aku merajuk, sementara Reza yang entah ada di mana malah terkekeh dengan senangnya -- mengetahui betapa aku masih sangat peduli terhadapnya.


Dan, yang lebih menyebalkan lagi adalah ketika bel rumah berbunyi beberapa menit kemudian. Waktu itu baru sekitar jam delapan pagi, aku sedang berdiri di depan wastafel, baru saja selesai mencuci piring kotor bekas kami sarapan.


"Sayang...," seru ibuku, ia sedang membawa keranjang pakaian kotor dari kamar Ihsan. "Tolong buka pintunya, Sayang. Sepertinya ada tamu."


Argh... siapa, sih, bertamu pagi-pagi begini? Aku menggerutu sembari berjalan menuju pintu.


Sesaat kemudian, rasa-rasanya jantungku melompat keluar dan aku terperanjat saat mengintip dari balik tirai jendela. Sebab, yang berdiri di luar sana adalah Reza, lelaki yang kurindukan sekaligus orang yang ingin kujauhi. Aku langsung berlari ke belakang menghampiri ibuku, dan memintanya menemui Reza untuk mengatakan kalau aku sedang tidak di rumah. Aku pun langsung naik ke atas, bersembunyi di dalam kamarku. Aku tahu, betapa bodoh dan pengecutnya sikapku itu. Tetapi...


Tok! Tok!


Jantungku berdebar lebih kencang, seperti genderang mau perang.


"Sayang... aku tahu kamu di dalam. Keluar dong... kita baikan, please?" kata Reza. Dia berdiri persis di belakangku -- kami hanya terpisah oleh sebuah benda persegi panjang yang disebut pintu.


Huh! Aku yang masih ngos-ngosan sehabis berlari dan menaiki tangga -- malah harus bersusah payah meredam irama jantungku yang tak karuan karena keberadaan Reza di luar kamarku.


Bodoh! Sudah barang tentu ibuku mengizinkan Reza menyusulku ke atas. Mana mungkin dia mau mengatakan kalau aku sedang tidak di rumah.


"Sayang, ini sudah tiga hari, lo. Tidak baik marahnya lama-lama. Aku tahu kamu juga merindukan aku, ya kan?"


Oh Tuhan, aku harus mengerahkan segenap kekuatan di dalam diriku untuk menahan dorongan supaya diriku ini membukakan pintu untuknya. Harus kutahan keinginan itu mati-matian. Sebab, kalau aku melakukan itu, aku pasti akan mengakui kebenarannya -- aku akan mengatakan bahwa aku juga merindukannya, tak ada yang lebih kuinginkan selain merebahkan kepalaku di lekuk antara pundak dan lehernya, menghirup aroma tubuhnya, dan mendengarkan dia mengocehkan kata-kata cintanya yang luar biasa gila di telinga.


Tetapi aku tidak bergerak sedikit pun.


"Oke, tidak apa-apa kalau kamu belum mau bertemu denganku. Tapi nanti kamu harus coba kebaya dan gaun pengantinnya, ya. Mudah-mudahan pas. Beritahu Mayra kalau kebesaran atau kekecilan. Atau kita bisa langsung ketemu May. Dia di Bogor sekarang. Pokoknya nanti kamu bisa kabari May. Oke? Aku sayang kamu. Aku pamit pulang, ya. Dah, Sayang."


Jangan pergi... aku rindu, Mas....


Hatiku meronta dan menjerit. Namun aku tetap membisu.


Aku tetap berdiri di situ sampai beberapa menit berikutnya, sampai aku benar-benar yakin kalau Reza sudah pergi. Setelah itu kubuka pintu, berlari ke beranda depan untuk melihat Reza -- minimal bisa melihatnya sebentar saja, sekilas saja. Untuk melebur rasa rindu.


Tetapi Reza sudah tidak ada, dia sudah pergi. Mobilnya pun tidak lagi terparkir di bawah sana.


Kenapa sih aku ini?


Waktu itu Reza ingin menjelaskan semuanya, tapi aku malah mengamuk sampai aku menusuknya. Lalu dia terus menghubungiku, tapi aku malah jengkel terhadapnya. Saat dia tidak menghubungiku, aku malah jadi resah. Sekarang dia datang, aku malah mengacuhkannya. Setelah dia pergi, kenapa aku malah sedih? Kenapa?


Aku mendongakkan wajah sambil menggigit bibir dan menarik napas panjang, menahan agar air mata tak tumpah. Meski nyatanya sia-sia. Bulir bening itu menerobos keluar. Aku terisak. Dan aku menyadari betapa aku menyesali sikapku yang sangat bodoh itu.


"Aku merindukanmu, Mas...."


"Aku juga merindukanmu."


"Eh?"


"Aku masih di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun tanpa kamu. Karena aku sayang kamu."

__ADS_1


Ya Tuhan, suara itu? Mas Reza?


__ADS_2