
《Aku sudah di parkiran rumah sakit.
Sengaja kukirimkan pesan itu kepada Reza supaya dia menungguku dengan antusias -- menantikan setiap detik yang mengiringi langkah kakiku yang membawaku kepadanya.
Tapi siapa sangka, aku melihat Alfi dan Salsya di taman di depan rumah sakit. Aku yang semula ingin langsung menemui Reza secepatnya di ruang rawat -- malah berbelok ke arah taman. Aku dan Mayra bermaksud menguping pembicaraan mereka, tapi sayang, hanya sedikit yang bisa kudengar.
"Itu bukan salahku, Fi. Nara yang salah. Coba kalau dia tidak melukai Reza, Reza pasti bisa melindungi dirinya sendiri. Tidak akan sampai seperti ini. Reza hampir mati itu karena Inara, bukan aku."
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu, yang pasti aku terdiam. Aku ingin marah atas ucapan Salsya, tapi aku juga tidak bisa, sebab hatiku membenarkan perkataannya. Sebab aku Reza terluka, sebab luka itu Reza lengah dan lemah.
"Sebaiknya kita langsung masuk, ayo." Lagi-lagi Mayra menarik tanganku sampai ke ruang rawat Reza. "Aku tidak ikut ke dalam, aku hanya ingin memastikan kalau kamu kembali ke sini." Lalu Mayra memelukku. "Jaga pria malang yang sebatang kara itu baik-baik, oke? Dia tidak punya siapa-siapa selain kita."
Aku mengangguk kendati otak dan hatiku sebenarnya belum sinkron. Aku mendadak seperti orang idiot yang sulit mencerna setiap hal dan setiap ucapan yang kudengar saat itu.
"Tunggu apa lagi? Masuk, gih."
Ya Tuhan... jika saja saat itu ada seorang penjahat yang hendak menjarah semua barang-barangku, mungkin aku membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Bahkan, kalau saja Mayra tidak menyeretku dan mengantarku sampai ke depan pintu ruang rawat itu, mungkin aku tidak akan sampai ke sana.
Sewaktu aku masuk ke ruang rawat Reza, ternyata ada Erik bersamanya. Mereka sedang membahas sesuatu.
"Sori," kataku.
Aku baru hendak berbalik dan keluar, tapi Reza langsung mencegahku. "Kamu mau ke mana? Sini," katanya. "Kamu tidak perlu keluar." Reza langsung mengatakan kepada Erik untuk melanjutkan obrolan mereka di lain waktu. Bahasa yang halus untuk menyuruh pemuda itu keluar dan langsung berpamitan.
Sialnya, aku masih belum bisa mengontrol diri dan masih mematung di sana -- di dekat pintu.
"Sayang?"
"Emm?"
"Sini."
"Oh, ya. Iya, Mas," kataku dengan gugup, barulah aku mendekat.
Sewaktu aku duduk di hadapannya, Reza memegangi tanganku erat-erat. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu. Dengan lembut, namun sepenuh perasaan, Reza menempelkan kedua tangannya di wajahku. Dia memegangiku seperti itu, tatapannya begitu tajam, seolah-olah dia sedang memotretku dengan mata batinnya. Di sana -- di wajah yang tampan itu, ada binar-binar samar penuh kedamaian yang mewujud senyum lebar yang lembut.
"Aku cinta padamu," katanya. "Kamu tahu itu, kan?"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu," kataku setelah mengangguk.
"Terima kasih. Terima kasih karena kamu menyelamatkan aku dari kematian. Aku berhutang nyawa padamu."
Aku menatapnya -- dengan pupil melebar plus kedua alis bertaut, keheranan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau aku kehilangan banyak darah dan kamu memberikan darahmu untukku?"
Kalimat itu membuat mulutku membulat, aku ingin mengucap oh -- reaksi alami setelah mengerti maksud ucapannya, tapi tidak ada suara yang terdengar.
"Alfi yang bilang padaku," katanya.
"Ya, sama-sama," jawabku sambil mengangguk. "Lagipula itu salahku, kan? Aku yang menyebabkan semuanya. Kalau aku tidak melukaimu, kamu tidak akan cidera, tidak akan lengah saat orang-orang itu menyerangmu."
Reza tersenyum, malah nyaris tertawa. "Siapa yang menyalahkanmu? Apa ada yang bilang begitu?"
"Salsya," kataku terus terang, tanpa menutupi, tapi juga tidak bermaksud mengadu. Aku hanya menjawab jujur dan apa adanya.
Reza mengangkat wajahku yang tertunduk, wajah yang menyiratkan rasa bersalah yang membuatku tidak berani menatapnya. Sebab itu kusembunyikan wajahku dengan langsung menyuruk ke pelukannya. "Bukan salahmu," katanya. "Itu salahku sendiri. Kamu ingat waktu pertama kali Salsya menemuiku di Bali? Waktu itu kamu menamparku karena Salsya memelukku. Ingat?"
"Iya, aku ingat," kataku hampir tertawa, sebab aku sudah mengerti ke mana arah pembicaraan kami.
"Bukan hanya sekadar tamparan yang akan kamu terima," kataku, menyambung kalimatnya -- kalimatku sendiri.
"Nah, itu kamu ingat. Jadi, kamu tidak bersalah. Aku yang salah. Semoga aku tidak melakukannya lagi, kalau tidak -- barangkali kamu akan membunuhku."
