
Kami tiba di objek wisata Puncak Wanagiri, Jalan Raya Wanagiri, Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, sekitar lima belas menit dari kawasan Air Terjun Banyumala. Ada beberapa spot foto menarik di sana, tapi tidak banyak yang kami jadikan tempat untuk latar foto prewedding kami, sebab hampir semua spot harus antre. Dengan sabar kami antre di spot ayunan. Di atas ayunan itu kami duduk berdua, ayunan yang digantung pada batang pohon kayu besar yang tumbuh di tepi jurang, dengan latar belakang Danau Buyan. Selain ayunannya yang membuat foto itu romantis, juga posenya, Zia menyuruh kami menirukan pose yang ia searching di internet, duduk berdua di atas ayunan, posisi kami saling berhadapan, kedua kakiku ditaruh di atas paha kanan Reza. Kemudian Reza menaruh tangannya di leherku, lalu mencium pipiku, persis seperti foto yang di-searching oleh Zia.
Sesi foto kali ini sedikit memakan waktu, karena kami susah sekali menahan tawa. Seperti kemarin saat berfoto ala Irfan Bachdim dan Jennifer. Sebab, banyak momen berciuman yang kami lewati, dan semuanya meninggalkan kesan mendalam di ingatanku, bukan hanya sekadar ciuman yang hanya terjadi begitu saja.
"Ekspresi serius, bukan tertawa cengengesan. Dan jangan lama, banyak yang antre mau foto di situ," protes Zizi.
Lalu, satu lagi di spot foto bentuk hati, Reza tidak ingin menuruti contoh pose dari Zia ataupun Aarin. "Kamu diam, tatap mataku," katanya. Lalu dia memegang rahangku dengan jemarinya, berpose seolah dia akan menciumku.
Dan cekrekk, foto itu berhasil diambil. Aku tahu, itu ciuman ala Reza Rahadian ke Tara Basro dalam film Half Worlds.
Dasar, ya... Reza Rahadian versi KW!
Menjelang sore harinya, dari objek wisata Puncak Wanagiri, kami menempuh perjalanan lebih dari empat puluh menit menuju Pantai Lovina. Pantai berpasir hitam yang terletak di Desa Kalibukbuk, sekitar 10 km ke arah barat Kota Singaraja.
"Untuk apa?" tanya Reza saat dia melihatku mengumpulkan cangkang kerang dan siput di pinggir pantai.
"Ini? Untuk membuat tirai," kataku. "Aku punya banyak, lo, dari berbagai pantai yang pernah kudatangi."
"Kan bisa beli, Sayang. Ngapain repot-repot bikin sendiri? Lagipula, memangnya kamu bisa membuatnya sendiri?"
"Memang susah, sih. Aku tahu itu. Tapi kan aku ingin sesuatu yang spesial, bukan sesuatu yang mudah dibeli dengan uang," ujarku.
Reza mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapanku, lalu dia membantuku. Kami berhasil mengumpulkan banyak jenis cangkang yang beraneka ragam, jauh lebih banyak dari yang biasa kudapatkan sebelumnya. Kuucapkan terima kasih padanya karena sudah membantuku mengumpulkan cangkang-cangkang yang beraneka ragam itu.
"Sama-sama," sahutnya seraya mengangkatku dengan tangannya yang kekar, dan itu sudah menjadi kebiasaannya -- kebiasaan yang selalu membuatku kaget dan memekik histeris.
Reza menggendongku sampai masuk ke dalam air, kami pun berenang dan menyelam di tepi laut. Sejauh yang pernah kurasakan, menyelam itu menyenangkan, tapi ternyata jauh lebih menyenangkan bila menyelam bersama orang yang kita cintai.
__ADS_1
Ah, lebay, ya. Namanya juga gadis yang sedang jatuh cinta. Tapi sungguh, Reza membuat senjaku menjadi lebih berwarna. Pun pada malam harinya, saat Dimas mengaktifkan led projektor saat kami menyantap makan malam. Suasana makan malam yang sama seperti dua malam sebelumnya, di meja panjang di dekat kolam, hidangan yang beraneka macam, dan lampu kerlap-kerlip yang berwarna-warni.
"Ada satu video menarik, nih," ujar Dimas. "Tonton sampai kelar, wajib."
Awalnya semua orang antusias, tapi jadi melempem saat mereka melihatku menyanyikan lagu Kesepian milik Dygta di dalam video itu, karena memang semua orang -- kecuali Aarin -- mereka sudah menyaksikan sendiri -- secara langsung alias live -- saat aku bernyanyi di resepsi Zia waktu itu. Bahkan aku sendiri jadi tak seantusias seperti beberapa detik sebelumnya.
"Sori, Bro," terdengar suara Ari dalam video itu. Saat itulah semua orang kembali antusias. Sementara Reza yang awalnya bersender, mulai menegakkan bahu, siap-siap menjadi bahan tontonan. "Sepertinya lu benar-benar tidak punya kesempatan mendekati Inara. Mas Hengky baru bahas sedikit tentang lu, tapi Inara sudah -- ya begitu, dibilang marah tidak juga, tapi sempat ngoceh, terus dia kabur ke kamar."
