
Setelah menjalani operasi selama beberapa jam, Reza belum sadarkan diri dan masih harus terbaring di ruang ICU. Sejumlah alat bantu pernapasan dan beberapa selang masih terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Sementara aku hanya bisa melihatnya dari luar -- dari balik kaca ruang ICU. Sebenarnya waktu itu Alfi menyuruhku ikut Mayra pulang, tetapi aku tidak mau. Aku ingin menemani Reza setiap detiknya, setiap detik yang ia miliki.
Reza baru tersadar pada keesokan harinya, menjelang siang. Kelegaan dan kebahagiaan langsung merasuki sukmaku. Akhirnya aku dan Alfi bisa bernapas lega karena Reza sudah melewati masa kritisnya, meski hanya tersadar sebentar dan belum bisa diajak bicara, sebab kerongkongannya sakit.
"Kamu sudah bangun, Mas." Aku berkata saat melihat mata Reza sudah terbuka, beberapa jam setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan.
Dia mengerjapkan mata. "Sudah dari tadi," sahutnya. Suaranya serak, hampir tidak bisa kudengar.
"Maaf, ya. Aku tidak tahu." Aku yang masih terselubung mukena langsung menghampiri dan duduk di sampingnya. Kuraih dan kuciumi tangannya dengan segenap jiwa. "Kamu membuatku takut," kataku sambil terus memegangi tangannya dan menaruhnya di pipiku.
Dia berhasil menyinggingkan senyum. Sedikit. "Jangan menangis. Aku baik-baik saja," katanya sambil mengusap lembut pipiku dengan jemarinya. "Tapi aku haus."
"Kamu mau minum? Sebentar." Entah kenapa aku jadi ikut bersuara pelan, seakan aku juga merasakan semua yang ia rasakan. Aku pun mengambilkan air dan membantunya minum.
Sesaat kemudian, setelah aku menaruh kembali gelas itu ke atas meja, aku membuka dan menaruh mukenaku, di saat itulah Reza tersenyum -- senyumnya hangat dan matanya berbinar, seperti biasanya. "Aku senang mendengar kamu mengaji. Menenangkan," tuturnya.
Aku balas tersenyum, kendati rona merah yang kutahu berpendar dari pipiku. "Kamu memujiku? Terima kasih." Aku pun kembali duduk di sampingnya. "Tapi Dinata kecil tetap harus belajar mengaji dari kamu."
Alisnya terangkat. "Kenapa?" tanyanya.
"Sebab dia -- maksudku mereka, sebab mereka punya ayah. Itu akan membuat mereka menaruh rasa hormat yang besar padamu sebagai seorang ayah."
Reza mengangguk lagi, lalu melirik selang yang mencuat dari tangannya. "Sudah berapa lama aku di sini?" tanyanya, dia memilih untuk tidak melanjutkan obrolan yang menjurus ke sana -- tentang sosok seorang ayah.
"Beberapa jam di ruangan ini, dan hampir dua puluh empat jam di rumah sakit. Jadi, bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?"
Dia refleks mengangkat bahu. "Aku--" Kata-katanya terputus, dia meringis merasakan sakit yang menjalar dari luka bekas tusukanku hari itu.
Dan aku sangat merasa bersalah. "Jangan banyak bergerak, Mas," kataku.
Dia mengerjapkan mata perlahan sebagai ganti anggukan kepala. "Lukaku terkena pukulan, benar-benar sakit," katanya. "Aku jadi lengah, salah satu dari mereka akhirnya punya kesempatan menusukku."
"Mereka siapa?"
"Entahlah. Aku tidak tahu."
"Kenapa mereka menyerangmu?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti mereka bukan perampok."
__ADS_1
Tercengang, kubuka mulutku untuk menyahut. "Jadi?"
Reza menggeleng dan menundukkan pandangannya. "Sepertinya mereka memang mau membunuhku."
Ya Tuhan. Aku menatapnya dengan kebingungan, panik dan cemas pun menyergap bersamaan. Sekonyong-konyong rasa ngeri melintas di otakku, aku bahkan tidak berani membayangkan melihat sosok Reza terbujur kaku tak bernyawa. Seberapa kali pun aku menganggap kami putus, ternyata aku tidak pernah benar-benar beranggapan bahwa aku telah kehilangan dirinya.
"Kurasa mereka hanya orang bayaran. Siapa yang menyuruh, aku tidak tahu. Yang pasti mereka berlima, bertopeng dan berpakaian serba hitam."
Ini parah sekali -- sudah cukup yang kudengar. Aku merebahkan kepalaku ke dadanya. "Maafkan aku, ya? Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Ini tidak seharusnya terjadi."
Kurasakan tangannya menyentuh kepalaku, lalu ia mengelus kepalaku dengan lembut. "Bukan salahmu. Lagipula sekarang aku baik-baik saja. Kedepannya, aku pasti akan lebih berhati-hati," katanya menenangkan.
Setelah itu dia menanyakan ponselnya. Katanya dia mau menelepon ibuku untuk meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang sesuai janjinya.