Aku menegakkan bahu, melepaskan diri dari pelukannya. "Aku tidak akan membunuhmu, tahu!"
Reza menyunggingkan senyuman nakal. "Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan nada menggoda. Pasti dia berharap dan mengira aku akan bereaksi sama sepertinya, menjawabnya dengan nakal.
Yap, aku pun mendekat kepadanya, ke wajahnya, kutatap dia dengan sorot mata menantang, lalu kusentuh dadanya dengan satu jari. "Akan kutunjukkan pada hatimu, bagaimana sakitnya ketika kekasihmu dipeluk lelaki lain."
Wajah Reza langsung berubah masam, tapi tatapan matanya tetap tajam. "Kamu bukan perempuan murahan, dan sebaiknya jangan coba-coba menjadi murahan," katanya.
Aku menjauhkan wajahku darinya dan kuberi dia senyuman kecut. "Tentu saja bukan seperti itu." Aku berdiri, hendak ke toilet, tapi sebelumnya aku berhenti dan berbalik. "Mungkin aku akan merubah pemikiranku, barangkali cinta sahabat akan lebih indah daripada cinta kekasih. Lagipula, masa depan bersama seorang dokter jauh lebih menjanjikan, iya kan?" Kutinggalkan dia dan langsung masuk ke dalam toilet.
Aku tidak tahu sejauh mana hati itu terasa sakit mendengar kata-kataku. Aku juga tidak tahu, apakah Reza akan cemburu atau tidak. Kalau dia cemburu? Itu bagus, itu yang kuharapkan. Supaya dia tahu, bagaimana sakitnya aku setiap kali dia bermanis-manis di depan Salsya.
__ADS_1
Reza berdiri di ujung bed-nya ketika aku keluar dari toilet. Dia menatap lurus ke arahku. "Kenapa kamu turun dari bed? Mau ke toilet?" tanyaku sembari cepat-cepat menghampirinya.
Dia menggeleng, tapi tidak menyahuti pertanyaanku. Sewaktu aku mengajaknya kembali ke bed, dia malah menarikku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku. Sementara satu tangannya lagi terangkat -- dia menelusurkan satu jarinya di wajahku. "Jangan pernah meninggalkan aku," katanya.
"Bisa bicara lebih lembut? Itu tadi perintah, bukan permintaan. Malah seperti ancaman," protesku.
Haha! Berhasil. Aku suka dia memohon kepadaku. Reza meraih dan menempelkan tanganku di wajahnya. "Tolong, jangan pernah meninggalkan aku. Aku mohon... aku tidak ingin hidup tanpamu."
Aku tersenyum, kali ini senyuman yang manis. "Itu tergantung kamu, Mas. Kalau kamu selalu setia dan tidak pernah lagi menyakitiku, aku akan selalu ada di sini, di sisimu. Tapi, sekali saja, atau sedikit saja kamu menyakiti aku, aku tidak akan pernah mau bertahan. Aku tidak akan pernah ragu meninggalkanmu. Kamu harus selalu membuktikan kalau kamu layak untuk kupertahankan."
Reza mengangguk tanpa kata, dia langsung memelukku dengan erat. Tetapi aku justru sedih, sebab Reza tidak mengatakan apa-apa, dia tidak berjanji untuk setia dan tidak berjanji tidak akan menyakitiku lagi. Seolah-olah...
Tanpa mengatakan apa pun, dia memasangkan earphone ke telingaku. Saat terdengar alunan musik aku langsung mengerti, dia ingin berdansa denganku. Benar-benar pasien yang konyol.
"Pelan-pelan dan jangan menggendongku," kataku mengingatkan dia pada luka bekas operasinya.
Dia mengangguk -- memahami dan menyetujui untuk tidak hiperaktif. Kami pun berdansa di lantai ruang rawat inap rumah sakit itu, sementara suara Christina Perri mengalun merdu dalam A Thousand Years. Reza berdiri rapat di depanku sambil ikut bernyanyi, kedua lengannya memeluk pinggangku. Tiba-tiba perasaan aneh yang agak-agak surealistis merambati tubuhku, semua ini terasa begitu alami. Seandainya ada malaikat yang mendatangiku pada saat itu dan memberiku pilihan untuk menghabiskan seluruh keabadian dalam pelukan Reza, mendengarkan dia bernyanyi dekat di telingaku, dan merasakan embusan napasnya yang hangat di pipiku, aku akan mengiyakan tanpa keraguan sedikit pun.
Reza tersenyum. "Aku suka aroma apel di rambutmu," katanya, persis setelah lagu itu berakhir, sementara aku masih berada dalam pelukannya.
"Aku juga suka," kataku.
"Aku suka wajahmu kembali fresh."
"Mmm-hmm...."
"Maaf karena aku sudah mengurungmu di sini berhari-hari."
"Tidak apa-apa, aku suka kok menemanimu. Kamu tidak perlu merasa bersalah."
"Terima kasih, sudah bersedia berdansa denganku, seorang pasien yang konyol."
Jiaaah... dia membuatku tertawa.
"Terima kasih, karena kamu selalu menemaniku melewati setiap kesulitan."
Well, aku mengangguk. "Apa lagi?"
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu cepat-cepat kembali ke sini, sebab... aku belum makan. Suapi, ya?"
Hmm... dasar manja. Masa makan saja mesti menunggu aku?