
Sesuai kesepakatan, malam itu kami akan tinggal di mes resto. Ada dua kamar kosong bersebelahan, salah satunya adalah ruangan pribadi Reza saat ia berkunjung ke Surabaya. Ruangan itu diberikannya untukku. Ada satu tempat tidur dengan extra bed, satu sofa lengkap dengan meja kaca, satu lemari kecil terbuat dari kayu dengan sebuah lampu tidur di atasnya, dan sebuah televisi yang menempel di dinding persis di depan sofa, juga ada kamar mandi di samping pintu masuk.
Satu jam sejak aku masuk ke ruangan itu, aku hanya bengong atau sesekali melihat ponselku. Dapat ditebak jika mataku tak dapat terpejam sedetik pun. Bagaimana bisa jika pikiranku tertuju pada seseorang yang berada di balik dinding di sebelah kamar yang kutempati? Kami ada di tempat yang sama, dengan jarak yang dekat, tapi terhalang dinding yang seandainya bisa ingin kurobohkan dengan sebuah mantra sakti mandraguna.
Aha! Aku ingat mantra, eh bukan, maksudku lirik lagu Republik Sulap.
Aku lahir di negeri sulap - negeri sulap.
Aku besar di republik sulap - republik sulap.
Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja.
Dari tak ada hingga diada-ada.
Dari yang ada hingga tiada.
Bim salabim, bim salabim, abrakadabra.
Bim salabim, bim salabim, abrakadabra.
Ngedebuzzz...
Nihil! Tidak terjadi apa-apa. Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur.
Seketika terdengar suara Reza memanggilku dari luar, dia mengetuk pintu kamar berukuran lima kali lima meter itu. Yes! Sihirku berhasil.
Setelah pintu terbuka, Reza langsung menyodorkan dua paper bag kepadaku. Baju tidur dan baju ganti untuk besok katanya. Dia menyuruhku berganti pakaian supaya tidurku nyaman. Setelah itu dia mengucapkan selamat malam.
Baru beberapa langkah Reza berjalan dari tempatku, aku memanggilnya. Semacam ada dorongan yang membuatku berani melakukan itu, sebuah perasaan bahwa aku masih ingin menghabiskan waktu bersamanya. Dia pun berbalik dan bertanya kenapa. Tapi aku malah terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Agak hening beberapa saat, sampai dia mengulang lagi pertanyaan itu.
__ADS_1
"Mmm... aku mau kamu tidur di sini," kataku.
"Kamu takut? Di sini aman, Ra."
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu?"
Kutundukkan kepalaku sejenak. "Emm... kan kamu sendiri yang bilang kalau... kamu mau dua kali dua puluh empat jam bersamaku," aku berkata dengan malu-malu dan takut -- takut jika dia malah bepikir bahwa aku cewek murahan.
Pun Reza, bukannya langsung menjawab permintaanku, dia malah terdiam dan menundukkan pandangannya -- sesaat kemudian, barulah dia menatapku. "Mmm...," gumamnya.
"Ya sudah kalau tidak mau." Cepat-cepat aku masuk lalu menutup pintu sedikit keras. Dengan kecewa bercampur rasa malu, kusandarkan tubuhku di belakang pintu.
Sejenak kemudian, dia mengetuk pintu yang baru saja tertutup, dan langsung menyelinap masuk saat pintu itu terbuka. "Ya sudah kalau kamu memaksa. Kamu lo, ya, yang memaksa."
"Dempetan atau pakai jarak?"
Aku mengedikkan bahu. "Terserah kamu."
"Kalau terserah aku, ya sudah, tidak usah diturunkan," sahutnya, dia tersenyum nakal.
Aku masuk ke kamar mandi, mencuci muka, gosok gigi, dan berganti pakaian. Sementara Reza sudah membuka kemejanya dan berganti kaus lengan pendek saat aku keluar dari kamar mandi. Aku tidak bisa melihat apakah dia berganti celana atau tidak karena dia sudah meringkuk ke dalam selimut, di atas bed di samping tempat tidurku. Tempat tidur kami tanpa jarak, hanya saja tempat tidurku lebih tinggi beberapa senti. Saat itu Reza belum tidur. Dia sedang menonton tayangan di televisi, tentang promo hunian mewah nan elite.
Aku naik ke tempat tidur, lalu bersandar ke dinding dengan bantal di belakangku. Aku lebih suka bermain ponsel daripada menonton tayangan-tayangan televisi.
Aku tidak menyadari kapan Reza mematikan televisi itu. Saat aku sadar ternyata dia sedang memandangiku dalam diam. Ketika aku melihatnya, dia mengisyaratkan supaya aku bergeser mendekatinya. Jika saja aku tidak mengontrol diri baik-baik, rasanya aku ingin lebih dari sekadar bersama, lebih dari bersentuhan tangan, dan lebih dari sekadar berpelukan. Kupikir dia pun menahan hasrat yang sama. Mungkin.
