
Berdasarkan pengalaman para sepupuku, mereka mengatakan bahwa mertua mereka -- dulu -- membuat mereka merasa ngeri pada perkenalan pertama. Dan hal itu tiba-tiba tertanam di pikiranku saat Reza mengatakan ibunya ingin berkenalan denganku lewat video call. Tetapi, ketika aku akhirnya berkenalan dengan Nyonya Ratna Dinata, kesan yang kuperoleh sama sekali berbeda. Ketika pertama kali aku memanggilnya tante, dia langsung memintaku memanggilnya ibu.
Mengobrol dengannya rasanya seperti mengobrol dengan ibuku sendiri. Aku yang awalnya cemas, malah langsung akrab karena keramahannya. Dari nada suaranya, bisa kutebak bahwa dia menyukaiku meski dia belum pernah bertemu denganku. Reza pasti sudah menceritakan beberapa sifat baikku kepadanya. Kalau tidak, tentunya dia tidak akan seramah itu padaku.
Ibu Reza memujiku cantik dan manis, persis yang dikatakan Reza ujarnya. Waktu kami berbicara dalam panggilan video itu, ibu dan anak itu sedang bersama. Ibunya sedang duduk bersandar di kursi kecil, sedangkan Reza berdiri dengan mencondongkan badan, persis di belakang ibunya. Tampak jelas hubungan mereka sebagai ibu dan anak sangatlah dekat.
Setelah mengamat-amatinya lebih lanjut, kuperkirakan dia melahirkan Reza waktu umurnya tiga puluhan, karena saat itu ibunya nampak berumur enam puluhan. Hanya sedikit sekali kemiripan di antara mereka, Ratna Dinata dan Reza Dinata. Mungkin secara fisik Reza mirip dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya yang warna kulitnya sangat putih, wajahnya bulat, dan matanya sipit. Aku tidak bisa melihat rambutnya karena ia memakai hijab. Menurutku, dulu dia pasti sangat cantik ketika dia seusiaku. Dan aku jadi tidak habis pikir, kenapa ayahnya Reza dulu begitu tega melakukan kekerasan pada perempuan yang sudah memberikannya keturunan itu?
Sama herannya seperti saat aku memikirkan sosok ayahku yang tidak bertanggung jawab itu. Satria, nama lelaki itu, ia adalah seorang pengacara, ia mungkin seorang lelaki yang sukses dalam berkarir, tapi ia menjadi pecundang dalam kehidupan rumah tangga. Betapa tidak, lelaki itu meninggalkan istrinya, ibuku, juga kedua anaknya, aku dan adikku, karena ia begitu sibuk memacari wanita-wanita selingkuhannya, sampai-sampai ia lupa punya istri dan dua anak, dan tega meninggalkan kami demi bersama wanita-wanita itu. Aku heran, bagaimana seorang lelaki yang profesinya menjunjung tinggi rasa keadilan, tapi ternyata malah dirinya sendiri yang tidak bisa adil pada anak-anaknya, kepadaku dan adikku? Seharusnya dia berlaku adil dulu pada keluarganya, baru mengurusi keadilan untuk orang lain. Sikapnya itu secara tidak langsung membuatku tidak menyukai profesinya, dan, membuatku cenderung menghindari orang-orang dengan profesi yang sama, karena mereka selalu mengingatkan aku pada sosok ayahku yang nilainya NOL BESAR di mataku.
"Kapan kamu bisa datang ke sini untuk bertemu Ibu?" pertanyaan itu membuyarkan pikiranku. Dan aku meminta ibunya Reza untuk mengulangi pertanyaannya, "Kapan kamu bisa datang ke sini untuk bertemu Ibu, Nak?"
Aku pun mengatakan jawaban yang sama seperti jawaban yang kukatakan pada Reza hari itu, "Kuusahakan awal bulan depan, ya, Bu. Sepulang aku dari Surabaya, nanti aku ke sana menemui Ibu," jawabku.
"Oke, Ibu tunggu kedatanganmu, lo, ya."
"Ya, Bu. Nara usahakan."
"Oke. Tapi omong-omong, Reza cerita pada Ibu, katanya kamu akan menerima Reza kalau Ibu dan ibumu sudah memberikan restu pada kalian. Benar begitu?"
Ya ampun... dia curhat pada ibunya? "Mmm... iya. Aku memang bilang begitu pada Mas Reza," kata-kata itu terucap seperti anak Sekolah Dasar yang belum lancar membaca, terucap satu persatu. Aku merasa pipiku merona. Sedangkan Reza malah terkekeh-kekeh di belakang ibunya.
"Ibu merestui. Ibu senang anak Ibu bertemu gadis baik sepertimu."
Oh....
