
Aku memutar badan secepat kilat. Reza sedang berdiri persis di hadapanku dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana. Dia memakai kemeja pink pucat -- berlengan pendek. Dan di wajahnya tersungging cengiran lebar yang konyol.
"Siap-siap gih, ganti pakaian. Ikut aku ke Bogor," katanya.
"Aku tidak akan ke mana-mana denganmu," kataku, sekadar jual mahal sambil mengelap air mata yang terlanjur dilihat olehnya.
"Kamu tidak punya pilihan. Ikut aku atas kemauan sendiri, atau aku akan mengangkatmu dan kubawa kamu pergi dari sini."
"Ini bukan rumahmu, dan kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak bisa berbuat sesukamu di sini. Dasar pria menyebalkan!"
Aku menatap tajam padanya. Aku bisa sangat keras kepala kalau mau, bahkan tanpa perlu berusaha terlalu keras.
"Ayolah, Sayang. Kumohon? Aku hanya ingin meminta waktumu beberapa jam saja. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Aku janji."
Tidak mempan.
"Aku tidak mau, dan kamu tidak berhak memaksaku. Minggir!"
Aku berjalan -- berusaha melewatinya. Tapi dia mencegatku. Lengannya yang kokoh langsung melingkari pinggangku sehingga aku refleks berpaut di bahunya. Dia pun mendesis menahan sakit, cengkeraman tanganku tak sengaja mengenai lukanya.
"Tidak apa-apa," katanya. "Aku kuat."
Aku langsung melengos membuang muka mendengar dia mengucapkan kalimat sialan itu. "Percuma. Kamu hanya kuat fisik. Tapi hatinya? Lemah, lembek, pengecut!"
"Please, percayalah padaku. Aku tidak sungguh-sungguh mengucapkan janji itu pada Salsya, sama sekali bukan dari hati."
Persetan. "Ter-se-rah! Aku sama sekali tidak peduli. Jadi, tolong lepaskan aku."
"Oke," katanya sesaat setelah mendesa*. "Bisa tidak kita lupakan sebentar apa yang sudah terjadi? Hari ini tanggal satu April. Aku mau mengajakmu ke panti. Ada syukuran di sana, acara tahunan."
Praktis keningku mengerut. "Kenapa kamu mengajakku? Toh itu tidak ada hubungannya denganku, ya kan?"
"Ada," sahutnya. Kemudian dia mengeluarkan selembar surat, wasiat dari ibunya. "Ibu mau kamu menggantikan posisinya untuk mengurusi panti, meluangkan waktu dan memberikan perhatian untuk anak-anak di sana, sedikit saja."
Aku terdiam, aku tidak sanggup menolak sebab itu permintaan mendiang ibunya. Ibunya memang pernah menyampaikan langsung permintaannya itu kepadaku sewaktu ia di rumah sakit. Tetapi waktu itu aku mengiyakan saja karena kupikir aku akan menjadi bagian keluarga mereka. Tetapi sekarang?
"Please? Kumohon. Untuk kali ini saja jangan menolak. Bagaimana selanjutnya, kamu bisa pikirkan lagi nanti. Ya? Aku mohon?"
Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Baiklah!" kataku sambil berusaha kelihatan sangat jengkel. "Bisa lepaskan aku sekarang? Aku harus siap-siap."
Dan... beberapa menit kemudian...
"Aku hanya hadir sebagai tamu, kan? Maksudku aku tidak harus melakukan apa-apa?" tanyaku. Jelas aku merasa cemas, sebab aku bukan gadis yang pandai bersosialisasi.
Reza menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyuman manis. Aku langsung melengos, pura-pura tidak terpengaruh sedikit pun melihat senyuman itu. Padahal sejujurnya aku rindu setengah mati pada apa pun yang ada pada dirinya. "Santai, kamu hanya perlu mendekatkan diri dengan anak-anak panti dan beberapa pengurus di sana. Lagipula ini bukan acara formal."
"Kenapa kamu tidak mengajak Salsya?"
"Sayang... jangan bahas ini, ya?"
"Kenapa? Kan dia calon istrimu."
__ADS_1
"Sudah, dong. Nanti mood kita jadi buruk."
"Lah? Kan kenyataannya begitu."