"Aku sudah menelepon Bunda, kemarin," kataku. "Aku bilang kalau aku tidak bisa pulang karena aku harus mengurusmu di rumah sakit."
Yap, aku tidak menceritakan keadaan Reza yang sebenarnya, apalagi tentang peristiwa penusukan itu pada ibuku, aku tidak ingin ia khawatir mendengarnya, bisa-bisa ia akan mencemaskan aku, lalu menyusulku ke Bogor atau bahkan memintaku untuk segera pulang ke Jakarta.
Beberapa saat kemudian aku menelepon Alfi, menyampaikan kabar tentang keadaan Reza. Alfi langsung bersyukur dan memintaku menjaga Reza baik-baik. "Aku sudah kirim beberapa orang untuk berjaga di sana. Kalian tidak usah cemas," katanya.
Aku bahkan belum menceritakan apa yang dijelaskan Reza kepadaku. Tetapi apa yang baru saja dikatakan oleh Alfi -- seolah dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh, ok. Thanks."
"Em. Sama-sama."
Jelas, Alfi hanya menghindariku supaya aku tidak bertanya-tanya kepadanya. Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka mengincar nyawa Reza? Atas perintah siapa? Apa yang sudah dilakukan Reza sampai ada orang yang mengincar nyawanya?
"Sayang?" Reza memanggilku dan aku langsung menoleh. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku tadi menelepon Mas Alfi. Dia mengirim orang untuk berjaga di luar."
"Oh, Alfi memang seperti itu, dia selalu waspada, antisipasi bencana susulan," katanya, diiringi cengirannya yang khas.
Huh! lelucon yang konyol. "Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Tapi sepertinya Mas Alfi sudah tahu kalau ini..."
"Pembunuhan berencana?"
Aku mengangguk, menelan ludah. Aku bahkan bingung apa yang kurasakan saat itu.
__ADS_1
"Jadi, apa yang membuat ekspresimu mendadak aneh? Kamu takut?"
Takut? Itu sudah pasti -- jelas aku takut, takut kalau orang-orang itu terus mengincar nyawa Reza. Tetapi yang kupikirkan saat ini bukan tentang itu.
"Kamu... sori." Aku bingung sendiri merangkai kalimat atau melontarkan pertanyaan yang sekiranya "tepat."
Reza berdeham. "Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku... aku mau bertanya. Maksudku, emm... apa ada sesuatu yang tidak kuketahui? Mungkin kamu punya musuh? Atau kamu pernah menyakiti hati seseorang sampai orang itu menaruh dendam?"
Ah, aku sudah berpikir terlalu jauh.
Reza menatapku sambil menggeleng, tapi senyumnya tetap mengembang santai. "Seingatku tidak pernah dan aku tidak punya musuh, kecuali Dan. Aku hanya pernah berkelahi dengannya."
Dan? Tidak. Pasti bukan dia. "Dan di sel tahanan. Beberapa hari lalu dia terciduk saat transaksi narkoba. Aku membaca beritanya di laman fb. Pasti bukan dia."
"Aku juga tidak menuduhnya."
Nah, aku bertambah heran. "Jadi, kenapa?" Kualihkan pandanganku ke arah pintu, seolah mataku bisa menembus pada orang-orang yang berjaga di luar sana. "Apa ada hal lain yang belum kuketahui tentangmu? Tentang profesi rahasiamu?"
"Come on... apa maksudmu?"
Ya Tuhan, dia pura-pura tidak mengerti.
"Aku hanya sedang mencari pembenaran, Mas. Mana tahu -- mungkin kamu seorang detektif, mafia, atau kamu punya bisnis ilegal, jadi kamu punya banyak musuh. Mungkin saja."
Well, Reza mengeluarkan tawa senewen. "Ayolah, aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya seorang pengusaha restoran. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya itu."
Aku mendesa* keras. Meski otakku belum bisa mencerna semuanya, tapi kurasa sudah cukup. Aku sedikit lepas kendali, sudah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaanku yang... kau pasti tahu maksudku.
"Kamu terlalu banyak berpikir, kebanyakan nonton film, dan keseringan baca novel," katanya, lalu ia menjawil pipiku.
Aku ingin tersenyum, tapi rasanya bibirku kaku walau hanya untuk mengembangkan sebuah senyuman kecil. "Aku terlalu cinta, dan takut kehilangan," kataku tanpa malu, tanpa gengsi sama sekali.
"Aku tahu. Jangan khawatir. Lusa kita akan menikah. Kita akan saling memiliki selamanya." Reza berkata dengan antusias, wajahnya pun langsung berubah ceria.
Sementara aku?
Aku kembali meneteskan air mata. Aku tidak bisa menjelaskan kepadanya tentang kondisinya yang baru saja dioperasi akibat penusukan yang juga melukai organ dalamnya. Keadaan itu tidak memungkinkan baginya untuk segera pulang.
__ADS_1
Apalagi untuk melangsungkan pernikahan.