Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Cerita Di Balik Lemari


__ADS_3

Hari hampir menjelang siang saat Alfi datang keesokan harinya. Dia membawa dua anak perempuannya, Bella dan Claudya. Kurasa, karena aku sudah tahu semuanya, jadilah mereka bersikap terbuka dan membuka semuanya di hadapanku. Kedua gadis kecil itu sangat cantik, mereka akrab dengan Tirta dan Mayra. Aku bisa melihat bahwa Mayra menyayangi Bella dan Claudya seperti anak kandungnya sendiri. Bukan pura-pura dan bukan dibuat-buat. Aku bisa menilainya walaupun itu pertama kali aku melihat kebersamaan mereka.


Hari itu Reza berencana untuk mengajakku ke panti asuhan, sebab sejumlah sepeda untuk anak-anak panti sudah tersedia dan siap diantarkan. Aku sangat senang hal itu sebentar lagi akan terealisasi. Aku tidak sabar untuk melihat senyuman bahagia di wajah anak-anak panti, terutama Khiara. Aku merindukan gadis kecilku itu.


Sewaktu kami hendak pergi, aku ingin menemui Mayra dulu untuk berpamitan. Aku pun mencarinya ke kamar. Dan sialnya, aku melihat sepasang suami istri itu sedang memadu kasih dengan pintu kamar terbuka. Memang sih mereka baru akan memulai proses ritualnya alias baru proses "pemanasan," tapi darahku langsung berdesir sekaligus kaget, terlebih saat itu Alfi sedang mencumbui istrinya. Melihat itu aku pun langsung ngacir -- melesat kembali ke halaman belakang.


"Kenapa?" Reza keheranan.


"Aku... aku anu. Tadi... aku, itu...."


"Kenapa?"


Aku mengipas-ngipaskan tanganku seperti orang kepanasan. Engap. Karena aku tidak bisa menjawab, Reza pun penasaran dan hendak mengecek ke depan.


"Jangan!" kataku langsung mencegahnya.


Heran. Keningnya langsung mengerut. "Ada apa? May kenapa? Ribut dengan Alfi?"


Aku menggeleng kuat-kuat. "Bukan. Maksudku tidak. Bukan itu." Aku diam sejenak dengan menelan ludah. "Itu... mereka... mereka lagi di kamar. Aku tidak sengaja lihat. Sumpah. Soalnya mereka tidak menutup pintu...."


Sontak Reza tertawa sampai ngakak, sebab dia mengerti maksudku. "Mungkin mereka baru mau mulai, Sayang. Jadi pintunya belum ditutup. Keep calm, ok?" katanya dengan kedua tangan memegangi bahuku.


Aku mengangguk dengan bibir mengerucut. Sambil mengelap keringatku dengan tangannya, Reza berusaha menahan tawa.


Sesaat kemudian terdengar suara mesin mobil masuk ke pekarangan. Aku dan Reza hendak melihat siapa yang datang. Tapi kami belum sempat melihat, suara Kayla sudah menggelegar meneriakkan nama Reza sambil menggedor-gedor pintu. Mungkin dia tidak terima karena Reza tidak memberitahu Salsya kalau dia sudah keluar dari rumah sakit. Mungkin.

__ADS_1


"Aku malas ribut dan malas meladeni Kayla," Reza berkata dengan frustasi.


Well, karena melihat ekspresinya yang seperti itu, aku pun mencoba mengerti dan memilih tidak meladeni dua perempuan sinting itu. Sebab itu aku menurut saja sewaktu Reza menarikku untuk bersembunyi.


Kami baru saja hendak bersembunyi di kamar mandi, tapi tidak jadi. Ide gila langsung mencuat dari otak Reza. Dia langsung menarikku dan menerobos masuk ke kamar Alfi dan Mayra yang tertutup tapi tidak terkunci, kuncinya rusak dan belum sempat diperbaiki. Mayra langsung berteriak kaget, untung mereka di dalam selimut. Kami pun bersembunyi di dalam lemari.


Beberapa saat kemudian -- saat aku dan Reza sudah bersembunyi di dalam lemari -- giliran Kayla yang menerobos masuk ke kamar itu. Tapi Mayra dan Alfi tidak kaget, sebab kata Mayra dia sudah mendengar suara Kayla. Tapi dia pikir Reza akan menemuinya dan bicara baik-baik, bukannya menghindar dan malah bersembunyi di kamarnya.