"Please, jangan dibahas lagi. Oke, Sayang?:
"Bisa tidak jangan panggil Sayang?"
Reza tersenyum lagi. Tapi kali ini senyuman yang menyebalkan. "Baiklah, Calon Istriku."
"Whatever... silakan fokus nyetir. Dan tolong jangan bicara manis kepadaku selagi kamu tidak bisa bersikap tegas."
Kontan saja, kata-kata itu membuatnya kecut. Dia terluka mendengarnya, aku tahu. Tetapi justru itu aku mengatakannya. Aku ingin dia terluka, tepat di hatinya. Aku ingin membalas sakit hatiku atas sikapnya yang tidak tegas.
Omong-omong, jangan berpikir kalau aku mengenakan pakaian hijab panjang yang membungkus tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak. Aku hanya memakai dress biasa, dengan model kancing di depan. Berlengan tiga perempat dan panjangnya hingga mata kaki, warna pink yang sedikit lebih terang dari kemeja yang dipakai Reza. Dan, aku hanya memakai kerudung dan berdandan biasa saja. Sengaja, aku sedang tidak kepingin tampil cantik di depan Reza. Aku tidak mau dia berpikir bahwa aku berdandan khusus untuk menghabiskan hari bersamanya.
Tetapi, setibanya kami di panti aku malah menyesal. Sebab, teman-teman Reza yang juga donatur tetap di panti asuhan itu juga menghadiri acara syukuran itu. Bahkan, Reza tetap memperkenalkan aku sebagai calon istrinya, karena itulah aku jadi menyesal, harusnya aku berdandan lebih ekstra agar dia lebih bangga saat dia memperkenalkan aku kepada mereka.
"Jadi kapan hubungan kalian akan diresmikan?" tanya Bagus, seorang lelaki berbadan gempal dengan logat jawa yang kental.
Reza tersenyum tipis. "Secepatnya," jawabnya. Dia nampak yakin sekaligus pesimis. Yakin bahwa hanya seorang Inara -- satu-satunya perempuan yang ingin ia nikahi. Tapi dia pesimis tentang waktu, dia tidak mengatakan dua hari lagi kami akan menikah. Di saat itulah aku menjadi sosok yang plinplan. Naif. Aku kecewa karena Reza hilang keyakinan untuk menikahiku di hari yang sudah ia tetapkan, tetapi aku sendiri tidak mau melanjutkan pernikahan jika ia tidak kunjung bersikap tegas kepada Salsya.
"Jangan terlalu lama, Brother, perempuan butuh kepastian," ujar Ferdy, salah satu temannya.
Kurasa itu benar. "Yeah," timpalku. "Tidak ada perempuan yang suka berlama-lama dalam hubungan yang tidak jelas."
Semula aku ingin memperpanjang celotehanku, tetapi kuurungkan niatku karena Reza menatapku dengan sorot mata seolah berkata, "Sayang, ini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk mengucapkan hal bodoh."
Tetapi aku senang atas ucapan Ferdy, biar saja Reza merasa seperti ditabok plus dicubit-cubit hatinya. Biar dia terdorong supaya cepat-cepat membereskan urusan cinta lamanya yang seperti hantu. Memang benar, kan? Salsya itu seperti hantu. Memang secara fisik dia secantik cewek-cewek korea yang seringkali tampil di layar televisi. Tetapi sesungguhnya dia itu seperti hantu. Menyeramkan. Dia terus-terusan menghantuiku, bergentayangan dan meluluhlantakkan cinta yang baru kubangun bersama Reza.
Eh? Aku langsung menoleh ke sumber suara yang tidak asing itu. Zahra, dia menghampiri kami. Sebagai panitia penyelenggara acara itu, dia mempersilakan kami untuk duduk di kursi kehormatan. Kau tahu, kan, maksudku? Deretan kursi paling depan yang selalu dikhususkan untuk tamu yang dianggap sangat penting.
Saat itu aku sempat memerhatikan dengan sangat jelas -- cara Zahra menatap Reza, tatapan penuh cinta, sama seperti saat Reza menatapku. Tetapi anehnya, aku tidak cemburu sedikit pun, mungkin karena Zahra tidak seperti Salsya yang menghalalkan segala cara untuk memiliki Reza. Aku menghargai Zahra sepenuhnya. Aku menaruh hormat pada cinta yang tulus seperti cinta yang ia miliki.