Aku bergeser ke sisi tempat tidur, mendekat padanya, seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik, begitulah keinginan kami untuk saling mendekat. Dan seperti biasanya, dia sangat suka menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
"Belum ngantuk?" tanyanya memulai obrolan.
Aku menggeleng. "Belum," kataku.
"Aku mau tanya tentang sketsa rumah waktu itu, inspirasinya cuma dari film dan novel, apa juga dari tayangan-tayangan seperti yang barusan tayang di tv? Kalau dari film, film apa? Aku suka desainmu."
Aku membetulkan posisi, supaya lebih nyaman bercerita. "Mmm... kalau rumahnya itu cuma dari film dan novel. Seperti yang kuceritakan kemarin itu, roof top di lantai empat dari novel. Kalau lantai tiga itu keinginanku sendiri, ruang baca semacam perpustakaan tempat buku-buku dan karya-karya fiksi, tempat nonton layar lebar, tempat karaoke, sekaligus galeri foto, ada di satu ruangan yang sama. Kalau lantai dua juga keinginanku sendiri, ada ruang keluarga dan kamar tidur, jadi sebelum tidur kumpul dulu, kumpul keluarga. Kalau lantai bawahnya umum, ruang tamu, kamar tamu, dapur, meja makan. Khusus dapurnya itu ala bar, dapur terbuka yang menyatu dengan ruang makan. Cuma disekat dengan meja panjang seperti meja bar. Paham, tidak? Paham, dong, ya?"
Reza mengangguk, artinya dia serius menyimak dan memahami maksudku. "Halaman depan dan halaman belakangnya, bagaimana? Terus, kalau ada banyak kamar, ada banyak kursi dengan meja makan yang besar, itu alasannya apa?" tanyanya penasaran.
"Halaman depan dan halaman belakang yang penting asri, hijau, banyak tanaman, kolam-kolam batu. Kalau meja ala bar inspirasinya dari rumah dr. Alif, dalam Assalamualaikum Calon Imam versi series. Terus kalau kenapa ada banyak kamar, supaya bisa menampung keluarga besar kalau ada yang menginap. Begitu juga meja makan yang besar dan banyak kursi, itu juga untuk menyambut banyak keluarga yang datang. Aku kan punya keluarga besar, keluarga inti keturunan kakek dan nenek, keluarga dari saudara nenek, juga keluarga dari saudara kakek. Ini yang kumaksud kakek dan nenek orang tua Bunda, ya," jelasku, kemudian aku menoleh.
Reza terlihat termenung setelah mendengar jawabanku. Seperti ada yang salah dengan kata-kataku. Aku pun meminta maaf dan bertanya kenapa. Dia hanya menjawab bahwa aku beruntung karena punya keluarga besar, tidak seperti dia yang hanya berdua dengan ibunya. Katanya dulu ibunya besar di panti asuhan, tidak punya keluarga sama sekali. Sedangkan dari pihak ayah kandungnya, dia tidak mengenal siapa pun. Begitu pun dengan ayah sambungnya, yang tidak pernah mengenalkan keluarganya pada Reza dan ibunya, bisa jadi karena memang juga tidak punya keluarga. Saat itu aku melihat kesedihan dari kedua matanya, kesedihan sekaligus rasa rindu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Yang sebenarnya kita inginkan itu bukan keluarga yang besar, tapi keluarga yang utuh. Itu yang tidak pernah kita miliki di masa lalu. Dan itu yang membuat kita selalu merasa bahwa hidup kita ini tidak sempurna."
Seperti magic, raut wajahnya langsung berubah ceria. "Kita bisa memiliki itu di masa depan. Kamu dan aku," ucapnya seraya menolehku. "Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan setia untukmu. Dan anak-anak kita tidak akan merasakan apa yang papa dan mamanya rasakan. Aku janji," ujarnya, seolah bicara dengan bara api yang menyala saking semangatnya.
"Papa mama?" tanyaku dengan ekspresi bersemu.
Reza mengangguk. "Iya, papa dan mama. Aku papanya, dan kamu mamanya." Dia langsung tertawa kecil, dan nampak membayangkan apa yang baru saja ia ucapkan.
Aura kesedihan yang baru saja tercipta tiba-tiba langsung hilang seketika, berganti rasa kebahagian. Harapan besar jelas terpancar dari matanya. Malam itu kami membahas sesuatu yang belum pernah kami bahas sebelumnya, tentang impian-impian Reza, tentang pernikahan, hubungan cinta suami dan istri, tentang anak-anak yang lucu, yang memanggil kami papa dan mama. Dia ingin memberikan nama Dinata di belakang nama mereka. Entah sihir apa yang dilakukannya padaku, aku malah ikut-ikutan menanggapi semua yang menjadi impiannya itu.
"Kira-kira, nanti anak-anak kita setampan kamu, tidak, ya?"
Dia menatapku. "Tentu. Malah akan lebih tampan daripada Reza Rahadian. Kalau mereka perempuan, mereka pasti akan secantik kamu. Iya, kan, Ma?"
Hah! Dia membuatku jadi salah tingkah. Belum apa-apa sudah memanggilku mama.
__ADS_1