
Reza meneleponku malam itu dan kami mengobrol cukup lama. Yap, sesuai janjiku pada pertemuan kami sebelumnya bahwa aku akan memberikan nomor ponselku jika kami bertemu lagi, jadi aku tidak bisa mengingkari janji itu saat dia menagihnya.
Malam itu, kami bertukar cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Aku berbaring di atas kasurku, menengadah ke atas sembari mendengarkan dia yang bercerita dari seberang sana. Seperti yang ia ceritakan pada pertemuan kami sebelumnya, dia anak tunggal, ibunya orang Palembang, dan dia juga lahir di Palembang, kemudian mereka pindah ke Bogor saat dia berumur tujuh tahun. Ibunya membawa dia pergi setelah berpisah dengan ayahnya yang sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Sejak itu dia memakai bahasa Indonesia ketika berbicara, dan sudah banyak lupa dengan bahasa daerah asalnya.
"Pacaklah sedikit," katanya. "Cuma terasa singkuh."
Haha! Ucapannya itu terdengar lucu sekali di telingaku, membuatku tidak sengaja menertawainya.
Aku berdeham. "Bagaimana dengan ayahmu?" tanyaku.
"Dia sudah meninggal beberapa bulan setelah aku dan ibuku pergi. Overdosis. Dia pemakai, pemabuk, juga... penggila judi."
Aku merasa ada kesedihan dari suaranya, berbeda dengan sebelumnya, waktu pertama kali dia bercerita di resto hari itu. Sejak itu aku meyakini sepenuhnya bahwa istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya -- tidak bisa semerta-merta digunakan pada setiap hubungan anak dan orang tuanya: karena, orang tua yang buruk, belum tentu akan melahirkan keturunan yang sama buruknya. Aku sering mendengar orang-orang menyebut istilah itu untuk anak-anak yang memiliki orang tua berengsek, tidak terkecuali padaku dan Ihsan. Tidak cukupkah kami menjadi korban -- menjadi anak-anak yang kekurangan kasih sayang akibat perpisahan orang tua kami, sampai kami juga harus menanggung beban mental karena lingkungan sosial di sekitar kami? Apa salah kami sebagai anak? Tidak ada.
Entah kenapa, ada semacam kepercayaan dari dalam hatiku bahwa Reza Dinata adalah lelaki yang baik, yang memiliki sifat-sifat bertolak belakang dengan sifat ayah biologis-nya.
"Ibuku beruntung, keputusannya untuk berpisah dengan ayahku dan membawaku pergi, itu malah mempertemukannya dengan cinta sejatinya. Seorang lelaki yang baik, yang setia, juga mencintainya dengan segala kekurangannya. Termasuk menerimaku, bahkan beliau menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Dia membuatku merasakan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah kudapatkan dari ayah kandungku."
Sekali lagi, aku berdeham. "Kamu masih sakit hati pada ayah kandungmu?" tanyaku sepelan mungkin.
"Mmm... tidak. Tidak lagi setelah dia meninggal. Rasa sakit hati itu pergi bersama kepergiannya. Tapi, karena dulu aku sering melihat ibuku disakiti secara fisik, sampai sekarang aku mengutuk keras lelaki bedebah yang berani kasar terhadap perempuan," ujarnya. "Perempuan-perempuan itu harusnya sepertimu, jago beladiri, sabuk hitam, ya kan?"
Aku membayangkan dia tersenyum setelah mengatakan kalimat itu. "Kamu tahu?" tanyaku.
"Iya, sepupumu cerita. Awas katanya kalau menyakitimu, karena kamu sabuk hitam, begitu katanya." Dia tertawa kecil. "Omong-omong, aku juga sabuk hitam. Mungkin kita lawan yang seimbang."
Aku berdecak, "Wow... ternyata kita punya kesamaan, ya! Tapi... tidak mungkinlah seimbang walaupun kita sama-sama sabuk hitam, dari segi kekuatan aku pasti kalah, kamu kan lelaki. Tenaga lelaki kan lebih kuat daripada perempuan."
Reza terkekeh-kekeh mendengar ucapanku. Menurut pikiran picikku dia sedang berpikir nakal tentang "kekuatan" seorang lelaki.