"Ayo," kata Reza. Dia mengisyaratkan aku untuk berpaut di lengannya, berjalan di sisinya dengan mesra.
Well, kupaksakan diriku tersenyum. "Ini hanya demi menyelamatkanmu dari rasa malu," kataku. "Jangan berpikir kalau aku sudah memaafkanmu."
"Baiklah, Calon Istri. Apa pun katamu, tidak masalah."
Menyebalkan! Sok manis!
Kami pun berjalan bergandengan, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku duduk dengan gugup dan cemas. Sebelum ini, aku belum pernah berada di antara orang-orang berkasta tinggi. Aku mah siapa atuh?
Acara syukuran itu diselenggarakan di halaman yang cukup luas, di depan bangunan utama panti asuhan. Seperti yang dikatakan Reza, itu bukan acara formal, hanya acara syukuran biasa yang diselenggarakan setiap tahunnya, setiap tanggal satu April -- hari berdirinya panti asuhan sekaligus hari ulang tahun ibunya Reza, yang juga menjadi hari ulang tahun anak-anak yang tidak memiliki identitas sewaktu dititipkan di sana.
Khusus tahun ini, karena mereka -- semua orang yang selama ini berhubungan dekat dengan keluarga Dinata, orang-orang yang baru saja kehilangan sosok wanita yang berharga bagi mereka -- jadi khusus tahun ini acara diisi dengan pidato-pidato yang mengesankan dari orang-orang yang menyayangi sosok Ratna Dinata. Mereka menyampaikan sepatah-dua patah kata. Setiap orang yang maju untuk berbicara memberikan interpretasi pribadi yang sedih, tentang garis besar kehidupannya dan hal-hal apa saja yang menjadikan almarhumah istimewa.
Sejujurnya aku tidak terlalu menaruh perhatian pada pidato-pidato itu, sebab perhatianku terfokus pada Reza, meskipun yang mereka sampaikan adalah hal-hal yang indah, tetapi itu tetaplah terlalu pedih untuk didengarkan dengan sungguh-sungguh tentang semua kenangan itu. Terutama bagi Reza, anak semata wayang yang kini hidup sebatang kara. Di saat-saat itulah, dengan mata yang berkaca-kaca, Reza meraih tanganku, jadilah tanganku yang mungil itu terselubung dalam genggaman tangannya. Dan berhubung dalam keadaan yang seperti itu, aku tidak sampai hati menarik tanganku darinya, entah terpaksa atau tidak, yang pasti aku membiarkannya. Dan, di saat itu juga Kayla mengirim pesan messenger kepadaku.
》Sebagai calon istrinya, harusnya Salsya yang ada di sana, duduk di samping Reza. Bukan wanita lain.
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang, kulihat Salsya dan Kayla ada di sana, di barisan paling belakang. Tampaknya mereka baru saja datang.
"Kenapa?" Reza bertanya kepadaku, sesaat setelah aku celingak-celinguk melihat ke belakang.
"Kayla mengirim pesan messenger," kataku. Dengan sengaja kusodorkan ponselku. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Reza menanggapi hal itu.
"Tidak usah digubris. Mereka hanyalah tamu yang tak diundang," katanya. Kemudian dia menyimpan ponselku ke dalam saku kemejanya. "Akan kukembalikan nanti setelah kita pulang."
Yeah, segitu juga lumayan, daripada dia mengikuti kemauannya Kayla untuk menukar tempatku dengan Salsya. Sungguh, tidak bisa kubayangkan jika itu sampai terjadi. Malu!
Setelah semua orang selesai dengan pidatonya, acara berikutnya adalah doa bersama yang dipimpin oleh seorang lelaki tua, mungkin usianya lebih dari enam puluh tahun. Aku pernah melihatnya di malam takziah waktu itu, dan aku baru tahu belakangan ini kalau orang itu adalah ayahnya Zahra. Tanpa perlu bertanya atau menelaah lebih dalam, hanya dengan melihat penampilannya saja kau akan tahu kalau dia adalah seorang kiai. Hatiku iri, pastilah Zahra sangat bangga memiliki ayah seorang kiai. Wajar saja Zahra bisa sesalehah itu, pikirku.
