
Reza mengajakku ke pantai sore itu. Kami duduk berdua di tepi pantai menikmati senja, seperti pertemuan kali kedua kami di senja yang lalu, tapi dengan lagu yang berbeda, bukan lagi dengan nada-nada tentang kesendirian atau kesepian. Kami mendengarkan suara merdu Meisita Lomania dalam lagu Separuhku, salah satu lagu milik Nano Band.
"Aku suka lagu ini, setiap liriknya pas, ngena."
"Aku juga, karena kamu separuhku," sahutnya.
"Kamu juga separuhku, Mas."
"Kamu masih ada rasa takut?"
"Yeah, takut kehilanganmu."
"Aku serius, Sayang...."
Kuanggukkan kepala dan menolehnya sekilas. "Iya, aku sedang berusaha melawan rasa takutku. Tapi Bunda bilang kalau aku tidak boleh takut. Andaipun nasibku sama buruknya dengan Bunda, atau lebih buruk dari Bunda, Bunda bilang aku boleh pergi."
Mendengar jawabanku Reza langsung menoleh, lalu menggenggam erat tanganku. "Kamu akan bahagia, aku jamin itu," katanya. "Aku tidak akan membuatmu pergi dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Seperti biasa, aku tidak meresponsnya dengan kata-kata. Aku hanya membalas genggaman tangannya. Kami tetap seperti itu dalam waktu yang cukup lama.
"Ayo, ke sana," ajakku seraya menunjuk ombak-ombak yang seolah berkejaran mencapai pantai. Aku melepaskan sepatuku, lalu berdiri dan melangkah masuk ke air. Kubiarkan air laut berkecipak di kakiku. Sementara Reza masih duduk diam di atas pasir itu. Aku membiarkannya, dan fokus memandangi ombak-ombak yang berdatangan ke arahku. Seolah berharap mereka akan membawa setiap kesedihanku, dan menjadikan jiwaku suci, agar aku tidak lagi merasakan sakit hati dan menyimpan dendam pada masa lalu.
Lamunanku terbuyar saat aku mendengar suara gitar yang dimainkan oleh Reza. Entah dari mana dia mendapatkan gitar itu. Mungkin dari sekelompok remaja yang menyaksikannya bernyanyi saat itu. Mereka tidak hanya menonton, malah ikut bernyanyi dan mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel. Dan itulah Reza, dengan kepercayaan diri yang membumbung tinggi, dia mulai menyanyikan lagu Pilihanku miliknya Malik & D'Essential, spesial untukku.
Berjuta rasa-rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu cara-cara kau selalu membuatku bahagia
Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku
Maukah kau tuk menjadi pilihanku?
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
__ADS_1
Maukah kau tuk menjadi yang pertama?
Yang selalu ada di saat pagi kubuka mata
Oh...
Izinkan aku memilikimu, mangasihimu, menjagamu, menyayangimu, memberi cinta, memberi semua, yang engkau inginkan
Selama aku mampu aku akan berusaha
Mewujudkan semua impian dan harapan
Tuk menjadi kenyataan
Maukah kau tuk menjadi pilihanku?
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama?
Yang selalu ada di saat pagi kubuka mata
Tuk jadi yang pertama
Tuk jadi selamanya....
Dia mengakhiri lagunya dengan berdiri di hadapanku, sekitar setengah meter jaraknya dariku. "So, apa jawabanmu?" tanyanya.
Pura-pura tidak mengerti, dan justru malah balik bertanya, "Pertanyaannya apa?"
"Inara, maukah kamu menjadi pilihanku? Menjadi yang terakhir dalam hidupku? Menjadi yang pertama yang selalu ada di saat aku membuka mata?"
Aku menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia. "Iya, aku mau. Aku mau, Mas."
Begitu pun dengan Reza, ada binar-binar kebahagiaan dari kedua matanya, dan aku bangga aku menjadi alasan dari kebahagiaan itu. Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan, bersiul, bersorak cieee, cmiwiwww, uwuwww, dan semacamnya. Whatever....
