
Aku tiba di Surabaya Carnival Park pada jam tiga lewat lima belas. Lima belas menit lebih awal dari yang kujanjikan. Aku menunggu Reza di luar, karena wahana itu belum dibuka. Waktu itu aku memakai jeans biru dan kaus silver. Rambutku yang biasanya terikat ke belakang, hari itu kukepang dengan anyaman seribu.
Reza datang sekitar dua puluh menit kemudian. Meski dengan pakaian kasual dia tetaplah tampan seperti Reza Rahadian. Ia hanya memakai jeans biru dan kaus dengan warna yang senada. "Kamu sudah lama? Maaf, aku telat," katanya.
Aku langsung melirik jam di ponselku, waktu menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh lima menit. "Tidak masalah, cuma terlambat lima menit. Kamu juga bukan anak sekolahan yang harus dihukum hanya karena datang terlambat," celotehku yang membuat ia tertawa.
Tempat wahana itu sudah dibuka lima menit sebelum Reza datang, tepat pukul setengah empat sore. Kami pun langsung mengantre untuk membeli tiket masuk. Reza mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu dari dompetnya, kemudian membayar dan memasukkan kembaliannya ke saku celana. Kami pun masuk ke dalam wahana, berkeliling sambil mengobrol, melanjutkan obrolan kami malam itu.
"Bagaimana? Bisa mulai cerita?"
"Kenapa, sih, sepertinya kamu penasaran sekali dengan kisahku?"
"Bukan penasaran, lebih tepatnya -- lebih cepat kamu bercerita, lebih cepat aku tahu, dan lebih cepat aku bisa memahamimu."
Alisku menaut. "Memangnya untuk apa?"
"Bagus dong kalau aku bisa memahamimu, bagus untuk pertemanan kita. Siapa tahu, mungkin hubungan kita ini -- bisa lebih dari teman, ya kan?"
Hmm? Maksudnya? Aku yang biasanya tertawa, kala itu malah jadi salah tingkah. Aku mulai nervous lagi. "Belajar dialog dari mana?" tanyaku untuk menutupi rasa nervous yang kurasakan dan bermaksud mengalihkan pembicaraan.
Reza tertawa. "Kamu sendiri yang sering memanggilku Reza Rahadian," ujarnya.
"Kamu lagi akting, ya? Kamu mau nge-prank aku supaya aku baper? Jangan-jangan, ada kamera tersembunyi di sekitar sini? Hmm?"
__ADS_1
Celingak-celinguk, aku mengawasi area di sekitar kami.
"Tidak ada. Swear! This is real."
"Masa?"
"Aku hanya ingin memahamimu, Inara...."
"Ok, wait, aku bingung memulai cerita ini dari mana."
"Mulai saja dari apa alasanmu sehingga kamu menjadi nona pengembara," sahutnya.
Aku mengangguk dan menelan ludah. "Mmm... keinginan. Karena aku suka tempat-tempat baru. Dan selebihnya... jujur, semua ini karena masa kecilku, karena aku berada dalam keluarga broken home, jadi... aku mencari pelarian: ke musik, film, novel, dan game. Nah, dari film dan novel, aku jadi punya khayalan-khayalan sendiri. Kucoba menuangkan khayalan-khayalan itu dalam bentuk tulisan, jadilah karya fiksi. Dari sana aku mulai menjadi penulis. Dengan menulis aku bisa menghasilkan uang sendiri. Aku menabung cukup lama. Dengan uang tabungan itu aku bisa memulai pengembaraanku. So, di sinilah aku, inilah hidupku, dan inilah duniaku."
Reza mengangguk-anggukkan kepala, sebuah gambaran bahwa dia benar-benar menyimak ceritaku. "Awalnya menyedihkan. Tapi aku bangga, kamu mendapatkan apa yang kamu mau, dan kamu bahagia dengan pilihanmu," katanya. "Kalau rasa sukamu pada sosok Reza Rahadian, itu bagaimana?" tanyanya lagi.
"Kalau cuma karena itu masa iya sampai terbawa mimpi? Kamu yakin tidak ada perasaan lebih? Mungkin semacam perasaan cinta?"
Aku berpikir sejenak. "Begini, dalam menulis aku butuh sosok yang menginspirasi. Berhubung aku suka nonton film-filmnya Reza Rahadian, jadi aku menyukai dia. Jadilah dia inspirasi tokoh utama pria dalam setiap tulisanku, tokoh protagonis, baik, tampan, keren, gentle, dan pastinya setia. Jadi kesimpulannya, hanya sebatas suka. Nothing special. Sumpah. Mmm... omong-omong, aku haus."
"Oh, sori, sori, aku lupa. Sebentar, aku cari minum. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," katanya sembari berjalan menjauh.
Aku ingat, ketika dia mengucapkan kalimat, "Jangan ke mana-mana," dia sudah berjalan beberapa langkah, lalu memutar badan, dia mengucapkan kalimat itu sambil berjalan mundur, mengulurkan tangan dan mengacungkan jari telunjuknya ke arahku. Aku sampai tertawa melihat tingkahnya itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Reza kembali dengan menenteng dua botol greentea, sebotol air mineral, dan sebotol minuman rasa jeruk, yang dimasukkan ke dalam kantong plastik putih. Dia membukakan tutup botol greentea dan memberikannya padaku. Dia menjelaskan kepadaku bahwa dia belum tahu apa minuman favoritku, jadi dia membeli tiga jenis minuman itu sekaligus.
