Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Melepas Rindu


__ADS_3

Rindu -- itu yang kurasakan saat ini. I miss everything about him. Kendati demikian, rindu itu tidak menyakitkan, sebab dalam sehari, Reza meneleponku berkali-kali, dari aku bangun tidur sampai akan tidur lagi. Tak ada rasa bosan sama sekali.


Tiga hari tanpa Reza, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tulisanku-tulisanku, siangnya mengisi waktu dengan membantu ibuku memasak walaupun hanya di sesi potong-memotong, iris-mengiris, atau cuci-mencuci, dan sorenya aku menghabiskan waktu di halaman belakang, entah itu hanya bersantai, bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagu rindu, dan banyak hal lainnya, termasuk menyirami tanaman. Aku terjatuh dalam kesibukan-kesibukan kecil yang sebagian besar tidak pernah kulakukan sebelumnya.


Hari ini kami akan menghadiri undangan kursus pranikah. Matahari bahkan belum menampakkan senyumnya saat Reza melesat jauh menaklukkan jarak yang telah menciptakan rindu di antara kami. Dia sengaja mengejar waktu untuk bertemu Ihsan, sebelum Ihsan berangkat bekerja. Tentu saja, aku-lah orang yang paling ingin ia temui pagi ini. Sebab itu pagi ini aku bahagia. Matahari bersinar cerah, secerah dress bunga-bunga yang membalut tubuhku di pagi yang indah ini.


Akhirnya, setelah tiga hari, hari ini kami kembali bertemu. Lelaki yang kucintai itu sekarang ada di depanku, memutus benang-benang rindu yang mengujut kalbu.


"Aku kangen," katanya.


Oh... dia sama rindunya sepertiku, dan seakan enggan melepaskan lingkaran tangannya dari tubuhku.


"Aku juga kangen," kataku dengan manja. "Tapi aku mau bikin minuman dulu. Kamu mau minum apa? Teh, kopi, atau apa?"


"Memangnya kamu bisa bikin kopi?"


"Cuma kopi masa tidak bisa?"


"Oke. Boleh."


"Takarannya?"

__ADS_1


Reza terbahak, dia berusaha menahan tawanya tapi tidak bisa. "Katanya bisa?"


"Apa sih, Mas? Setiap orang kan punya selera kopi masing-masing. Ada yang mau manisnya terasa, ada yang mau pahit. Takaran seleramu bagaimana?" Kucubit kedua pipinya dengan gemas.


Biasanya juga minta dibuatkan teh. Wajar, kan, kalau aku belum tahu selera kopinya bagaimana?


"Kopi satu sendok, gula dua sendok," ujarnya mendikte sesuai seleranya.


Aku pun meninggalkan Reza yang tengah bersandar di sofa teras belakang dan melenggang masuk ke dapur lalu memanaskan air. Setelah air cukup panas, aku memasukkan satu sendok kopi dan mengaduknya hingga mendidih, lalu menambahkan setengah sendok teh bubuk cokelat sebagai penambah nikmat rasa, barulah kusaring beberapa kali hingga kopi berbusa dan siap dituangkan ke mug porselen putih nan cantik ukuran sedang yang sudah kububuhkan dua sendok gula.


"Wow, smells good," ujarnya seraya menikmati aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku, hingga suaranya yang menempel di telinga membuatku sedikit kaget. "Trims, Sayang."


Dia mengambil alih cangkir porselen dari tanganku. Jantungku yang nyaris melompat keluar kembali ke posisinya. Lalu kuperhatikan gerakannya saat mengangkat mug kopi dan menyesapnya. Mataku pun tertumbuk pada bibirnya yang begitu seksi saat bersentuhan dengan bibir mug. Bibir yang kurindukan. Eh?


Lah? Ya ampun. "Namanya juga kopi. Kalau tidak mau yang pahit, ya jangan minta kopi."


"Terus apa?"


"Ya apa saja, Mas. Teh, susu, smooth--"


"Minta cium boleh?"

__ADS_1


What?


Kontan saja pertanyaan itu membuat hatiku jumpalitan. Tak bisa kupungkiri, faktanya aku memang sedang mendoan, mendem kangen ora keturutan -- dua minggu tak pernah ia cumbu. Perasaanku jadi nano-nano, malu, mau, juga takut kepergok ibuku.


"Tidak mau ya sudah." Dia berbalik dan hendak kembali ke teras belakang.


"Mas...," panggilku setengah berteriak sambil mengekor di belakangnya.


"Ap--" ucapannya terputus saat ciumanku mendarat secepat kilat di bibirnya yang manis. "Cuma sekilas?" tanyanya setelah ia menaruh mug ke atas meja. "Jangan begitu dong, Sayang. Kan--"


Kuraih tengkuk lehernya dengan cepat dan ciumanku kembali mendarat, lagi-lagi memutus celotehannya. Tanpa ragu ia membalas ciumanku dan kedua tangannya pun berpaut di leherku. Lama tidak beradu bibir, membuat ciuman ini terasa hangat dan senikmat ciuman kami yang pertama.


Ouw... manisnya.


"Nara... Bunda lihat lo, Sayang," teriak ibuku dari dapur.


Ya Tuhan, aku terkesiap dan spontan melepaskan ciumanku.


"Nara yang nyosor Reza duluan, Bund...," Reza balas berteriak dengan cengengesan, dan ia terkikik-kikik.


Dasaaaaar...!

__ADS_1


Tanpa suara, aku mengucapkan kata mooooonyet kepadanya karena ia menyudutkanku dalam urusan ini. Meskipun sebenarnya aku tahu, dia hanya bercanda.


__ADS_2