Atau pikiranku sendiri yang kotor?
Haha!
"Oh ya, kita masih punya hobi lain yang sama."
"Apa?"
"Game and music. Setelah ini... aku juga akan menyukai pengembaraanmu, supaya kita bisa mengembara bersama. Berdua."
Giliranku yang terkekeh. "Kenapa kamu mau ikut aku mengembara?"
__ADS_1
"Karena aku ingin masuk ke duniamu, dan aku ingin menjadi teman yang mengusir rasa kesepianmu."
Uuuh... so sweet. Tapi nyatanya jawaban itu membuatku terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa dia berkata seperti itu?
"Maaf, maaf karena tadi sore aku salah memahamimu. Sekarang aku sudah tahu kalau kamu belum pernah pacaran."
Aku berdeham lagi. "Ya, tidak masalah," sahutku.
Aku bahkan belum pernah jatuh cinta, itu faktanya. Kelakuan buruk ayahku meninggalkan kesan buruk yang selalu menghantuiku, membuatku sulit percaya pada sosok lelaki, dan menyebabkan aku takut untuk menjalani komitmen. Aku bukan lesbi, tapi aku juga bukan perempuan normal, aku tidak pernah jatuh cinta, sedikit pun, sekali pun, meski usiaku hampir seperempat abad.
Anak-anak perempuan normalnya mengalami perasaan jatuh cinta pada usia remaja atau saat beranjak remaja. Pada umumnya sudah mengenal istilah pacaran di usia mereka yang masih remaja, pada masa Sekolah Menengah Atas atau pada masa kuliah, bahkan ada yang mulai pacaran pada masa Sekolah Menengah Pertama, yang kita kenal dengan istilah cinta monyet. Mungkin ada juga yang diam-diam mulai pacaran, padahal masih di tingkat Sekolah Dasar. Sedangkan aku? Aku menyadari ketidaknormalanku ini. Dan lebih tidak normal lagi jika aku menjalin hubungan tanpa cinta.
Pacaran tanpa cinta, pasti bagaikan sayur tanpa garam, hambar. Apa bedanya dengan tetap sendiri? Kurasa sendiri lebih baik daripada harus memaksakan hati. Tetapi setidaknya aku bersyukur, ibuku mendidikku dan adikku dengan baik. Aku bukan seorang lesbian dan adik lelakiku bukanlah seorang gay. Tapi untuk rasa benci, aku tidak bisa memungkirinya. Bahkan aku bertanya, adakah di luar sana seorang anak korban broken home yang tumbuh besar tanpa sosok orang tua yang lengkap, tapi ia bisa mencintai kedua orang tuanya? Mungkin ada, mungkin juga tidak, entahlah.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu tidak pernah pacaran?"
Aku senewen. "Harus, ya, kamu bertanya seperti itu?"
Untungnya dia mengerti kalau aku tidak suka pertanyaan itu. "Sori. Maaf kalau kamu tidak suka dengan pertanyaanku. Tidak masalah, tidak perlu dijawab kalau kamu keberatan."
Kucoba mencairkan suasana dengan bertanya padanya -- bagaimana dengan dirinya sendiri, apakah dia sudah pernah pacaran? Reza mengiyakan. Dia pernah pacaran sekali, sudah lama katanya, dia dan pacarnya putus tiga tahun yang lalu. Dan aku menanyakan apa alasan mereka putus? Kukatakan dia bisa menjawab pertanyaanku kalau dia tidak keberatan, dan boleh menolak jika dia keberatan untuk menceritakan kisah cintanya.
"Dia dijodohkan dengan lelaki yang kaya."
"Calon suaminya jauh lebih kaya, anak orang terpandang, pengusaha ulung. Sedangkan aku, aku mah apa atuh?"
Kasihan juga. Ditolak hanya karena kalah kaya. Oh... nasib.
