
Sehari setelah aku mengacaukan acara lamaran itu karena melihat kedatangan ayahku, ibu Reza, Ratna Dinata, mampir dengan mendadak. Mereka tidak pulang ke Bogor, tapi menginap di mes restoran di Jakarta Utara.
"Nak, kamu ikut Ibu. Kita akan makan siang bersama," katanya. "Hanya kita berdua. Reza tidak diundang."
Dia mengajakku ke sebuah restoran yang menyediakan masakan khas Palembang, tidak jauh dari rumah Ihsan. Di meja-mejanya ada botol-botol berisi kapal-kapalan. Dulu aku sering melihatnya di Palembang. Sambil minum teh yang beraroma melati, dan makan nasi putih dengan lauk pepes ikan patin yang dicampur dengan tempoyak, olahan buah durian yang dipermentasi, ibu Reza berkata dia cemas tentang keadaanku. Dia bertanya apakah aku ingin bicara tentang ayahku. Katanya dia bisa melihat bahwa aku sangat membenci ayahku -- sebenarnya siapa pun yang punya I.Q. di atas rata-rata juga pasti bisa melihatnya. Maka aku menceritakan padanya tentang masa kecilku yang "bahagia" di Palembang. Aku bicara banyak daripada yang kuceritakan pada Reza. Dia mencoba membujukku supaya tidak menyimpan dendam terhadap ayahku. Katanya itu cuma membuang-buang energi saja.
"Ayahmu punya alasan atas apa yang dia lakukan, dan ibumu juga punya alasan atas keputusannya. Dan kalaupun kamu tidak sependapat dengan alasan-alasan itu, itu tidak berarti mereka orang jahat yang tidak sayang padamu."
Kutanya padanya bagaimana perasaannya dulu tentang mantan suaminya yang sudah meninggal. "Apakah Ibu memaafkannya sebelum dia meninggal?"
__ADS_1
"Dulu Ibu marah dan membencinya. Tapi, setelah bercerai dan Ibu pergi dari sana, Ibu merasa Ibu sudah bebas. Ibu tidak tahu apa Ibu sudah memaafkannya waktu itu, tapi Ibu sudah bisa berdamai dengan kenyataan. Ibu pernah bertemu dengannya setelah bercerai, dan semuanya biasa saja, Ibu tidak menaruh kebencian saat itu. Tapi yang benar-benar Ibu sadari, Ibu memaafkannya setelah dia meninggal. Ibu merasa tidak berhak menghakiminya setelah kepergiannya."
Aku mengangguk. "Mas Reza juga mengatakan hal yang sama seperti yang Ibu katakan. Dia bisa keluar dari belenggu masa lalunya," ujarku.
Seperti itu juga Ihsan, dia hanya tidak menganggap ayah kami sebagai ayahnya, karena dia tumbuh besar tanpa sosok ayah, jadi dia menganggap dia terlahir tanpa ayah, atau dia sudah yatim sejak dalam kandungan. Mungkin masih ada rasa sakit hati, tapi tidak berwujud rasa benci dan dendam sepertiku.
"Yah, Ibu bangga kalau melihat Reza saat ini. Ibu tidak tahu apakah dia akan menjadi seperti sekarang seandainya ayah kandungnya menjadi bagian dari hidupnya, dan Ibu tidak ingin Reza berubah. Semua yang terjadi itu pasti ada alasannya. Ibu percaya itu. Ibu jelas menganggap bukan suatu kebetulan Reza bertemu denganmu. Kalian bisa saling melengkapi satu sama lain. Ibu tidak tahu apa yang membuatnya begitu mencintaimu. Tapi, Ibu bisa melihat dengan jelas kalau dia sangat ingin membahagiakanmu. Semenjak ada kamu, Reza seperti menemukan tujuan dalam hidupnya." Dia berkata sambil menumpangkan satu tangannya pada tanganku.
