
Jam setengah sembilan pagi, kami sudah sampai di lokasi Air Terjun Jembong, yang berada di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Kami menempuh jarak lebih dari dua jam perjalanan. Tapi jarak tempuh yang jauh itu sama sekali tidak berarti apa-apa setelah kami sampai ke lokasi air terjun yang indah itu. Terlebih untukku dan Reza yang menyempatkan tidur selama di perjalanan, meski sebenarnya aku tahu dia tidur dalam keadaan gelisah. Aku menyadarinya. Hanya saja, aku merasa tidak enak hati untuk bertanya karena ada orang lain di dekat kami.
Hari itu, meski setengah hati dan setengah mengantuk, Reza tetap menunjukkan sikap berbaurnya kepada semua orang. Dia tetap mau menjalani sesi foto prewedding kami hari itu. Kubisikkan pada Zia dan Aarin, jangan memintanya berpose nyeleneh. Sebab, hati dan pikiran Reza sedang tak selaras, meski tidak semua orang menyadarinya.
Foto prewedding ala Rizky Alatas dan Adzana Bing Slamet adalah contoh pose yang diajukan Zia, dengan latar belakang pemandangan air terjun dan tebing bebatuan, saling berhadapan dan bertatapan, posisi tanganku di pinggang Reza, dan tangan Reza di leherku. Untuk kesan elegan, Mayra meminta kami untuk memakai setelan gaun pengantin Royal Blue Romantic Off Shoulder dengan bordir renda, dengan setelan jas warna biru yang senada. Meski Reza tidak tersenyum, tapi dia tetap Reza yang tampan dan berkarisma.
Kami hanya mengambil satu foto prewedding dan langsung berganti pakaian, sedangkan yang lain sedang sibuk berselfi ria. Waktu aku selesai berganti pakaian, Reza tidak ada di dekat-dekat tempat aku meninggalkannya. Aku melangkah, turun ke bawah, dan kulihat dia sedang duduk bengong di Bale Bengong, tempat semacam pondokan untuk pengunjung yang ingin beristirahat, ekspresi wajahnya aneh. Ekspresi yang belum pernah kulihat. Dia nampak sedih dan murung. Dia bahkan tidak menyadari saat aku menghampirinya, sehingga kubiarkan saja sampai dia tersadar sendiri kalau aku ada di sana.
"Eh, Sayang. Sori, aku tidak tahu kamu ada di sini. Kenapa kamu tidak gabung dengan yang lain?" tanyanya.
Kubilang bagaimana mungkin aku bisa bersenang-senang, sementara dia berteman dengan kemurungan. "Ada masalah apa, Mas? Kamu masih marah karena mereka mengerjai kita semalam?"
Dia berdiri dan meraih tanganku. "Bukan," sahutnya.
"Lalu?"
Dia tidak menjawab, hanya menggeleng pelan, dan kembali duduk. Aku pun ikut duduk di sisinya. "Oke. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau cerita. Tapi, sekiranya suatu saat kamu mau berbagi keluh kesah denganku, aku siap menjadi pendengar yang baik. Untukmu."
Dia pun tersenyum, hanya senyuman kecil yang hambar. Kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Kami tidak bercakap-cakap sampai semua orang selesai dengan keseruan mereka masing-masing. Entah kenapa, aku merasa kehilangan sosok Reza yang selalu hangat. Dia yang biasanya menjadi tempatku bersandar, kali ini justru menjadikan aku sebagai tempatnya untuk bersandar. Aku tidak keberatan, hanya merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba, tanpa aku tahu apa sebabnya.
"Sesi fotonya dilanjutkan hari lain saja, ya?" kataku pada tim photographer, setibanya kami di lokasi parkir Air Terjun Banyumala, di Desa Wanagiri, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.
Menurut Alfi, ada banyak air terjun yang lebih memesona di Bali. Tetapi rute tempuhnya lumayan sulit, katanya. Terlebih dengan kondisi kaki kami yang belum pulih sepenuhnya. Karena itulah, Air Terjun Jembong dan Air Terjun Banyumala yang menjadi pilihan, air terjun yang pemandangannya indah dan memungkinkan bagi kami untuk menjangkaunya.
