Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Rencana


__ADS_3

Reza memutuskan untuk mengajakku pulang ke Bogor pada keesokan harinya. Kami bermobil dari bandara menuju rumah ibunya di sebuah komplek perumahan di kota Bogor. Rumah ibunya biasa saja, dicat dengan warna hijau seperti warna lumut, tampak sangat sederhana, jauh dari kesan istana megah. Waktu kami masuk, ibunya memeluk Reza cukup lama, padahal baru dua hari yang lalu mereka berpisah. Tampak jelas dia sangat sayang pada anaknya itu. Setelah memeluk anaknya, dia memelukku juga dengan penuh kehangatan, dan memberiku ciuman. Aku yang dibesarkan dalam budaya ketimuran tetap mencium tangannya sebagai bentuk hormatku. Setelah itu ibu Reza mengelus pipiku dan berkata wajahku benar-benar manis. "Pasti karena ini Reza tergila-gila padamu," ujarnya.


Dia meraih tanganku dan mengajakku ke dapur. Mampus! Bagaimana kalau ibunya Mas Reza bermaksud mengetes kemampuanku dalam urusan masak memasak? Tamat riwayatmu, Inara! Kasihan sekali.


Tapi ternyata aku salah. Aku hanya diminta membawakan camilan dan teh hangat ke ruang tamu. Setoples nastar kacang yang baru keluar dari oven. Sambil menikmati camilan itu, aku menanyakan banyak hal tentang Reza. Aku ingin tahu seperti apa Reza sewaktu masih kecil, dan kenangan-kenangan lain yang sekiranya mau diceritakan ibunya.


"Sejak kecil Reza itu pemalu, bahkan sampai dewasa. Saking pemalunya, dia susah sekali mendekati perempuan," katanya.


Aku tertawa mendengarnya. Teringat pengakuan Reza waktu itu, kalau dia sudah lama tahu tentangku tapi dia tidak pernah mengajakku berkenalan.


"Reza pernah menjalin hubungan dengan perempuan, hanya sekali, namanya Salsya. Tapi malah ditinggal menikah. Dari situ, Reza jadi jomblo lagi, jomblo akut, sampai akhirnya ada kamu. Makanya Ibu senang sekali waktu Ibu dengar Reza cerita tentang kamu, gadis impiannya."


Aku senang, hubunganku dengan Reza sejauh ini baik-baik saja, berjalan lancar selancar jalan tol yang bebas hambatan. Calon ibu mertuaku menyukaiku. Dia bukan tipe calon mertua yang banyak introgasi seperti kebanyakan orang. Dia tidak bertanya apa aku bisa masak, apa keahlianku, apalagi tentang karir dan jabatan. Tentu semua itu sudah dijelaskan dengan baik oleh anaknya.


Kami makan malam dengan menu yang sama seperti menu waktu kami makan malam di cabang resto di Surabaya, menu aneka seafood yang dimasak dengan berbagai jenis masakan. Pasti itu menu dari resto Bogor, pikirku. Hal itu membuatku teringat pada ucapan Reza waktu dia mengatakan tidak masalah kalau setiap hari karyawan resto mengantarkan makanan ke rumah. Dari situ aku merasa tenang, urusan masak memasak tidak akan pernah menjadi masalah dan tidak akan pernah dipermasalahkan.


Setelah makan malam itu, aku meminta izin untuk melihat-lihat album foto lama yang ada di rak lemari di ruang keluarga.


"Itu ayahnya Reza," katanya sewaktu aku mengamati foto besar yang mengisi lembar pertama. "Ayah sambung."


Di foto itu, Reza kecil berada dalam pelukan ayahnya. Mereka terlihat begitu akrab. Jika saja ibunya mengatakan bahwa mereka ayah dan anak kandung, maka aku akan percaya.


"Kami tidak punya kenangan dengan almarhum ayah kandung Reza," ungkapnya.


Aku hanya mengangguk dan tidak mengajukan pertanyaan apa pun tentang itu. "Kalau ini siapa?" tanyaku menunjuk foto seorang gadis yang merangkul Reza. Dari cara berpakaian dan penampilan gadis dalam foto itu, aku seperti melihat diriku sendiri dalam wajah yang berbeda. Dengan model rambut dan warna kulit yang sama.


"Itu adiknya, Aruna Dinata. Anak suami Ibu. Dia seumuran kamu. Reza sayang sekali pada almarhumah adiknya."


Aku tertegun mendengar ibunya menyebut kata almarhumah untuk gadis itu. Rasanya ingin sekali aku menanyakan sebab adiknya meninggal, tapi rasanya tidak etis. Aku harus menahan diri supaya tidak bicara sembarangan. Reza belum pernah menceritakan kalau dia punya adik, apalagi menceritakan tentang kematian adiknya. Pasti karena ada perasaan luka bila mengingat tentang saudarinya itu.

__ADS_1


Aku membalik album ke lembar berikutnya, dan ada lagi foto Reza dengan seorang gadis lain, foto yang cukup mesra, gadis itu merangkul Reza dari belakang dan bersandar di punggungnya. Tentu kutanya lagi pada ibunya siapa gadis itu.


"Oh... itu, itu yang tadi Ibu cerita."


"Mantan pacar Mas Reza?"


"Iya, namanya Salsya."


"Dia koki?" tanyaku memastikan.