__ADS_1
Reza mengulurkan tangannya, kemudian menggandeng tanganku, mengajakku ke tepi, keluar dari air. Lalu ia melepaskan gitar dari tangannya. Sejenak kemudian ia mengeluarkan seuntai kalung dengan liontin berbentuk hati. Dia memasang foto kami di liontin itu, foto pertama kami yang kami ambil di hari pertama kami bertemu di Surabaya, di pantai yang sama tempat dia memintaku dan menjadikan aku sebagai wanita pilihannya. Tentu saja dia sengaja menguntai kalung itu dengan liontin yang terbuka, supaya aku bisa melihat foto yang ia pasang di dalamnya.
"Boleh kupasangkan?"
Aku menganggukkan kepala, mulutku rasanya sudah terkunci oleh kebahagiaan yang tak bisa kubendung. Kemudian Reza maju dua langkah lebih dekat ke hadapanku, wajahnya hanya sekian senti dari wajahku saat dia memakaikan kalung itu ke leherku. Lagi-lagi aku merasa perutku seperti meleleh, perasaan berdebar-debar kembali menguasai ragaku. Detak jantungku menjadi lebih cepat, dan hangat napasnya yang berembus di leherku serasa menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Aku merasa hangat di antara kencangnya embusan angin.
"Jangan pernah di lepas, ya?" pintanya.
Lagi. Aku mengangguk. "Iya. Aku akan jaga baik-baik kalung ini. Tapi ini maksudnya apa? Lamaran?"
"Bukan. Kalau lamaran, aku akan memintamu langsung pada Bunda. Ini hanya bentuk perasaanku padamu. Aku mencintaimu, Inara. Aku sangat mencintaimu."
Oh Tuhan... dia membuatku melayang. Ingin rasanya menghentikan waktu lalu memeluknya beberapa saat sebelum akhirnya waktu kembali berjalan. Itu pertama kali dia mengatakan kalau dia mencintaiku. Rasanya seperti ada suara cling, lalu kupu-kupu dan balon-balon berbentuk hati beterbangan mengelilingi kami. Aku tak mampu berkata-kata. Aku membuka mulutku hendak berusaha mengeluarkan kata-kata, sungguh, tetapi Reza menahan bibirku dengan jari-jarinya.
"Kamu tidak perlu mengatakan apa pun. Asal kamu tahu perasaanku itu sudah cukup, oke?"
Aku tidak tahu kenapa, ada bulir air mata yang menetes di pipiku. Reza menyentuhkan keningnya ke keningku. Tapi aku ingin lebih. Kusentuhkan bibirku ke bibirnya. Tidak tepat kalau kukatakan aku menciumnya. Beberapa detik setelah itu, aku menyurukkan wajahku ke dadanya dan menarik napas dalam-dalam. Masa bodoh dengan orang-orang di sekitar kami, masa bodoh dengan waktu yang terus berjalan. Terserah, aku ingin memeluknya.
"Mas."
"Emm?"
"Aku mau ikut kamu pulang."
Mendengar itu Reza langsung melepas pelukannya, dia menatapku dengan ekspresi seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, Mas. Aku mau ikut kamu pulang."
"Kamu serius?"
"Serius, aku mau pulang."
"Terima kasih." Dia memelukku lagi. "Aku akan selalu mengingat hari ini, hari di mana kamu menerima perasaanku," ungkapnya.
Setelah itu aku baru menyadari bahwa hari itu adalah hari valentine. Hari yang tidak pernah berarti apa-apa bagiku di tahun-tahun sebelumnya. Tapi akan menjadi sejarah bagi masa depanku nanti, masa depanku bersama Reza Dinata, satu-satunya lelaki yang mampu mencairkan hatiku yang selama ini membeku.
__ADS_1
Aku tahu, inilah saatnya.