Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Di Antara Dua Lelaki


__ADS_3

Kami tidak banyak bicara sepagian ini. Aku tidak memerhatikan apa saja aktifitas yang dilakukan oleh Reza. Aku hanya bersantai dengan hammock-ku, juga dengan ponsel serta earphone-ku.


Tiba saat jam makan siang, kami makan siang di halaman belakang. Kupikir aku harus bercerita tentang Aris. Aku tidak ingin merusak momen sisa liburan kami hanya dengan saling mendiamkan. Aku ingin waktu selalu terasa berhenti saat hanya ada aku dan dia, bersama-sama dalam dunia kecil kami sendiri, jauh dari segala sesuatu dan semua orang. Tidak ada yang penting kecuali memperbaiki hubungan ini.


Seraya memejamkan mata, aku menarik napas dalam-dalam dan kukatakan, "Aku ingin bercerita mengenai Aris."


Reza menaruh sendoknya, lalu melihat ke arahku. "Silakan. Aku mendengarkan," sahutnya.


Aku diam sejenak, lalu mengehela napas dalam-dalam, lagi. "Aris itu seorang psikolog dan ahli hipnoterapis. Orang KL, Malaysia. Tanteku yang memperkenalkan kami, mamanya Empat R. Tanteku itu seorang bidan, dan kenal akrab dengan ayahnya Aris, dokter ahli kandungan. Singkat cerita, aku dan Aris berteman. Dia sering ke Indonesia. Selama ini aku hanya menganggap Aris sebagai teman. Tapi dia malah menyukaiku."


"Mencintaimu," tandasnya.


Aku mengangguk. "Yah, dia mencintaiku. Sesuatu yang tidak kuinginkan dalam hubungan kami. Dia beberapa kali menyatakan perasaannya padaku, sampai aku memutuskan untuk menjauh. Bahkan aku mengganti kontak. Semenjak... aku... mengganti foto profil akunku tempo hari, dia menghubungiku lagi. Aku tidak tahu kalau dia akan ke sini. Aku serius, aku tidak tahu sama sekali. Kemarin kutanya, katanya dia tahu alamat villa ini dari Raheel. Intinya dia ke sini untuk mengucapkan selamat, katanya dia turut bahagia untukku. Dan... dia mau bertemu kamu. Dia ingin aku mengabarinya kalau kamu setuju untuk menetapkan waktu."


"Oke. Minta dia datang ke sini. Hari ini."


Seperti permintaannya, aku sudah meminta Aris menemui kami di villa. Saat Aris datang, Reza sedang bicara di telepon ketika bel berbunyi. Terpaksa aku yang membukakan pintu.


"Hi, Aris. Jom masuk," kataku. "Sila duduk."


"Kat mana Reza?"


"Ada, kat belakang. Jap ye."


Aku pergi ke belakang, menemui Reza dan mengatakan bahwa Aris sudah datang dan menunggu di ruang tamu. Dia pun mengakhiri pembicaraan teleponnya dan langsung menemui Aris. Sementara aku terseok-seok pindah ke dapur, mengambil minuman dingin dari kulkas dan menuangkannya ke gelas. Perasaan cemas meliputi diriku. Aku merasa tidak nyaman berada di tempat yang sama dengan dua lekaki yang aku tahu mereka sama-sama mencintaiku.


Aku membawakan minuman dan sepiring kue cokelat ke ruang tamu. Saat itu Reza dan Aris tiba-tiba diam, nampak sekali apa yang mereka obrolkan tidak boleh kudengar. "Sedang membicarakan hal yang serius?" tanyaku.


Reza mengangguk. "Yeah," katanya. "Dan kalau tidak keberatan, bisa tolong...."


"Oke. Aku permisi. Silakan dilanjutkan."


Huh! Justru aku lebih senang tidak harus berada di antara mereka berdua, atau hal itu akan membuatku nampak seperti kambing congek tanpa tahu harus mengatakan apa, atau menjawab apa jika mereka bertanya.


Beberapa saat kemudian, aku sedang duduk di pinggir kolam dengan earphone di telingaku saat Aris menghampiri dan dengan sengaja mengagetkanku.


"Aris...," teriakku.


"Nara...," dia pun balas berteriak.

__ADS_1


"It's not funny." Aku mengerang gemas kepadanya.


Dia cengengesan. "Tekejot? Sorry... just kidding," katanya. Lalu dia duduk di lantai, persis di sampingku dan menghadapku. "So, are you ok?"


"Emm... yeah. I'm totally ok," kataku dengan sedikit berbohong, meski aku tahu itu percuma.


Dia menggeleng dengan senyuman yang seolah meledekku. "Tak payah nak tipu. You ingat I tak paham ke?"


Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku tahu pertanyaannya itu hanya semacam pancingan untuk membaca ekspresiku. Kalau boleh jujur aku ingin mengatakan, ya aku cemas sebab kedatanganmu. Tapi tentu aku tidak akan mengatakan itu.


"You pengsan ke tadi? Kenape? Citerlah sikit."


"Citer apa pula? I pengsan sebab... tak sihat kot."


"And than...?"


Ah, dia mengenalku terlalu baik. "Tu je lah, Aris. I'm serious," jawabku -- berusaha meyakinkannya, walaupun aku tahu itu hanyalah sia-sia belaka. "Dah lah, Aris. Tak payah tanya soalan tu. You tanya macam I ni pesakit je. I tak selese you mengesan cam tu."