"Iya. Kamu tahu dari Reza, ya? Baguslah kalau Reza sudah pernah cerita tentang Salsya. Jadi Ibu tidak perlu menjelaskan lebih lanjut, kan?"


Aku mengangguk. Fix, dia Salsya, mantan pacar Reza yang dulunya bekerja di Dinata Resto sebagai koki yang diandalkan. Orangnya cantik, berkulit putih, rambutnya panjang, lurus, dan hitam alami. Tiba-tiba ada perasaan minder meliputiku setelah melihat potret dirinya, dia cantik sekali seperti gadis korea. Sedikit ada kekepoan, kenapa foto itu masih disimpan di album itu? Tapi aku tidak punya keberanian untuk bertanya pada ibunya.


"Nak, Ibu tahu kamu mencintai anak Ibu. Meskipun kata Reza kamu belum pernah mengatakannya, Ibu bisa melihat cinta itu dari matamu. Dan meskipun Reza belum pernah mendengar itu darimu langsung, Ibu yakin pasti dia bisa merasakan cinta itu saat dia bersamamu."


Aku terdiam, entah kenapa aku tidak bisa mengatakan apa pun, aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan.


Lidahku terasa kaku, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk. Ibu Reza langsung memelukku dan berterima kasih.


"Umur Ibu mungkin tidak akan lama lagi, Nak. Kalau Ibu sudah tiada, Ibu menitipkan Reza padamu. Jaga Reza. Kamu harus selalu ada untuknya. Dia tidak punya siapa-siapa selain kamu. Tolong janji pada Ibu?"


Aku menatap lekat padanya, kenapa dia berbicara seperti itu? Konon katanya, orang yang berbicara demikian biasanya sudah menjelang hari kepergiannya. Bulu tengkukku langsung meremang.


"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu harus panjang umur, sampai punya cucu, supaya bisa main bersama cucu-cucu Ibu nanti," kataku.


Dia mengangguk dan berusaha menyunggingkan senyum kendati matanya memerah. "Iya. Ibu cuma mau hati dan pikiran Ibu tenang di masa tua Ibu. Itulah kenapa Ibu memintamu untuk berjanji."


"Nara mengerti, dan Nara berjanji akan selalu menjalankan amanah dari Ibu. Tapi Ibu jangan bicara seperti ini lagi, ya? Nara mau Ibu panjang umur, supaya kita bisa sama-sama selalu ada untuk Mas Reza."

__ADS_1


Tiba-tiba Reza muncul. "Kenapa kalian menangis?" tanyanya. Karena pertanyaan itu aku dan ibunya buru-buru menyeka air mata kami. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan air mata itu keluar dari mataku. Yang aku ingat, aku menangis setelah melihat ibu Reza meneteskan air matanya.


"Kapan kita bisa ke Jakarta bertemu keluargamu? Kita langsung lamaran. Ibu tidak sabar mau melamarmu untuk Reza. Bagaimana kalau besok? Setuju?" katanya dengan sangat antusias. Dia bicara nyerocos bagai kendaraan tanpa rem, dengan ekspresi yang menggambarkan kebahagiaan.


Hah? Besok? Aku terbelalak.


Reza langsung paham karena melihatku dengan ekspresi seperti itu. Lalu dia berusaha membuat ibunya mengerti kalau aku belum siap untuk mempertemukan mereka dengan ibuku secepat itu. "Bu, itu terlalu cepat," katanya.


Aku melihat ekspresi sedikit kecewa dari wajah calon ibu mertuaku itu. Karena itulah aku langsung menyetujuinya. "Tidak apa-apa, Mas. Besok kita bisa ketemu Bunda. Setelah ini aku akan menelepon Bunda dan bilang kalau besok kita mau ke sana."


"Serius?" respons ibunya dengan cepat.


"Iya, Bu."


"Ibu senang sekali, Nak." Ia memelukku.


"Ya sudah. Ibu istirahat, gih. Reza mau ngobrol dengan Inara sebentar."


Ibunya pun ke kamar, dan kami lanjut mengobrol membahas tentang lamaran itu. Reza meminta maaf atas sikap ibunya, dan mengatakan ia akan membuatnya mengerti untuk menunda keberangkatan kami ke Jakarta. Katanya dia tidak akan membuatku terpaksa.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tidak terpaksa. Aku mau, aku siap, dan aku ikhlas."


Mendengar ucapanku, Reza langsung menarikku ke dalam pelukannya dan juga berterima kasih.


"Ehm... Reza, Reza. Tadi menolak, pakai tapi-tapian segala. Sekarang baru Ibu tinggal sebentar, kamu sudah peluk-peluk anak gadis orang," omelnya.


Aku dan Reza mendadak jadi salah tingkah, seperti anak baru gede yang tertangkap basah saat pacaran.


Reza nyengir. "Khilaf, Bu. Khilaf sedikit," sahutnya.

__ADS_1


"Makanya cepat-cepat dihalalkan biar tidak khilaf-khilafan lagi. Langsung sah. Mau ngapa-ngapain enak, bisa pegang-pegang, bisa peluk-peluk, bisa cium ini, bisa cium itu, terus bisa gitu-gituan. Halal. Sini, Inara tidur di kamar Ibu supaya Reza tidak keterusan khilafnya."


Hmm... kan... kan....


__ADS_2