Ketika ibunya mengatakan bahwa ia merestui, ada semacam rasa dahaga yang terpuaskan dalam diriku. Tapi kalimat selanjutnya justru menohokku dengan sangat telak. Andai dia tahu bagaimana sifat-sifat burukku, dia tidak akan mengucapkan kalimat seperti itu.
Tiba-tiba pikiran rasa tidak layak menjadi istri seorang Reza Dinata kembali bermunculan di dalam benakku. Tapi aku tidak punya pikiran akan menemukan lelaki lebih sempurna darinya. Dan jelas, aku pun pasti tidak akan mau bila bersama dengan lelaki sialan seperti ayahku. Aku ingin berusaha memantaskan diri untuk Reza. Aku tidak yakin seratus persen apa aku bisa. Tapi ada semacam keinginan untuk mencoba. Lagipula, Reza bisa menerimaku apa adanya, bukan?
Sehari setelah aku berkenalan dengan ibunya Reza, aku mendapat panggilan telepon dari ibuku.
"Nak, terima kasih oleh-olehnya. Sudah Bunda terima, tadi sudah diantar ke sini oleh temanmu," suara ibuku terdengar girang di seberang sana.
Dahiku mengernyit keheranan. "Diantar teman Nara? Bukannya diantar kurir, Bund?"
"Katanya temanmu. Kalau tidak salah namanya Reza."
__ADS_1
What? Aku heran. "Reza langsung yang antar ke sana?"
"Iya. Kamu belum pernah cerita kalau kamu punya teman cowok. Omong-omong, orangnya tampan, ya. Mirip aktor Reza Rahadian, ramah lagi. Kapan-kapan ajaklah ke sini. Bunda suka pada anak itu. Rasanya seperti mengobrol dengan Reza Rahadian sungguhan," tuturnya memuji Reza.
Aku tersenyum sendiri. "Reza Rahadian versi KW, Bunda...," sahutku.
Aku dan ibuku tergelak, seperti dua orang sahabat yang sedang asyik ngerumpi. Aku lupa kapan terakhir kami mengobrol seasyik itu. Hanya karena seorang Reza Dinata yang punya tampang seperti aktor Reza Rahadian, banyak hal yang berubah dalam hidupku.
Di telepon ibuku mengatakan kalau dia sangat menyukai ikan asap yang kubeli di Sentra Ikan Bulak. Dia sudah memasaknya dan mencicipinya, bahkan memintaku membawakannya lagi nanti saat aku pulang ke Jakarta. Katanya dia juga menyukai abon sapi dan rambak sapinya. Aku tahu ibuku akan suka semua itu, karena kami punya banyak kesamaan. Bahkan kurasa, kalau saja dulu tidak ada aku dan adikku, pasti ibuku sudah merantau jauh, pelarian yang sama seperti pelarianku. Aku sering membayangkan betapa dia terkungkung menjalani hari demi hari dalam lingkungan yang tidak disukainya itu.
"Dia menyukaimu, ya?"
Eh? Pertanyaan itu membuatku tertegun. Aku bertanya dia tahu dari mana. Katanya... itu insting seorang ibu.
Aku pun mengakui kalau apa yang dipikirkan oleh ibuku itu memang benar, dan aku juga mengatakan pada ibuku kalau Reza berniat untuk menikahi anak gadisnya ini, menjadikan aku sebagai istrinya. Ibuku senang bukan kepalang mendengar kabar yang membahagiakannya itu. Aku bisa membayangkan ekspresinya dengan mata terpejam.
"Kamu sendiri, bagaimana?" tanyanya. Aku diam, aku tidak tahu harus mengatakan apa. "Nak, Bunda tahu apa yang kamu pikirkan. Bunda tahu kamu masih terbelenggu oleh masa lalu. Tapi kamu tidak boleh membiarkan masa lalu itu terus menghantuimu. Kamu harus jujur kalau kamu juga punya perasaan yang sama."
Aku hanya bisa bergumam, "Mmm...."
Samar-samar, aku mendengar isak tangis ibuku dari seberang sana. Bukan tangis kesedihan, justru sebaliknya, aku yakin seratus persen, saat itu ibuku sangat bahagia.
"Tapi, Bund, Nara baru mengenal Reza belakangan ini."
Waktu itu aku tidak mengatakan bahwa aku baru mengenal Reza seminggu. Konyol memang kalau aku yang tidak pernah jatuh cinta bisa punya perasaan secepat itu terhadap laki-laki asing yang baru kukenal.
"Lalu?"
Aku berdeham. "Nara takut dia bukan orang yang tepat. Mmm... sebelum Bunda menikah, Bunda pasti mengira ayahku itu orang baik, kan? Tapi kenyataannya, dia malah tega berselingkuh."
