
"Kalau aku selamat, kamu mau, kan, menikah denganku?" Reza bertanya saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Aku ingin hidup sekali lagi untuk bisa bersamamu."
Aku tidak suka pemilihan katanya, seolah dia akan mati dulu dan akhirnya kembali hidup, entah mati suri atau mati yang bagaimana -- aku tidak mengerti. Tetapi aku tidak mau berdebat, itu bukan waktu yang tepat untuk mengoreksi mana pemilihan kata yang lebih tepat.
Kuanggukkan kepala, di saat itulah aku menyadari betapa aku benar-benar takut kehilangan Reza. Seolah pertengkaran dan perpisahan kami yang beberapa kali itu hanya sebuah kata "break" yang akan ada kelanjutannya -- bahwa kami pasti akan berbaikan dan akan bersama lagi. Berbeda dengan sekarang, aku takut kematian akan benar-benar merenggutnya dariku.
Aku mengangguk-anggukkan kepala tak terkendali, air mata menetes-netes dari kedua mataku, seperti tetesan lilin panas. "Aku mau," kataku. "Aku janji, kita akan segera menikah. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kamu harus bertahan, ya. Jangan tinggalkan aku."
Dia tersenyum samar. "Mas sayang kamu, Nara."
Kata-kata itu -- meski sangat sederhana, tetapi bagiku itu memiliki makna yang sangat dalam ketika dia mengucapkannya, kalimat yang berasal dari dalam hatinya -- bahwa dia benar-benar sayang padaku. Dia hanya mengucapkan kalimat itu dalam situasi tertentu, supaya makna terdalamnya langsung tersampai ke hatiku.
__ADS_1
Aku menangis sesenggukan. Kalimat-kalimat yang diucapkan Reza justru semakin membuatku takut -- takut setengah mati. Pada akhirnya aku melakukan sesuatu yang pasti akan dilakukan oleh setiap orang yang sudah putus asa. Aku mulai berdoa.
Aku meminta kepada yang Mahakuasa di atas sana untuk menyelamatkannya -- aku memohon -- tolong jangan ambil Mas Reza dariku. Tolong jangan sekejam itu kepadaku. Aku berjanji akan menjadi seorang hamba yang lebih taat kepada-Mu, aku akan mengasihi anak-anak yatim dan semua anak panti yang diamanahkan kepadaku dengan penuh keikhlasan, aku juga berjanji aku akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna untuk orang-orang di sekitarku -- menjadi "perantara-Mu."
Aku berharap Tuhan akan iba kepadaku, berharap Dia mengasihaniku -- gadis malang yang seumur hidupnya selalu merasa kehilangan. Aku tidak mau sampai kehilangan untuk kedua kali, kehilangan yang mampu mengoyak-ngoyak diriku menjadi serpihan-serpihan kecil, seperti bom itu.
Dan entahlah, barangkali yang kulakukan ini adalah semacam tawar menawar kepada Tuhan: aku berjanji akan menepati semua janji itu dan berjanji tidak akan membiarkan imanku kembali menipis seandainya satu permintaanku itu dikabulkan.
Tapi aku tidak ingin beranjak sedikit pun dan tidak ingin meninggalkan Reza dalam keadaan seperti itu, walaupun hanya sedetik.
Menelepon Alfi, itu satu-satunya yang terpikir olehku.
__ADS_1
Beberapa menit setelah itu, Alfi datang bersama Mayra yang langsung merangkulku lalu menyeka wajahku. "Semuanya akan baik-baik saja," katanya.
"Reza akan baik-baik saja. Dia tangguh," timpal Alfi.
Sementara Alfi mengurusi administrasi, Mayra menanyakan kronologi penusukan itu kepadaku. Aku tidak tahu apa-apa kataku. Aku masih termangu-mangu menatap pintu ruang UGD, menggeleng-gelengkan kepala dan ketakutan atas kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Aku tidak sanggup. Aku hanya bisa bergantung pada harapan -- yah, HARAPAN. Aku menginginkan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendaliku dan hanya mampu mengandalkan Tuhan.
Setelah rentang waktu yang terasa berjam-jam -- padahal sebenarnya hanya sekian belas menit -- seorang perawat keluar dari ruang UGD, secara refleks aku langsung bangkit dari kursi dan menghalangi jalannya. Perawat itu mengatakan bahwa pasien dalam keadaan kritis dan membutuhkan transfusi darah golongan B positif. Aku sempat down mendengar kata kritis, tapi aku langsung tersadar, aku memiliki golongan darah yang sama dengan Reza.
"Ambil darah saya, Suster."
Bahkan aku rela bila lebih dari sekantung darah, seberapa banyak pun yang Reza butuhkan -- aku rela -- asalkan ia selamat dan kembali kepadaku.
__ADS_1
Tolong jangan tinggalkan aku, Mas....