Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Tragedi


__ADS_3

Reza tidak melonggarkan cengkeraman tangannya sedikit pun. Kami berhenti sejenak di sudut sana, dia menangkup wajahku dan menghapus air mataku.


"Jangan memperlihatkan air mata ini di depan orang-orang," katanya. "Biarkan dunia tahu bahwa kamu adalah wanita yang paling bahagia dan paling beruntung sedunia."


Sebal, aku melotot. "Beruntung apanya? Hmm? Kamu membuatku menangis ke sekian kalinya, itu yang kamu bilang beruntung?"


"Tolong... tahan emosimu, ya? Kita cari tempat yang nyaman untuk bicara," dia berkata sepelan mungkin.


Sejenak kemudian ia menghapus air mataku sampai tuntas dan kembali menarikku menuju parkiran.


"Tante...," teriak Khiara. Dia berlari ke arahku. "Tante habis menangis, ya?"


Oh Tuhan, praktis aku mengusap mataku. "Menangis? Kok Khiara tahu?" Aku duduk berjongkok di depan gadis kecil itu. Aku tidak bisa mengatakan tidak, aku tidak mau berbohong pada anak kecil, apalagi sampai menjadi contoh bagi mereka.


"Mata Tante melah," sahutnya.


"Iya deh Tante mengaku, Tante tadi memang menangis."


"Memangnya Tante kenapa? Dimalahin Oom Leza, ya? Oom Leza jahatin Tante?"


Hmm... gadis kecil ini, aku spechless dibuatnya. Reza malah nyengir kesenangan, seolah sedang menonton tayangan sitkom kesukaannya.


"Tidak," kataku sambil menggeleng.


"Gala-gala aku minta sepeda ke Tante, ya?"


"Bukan, bukan gara-gara Khiara, kok. Pokoknya soal sepeda nanti Tante bujuk Oom Reza. Tapi Tante harus pulang dulu. Oke?"


Kembali riang, Khiara tersenyum. "Oke, Tante. Oom Leza jangan malahin Tante lagi, ya? Oom Leza jangan nakal. Janji?"


"Iya, Oom janji," Reza menyahut.


Aku pun nyengir melihat mereka berdua menautkan kelingking satu sama lain. Sejenak kemudian Reza menyuruhnya masuk dan Khiara langsung menurut.


"Am I missed something?" Alisnya terangkat bersamaan dengan gelombang lipatan muncul di keningnya.


Aku mengangguk. "Anak-anak kepingin punya sepeda," kataku. "terutama Khiara. Kamu...."


"Oke," sahutnya cepat tanpa bertanya atau menunggu aku menyelesaikan kata-kataku. Aku tahu, dia sudah paham maksudku. "Nanti kita belikan mereka sepeda, ya. Tapi sekarang kamu ikut aku, kita cari tempat untuk bicara."


Kami pun masuk ke mobil. Reza sudah siap di belakang kemudi dan mulai menstarter mobilnya.


"Tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu tempat yang bagus. Bahkan kita bisa mengobrol di dalam mobil, yang terpenting itu kualitas obrolannya -- solusi masalah kita," ujarku dengan menatap tajam kedua matanya.


Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Terkadang kamu menyeramkan," katanya.


"O ya? Lebih menyeramkan mana dibanding masa lalumu yang selalu menghantuiku?"


Untungnya dia hanya tersenyum dan tidak menyahut. Kalau tidak, aku pasti semakin jengkel.


Reza memarkir mobil di depan sebuah minimarket. Dia menawariku untuk ikut masuk ke minimarket, tetapi aku menolak. "Oke, kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Dan, ya, ponselmu masih ada padaku, tetap di sini kalau kamu masih menginginkannya."


"Aku tidak suka diancam," kataku. Aku tidak bilang iya ataupun oke, tetapi aku juga tidak ingin membantahnya.