Untunglah Kayla menggedor-gedor dulu, sehingga aku dan Reza sempat bersembunyi. Kalau mereka lebih lancang dan langsung membuka pintu, maka aku dan Reza sudah pasti langsung dilabrak oleh Kayla. Meski sebenarnya aku bisa menghadapinya dan bisa menjadi tameng untuk Reza. Tapi kali ini aku menghormati keputusannya untuk menghindar. Toh, kami baru berbaikan. Aku tidak mau situasi kami kembali memanas hanya karena dua perempuan yang ternyata sama barbar-nya denganku.


"Woi! Yang sopan!" Mayra berteriak pada Kayla.


Aku dan Reza tidak bisa melihat huru-hara yang terjadi di kamar itu. Tapi aku bisa menceritakan ini berdasarkan cerita Mayra. Katanya Kayla dengan ekspresi super kaget langsung keluar begitu melihat dia dan Alfi "tertumpuk" di tempat tidur. Pada saat Mayra menceritakan itu -- aku langsung menanyakan bagaimana ekspresi Salsya.


Bagaimana kelanjutannya? Mayra tak hentinya terkikik saat menceritakan kejadian itu. Saat Kayla sudah berada di luar kamar, dia langsung bertanya di mana Reza. "Mana kami tahu, Dodol!" dia menyahut begitu -- dengan pura-pura emosi.


"Ya ampun, aku tidak suka dibuat menunggu," kata Alfi -- bermaksud mengusir dua penerobos itu secara halus. Alfi pun langsung kembali masuk. Dan...


Ukh!


Mayra kembali melayang dengan desaha* yang dibuat-buat. Benar, yang dibuat-buat. Lebay dan berlebihan. Tapi itu berhasil membuat Kayla dan Salsya langsung melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Sementara aku dan Reza hampir membeku di dalam lemari yang terasa panas.


Sumpah! Suara baku hantam "klop klop klop" dan "uh ah uh ah" yang ditimbulkan oleh sepasang suami istri itu -- membuat Reza dan aku jadi panas dingin. Terlebih lemari itu cukup sempit untuk kami berdua.


Dan... entah kenapa, entah bagaimana, tahu-tahu Reza menggenggam tanganku. Tangannya berkeringat. Dia menatap lekat padaku tanpa kedip. Tapi raut wajahnya menyiratkan rasa gugup. Aku takut sekali dia akan terbawa suasana dan terbawa perasaan dan ujung-ujungnya bisa saja aku jadi terhipnotis sentuhannya. Dan hebatnya -- Alfi cukup tangguh -- dia cukup lama dalam menyenangkan istrinya saat itu, membuatku yang sedari tadi panas dingin merasa engap membayangkan baku hantam di antara mereka. Penyatuan diri yang menempel dan saling menekan hingga ke dasar. Oh Tuhan... rupa-rupanya Reza pun meresapi hal itu, dia semakin merasa tegang dalam setiap detiknya. Bahkan saat Alfi mencapai surganya.

__ADS_1


"Mantaaaaaaap!" seru Alfi dengan suaranya yang berat.


Ya ampuuuuuun... genggaman tangan Reza sontak menguat dengan tiba-tiba -- sesaat -- hampir bersamaan dengan pelepasan Alfi. Aku yang menyadari reaksi Reza langsung tersentak dan refleks menatapnya. Dan itu lucu sekali, mendadak dia malu dan langsung melepaskan tanganku. Dengan sigap dia mengelap keringat di wajahnya. Mati-matian kutahan senyum yang hendak mengembang di wajahku. Kutahan bibirku supaya tidak kelepasan dan menertawainya.


"Suka?"


"Mmm-hmm, kamu selalu hebat."


"Lagi, yuk?"


"Ayo. Siapa takut?"


Eh? Gila!


"Woy!" Reza berteriak karena gelisah dan akhirnya mendorong pintu.


Suara tawa seketika menggema.


"Aselole... ada yang kepingin...," Mayra menggoda Reza sesaat setelah pintu lemari itu terbuka.


Yeah, suami istri itu tertawa ngakak melihat kami -- sepasang kekasih di dalam lemari dengan keringat bercucuran.


Panas, tahu!


Jiwa gadisku meronta-ronta.

__ADS_1


__ADS_2