
"Mas?"
"Emm?"
"Bisa tidak kita pulangnya ke villa? Please? Ya?"
"Oke," katanya. Dia tidak bertanya kenapa walaupun aku tahu dia agak heran.
"Tapi kamu jangan bilang ke Mas Alfi kalau ini kemauanku, ya? Aku malu."
Kali ini ia tersenyum, caranya menatapku seolah dalam pikirannya aku ini seperti kucing yang malu-malu tapi mau. Dia mengangguk lalu mengusap kepalaku. Setelah itu, dia keluar dari mobil menemui Alfi.
"Taraaa...." Reza menguntaikan kunci villa di ujung jarinya sekembalinya dia ke mobil. "Lalu, kamu mau apa lagi?"
Aku nyengir. "Emm... boleh aku menghabiskan uangmu agak banyak?" tanyaku, sedikit ragu dan sedikit malu. Sedikit....
Dia mengangguk. "Boleh. Mau beli apa?"
"Bean bag, hammock, led projector mini, speaker portable mini, plus pelampung," kuberikan dia senyuman manis, sebut saja itu sebagai bujukan maut ala Inara.
Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu mau kita lebih lama di sini, ya?"
Kubalas anggukannyya dengan menganggukkan kepalaku kuat-kuat, semangat empat lima mencuat tinggi di atas kepalaku. Aku kegirangan.
"Oke. Kita cari barang-barangnya sekarang."
Sumpah, aku senang bukan kepalang. Ini liburan yang kuharapkan. Hanya berdua dengan Reza. "Trims... Masku. Nara sayang Mas Reza."
Ah, aku berlagak manja.
Kami langsung meluncur ke pusat perbelanjaan, dan kami bisa menemukan semua barang yang kami cari, berikut camilan dan makanan instan pengganjal perut kalau tiba-tiba merasa lapar di tengah malam, tidak lupa juga berbagai jenis minuman botol untuk simpanan beberapa hari ke depan.
Well, waktunya pulang ke villa.
"Sayang, bangun," suara Reza terdengar samar-samar di telingaku. Aku membuka mata, kutolehkan kepalaku, dan dia ada di sana, sosoknya dibingkai siluet kaca jendela. Wajahnya tersenyum, dia sudah mandi dan rambutnya sudah terikat rapi.
Sial! Hari sudah pagi. Aku bahkan tidak mandi dan tidak berganti pakaian semalaman.
"Ya ampun. Kamu pasti capek setengah mati ya semalam?"
Dia melompat ke atas tempat tidur dengan penuh vitalitas, dan mengambil posisi persis di atasku, sambil nyengir lebar seperti orang edan. Sementara aku, pikiranku masih mengawang-awang. Yang kuingat semalam kami dalam perjalanan pulang, dan aku tidak tahu lagi bagaimana setelahnya.
"Semalam aku ketiduran, ya?"
"Em."
"Kamu yang menggendongku ke kamar?"
"Menurutmu?"
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak masalah, itu sudah menjadi tugasku," katanya. Kemudian dia mencoba mencium bibirku, tapi aku menghindar.
Aku menggeleng. "Aku belum mandi, belum gosok gigi," kataku.
"Oke. Sekarang bangun, mandi, gosok gigi, kita sarapan," Reza berkata sambil menepuk-nepukkan jarinya ke bibirku. Matanya yang tajam menatap lekat ke mataku dengan seulas senyum kecil terbentuk di bibir manisnya.
__ADS_1
Kukucek-kucek mataku sesaat, dan aku mendapatkan kesadaranku sepenuhnya. "Mau berapa lama kamu menatapku? Aku tidak akan bisa bangun kalau kamu tidak menyingkir."
Dia tidak bergeming. Dicobanya menciumku sekali lagi. Tidak berhasil. Kukuncikan bibirku rapat-rapat. Dan dia pun menyerah.