Reza pun turun sendiri dan masuk ke minimarket. Ketika dia keluar, dia hanya menenteng plastik berisi dua cup besar es krim rasa cokelat. Dia memberikan satu untukku.


"Mas, soal sepeda untuk anak-anak, mungkin kamu bisa jual perhiasan yang kemarin kamu beli untuk Ibu. Ibu pasti senang kalau kamu membuat senang anak-anak di panti. Tapi terserah kamu, itu hanya pendapatku saja." Aku berkata sehati-hati mungkin.

__ADS_1


Reza menggeleng. "Kita tidak perlu menjual perhiasan itu," sahutnya. "Yang pasti, aku berjanji aku akan membelikan sepeda untuk mereka."


"Oh, oke." Aku mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke es krim di tanganku.


Sesaat kemudian, Reza mencoleti wajahku dengan es krim miliknya, es krim itu mengenai ujung bibirku. Aku tahu apa maksudnya melakukan itu, aku tahu apa yang hendak ia lakukan, ia hendak bermesraan denganku seperti hari itu.


"Aku kangen sekali padamu," katanya.


Tetapi aku diam saja, tidak berkomentar sama sekali, kubiarkan Reza melakukan apa yang dia mau, kubiarkan dia membersihkan es krim itu dengan mulutnya, sampai dia mencium dan meluma* bibirku dengan lembut. Mungkin dia berharap kalau aku bereaksi sama seperti waktu itu, membalas ciumannya -- memberikannya kenikmatan yang sama. Jangan bermimpi.


"Jangan bersikap seolah kamu tidak merasakan hal yang sama. Aku tahu kamu juga kangen," ucapnya lirih di telingaku, dengan kening bertumpu di sisi kepalaku dan tangannya berpaut di leherku.


Aku juga kangen. Hatiku yang nelangsa ingin menjerit, tapi ego menahanku. Aku tidak menggerakkan kepalaku, tidak sedikit pun. "Kita sudah putus," kataku.


Reza melepasku, ia kembali duduk bersandar di kursi pengemudi dan membuang muka. "Itu menurutmu."


"Well, kalau begitu kamu selesaikan semuanya. Bersikaplah tegas pada Salsya, lalu kita menikah. Terserah kalau dia mau bunuh diri. Gampang, kan?"


Reza menarik napas panjang, lalu menatapku. "Sayang, ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan," katanya. "Aku tidak mau seseorang mati karena aku."


"Bukan kamu yang membunuhnya."


"Tetap saja, aku yang menjadi alasan--."


"Kalau begitu kita yang putus."


"Sayang...."


"Aku mundur."


"Tapi aku tidak mau."


"Tolong, jangan korbankan hubungan kita."


"Kamu -- kamu yang mengorbankan hubungan kita, bukan aku."


"Aku tidak ingin putus. Tidak akan pernah," katanya, suaranya melemah.


Reza meraih tanganku lalu menunduk -- memohon dengan menciumi tanganku. Andai kami tidak berada di dalam mobil, mungkin dia akan bersujud di kakiku. Aku ingin sekali menyentuh dan membelainya, ingin kukatakan dia tidak perlu seperti itu -- tidak perlu memohon sampai seperti itu, seperti menyembah kepadaku.


"Apa ada solusinya?" tanyaku, dengan sedikit menurunkan egoku.


Reza mengangkat wajahnya. Matanya merah dan berkaca-kaca. "Kamu mau mendengarku?"


"Mau mendengar, belum tentu aku akan setuju."


Dia kembali menarik napas panjang, lalu tersenyum samar, tetapi aku masih bisa melihatnya. "Aku sudah bicara pada Salsya, dan sudah merundingkan dua hal. Pertama, aku berhasil membuat dia yakin kalau aku akan benar-benar menikahinya setelah dia melahirkan. Kedua, aku sudah mengatakan kepadanya, kalau aku akan tetap menikahimu, kamu akan tetap menjadi yang pertama untukku."


