
Malam ini suasana kembali seperti malam sebelumnya, kami semua sudah kembali ke villa. Makanan dengan porsi banyak seperti sebelumnya pun sudah terhidang dan tertata rapi. Sebut saja malam ini adalah waktunya men-charge ulang energi, terutama bagi sepuluh orang lelaki itu, yang kemampuan makannya melebihi ukuran badan mereka. Jadi, tidak akan ada yang namanya membuang-buang sisa makanan.
Reza sedang menerima panggilan telepon saat aku menghampirinya. Awalnya aku tidak tahu dia sedang menelepon atau ditelepon oleh siapa, dan aku juga tidak ingin terlihat kepo, sebab itu aku tidak akan bertanya, selagi sikapnya biasa saja, tidak mengundang rasa curiga di dalam benakku.
"Ibu mau bicara denganmu," katanya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku.
Oh, ibunya...
Dalam sambungan telepon itu aku dan ibunya saling bertanya kabar satu sama lain. Dan aku senang mendengar kabar calon mertuaku itu baik-baik saja.
"Nak, kemarin Ibu dengar kamu marah pada Reza, ya? Ibu jadi merasa bersalah pada kalian berdua. Ibu merasa Ibu membuatmu kecewa. Dan karena Ibu juga Reza jadi kena imbasnya."
Aku terdiam. Aku takut salah bicara. Meskipun aku biasa merangkai kalimat dalam tulisan-tulisanku, rasanya jauh berbeda ketika aku harus merangkai kalimat itu untuk situasi nyata.
"Nak?" panggilnya, memutus cabang-cabang pemikiran di otakku.
Kesadaranku seketika kembali. "Oh, eh. Tidak apa-apa, Bu. Lupakan saja. Kan Nara dan Mas Reza sekarang sudah baik-baik saja," kataku.
Setidaknya itulah kalimat terbaik yang bisa kurangkai. Sebab, aku tidak ingin berpura-pura mengatakan bahwa aku tidak kecewa atas keputusannya. Meski aku tidak bisa menyalahkannya dan tidak boleh marah padanya.
"Sebenarnya Ibu sempat takut kalau kamu akan mengabaikan janjimu pada Ibu."
Janji? Janji aku akan menikah dengan Mas Reza? Ya, janji itu. "Nara... emm... semoga kedepannya nanti semuanya akan berjalan baik-baik saja, ya, Bu. Jadi... Nara tidak akan mengingkari janji yang sudah Nara ucapkan pada Ibu," kataku.
Bodoh! Kenapa aku tidak bisa berbohong hanya sekadar untuk menyenangkan hati calon ibu mertuaku? Harusnya kukatakan saja bahwa aku akan menepati janji itu apa pun yang akan terjadi.
Di atas panggung kecil itu, si kembar Zaim dan Zain, juga Rafasya dan Randika sedang menata panggung dan mempersiapkan alat musiknya. Juga Raline, yang mengucapkan tes, satu dua tiga dengan mikrofon persis di depan bibir manisnya yang berlipstik pink.
__ADS_1
Eh?
Di seberang sana samar-samar kudengar suara isak tangis. Ya Tuhan....
Ibu menangis? Apa karena kata-kataku barusan?
Ah, rasa bersalah menyelinap masuk ke hatiku. Aku berdiri, melangkah masuk ke villa, mencari tempat di mana aku bisa bicara dengan calon ibu mertuaku itu tanpa bisa didengar oleh Reza.
"Bu, Ibu tenang, ya. Maaf kalau Nara tidak bisa bicara lebih manis seperti seharusnya. Nara tidak bisa membual hanya untuk menyenangkan hati seseorang." Air mataku mulai menetes. Tapi aku harus menenangkan hati seorang ibu di seberang sana. "Ibu dengar Nara, ya. Nara pastikan, selama Nara melihat kesetiaan Mas Reza pada Nara, Nara akan selalu ada di sisinya. Nara janji, Nara akan selalu bersama Mas Reza dan selalu menemaninya."
Hmm... masih kurang manis....