Ibuku menghela napas panjang. "Jangan jadikan pengalaman Bunda sebagai cambuk yang menakutkan. Kamu harus berani melangkah. Mungkin Reza tidak seperti ayahmu. Kalaupun suatu saat nanti dia seperti itu, Bunda tidak akan menyalahkanmu kalau kamu mengambil keputusan yang sama seperti Bunda dulu. Bukan Bunda membenarkan perpisahan, tapi sebagai perempuan kita berhak memilih jalan hidup kita sendiri. Kamu mau, kan, mencoba melangkah bersama Reza?"
"Tapi, Bund."
"Kenapa?"
"Anu...."
__ADS_1
"Apa?"
Dengan ragu aku berkata, "Sebelumnya Nara minta maaf, selama ini Nara kadang-kadang melewatkan salat." Aku diam, bingung merangkai kata-kata untuk berbicara pada ibuku.
"Sebagai orang tua, Bunda memaafkan. Bunda cuma menasihatimu karena kamu sudah besar, kamu sudah berani menjalani hidup mandiri di luar sana. Selebihnya, itu menjadi tanggung jawabmu sendiri. Tanggung jawabmu kepada Tuhan. Terus, apa hubungannya dengan Reza? Kamu takut dia tahu lalu meninggalkanmu? Begitu, Sayang?"
Bukan. Bukan seperti itu. Kujelaskan kepada ibuku bahwa Reza adalah sosok lelaki yang baik, yang rajin salat, berbeda sekali denganku, karena itu aku merasa tidak pantas untuk menjadi istrinya.
"Kalau itu masalahnya, kamu buat dirimu pantas untuknya. Tapi dengan catatan, kamu salat dan kamu berubah bukan karena Reza, tapi karena kewajiban, karena kamu mau memperbaiki dirimu. Paham?"
Desaha* ringan lolos dari bibirku. "Nara paham," kataku.
"Nak, ingat, kamu harus mengontrol diri. Jangan sampai karena perasaan cinta, kamu dan dia melakukan hal-hal yang melewati batas. Kamu paham maksud Bunda?"
Kutahan tawa yang menggelitik. "Iya, Bund. Pasti. Bunda tenang saja. Nara bisa menjaga diri," kataku meyakinkan ibuku. Tidak akan lebih dari pelukan dan ciuman. Hihi.
Ciuman? Ngarep!
"Dan satu lagi, bawa Reza dan keluarganya berkunjung ke sini. Supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena kita harus mengetahui silsilah keluarganya. Bukannya apa-apa, tapi untuk menghindari hubungan sedarah, karena kamu tidak mengenal keluarga ayahmu. Dia punya keluarga besar, baik dari ayahnya, juga dari ibunya, orang tuanya punya banyak saudara laki-laki, baik saudara kandung seayah seibu, maupun saudara yang hanya seayah. Bunda juga banyak tidak kenal pada saudara-saudara mereka. Begitu pun dengan ayahmu, kakak perempuan dan adik perempuannya punya anak laki-laki, bahkan kakak perempuannya punya anak lelaki yang tumbuh besar tanpa sepengetahuan keluarganya, Bunda sendiri juga tidak tahu siapa dan di mana anak itu. Mungkin ada yang lain selain yang Bunda ketahui, karena dia punya beberapa anak yang masing-masing punya ayah yang berbeda. Dan ayahmu juga punya anak laki-laki dari Yanti. Mana tahu, mungkin dia juga punya anak dari Rhea, atau perempuan-perempuan lain di luar sana. Jadi, jangan sampai kamu jatuh cinta pada orang-orang di dalam ruang lingkup keluarga mereka, apalagi yang sedarah denganmu. Yang ini kamu juga paham, kan?"
Ibuku menjelaskan panjang lebar, dan jawabanku hanya paham. Dalam hati aku berharap semoga status darah yang mengalir di dalam tubuhku tidak akan menjadi penghalang untuk hubungan percintaanku yang baru saja terjalin.
"Kamu belum mengambil keputusan untuk pacaran, kan? Jangan, kenali dulu baik-baik keluarganya. Kalau semuanya oke, Bunda pasti merestui. Oke?"
Aku tertegun. "Ee... iya," jawabku. Entahlah, apa aku berbohong atau tidak pada ibuku saat itu. Karena kenyataannya, ya kau tahulah bagaimananya.
"Iya apa?"
"Iya oke."
"Jadi kapan?"
"Nanti, Bunda... nanti Nara kabari. Oke?"
"Oke," sahutnya.
Hmm... ibuku sepertinya sangat tidak sabar, membuatku berpikir sebegitu besarnya daya tarik seorang Reza Dinata.
__ADS_1