__ADS_1
Semua orang dengan antusias melangkahkan kaki melewati jalan setapak. Sedangkan Reza mengajakku jalan pelan-pelan, bergandengan tangan menyusuri jalan langkah demi langkah, supaya tidak menguras tenaga dan tidak ngos-ngosan katanya.
"Sebenarnya aku bingung, Mas. Aku tidak tahu kamu kenapa. Mood-mu sepertinya sedang jelek. Mungkin kamu ada masalah, atau ada beban pikiran, tapi kamu tidak mau bercerita. Atau mungkin kamu tidak enak badan? Kalau kamu mau, kita istirahat saja di mobil," kataku.
Reza menggeleng pelan. "Kita kan mau foto prewedding."
"Aku sudah bilang ke mereka, fotonya bisa dilanjutkan besok-besok."
Dia mengernyitkan dahi mendengar jawabanku, tapi tidak berkomentar.
"Aku tahu, hati dan pikiranmu sedang kacau. Mood-mu sedang tidak bagus. Kamu tidak perlu memaksakan diri," kataku.
Reza menghentikan langkahnya, lalu mengutarakan permintaan maaf padaku.
Reza menunduk, dia berusaha menghindari tatapan mataku. "Sori," katanya. "Tapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan cinta kita. Percaya padaku."
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengutarakan semua yang ada di benakku, lalu berkata, "Beberapa hari yang lalu kamu berhasil meyakinkan aku hingga aku menerima lamaranmu. Bahkan beberapa jam yang lalu kamu berhasil meyakinkan aku akan ketulusanmu. Dan beberapa jam yang lalu aku mengakui bahwa aku mencintaimu. Tapi aku juga yakin kalau kamu tidak lupa, lebih dari dua puluh dua tahun aku tidak bisa menaruh kepercayaan pada lelaki mana pun. Boleh aku mengingatkanmu? Aku bukan hanya pernah terbakar, boleh dibilang aku sudah hangus. Dan bukan sekadar oleh seseorang entah siapa, tetapi oleh satu-satunya lelaki di dunia ini yang seharusnya melindungiku. Itu sebabnya aku seperti ini. Aku punya banyak bekas luka, dan kamu tahu itu. Bekas luka itu menanamkan kelemahan dan membuat duniaku gelap. Mungkin kamu menganggap aku berlebihan dalam menyikapi semua ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kamu ingin aku selalu percaya, kuncinya cuma satu, jujur. Apa pun itu. Jangan menutup-nutupi sesuatu dariku."
"Aku paham," cuma itu yang dia ucapkan. Aku menunggu dia menjawabku, menunggu kejujurannya. Sedetik. Dua detik. Sampai hitungan detik jadi menit, dia tak kunjung buka suara.
Aku mendesa* keras. "Oke. Lupakan," kataku. Kupercepat langkah kakiku meninggalkannya yang masih saja bungkam di belakang sana. Bukan karena apa-apa, tapi untuk menghentikan diriku sendiri agar aku tidak terus mencecarnya dengan kata-kataku. Agar aku tidak lepas kontrol dan justru merenggangkan hubungan kami. Aku tahu, api sedang berkobar hebat di dalam diriku. Kuusap air mataku yang mulai menetes. Aku marah pada diriku sendiri, sebab aku plin-plan. Separuh hatiku menuntutku untuk percaya pada Reza, sedangkan separuhnya lagi meronta-ronta, menuntutku untuk menyelamatkan diri sebelum aku jatuh ke lubang nestapa, lubang yang pernah menjatuhkan ibuku ke dasarnya yang paling dalam. Aku tidak ingin merasakan hal yang sama.
Ah, sial. Aku bertemu Alfi dan Mayra di pos penjaga pintu masuk. "Kenapa?" tanya Mayra.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," kataku. Aku menggeleng kuat-kuat. Dari kejauahan, aku bisa melihat Ihsan bersama Aarin. "Aku boleh jalan duluan?"
Alfi mengangguk. "Boleh," katanya.