Saat aku selesai mandi dan keluar dari kamar, Reza sedang santai di meja makan. Dia sudah berganti pakaian, dengan setelan kemeja dan dasi panjangnya, plus jas hitam yang tersampir di sandaran kursi di sampingnya. Ia duduk bersandar di kursi dengan kaki menyilang, sedangkan tangannya sibuk dengan ponsel.
Aku masuk lagi ke kamar, tadinya aku tidak memakai lipstik, tapi ide iseng tiba-tiba saja muncul di otakku. Aku langsung melukiskan lipstik ke bibirku, lalu buru-buru keluar sebelum lipstikku mengering. Dengan sengaja, kusalungkan kedua tanganku di pundak Reza dan mencium pipinya. Benar saja, dia tidak menyadari lispstikku menempel di pipinya.
"Kamu berangkat meeting jam berapa?"
Aku sengaja bertanya supaya suasana nampak biasa saja dan dia tidak menyadari kejahilanku.
"Sebentar lagi," sahutnya.
"Oh, oke."
"Memangnya kamu tidak mau ikut?"
"Aku di sini saja, ya. Pingin istirahat seharian."
"Oke. Gih duduk, sarapan dulu."
Aku pun duduk di sampingnya, menikmati bubur yang sudah hampir dingin. Sambil mengunyah pelan bubur di mulutku, aku tidak bisa menahan senyum, hampir tertawa.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," kilahku. "Buburnya enak."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Suka, dong. Kan buatan calon suamiku."
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Memangnya kenapa, Mas?"
"Aku lebih suka kalau kamu diam di sini. Eh, maksudku -- aku tidak mau kalau kamu pergi keluar sendirian tanpa aku."
Oh....
Aku mengangguk pelan. "Siap Tuan. Hamba ikut perintah."
"Ini bukan perintah...," gerutunya. "Ini permintaan. Aku bukan tuanmu, dan kamu bukan hambaku. Kamu, tulang rusukku. Tulang rusuk. Bagian dalam jiwaku. Paham?"
Aku tertegun mendengarnya. Pandangan mataku langsung menatap ke bola matanya yang menatapku dengan tajam. "Oke. Aku hanya bercanda," kataku. "Tapi kira-kira... nanti setelah kita menikah, apa kamu akan tetap seperti ini? Atau... kamu akan berubah seperti kebanyakan suami, hanya manis di saat pacaran? Misalnya, seperti semalam, saat aku ketiduran di mobil, apa kamu akan terus menggendongku dan membawaku ke kamar atau kamu akan membangunkanku? Saat aku belum bangun pagi, apa kamu akan membangunkanku dengan manis seperti tadi atau kamu akan meneriaki aku? Dan seperti ini, saat kamu mau sarapan pagi, apa kamu akan menyiapkan sarapan sendiri atau kamu akan menggerutu dan marah-marah?"
Setelah aku menyerocos panjang, Reza tetap santai menikmati buburnya sambil tersenyum-senyum.
Dasar aneh. "Halo... Mas... kamu mendengarku?"
"Dengar. Tapi aku suka melihatmu dan mendengarmu berceloteh. Aku seperti melihat Inara yang baru."
Inara yang baru? Aku mengangkat bahu. Aku mengerti maksudnya. Yang dimaksud Reza bukan lagi Inara yang lebih suka menyendiri, yang hanya duduk diam memandangi luasnya lautan, duduk termenung di atas pasir dengan lantunan lagu sedih yang mengalun dari earphone di telinga. Yah, bukan Inara yang itu.
"Aku tidak perlu berjanji. Cukup kamu nilai sendiri nanti setelah kita menikah."
Aku mengangguk, lalu menghela napas dalam-dalam. "Aku mencintaimu bukan tanpa alasan," kataku. "Aku mencintaimu karena kamu mencintaiku, karena caramu mencintaiku. Aku harap, kamu tidak akan pernah berubah seperti ayahku. Dulu dia sepertimu juga, dia menjadi laki-laki yang selalu ada untuk Bunda. Tapi akhirnya, siapa yang menyangka--"
"Ssst...." Dia menaruh jarinya ke bibirku, memintaku untuk diam. "Sayang, jangan samakan aku dengan ayahmu. Aku adalah aku. Oke?"