"Ibu paham dengan luka yang ada di dalam hatimu, tentang semua kemarahan dan kebencianmu. Tapi kamu harus bisa belajar menahan diri, karena pertemuan-pertemuan itu sewaktu-waktu pasti akan terjadi, dan tidak mungkin selalu bisa kamu hindari. Emm... misalnya, nanti sewaktu kamu dan Reza menikah, ayahmu datang. Nah, apa kamu akan lari lagi? Lari seperti sebelumnya? Lari dari ayahmu yang artinya lari dari tempat di mana kamu akan menata hidupmu yang baru? Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri? Kamu paham maksud Ibu?"
__ADS_1
Kuanggukkan kepala sekali lagi. "Nara paham," sahutku. "Emm... Ibu... masih mau menerimaku?" tanyaku dengan ragu-ragu, karena aku harus memastikan langsung bagaimana tanggapan calon ibu mertuaku itu.
"Hubunganmu dengan ayahmu itu ada alasan yang bukan wewenang Ibu untuk memberikan penghakiman. Bagi Ibu, selagi Reza bahagia bersamamu sebagai wanita pilihannya, Ibu akan menerimamu, apa adanya dirimu. Yang penting... kamu selalu mencintai dan menemani Reza, selamanya."
Reza dan ibunya adalah sosok yang gampang merelakan masa lalu. Andai aku bisa seperti itu. Mudah saja mengatakan bahwa kita hanya perlu sedikit memaafkan, tetapi sejak dulu aku sulit menerima konsep memaafkan. Pertama-tama, orang memerlukan iman supaya bisa memaafkan, dan rasa-rasanya aku hanya punya sedikit sekali iman. Kedua, mengapa harus memberi maaf pada orang yang telah melukaimu begitu dalam? Maksudku, secara teori memang bagus. Kalau seseorang datang terlambat lima belas menit untuk acara makan malam, atau meminjam mobilmu dan ternyata waktu dikembalikan ada penyok-penyoknya, okelah, itu masih bisa dimaafkan.
Tetapi, tentu ada batasnya, berapa lama kita akan membiarkan saja orang yang sudah sangat kelaparan, sebelum orang itu menggigit putus kaki kita? Kalaupun aku memutuskan untuk memaafkan ayahku, dan kami menjadi teman baik, bisakah itu menghapuskan tahun-tahun ketika dia bersenang-senang dengan perempuan-perempuan tak berharga dan bukannya tinggal di rumah, bermain dan bercanda denganku? Membantuku mengerjakan PR atau kegiatan-kegiatan domestik lainnya? Kusimpulkan aku perlu mengalami amnesia dulu kalau kepingin dekat dengan ayahku setelah dia menyia-nyiakan masa kecil dan masa remajaku.
"Dulu sebelum ada Mas Reza, aku ingin seperti salah satu tokoh film televisi, yang kepalanya kena hantaman batu besar, cukup keras sehingga membuatku pingsan selama beberapa bulan, atau mungkin bertahun-tahun, sehingga waktu aku siuman kembali aku tidak akan ingat apa-apa. Lalu, waktu aku tersadar, para perawat akan menceritakan betapa ayahku terus mendampingiku siang-malam, membacakan kisah cinta dalam dongeng sambil menggenggam tanganku, dan berusaha menahan tangis. Setelah aku diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, kami semua akan berangkat ke pantai yang berangin sepoi-sepoi, untuk duduk bersantai dan bermalas-malasan memakai sandal jepit. Kami akan memanggang seafood, berbagai macam daging, jagung, juga sosis, saling berangkulan, dan berceloteh tentang betapa beruntungnya kami memiliki keluarga yang begitu hangat dan penuh cinta."
__ADS_1
Aneh rasanya bicara begitu terang-terangan pada ibunya Reza. Aku berharap dia tidak menilaiku sekadar mencari perhatian dan sok menjadi orang yang paling tertindas.
"Jangan menyesali semua yang sudah berlalu. Pikirkan bahwa kamu bisa menebus semuanya di masa depan, masa depan bersama Reza. Dan kamu tidak akan pernah menyesal menerima Reza untuk menjadi teman hidupmu," ujarnya seraya menyentuhkan telapak tangannya di pipiku. "Percaya, Reza mencintaimu sebesar dia mencintai Ibu."