Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Oh, Ternyata....


__ADS_3

Dari dalam kamar kudengar samar-samar Reza berbicara dengan seseorang di luar sana, sepertinya dengan seorang dokter. Kalau tidak salah dengar, aku mendengar dia berkata, "Terima kasih, ya, Dok." Entahlah. Pendengaran orang yang baru sadar dari pingsan bisa saja salah, meski dengan pintu kamar yang terbuka.


"Kamu sudah siuman?" tanyanya, begitu ia masuk ke kamar.


Kutelan ludah getir. Aku tidak ingin menunjukkan rasa takutku. Bagiku, lebih baik berhadapan dengan penjahat sekalian daripada berhadapan dengan seorang psikopat. "Bisa tolong biarkan aku pergi?"


"Mau pergi kemana? Kamu sakit begini. Semalam kamu tidak makan? Aku lihat makanammu masih utuh di dapur. Apa semalam kamu terbangun tengah malam dan kurang istirahat?" tanyanya. Tersirat kekhawatiran di wajahnya.


Aku bahkan tidur sangat larut semalam. Aku tidak makan, pagi ini belum sarapan, dan ditambah harus menghadapi situasi menakutkan seperti ini.


"Aku buatkan bubur untukmu, ya. Biar kamu bisa minum obat."


Dia pun keluar dari kamar. Ini kesempatan, pikirku. Mungkin pintu depan tidak terkunci setelah dokter tadi pulang. Dengan menenteng sepatuku, aku keluar diam-diam, mengendap-endap supaya tidak ketahuan. Tetapi...


Ah, berengsek! Dia tidak lupa mengunci pintunya.


"Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana."


Suara Reza membuatku seketika langsung membeku, aku bahkan tak bisa membalikkan badan. Rasa takut kian mencuat saat kusadari lengannya sudah menelusup di antara kedua tanganku, melingkar erat di pinggangku, dia memelukku dari belakang. Tanganku gemetar, sepatu dan tasku sampai terlepas, jatuh.


"Jangan pernah meninggalkan aku," suaranya lirih di telinga.


Pelukan yang selama ini terasa hangat, memberikan aku kenyamanan, dan yang selalu kusukai, seketika hambar, kalah oleh rasa takutku.


Tenang, Nara! Tenang! Jangan berkeras! Ikuti saja kemauannya sampai dia lengah, batinku saat Reza menggendongku dengan tangannya yang kekar.


"Kita ke kamar, ya? Kamu harus sarapan dan minum obat."


Aku tidak menyahuti ucapannya. Kubiarkan saja dia menggendongku, menurunkan aku di atas tempat tidur, menyuapiku, dan memberiku obat.


Tunggu. "Obat apa ini?" tanyaku. Tanpa memberitahukannya kalau aku takut itu semacam racun atau obat-obatan yang bersifat untuk hal-hal yang negatif.

__ADS_1


"Itu vitamin dan suplemen untuk daya tahan tubuh. Kamu ngedrop," jelasnya. "Ini, minum."


Keperhatikan kemasan obat itu. Benar, itu hanya vitamin dan suplemen. "Terima kasih," ucapku. Kuminum vitamin dan suplemen itu dengan sekali tegukan air. "Aku mau mandi."


Aku baru bergerak sedikit hendak turun dari tempat tidur ketika Reza mencekalku. "Tunggu di sini. Biar kusiapkan air hangat."


Aku pun menurut. Dia masuk ke kamar mandi dan keluar beberapa saat kemudian saat air hangat sudah memenuhi bathtub.


"Ayo," katanya,


"Hah?" Aku tercengang.


"Biar kubantu kamu mandi," sahutnya. "Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan keluar nanti saat kamu berganti pakaian."


Aku mandi tanpa melepaskan pakaian. Untungnya semalam aku memakai kaus longgar selutut dan dengan dalaman celana pendek. Menakutkan sekali rasanya dimandikan oleh orang gila, pikirku.


"Aku ambilkan pakaian ganti untukmu, ya."


Aku menggeleng. "Tidak usah. Aku bisa sendiri. Tolong kamu keluar dulu dari kamar."


Aku hanya mengangguk, membiarkan segalanya berjalan dengan penuh kewaspadaan.


Siang harinya, aku pergi ke halaman belakang. Bisa semakin stres aku jika mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak ingin menghubungi siapa pun. Tidak ingin membuat siapa pun khawatir terhadapku. Aku duduk di ayunan, kuanggap menikmati saat-saat kemungkinan aku akan lenyap dari muka bumi. Itu lebih baik, daripada aku harus mati dengan rasa takut itu sendiri, karena akal sehatku sudah bertahta kembali di otakku. Selagi aku tidak bersikeras, mungkin aku akan tetap baik-baik saja, pikirku. Hanya butuh kesempatan untuk keluar dari villa ini.