Reza nampak kecewa. "Percuma dong gue ke sini? Hmm... ya sudahlah, mau bagaimana? It's ok," katanya.
Dalam video itu, Reza yang memang sedari awal sudah memegang gitar -- langsung mengalihkan rasa kecewanya dengan lanjut bernyanyi, tanpa tahu kalau yang dilakukannya itu terekam kamera. Dimas saat itu berpura-pura hanya memegang kamera, tidak menunjukkan kalau dia sedang merekam seseorang yang sedang patah hati dan menelan getirnya sebongkah rasa kecewa hanya karena perasaannya tak tersambut. Reza menyanyikan lagu Perasaanku versi Adista atau dengan judul Pemujamu versi Mafia Band.
Dalam video itu Dimas menyelipkan beberapa fotoku dengan berbagai ekspresi, ekspresi saat aku tertawa sampai ekspresi saat aku bersedih. Awalnya Dimas merekam momen itu hanya karena dia suka saat Reza menyanyikan lagu-lagu pop dalam versinya -- versi Reza Dinata. Tapi, siapa yang mengira kalau yang dilakukannya itu justru berguna sebagai bahan hiburan bagi semua orang?
Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum menahan malu karena dijadikan bahan tontonan. Sementara aku mati-matian menahan bibirku supaya aku tidak kelepasan menertawainya. Padahal, sumpah, perutku sampai keram karena Dimas mengedit video itu dengan efek emoticon tangisan yang lucu.
Fiuhhh... walau sebenarnya aku agak gugup, tapi aku tetap nekat menyanyikan lagu berikutnya, Halalkan Aku dalam versi dangdut koplo, sebuah lagu yang berhasil memecah malam, semua orang ikut bergoyang. Ihsan yang pernah latihan menyanyi lagu itu denganku, langsung mengambil posisi sebagai kang gendang, padahal yang ia pukuli itu cuma toples besar berisi kerupuk. Tapi, yang membuatku tak akan pernah lupa adalah reaksi Reza yang menyawerku dengan beberapa lembar uang berwarna-warni sampai isi dompetnya terkuras habis. Haha! Matre? Bodo amat. Itu sebuah pengalaman yang menyenangkan, manis, dan lucu untuk dikenang. Suatu momen manis yang tercipta karena kenekatanku.
Masa bodohlah, khusus malam itu, seorang Reza Dinata melihat sisi lain dalam diri Inara Satria. Tapi, meski begitu, dia tetap Reza-ku, yang mencintaiku dengan segala kegilaan dan ketidaknormalanku. Atau mungkin dialah yang membuatku yang gila ini jadi semakin menggila? Mungkin.
Ups! Hujan -- pesta pun bubar.
"Ayo," ajakku sambil melangkahkan kaki. Tapi langkahku terhenti, kurasakan satu tangan Reza menarik tubuhku. Aku tersentak, tubuhku bergetar. Bukan karena tangan kirinya yang melingkar erat di pinggangku, ataupun tangan kanannya yang memeluk erat dari atas pundakku. Tetapi...
Karena deru napasnya. Deru napas yang memburu menyapu telinga, juga sentuhan bibirnya yang lembut di tengkuk leherku, aku meremang, ciuman itu terasa hangat -- aku nyaris tak merasakan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh tubuhku.
"Terima kasih," ucapnya.
__ADS_1
"Untuk?"
"Segalanya."
"Katakan lebih spesifik."
"Terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku. Terimakasih telah membuatku bahagia, khususnya kebahagiaan yang kurasakan saat ini, semuanya karenamu."
Aku baru saja ingin merespons, tetapi, alunan nada Tum Hi Ho menarik perhatianku. Kuarahkan mataku ke sumber suaranya. Aarin, gadis manis itu yang memutarnya. Dia mengisyaratkan kami untuk berdansa.
"Mau berdansa denganku?" tanya Reza.
"Dancing in the rain?"
"Yes, please?"
"Oke. Aku mau."
Kurang lebih lima menit. Kukira pertunjukan malam itu sudah selesai, ternyata belum.
"Foto dulu satu kali dengan pose ini," kata Aarin.
Dia menunjukkan pose ala Hrithik Roshan yang seakan ingin mencium Priyanka Chopra yang berdiri di depannya sambil memejamkan mata dalam film Agneepath.
"Fotonya akan lebih uwuww kalau Mas Reza melepas baju," seru Aarin tanpa malu.
Ihsan hanya tertawa melihat tingkah gadis yang ternyata sudah resmi menjadi kekasihnya itu. Tentu saja, seperti Reza yang mencintaiku dengan segala kegilaanku, seperti itu juga cinta Ihsan terhadap Aarin. Yeah, karena cinta tumbuh dari dua pribadi yang memiliki banyak kesamaan. Iya, kan?
__ADS_1