
Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum masuk waktu salat jumat. Aku dan Reza ingin memadu kasih di sela waktu yang sempit. Meski tanpa adanya bahan obrolan, aku tetap suka berduaan dengannya, walau hanya melihatnya bermain gitar dan mendengarkannya bernyanyi. Saat itu dia menyanyikan lagu Tercipta Untuku miliknya Ungu. Tapi, rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku, momen itu tak seindah harapanku.
Ada panggilan masuk di ponsel Reza, panggilan telepon dari Erik, begitu tulisan di layar ponselnya, seseorang yang waktu itu belum kukenal. Reza baru saja menerima panggilan itu, ekspresi wajahnya langsung berubah aneh. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan seseorang di seberang sana. Aku hanya mendengar ketika Reza menjawab: oh, ya, oke, sama-sama, dan terakhir bye. Jawaban singkat yang tidak bisa kuartikan apa maksudnya.
"Ada yang tidak beres?" tanyaku, persis setelah dia menutup telepon.
Dia berdiri dan meraih tanganku. "Aku belum kepingin membicarakannya sekarang, kalau kamu tidak keberatan," sahutnya lemah.
Setelah itu dia masuk ke kamar, meninggalkan gitar Ihsan, dan juga aku -- yang masih kebingungan. Sayangnya aku bukanlah orang yang terlalu sabar seperti dirinya. Aku tidak tahan meski belum setengah jam dia menyendiri dan tidak keluar dari kamar. Kuketuk pintunya, dan aku masuk. Dia sedang bersandar di tempat tidur, kakinya selonjoran, dan tangannya memeluk bantal. Ekspresi wajahnya masih sama seperti saat meninggalkan aku di pinggir kolam tadi.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia mengedikkan bahu. Wajahnya menyiratkan keputusasaan. "Menurutmu kenapa?"
Aku duduk di depannya, di ujung kakinya, tapi dia ingin aku duduk rapat di depannya. Aku pun menurut, dia memeluk dan menyandarkan aku ke dadanya. Kuhela napas dengan berat. "Mas, ada apa? Bicaralah padaku."
"Entahlah," ucapnya, terdengar lelah. "Kita baru saja berbaikan tadi pagi. Aku takut kalau aku membuatmu kecewa lagi, dan... aku takut kalau aku harus mengulang untuk meyakinkanmu lagi."
Aku bingung. "Mengecewakanku? Maksudnya? Bicaralah yang jelas, Mas."
"Ini tentang Salsya," katanya.
__ADS_1
Salsya? pikirku. Pasti bukan berita bagus. Aku mulai merasa tidak nyaman dan melepaskan diri dari pelukannya. "Kenapa dengan Salsya?" tanyaku, berusaha -- kuulangi, berusaha -- untuk tetap tenang.
"Dia sudah berada di Bogor."
"Di Bogor? Apa maksudnya, Mas?"
"Dia sudah di restoran. Mulai hari ini dia sudah bekerja di sana."
Aku terdiam. Terpaku. Membeku. Atau apa pun istilah yang ingin kaugunakan. Hatiku rasanya perih tercabik-cabik.
"Kamu tenang, ya? Kita bicara baik-baik," ajaknya.
Matanya terpejam sejenak. "Maaf," katanya.
"Maaf? Semudah itu?"
Aku menggelengkan kepala dengan muak lalu menghambur keluar dari ruangan itu dan membanting pintu dengan marah. Aku merasa dikhianati dan dibohongi, dan aku takut semua impianku tidak akan kesampaian. Jauh di dalam hati, aku tahu barangkali seharusnya aku tidak semarah itu, tetapi aku termakan oleh kenanganku sendiri. Kenangan tentang ayahku yang pergi, awalnya hanya sebuah rasa kasihan terhadap wanita-wanita jandanya itu. Lalu dia tertarik, timbul sebuah rasa. Kemudian mereka berselingkuh dan berlanjut sampai ke atas ranjang. Aku tahu, pasti pada masa-masa itu ibuku sangat terpukul dan menyedihkan. Di dalam hatiku, aku berjanji aku tidak akan menjadi seperti ibuku. Aku akan meninggalkan sebelum ditinggalkan.
Reza keluar dari kamarnya dan menyusulku. "Sayang, tolong, Kita bicara baik-baik. Ini tidak seperti dugaanmu."
"Diam!" bentakku. "Aku tidak mau dengar."
__ADS_1
Aku lari dan masuk ke kamarku. Sialnya ada Ihsan dan Aarin di dalam sana. Ihsan kaget mendapatiku dalam keadaan kacau. Dia berdiri dan menghampiriku, lalu memelukku seperti seorang kakak. Satu tangannya di belakangku, dan satunya mengelus-elus kepalaku. Orang yang tidak tahu kalau kami bersaudara pasti akan mengira kalau kami adalah sepasang kekasih. Aku ingat terakhir kali dia memelukku seperti itu, dulu, sewaktu kami masih SMA, sebelum aku belajar bela diri.
"Kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa," kataku.
"Jangan bohong. Katakan padaku, ada apa?"
Aku menggeleng. Dari pantulan cermin, aku melihat Reza ada di belakangku. Lalu Ihsan menggeleng dengan gerakan tangan melarangnya masuk. "Oke. Tidak apa-apa kalau kamu belum mau cerita. Tapi, tolong jangan ke mana-mana. Tetap di sini. Jangan kabur. Ingat, utamakan keluarga. Biarkan mereka menikmati liburan mereka di sini. Oke?" Ihsan diam sejenak. "Sori, bukannya aku tidak mau mengerti keadaanmu. Tapi...."
"Tidak apa-apa. Aku paham," selaku.
"Janji?"
"Iya, janji. Aku tidak akan ke mana-mana."
"Sebentar lagi masuk waktu jumat," katanya seraya melirik jam tangannya. "Aku mau pergi sekarang. Tenangkan dirimu." Lalu ia mengecup kepalaku. "Jangan menangis lagi," katanya.
Aku mengangguk. Lalu, sebelum pergi, Ihsan menghampiri Aarin dan dia membisikkan sesuatu. Mungkin ia meminta Aarin untuk mengawasiku, menjagaku agar tidak ke mana-mana, atau sejenisnya. Mungkin juga bukan. Entahlah. Yang pasti, aku tahu bahwa dia sangat mengkhawatirkan aku.
Dan semua ini disebabkan oleh seorang Reza Dinata plus mantan pacarnya yang super menyebalkan itu.
__ADS_1