Aku menatapnya, menggelengkan kepala dengan muak. "Aku tidak mau dimadu dan tidak sudi kamu duakan."


"Tidak akan," ujarnya. "Karena itu tadi aku mengajaknya ke ruang bayi. Aku berharap naluri keibuannya terpanggil, supaya dia bisa mencintai bayinya. Aku berharap dengan begitu dia akan berpikir panjang, dan tidak akan berpikir untuk bunuh diri lagi."


Ya Tuhan, aku bukannya orang yang suka berburuk sangka. Tapi aku punya sudut pandangku sendiri terhadap Salsya, sudut pandang sesama orang gila. "Bagaimana kalau dia masih mengancam untuk bunuh diri?"


"Kita coba ingatkan dia pada anaknya." Hanya itu jawaban yang diutarakan oleh Reza. Benar-benar naif.


Aku kembali menatapnya dengan muak, betapa naifnya dia saat itu. "Kamu mengkhawatirkan dia, tapi aku mengkhawatirkanmu. Sikapmu yang cemen ini membuat orang bisa dengan mudah memanfaatkan dirimu."

__ADS_1


Aku diam sejenak, meredamkan emosiku. Kulihat es krim yang belum sempat dimakan itu sudah mencair.


"Apa yang akan kamu lakukan seandainya Salsya membawa seorang penghulu, sementara satu tangannya memegang pisau tajam yang siap menusuk perutnya?"


Reza menatapku tanpa suara, matanya sendu. Aku tahu pertanyaan itu membuatnya serba salah, dia bingung hendak menjawab apa. Dia tidak mungkin menjawab A, sementara jawaban B jelas-jelas akan menambah luka di hatiku.


"Aku tahu kamu tidak akan bisa menjawab. Kamu pengecut," kataku.


"Mungkin Salsya tidak akan berpikir sejauh itu," jawabnya. Jawaban yang seolah untuk menipu dirinya sendiri.


"Orang gila bisa bertindak di luar batas," sahutku. "Aku tahu, kamu akan menjabat tangan si penghulu dan mengucapkan ijab kabul, ya kan?"


"Oke. Walaupun aku melakukannya, tapi pernikahan itu tidak sah. Pernikahan yang dilangsungkan di bawah ancaman itu tidak sah. Kamu tahu itu."


Ya Tuhan, aku habis kesabaran. "Orang gila tidak akan peduli sah atau tidak. Yang terpenting baginya dia bisa memilikimu. Kamu ngerti? Dia akan memintamu untuk tidur dengannya. Kamu bahkan bisa bercinta dengan dia kalau kamu selalu pengecut seperti ini. Dia bisa mengancammu dengan memasang bom di tubuhnya. Dia akan bilang kalau dia akan menekan tombol remotenya kalau kamu tidak bersedia memberikan nafkah batin untuknya. Dan, dan kamu akan menurut. Kamu tahu? Membayangkannya saja membuatku depresi. Bagaimana kalau aku harus menyaksikan -- kamu dan dia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu... melakukan itu."


Bergumul dengan hebat, itu yang ingin kukatakan. Sementara aku hanya akan membeku di luar kamar, mendengarkan setiap desahannya, mendengar erangannya ketika mereka *******, dan pada akhirnya deru napas mereka beradu, saling bersahutan, dan di wajah Salsya akan tersirat senyuman bahagia -- betapa hebatnya Reza memuaskannya di ranjang. Seperti itulah yang kubayangkan tentang masa lalu ibuku, ketika ayahku "bersenang-senang" dengan pelacu*-pelacu* kesayangannya, sementara ibuku kelimpungan mengurusi rumah dan kedua balitanya.


"Kamu paham, kan, maksudku? Bukan terletak dengan senjata apa dia mengancammu atau bagaimana caranya mengancammu."


Reza mengangguk. "Aku harus bagaimana? Membiarkan dia mati?"