Semua orang senang, berendam dan berenang di kolam air terjun. Sementara aku memilih duduk di bangku taman, menenangkan diriku sendiri, memandangi air yang jatuh dari ketinggian itu. Air itu jatuh, tapi ia tetap memberikan kebahagiaan dan keindahan. Dia jatuh, tapi ia tetap memberi. Sedangkan aku? Aku yang pernah jatuh, dan terus jatuh, tapi aku selalu menuntut kebahagiaan dan keindahan.
Jadilah seperti air Inara. Meski ia jatuh, ia tetap air, tak lantas menjadi serpihan, meski ia jatuh, ia tetap pada kodratnya, memberi. Meski ia hanya air, tapi ia mampu membahagiakan, mampu mendinginkan, mampu menciptakan rasa nyaman, dan ia selalu menunjukkan bahwa ia adalah sesuatu yang indah, yang selalu menyejukkan, meski ia hanyalah air. Jadilah kau seperti itu, batinku.
"I love you," suara itu menempel di telinga. Entah sejak kapan dia ada di belakangku, membuatku tersentak, menyadari satu tangannya telah melingkar sempurna di pinggangku. "Maaf kalau sikapku telah menyakitimu," bisiknya lirih. Satu tangannya lagi turut melingkar erat, membuat perutku bergolak meriah. Sesaat kemudian ia mengecup sisi keningku. "Jangan sedih lagi, ya. Mas sayang kamu."
Aku mengangguk. Perlahan dekapannya melonggar. Dia beralih posisi duduk di sampingku. "Begini," Reza mencoba membuatku mengerti, "tidak semua masalah bisa kuceritakan padamu, atau mungkin aku belum siap untuk menceritakannya. Tapi, aku akan berusaha bersikap senormal mungkin di hadapanmu. Cukup kamu percaya, hati dan perasaanku, sama sekali tidak akan pernah berubah terhadapmu. Oke?"
Rasanya tidak adil, tapi aku berusaha menahan egoku. Kuanggukkan kepala, memberikan sedikit pengertian dari sekeping hati yang masih terikat trauma masa lalu. "Aku juga minta maaf, Mas. Maaf karena aku tidak bisa menyembunyikan sikapku yang menyebalkan. Maaf, ya?"
Dia tersenyum semringah, lalu mencubit gemas kedua pipiku. Aku tahu, dia berusaha tetap menjadi Reza-ku, Reza-ku yang selalu hadir dengan kehangatan cintanya.
"Halo... permisi, punten, maaf mengganggu, Mbaknya, Masnya. Kita mau foto di sana. Boleh permisi sebentar? Aku mohon...," ucap Aarin. "Sekalian tolong foto kita berdua, ya," sambungnya, lengkap dengan cengirannya yang lebar.
Tanpa malu-malu, gadis manis itu merebahkan diri di atas bangku dan memejamkan mata, dan adikku, Ihsan -- berpose mesra dengannya. Bak Bipasha Basu dan Emraan Hashmi dalam cover film Raaz 3. Mereka membuatku menelan ludah, rasa iri menyelip ke dalam hatiku. Kulirik Reza dengan senyuman sebagai kode aku juga mau berfoto semesra itu. Dia yang bisa mengerti tanpa aku harus bicara, langsung mengatakan, "Giliran," katanya. Sontak saja hatiku langsung kegirangan.
"Satu pose lagi, yuk, Mbak? Di bebatuan sana," ajak Aarin sambil menunjuk batu di kolam air terjun di bawah sana. Lalu dia menunjukkan pose ala Emraan Hashmi dan Jacqueline Fernandes dalam film Murder 2. Lagi-lagi si gadis cantik itu memembuatku menelan ludah melihat pose Emraan Hashmi mencium leher Jacqueline Fernandes. Sungguh, itu pose foto yang sangat manis. Mesra, intim, dan seksi. Sempurna.
Tanpa menunggu aku mengiyakan, Reza yang tanpa malu sedikit pun -- langsung menggendongku masuk ke air. Kudengar Aarin menjerit histeris di belakang sana. "Aku mau digendong juga...," rengeknya pada Ihsan. Fix! Menurutku gadis itu menyimpan perasaan suka pada adik lelakiku yang tampan. Mungkin.
__ADS_1