__ADS_1
Aku mengangguk lemah tanpa kata, meneruskan makanku tanpa menatap ke arahnya.
"Aku harus pergi," katanya, setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
Dengan sigap aku pun berdiri dan meraih jas-nya. "Biar kubantu, boleh, kan?"
Dia tersenyum dan menyambutnya dengan hangat. "Terima kasih, ya, Sayang," ucapnya, lalu ia mendaratkan kecupan manis di keningku. Hatiku terasa seperti bunga yang tiba-tiba mekar dengan indah. "Habiskan sarapanmu. Baik-baik di sini dan jangan lupa kunci pintu. Telepon aku kalau kamu butuh sesuatu."
Aku mengangguk dengan senyuman manis. "Ya, Mas. Hati-hati di jalan."
Reza meraih laptopnya, lalu melangkahkan kaki menuju pintu. Aku tahu kebiasaannya, dia akan melirik kaca spion dulu sebelum melajukan mobil. Lipstik itu tidak akan terbawa sampai ke restoran. Lagipula, ada tisu di mobil untuk membersihkan jejak bibirku di pipinya.
Aku pun berdiri, membawa peralatan makan yang kotor itu ke wastafel untuk kucuci.
"Dorrr!" suara Reza membuatku kaget. Kukira dia sudah berangkat, eh tiba-tiba dia ada di belakangku.
Aku memutar badan menghadapnya dan memukuli bahunya. "Aku kaget, tahu!"
"Kamu yang duluan jahil," katanya. Dia mengangkatku dan mendudukkan aku di dekat wastafel. "Ini, kamu yang meninggalkan jejak. Kamu juga yang harus membersihkannya." Dia menyodorkan wajahnya lebih dekat ke wajahku.
Aku nyengir. "Baiklah." Kuputar keran dan kubasahkan tanganku, lalu kubersihkan bekas lipstik di pipinya dengan sedikit memiringkan kepala.
"Sayang?"
"Emm? Apa?"
"Boleh aku menciummu?"
"Sejak kapan kamu meminta izin untuk menciumku?"
"Ya karena --" ponselnya berdering, menyela ucapannya. Reza pun merogoh sakunya lalu memandang ke layar ponsel.
Salsya? Kenapa sih dia menelepon? Pagi-pagi begini dia sudah membuatku terusik.
Hanya satu atau dua menit, Reza langsung menutup sambungan teleponnya. "Salsya, dia bilang dia tidak bisa masuk kerja hari ini karena sedang tidak enak badan," papar Reza sebelum aku bertanya.
"Kenapa meneleponmu? Memangnya karyawan kalau izin harus langsung ke bos?"
Reza menggeleng. "Tidak juga."
"Lantas? Dia merasa dia spesial?"
"Mana aku tahu, Sayang."
"Dia cuma cari perhatian." Aku cemberut.
"Terserah dia mau apa. Yang penting kan perhatianku hanya untukmu, calon istriku," Reza berkata sambil membelai rambutku. "Kamu jangan cemburu. Jangan biarkan hal sekecil ini merusak mood kita. Hmm?"
Well, aku menarik napas dalam-dalam. Lalu menganggukkan kepala. "Sudah jam berapa ini? Nanti kamu kesiangan."
"Baiklah. Aku berangkat. Tidak ada ciuman pagi ini," gerutunya.
Aku mengantar Reza sampai ke pintu depan, tiba-tiba ia menjulurkan tangannya. Aku mengerti, dia ingin aku mencium tangannya. Baiklah, kuikuti saja maunya. Setelah itu dia mencium keningku. Lucu, dia ingin bermanis-manis seperti suami istri sungguhan.
"Kamu baik-baik di sini. Jangan ke mana-mana. Langsung kunci pintu, dan jangan membiarkan orang asing masuk selagi suamimu tidak ada di rumah."
Hah! Aku tergelak. Rupanya dia sudah sangat siap untuk menjadi suamiku.
__ADS_1
Well, baiklah, Suami.