"Kirim dia ke rumah sakit jiwa, dia akan dianggap gila karena punya kecenderungan ingin bunuh diri. Kalau dokter menyatakan dia waras, dengan kata lain dia hanya mengancammu saja, kirim saja dia ke penjara."


Reza menggeleng mendengar jawabanku. Jelas dia tidak sependapat denganku. "Bagaimana dengan anaknya kalau dia dikurung?"


Fix! Aku geram. "Ok, fine! Jadilah suaminya dan jadilah ayah untuk anaknya. Kita putus!"


Kusambar ponselku dari saku Reza dengan kecepatan setan. Sewaktu aku berhasil dan hendak membuka pintu, Reza menarik lenganku.


"Lepas! Aku mau pergi!" aku berkata dengan sengit.


Dia bertanya aku mau ke mana, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. "Tolong jangan pergi, Sayang. Tolong. Aku butuh kamu di sisiku." Dia memohon seperti anak laki-laki imut yang sedang merengek-rengek, seolah aku ini ibunya yang hendak kabur dan meninggalkannya sendirian.


"Apa pedulimu?" kataku. "Kamu tidak peduli, kan, bagaimana perasaanku? Kamu hanya peduli pada Salsya. Kamu bahkan menyakitiku berkali-kali. Berengsek!"


Oh, aku menyentak tangannya dan membuatnya kesakitan. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitinya, apalagi memperparah lukanya. Demi Tuhan, aku tidak sengaja.


Dengan ego kuabaikan Reza yang meringis kesakitan. Aku terus saja berlari meninggalkannya. Di sisi lain aku juga marah karena dia tidak mengikutiku. Aku ingin dia berlari mengejarku, meraih lengan bajuku, lalu merangkul dan mendekapku. Aku ingin dia meminta maaf dan berjanji tidak akan memedulikan Salsya lagi. Akan kubiarkan Reza menarikku dan dia tidak akan membiarkan aku pergi. Aku ingin...


Stop! Please... berhentilah berharap, Nara. Reza sudah terlalu sering menyakitimu.


Memelihara perasaan ini sama seperti menunggui bom yang bersiap-siap meledak, dalam gerak lambat. Tinggal menunggu waktu sebelum pecahan-pecahan bom itu mulai mengoyak-ngoyak diriku menjadi serpihan-serpihan kecil.


Aku terus berlari dan kurasa aku sudah cukup jauh. Sewaktu aku berhenti untuk mengatur napas, ponselku berdering -- panggilan telepon dari Reza.


Kupilih opsi reject. Jangan harap aku mau menjawab teleponnya.


Beberapa detik kemudian, ada pesan whatsapp masuk ke ponselku -- voice note dari Reza. "Tolong aku," katanya dengan suara seperti sedang kesakitan. Meski aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi aku tahu dia sedang kesakitan.


Apa yang terjadi padanya? Jangan-jangan... atau dia hanya mengerjaiku? Tapi bagaimana kalau... bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?


Kuputuskan untuk menelepon balik, tapi tidak ada jawaban. Aku jadi cemas, aku khawatir. Aku harus melihat dan memastikan sendiri bagaimana keadaannya. Kulepaskan wedges-ku supaya aku bisa berlari lebih cepat.


Sesampainya aku di sana -- di tempat aku meninggalkannya -- Reza tidak ada, di dalam mobil pun tidak ada. Kucoba menghubungi ponselnya, dan -- samar-samar kudengar nada dering ponsel itu -- tidak jauh dari tempatku berdiri.


"Mas...," aku berteriak histeris melihatnya tergeletak bersimbah darah di sebuah bangunan kosong, tidak jauh dari lokasi minimarket. Ada luka tusukan di pinggangnya. Di saat yang bersamaan ambulans pun datang. Reza sempat menghubungi ambulans itu sebelum dia menelepon dan mengirimkan voice note kepadaku.

__ADS_1


Dia terluka parah.


__ADS_2