Rangkaian acara berikutnya adalah acara makan siang bersama. Makan siang dengan gaya prasmanan. Saat itulah Salsya menghampiri Reza, kami bahkan belum mengantre untuk mengambil makanan.
"Hai," sapanya. "Kamu di sini juga ternyata, Ra."
Aku hanya mengangguk.
"Iya," jawab Reza. "Amanah dari ibu, sebelum meninggal beliau menyampaikan permintaannya ke Nara."
Salsya manggut-manggut, mulutnya membentuk O bulat. Sementara aku terdiam dengan hati meringis. Sebenarnya terdengar istimewa karena mendapatkan amanah khusus dari ibunya supaya aku hadir dalam acara itu, tetapi mendengar Reza menyampaikan hal itu sebagai sebuah alasan: itu terdengar menyedihkan, seolah kehadiranku sama sekali bukan karena Reza -- bukan harapan dan keinginan Reza. Walau sebenarnya tidak begitu, aku tahu. Tetapi aku tidak bisa menepis kesan-kesan yang muncul bagi mereka yang mendengarnya.
"Oh ya, kamu harusnya istirahat, kok malah ke sini?" Reza bertanya pada Salsya.
"Baguslah kalau Mbak Salsya sudah sehat dan bisa masuk kerja hari ini," sela Erik. "Di belakang memang butuh tenaga tambahan. Mari Mbak, ikut saya."
"Apa-apaan, sih, kamu?" Kayla menimpali, dia marah pada Erik dan melotot padanya. "Apa kamu tidak tahu? Salsya itu--"
"Kay," potong Reza. "Jangan bawa-bawa urusan pribadi ke sini. Kalau Salsya masih belum sehat, kamu bisa mengajaknya pulang."
Kayla terdiam dan wajahnya langsung terlihat masam. Begitu pula dengan Salsya, aku tahu mereka tidak terima dengan sikap Reza, dan aku juga tahu Reza sengaja bersikap seperti itu untuk menjaga perasaanku. Aku sempat terharu, sedikit. Tetapi selebihnya -- keseluruhan adegan itu sangat memuakkan, adegan antara pelakor dan sang lelaki yang... kautahu dan kau bisa menilainya sendiri, Reza tidak sepenuhnya tegas terhadap Salsya.
"Lagi memikirkan apa?" tanyanya. Dia melihatku sedang melamun setelah Salsya dan Kayla enyah dari hadapan kami.
Aku mengedikkan bahu. "Aku sedang mengingat kebersamaan kita sewaktu kita di Bali, di kapal. Hidangan makanan dengan gaya prasmanan, seperti ini."
"Ingin melakukannya lagi? Seperti waktu itu, aku bersedia mengambilkan banyak makanan untukmu."
"Tidak mau," kataku sambil menggeleng. "Waktu itu aku bersenang-senang dengan calon suamiku. Kalau sekarang? Dengan siapa?"
"Terserah bagaimana menurutmu. Tapi kamu tetaplah calon istriku. Cepat atau lambat aku akan tetap menikahimu. Jangan berpikir kalau aku akan melepaskanmu."
Aku menatapnya tak suka. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tapi dia memosisikan aku dalam hubungan yang tak jelas. Hubungan yang kacau balau.
"Aku bukan budak yang bisa kamu perlakukan seenaknya," kataku.
"Siapa yang menganggapmu budak? Aku menganggapmu seperti ratu, dari sudut pandangku -- perlakuanku terhadapmu itu istimewa, bukan seenaknya."
"Terserah, bagaimana menurutmu saja," kataku. "Tapi omong-omong, hari ini kamu pasti senang dan merasa bangga, berada di antara tiga wanita yang mencintaimu di tempat dan waktu yang sama."
Dia menggeleng. "Sama sekali tidak. Satu-satunya tempat yang nyaman itu hanya di sisimu. Bersamamu."
__ADS_1
Aku tersenyum masam. Reza tak henti-hentinya bersikap manis. Tidakkah dia mengerti, aku sama sekali tidak merasa nyaman selama Salsya ada di antara kami? Seperti hantu yany terus bergentayangan.
Dia mengusik perasaanku. Aku muak.