"Tak macam tu, Nara. I ask you as your brother. Macam abang tanya adik. So, Adik kena bagitau Abang. Please?"


Sontak aku terperangah. "Seriously? As my brother?" tanyaku heran. "You tak--"


Lagi-lagi perasaan tidak enak hati merayapiku. Aku merasa bersalah pada lelaki di hadapanku itu. Tersirat ketulusan di wajah dan senyumannya. Namun matanya tak dapat menghindari binar-binar air mata. Aku menyadari bahwa itu sulit baginya. Terlebih setelah bertahun-tahun dia mengharapkanku, namun pada akhirnya dia harus mengalah dan menyerah -- mengalah pada egonya sendiri, dan menyerah pada takdir yang tidak berpihak kepadanya.


"Jadi, Adik kena bagitau Abang, apa dah jadi?"


"Emm... tapi jangan bagitau Reza. Janji?"


"Ye lah, janji."


Sejujurnya aku ragu untuk berterus terang. Tapi, ya sudahlah. Aku memilih untuk berterus terang."Emm... I pengsan sebab takot. I ingat Reza marah tadi, lepas tu macam tak de hal. Kerana tu I ingat Reza tu psikopat," kuucapkan itu dengan suara sepelan mungkin supaya Reza tidak mendengar. Saat itu dia tengah berdiri di dekat pintu, memerhatikan kami dari kejauahan. "Tetapi, I sedar I dah silap. Macam biasa, I...," aku tak bisa melanjutkan kalimatku, air mata tanpa izin langsung menetes.


"Sejak bila you kememeh cam ni?" Dia pun mengusap air mataku dengan jemarinya. Dia membuatku semakin khawatir, aku takut Reza akan salah paham dengan sikapnya terhadapku. "Dah, dah, tak payah menangis. Ok?"


Kuanggukkan kepalaku dengan pelan. "Yeah, I'm okay right now. I'm sure."


Setelah mendengar jawabanku, Aris langsung menatap iba padaku. Dia masih seperti dia yang dulu, dia yang setia menanyai setiap masalahku, yang setia menjadi pendengar yang baik untukku. Aku sendiri tidak memahami, kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada lelaki sebaik dia?


Tetapi, memang dia terlalu baik untuk gadis sepertiku.

__ADS_1


"Nara, adik Abang, jangan simpan masalah sendiri. Nara harus berbagi apa yang Nara rasa," Aris mengucapkannya dalam bahasa Indonesia dengan cukup fasih, meski terdengar aneh di telingaku. "You can tell me everything. You boleh talipon, mesej ke, whatsapp, messenger pun boleh. I am here for you. I sayangkan you."


Aku mengulum senyum mendengar ketulusannya. "Yeah. Thank you Aris. Eh, no, no. I mean thank you Abang." Aku pun tertawa.


Lalu ia melirik jam tangannya. "I nak balik KL dah ni."


"Meh, I hantar."


"Tak payah."


"Jangan macam tu...."


"I ada hal nak cakap sikit kepada Reza. You stay here. Ok?"


Aku menganggukkan kepala. Tak punya pilihan dan tak ingin berkeras.


"See you." Aris menyentuh dan mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


Aduh... jangan sampai Mas Reza cemburu. Aku harus memastikan sendiri semuanya aman.


Diam-diam aku menguping di balik dinding. Aku ingin tahu apa yang ingin disampaikan oleh Aris. Dan aku lega, meskipun Aris mengatakan kepada Reza bahwa Reza sudah membuatku ketakutan, tapi Aris tidak menjelaskan detailnya, dia tidak mengatakan bahwa aku sempat berpikir bahwa Reza adalah seorang psikopat. Kemudian Aris meminta Reza untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu di luar pemahaman Reza terhadapku. Dan yeah, sesuai dugaanku, mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal aku sudah khawatir mereka tidak memahami bahasa satu sama lain.


Aku masih di sana saat Reza dan Aris berjabat tangan sebagai tanda salam perpisahan. Dan masih berdiri di sana menatap saat Aris berjalan pergi. Lalu, aku pun cepat-cepat masuk ke dalam kamar saat Reza menutup pintu, pura-pura ke toilet dan berlama-lama di dalam sana. Aku tidak ingin ketahuan telah menguping pembicaraan mereka.


Reza sudah berdiri di dekat pintu kamar saat aku keluar dari toilet. Aku berdiri mematung, kupaksakan otakku berpikir cepat -- bagaimana menghindari obrolan apa pun itu yang bersangkutan dengan Aris dan hal-hal yang mungkin dibahas oleh mereka berdua.


"Mas... aku... aku ingin istirahat. Kepalaku sedikit pusing. Aku mau tidur," kataku. Itu satu-satunya alasan yang muncul di otakku. Setidaknya alasan yang bisa membuatku menghindari Reza untuk sesaat.


Tetapi, bukannya keluar dan menutup pintu, Reza justru melangkahkan kaki menghampiriku. "Biar kutemani," katanya.


Yeah, aku tak punya pilihan. Aku tidak ingin terkesan menghindar, sebab aku tidak ingin secuil pun dengan sengaja menyakiti hatinya.


"Kamu tidak keberatan, kan, kalau kutemani?"


Aku mengangguk. "Tentu. Tapi... tolong jangan bahas apa pun saat ini. Aku butuh istirahat. Please?"


Dia mengangguk, berjalan ke arah meja, lalu menyetel musik slow dan mengatur volume speaker.


"Lo? Katanya mau tidur? Kok masih berdiri di situ?"

__ADS_1


__ADS_2