"Baiklah. Terima kasih, ucapanmu menenangkan hati Ibu. Ibu yakin, anak Ibu itu lelaki yang baik. Dia akan setia pada satu perempuan. Hanya pada satu perempuan saja. Ibu jamin itu, Nak. Ya sudah, ya. Ibu tutup dulu teleponnya. Kalian baik-baik di sana."
Aku mengiyakan, dan telepon pun tertutup setelah ucapan salam.
Dia ada di belakangku. Mengagetkan sekaligus memutus lamunanku. Kurasa dia mengikutiku sedari aku masuk tadi.
"Kamu membuatku kaget," kataku seraya menoleh ke belakang. "Sejak kapan kamu berdiri di sana?"
Dia tersenyum. "Sejak tadi," sahutnya. Dia berjalan ke arahku, lalu duduk di sisi kursi yang kududuki. "Bahkan aku mendengar semua yang kamu katakan pada Ibu," katanya, persis setelah dia merangkulkan tangannya di pundakku.
Aku merengut. "Kamu sih, kenapa harus menceritakan keributan kita kemarin," ucapku, bukan bertanya. Lebih tepatnya mengutarakan sebuah penyesalan.
"Maaf, kemarin Ibu yang tanya. Apa menurutmu aku harus berbohong?"
Tentu saja tidak. Sebab, aku sendiri tidak bisa berbohong dan tidak bisa berpura-pura pada ibunya. Apalagi Reza, sang anak yang pernah dikandung selama sembilan bulan di rahimnya. "Tidak. Tentu saja kamu tidak boleh berbohong."
__ADS_1
"Seperti kamu yang juga tidak bisa berpura-pura manis. Apa yang kamu katakan pada Ibu, itu dari dasar hatimu," tuturnya dengan penuh pemahaman terhadapku.
Aku mengangguk. Dalam pikiranku terlintas kenangan-kenangan masa SMA-ku dulu. Salah satu bagian yang kuanggap tidak pahit dari masa putih abu-abu itu. Kenangan di mana dulu aku sering bermain peran di atas panggung. Yeah, aku adalah anggota teater. Dunia di mana aku selalu ingin memerankan sosok antagonis. Di mana aku bisa menunjukkan sisi lain dalam diriku, tentang amarah, tentang sikap jahat, tentang topeng untuk menunjukkan pada penonton bahwa aku juga bisa menjadi Inara yang tidak baik. Anehnya, aku bisa memerankan karakter seperti yang ada di dalam naskah. Tapi di depan orang-orang yang menyayangiku, aku bahkan tidak bisa berbohong, apalagi berpura-pura. Di depan ibuku, Ihsan, Reza, bahkan di depan ibunya. Topeng itu tidak akan pernah bisa kupakai. Bahkan untuk kebohongan kecil sekalipun.
"Berapa lama kamu mau bengong di sini? Tidak lapar? Hmm?" tanya Reza, lagi-lagi dia memutus lamunanku.
Aku tertegun. "Oh, aku melamun?"
"Kamu pikir kamu sedang apa, Sayangku...?"
Kugelengkan kepala dengan pelan. "Ayo," kataku sembari berdiri. "Tentu saja aku lapar. Lama-lama di sini nanti bahaya. Bisa-bisa, kamu yang kumakan."
"O ya? Silakan. Aku bersedia," bisiknya di telinga. "Kita bisa saling memakan satu sama lain. Hmm? Aku mau."
Hah! Aku tergelak. Tawaku pecah. "Dasar nakal!"
Dia menarikku ke dalam pelukannya, lalu, dengan perlahan, dia merapatkan diri kami ke dinding. Tubuhku pun terkunci dalam himpitan lengannya yang kekar. Dan, dia pun berkata pelan satu senti di depan wajahku, "Aku memang nakal, sedikit," katanya.
"Sedikit?"
"Mmm-hmm...."
"Yakin cuma sedikit?"
"Em, boleh cium?"
Aaah... tanpa kuiyakan pun, bibir Reza langsung menempel dan membuat hatiku seketika berdebar begitu kencang.
__ADS_1
"I love you, Inara Dinata. One more, please?"