"Bisa kita bicara?" suara Reza mengejutkanku. "Kamu melamun?" tanyanya.


Aku tidak menjawab. Kugeser posisiku ke sisi kanan ayunan, dan ia duduk di sebelah kiriku. "Jangan dekat-dekat," kataku. Tapi ia justru merapat, diambilnya tanganku, digenggamnya erat sampai aku tidak bisa menariknya.


"Aku minta maaf kalau caraku bertanya menyinggung perasaanmu atau membuatmu sakit hati."


Aku melengos. "Kamu menuduhku!"

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak menuduh. Aku bertanya. Coba diingat lagi, aku bertanya, sama sekali tidak melontarkan tuduhan."


Aku mendengus sebal. "Sama saja, pertanyaanmu menyudutkan, sama saja kamu menuduhku." Kujawab dia tanpa melihat wajahnya.


"Oke. Terserah bagaimana menurutmu. Yang jelas, aku minta maaf, kalau caraku bertanya kamu anggap sebagai tuduhan, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak berniat seperti itu."


Dia diam sejenak, melepaskan tanganku dan meraih sebotol teh melati di atas meja dan membukanya, kemudian memberikannya kepadaku. Kuambil minuman itu dari tangannya lalu kuminum dua tegukan.


"Hei, dengar. Tadi pagi aku menemukan sebungkus rokok dan pemantik api itu di atas meja teras. Kemarin pagi aku juga duduk di sana, dan kedua benda itu belum ada. Aku berpikir itu artinya -- sewaktu aku pergi, ada seseorang yang datang ke sini. Tapi kamu tidak bercerita apa-apa padaku. Ada sekian jam dari kemarin sampai pagi ini kalau kamu berniat memberitahukannya padaku."


Aku mengehala napas dalam-dalam. "Bukan sesuatu yang penting untuk kuberitahukan, lagipula kemarin kamu sibuk, kamu pulang larut malam," kilahku -- mencari pembenaran.


"Mungkin bukan sesuatu yang penting. Tapi bukan sesuatu yang harus kamu tutupi, kan?"


Aku membuka mulut, tapi tidak tahu apa yang harus kukatakan. Karena dia benar, aku memang sengaja tidak ingin menceritakan tentang Aris kepadanya, apalagi memberitahukan perihal kedatangannya kemarin yang tiba-tiba.


"Sebelum aku bertanya, aku sudah melihat rekaman cctv. Aku sudah tahu kalau ada seseorang yang datang dan mengobrol denganmu di teras."


Seketika aku melirik ke arahnya. Aku lupa kalau di depan ada cctv. Aku tidak berpikir kalau dia telah mengecek cctv sebelum mencecarkan pertanyaan-pertanyaan tadi kepadaku.


"Aku sengaja bertanya untuk menilai kejujuranmu. Bukan karena tidak percaya padamu, tapi aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi dan jawabanmu. Dan, dari jawabanmu tadi, jelas bahwa kamu ingin menutupinya dariku. Dan itu menghasilkan pertanyaan baru, kenapa? Siapa Aris? Apa hubungan kalian sampai dia menemuimu di sini? Sampai kamu tidak mau menceritakannya kepadaku. Bagaimana dia tahu kamu ada di sini sementara kamu menepis saat aku bertanya apa kamu sengaja janjian dengannya? Bahkan kenapa kehadirannya membuatmu mengabaikan makan malam dan membuatmu jadi tidak bisa tidur?"


Oh... dia hanya mengujiku? Mengetes kejujuranku? Pantas saja dia seketika biasa saja dan malah bermain gitar. Sedangkan aku malah berpikir terlalu jauh, malah berpikir kalau dia psikopat. Ya, ampun. Rasa malu menguasai diriku. Apa ada yang salah dengan otakku?


"Sayang?"


"Oh. Eh? Itu... emm... sori, Mas. Aku...."


"Apa Aris mencintaimu? Apa itu yang membuatmu merasa tidak nyaman menceritakan tentang Aris?"


Aku mengangguk. Tentu saja itu salah satunya. Dan yang kedua adalah aku tidak ingin Reza mengait-ngaitkan kepribadianku dengan keahlian Aris sebagai psikolog dan ahli hipnoterapis. "Bisa tidak untuk tidak membahas soal ini?"

__ADS_1


Dia mengangguk. Tapi dia tidak kelihatan senang. Aku tahu dia memendam banyak pertanyaan.


Maafkan aku, Mas....


__ADS_2