"Aku tidak tahu mau beli makanan apa. Tapi nanti kalau kamu lapar, atau mau makan apa, mau beli apa, bilang saja. Nanti aku belikan. Oke?"
Aku tersenyum. "Tenang, aku tidak akan jaga image kok di depanmu," sahutku sambil nyengir. "Untuk apa jaim?"
"Bagus kalau begitu. Aku suka," ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku, seperti mengelus seorang bocah, tapi jujur aku sangat suka dia memperlakukanku seperti itu. Aku sempat terkesima, lagi-lagi sentuhan itu menimbulkan getaran. Tentu saja aku tidak berkomentar dan tidak mengatakan itu kepadanya.
Saat itu hari masih terang, kami memutuskan hanya untuk berkeliling dan berswa foto. Awalnya aku menanyakan kepadanya apa dia mau berfoto untuk kenang-kenangan. Tapi dia malah menjawab -- dia mau kalau fotonya berdua denganku. Karena itu aku mengeluarkan tongsis dari dalam tasku, dan menuruti apa yang dia inginkan.
Foto pertama, itu kami ambil di Art & Wax House, studio foto raksasa berisi patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal dunia. Setelah melihat semua patung lilin di dalam sana, kami keluar menuju arena Sepur Sirkus, sambil berfoto dan melihat boneka-boneka sirkus yang bentuknya lucu-lucu. Setelahnya barulah kami beristirahat sejenak, kakiku cukup pegal untuk lanjut berkeliling.
"Mumpung kita lagi duduk, aku mau kamu lanjut cerita, dan kali ini tentang masa kecilmu. Aku mau tahu, kenapa kamu sampai harus mencari pelarian. Emm... aku harap, kamu tidak keberatan untuk bercerita," kata Reza dengan suara terdengar lirih, seolah itu sangat penting baginya. "Aku mau tahu banyak tentangmu. Tapi kamu jangan tanya kenapa, jawab saja."
Aku menarik napas panjang, lalu mulai membuka suara, "Aku tidak ingat persis masa-masa kecilku. Yang aku ingat, ayahku tidak pernah hadir dalam hidupku, bahkan sekadar untuk melihatku dan adikku, atau bahkan sekadar hadir di hari ulang tahun kami, tidak pernah sama sekali. Sejak ulang tahunku yang ke dua tahun, aku selalu merayakannya tanpa seorang ayah. Aku memang tidak ingat, tapi setiap dokumentasi video acara ulang tahunku, sosok lelaki itu tidak pernah ada. Yeah, takdir memaksa kami tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah. Mau bagaimana lagi?"
Aku berhenti sejenak, menarik napas panjang lagi, sebab rasa sesak mulai memenuhi rongga dada. Aku mulai merasakan sedikit sakit di kerongkonganku. Tapi aku sudah berjanji untuk bercerita, jadi ya sudahlah.
"Dia boleh saja meninggalkan Bunda dengan berjuta alasan. Tapi kan seharusnya, tidak ada alasan untuk seorang ayah meninggalkan anak-anaknya. Seorang anak memang tidak terlahir dari perut ayahnya, mungkin itu yang membuat kasih sayangnya tidak sebesar kasih sayang seorang ibu. Mungkin itu yang membuat dia tega meninggalkan aku, anak perempuan yang usianya belum genap dua tahun. Bahkan Ihsan saat itu masih bayi, dia baru berumur empat bulan dua minggu, masih bayi yang tidur pulas, diajak main pun belum bisa. Aku marah dengan takdir ini. Dan sebagai pelampiasannya... ya begitu, aku harus punya pelarian."
Detik itu air mataku mulai menggenang. Sekali saja aku mengedipkan mata -- air mata itu langsung menetes dan mengalir di pipiku.
"Maaf sebelumnya, ya. Apa kamu benci terhadap ayahmu?" tanyanya hati-hati.
__ADS_1
Aku mengangguk. "Tentu saja aku membencinya. Ditinggalkan dan tidak pernah hadir, itu menjadi alasan kuat bagiku untuk membenci ayahku. Rasa benci itu bukan sebuah keinginan, Za. Rasa itu tertanam dan tumbuh sendiri, tanpa kumau, tanpa aku menginginkannya. Rasa benci itu terlanjur mengakar kuat di dalam hatiku. Meski Bunda selalu menasihatiku supaya tidak membencinya, tapi fakta dan kenyataan tidak memberikan aku alasan untuk menghilangkan rasa benci itu." Aku memejamkan mata, menahan diri, aku harus berhenti menangis, dan tidak boleh menangis. "Kita cari makan dulu, ya? Nanti baru lanjut cerita lagi," kataku, yang sebenarnya aku berusaha melawan rasa sedih yang sudah merasuki jiwaku.
Aku ingin memakan makanan ekstra pedas.