"Jangan minder. Menikah dengan orang kaya tapi tanpa cinta, kan percuma juga. Meskipun memang materi itu juga penting, tanpa materi rumah tangga juga pasti banyak masalah. Tapi kan keduanya perlu, sama-sama penting dalam rumah tangga. Cuma perempuan bucin yang bilang kalau menikah itu cukup dengan cinta. Faktanya, setelah mereka menikah, mereka pasti akan menuntut suaminya untuk memberikan nafkah." Ah, rasanya aku sok bijak. "Selama kamu tetap menjadi seorang lelaki pekerja keras, pasti banyak perempuan yang mau menikah denganmu. Toh, kamu juga sudah kaya, punya cabang resto di mana-mana. Apalagi... kamu kan setampan Reza Rahadian."
Aku menutup kalimat itu dengan gelak tawa. Begitu juga dengan Reza Dinata di seberang sana yang juga ikut tertawa.
"Kamu sendiri, bagaimana?"
"Maksudnya? Apanya yang bagaimana?"
"Kamu kan bilang pasti banyak perempuan yang mau menikah denganku. Apa itu termasuk kamu?"
What?
"Aku?"
__ADS_1
"Mmm-hmm."
"Mung...kin...," kataku. "Kalau...."
"Kalau apa?"
"Kalau aku bisa jatuh cinta padamu...."
"Mmm-hmm?"
"Ya, mungkin aku mau menikah denganmu."
"Kalau begitu... aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Aku tergelak. "Reza... Reza. Jangan bercanda seperti itu...."
Suara desaha* berat terdengar dari seberang sana. "Di usiaku yang sudah lebih dari dua puluh delapan tahun, menurutmu apa masih mungkin aku bercanda tentang pernikahan? Aku serius. Siapa tahu, mungkin saja kamu adalah jodohku."
"Aamiin...."
"Thanks."
"Untuk?"
"Kamu sudah menjadi seorang pendengar yang baik."
"Oh... oke, sama-sama. Sudah selayaknya aku begitu. Kita kan teman."
Dia berdeham. "Kalau begitu... sekarang giliranmu, ceritakan tentangmu. Tentang apa saja. Tidak perlu dipikirkan aku sudah tahu atau belum. Aku mau mendengar ceritamu langsung darimu. Aku harap kamu tidak menolak, kita kan teman...."
Hah! Dia mengembalikan kata-kataku, membuatku tak bisa menolak keinginannya.
"Aku rasa kamu sudah tahu banyak hal positif tentangku, sepupu-sepupuku pasti sudah cerita semua. Jadi... aku tidak perlu cerita tentang hal itu." Aku berhenti sejenak dan berpikir untuk menceritakan seperti apa yang diceritakan Reza tentangnya kepadaku. "Aku... aku juga lahir di Palembang. Orang tuaku orang asli Palembang. Aku punya adik laki-laki bernama Ihsan, usianya satu setengah tahun lebih muda dariku. Aku juga korban broken home. Aku ditinggal ayahku waktu umurku belum genap dua tahun. Ayahku bukan pemakai, bukan pemabuk, juga bukan penjudi. Tapi... dia itu gila perempuan. Dia tidak bisa setia pada Bunda. Dia memang tidak pernah KDRT, tidak pernah melakukan kekerasan, tidak pernah menyakiti fisik. Tapi... dia berkali-kali menyakiti hati Bunda. Bahkan, hatiku juga ikut sakit karena kelakuannya."
Aku diam cukup lama, sampai Reza memintaku untuk melanjutkan ceritaku, katanya supaya dia bisa memahamiku. Dia memintaku agar aku memperkenankan dia untuk memahamiku. Tapi aku belum merasa nyaman untuk bercerita lebih banyak.
"Hari sudah mulai larut. Kamu bisa tanya lagi kapan-kapan. Lain kali aku akan cerita lebih banyak."
Ah, aku sudah khawatir dia kecewa. Ternyata tidak, dia tipe cowok yang cukup pengertian.
"Oke, tapi apa besok kita bisa bertemu? Lusa aku pulang ke Bogor. Please... aku mohon?"
__ADS_1
Aku diam sejenak untuk berpikir. "Emm... oke, besok sore, jam setengah empat, di Surabaya Carnival Park. Jangan terlambat."
"Thanks. Sampai jumpa besok. Bye, Inara."