Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Pertengkaran


__ADS_3

Jumat pagi. Kubuka mata malas-malasan. Energiku rasanya terbang entah ke mana. Rasa kesalku atas kahadiran Salsya tadi malam masih saja tersisa. Menurut feeling-ku, kehadirannya itu untuk mengganggu hubungan antara aku dan Reza. Aku yakin dia ingin merebut Reza dariku.


Apakah aku harus bertahan -- dengan konsekuensi mungkin aku akan lebih patah hati? Meski Reza punya sejuta janji manis yang indah untuk masa depan kami? Bagaimana jika suatu saat dia ingkar janji? Walau bagiku dia seperti malaikat, dia tetap manusia biasa, bisa khilaf. Jangankan dia yang tidak punya ikatan darah denganku, ayahku, yang jelas-jelas darahnya mengalir di dalam tubuhku, bisa dengan tega meninggalkanku. Atau sebaiknya aku mundur baik-baik, melepaskannya dengan ikhlas, merasakan sakitnya sekarang di saat sakit itu sedang bertahta di hatiku?


Ah, hatiku benar-benar galau.


Pusing dengan pengandaian, kuputuskan lari pagi di sekitar penginapan, berharap aku bisa melupakan sementara kegelisahan yang kurasakan ini. Sebab, aku belum bisa memutuskan, apakah akan meneruskan atau berhenti?


Selesai salat subuh, langsung kuambil jaket dan memakai sepatu. Tapi, belum hilang rasa kacau di hati dan pikiranku, tiba-tiba masuk pesan whatsapp dari nomor yang tak dikenal. Mataku membulat. Aris.


》 Hi, are you, Inara? Its me. Aris.


Aku merinding. Mungkin dia mengetahui nomor baruku dari bibiku. Kenapa tiba-tiba banyak sekali hal-hal yang menjengkelkan?


"Mau ke mana, Mbak?" tanya Aarin yang baru kembali ke kamar, entah dari mana.


Aku melirik sekilas. "Jogging," jawabku singkat. Aku tidak ingin berbasa-basi mananyakan apakah dia ingin ikut, sebab aku memang tidak ingin pergi dengan siapa pun.


"Dengan siapa? Mas Reza?"


Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menggeleng lemah.


"Sendiri? Tapi ini--"


"Tidak apa-apa. Aku bisa jaga diri. Aku pergi, ya. Dah, Aarin."


"Tapi ini masih cukup gelap, Mbak...," katanya khawatir. "Bahaya...."


Tidak peduli. Aku lari di sekitar penginapan sendirian. Musik yang mengalun dari earphone mengentak dengan irama cepat. Aku menggerakkan badan sambil bersenandung. Tanpa sadar ada yang mengikuti.


"Siapa kamu? Mau apa?"


Aku ngos-ngosan dan terperanjat saat melihat orang yang menepuk bahuku, dia memakai jaket dan masker. Kulepas earphone dan langsung menyerangnya. Tendanganku tidak meleset.


"Auw! Sakit!" teriaknya.


Itu suara Reza.


"Kenapa kamu mengikutiku?"


"Aku tidak mau kamu pergi sendirian, bahaya."


"Aku bisa jaga diri," sanggahku, sungguh keras kepala.


"Oke. Silakan lari. Tapi biarkan aku mengikutimu. Aku janji akan jaga jarak, ya?"


Kuembuskan napas dengan kesal. "Terserah!" Aku lanjut lari, meninggalkannya di belakang sana.


Setengan jam. Aku sampai ke area pantai dan menghentikan langkahku. Tidak. Aku tidak ingin ke bibir pantai karena ada Mas Reza di belakang.


"Kok berhenti? Ayo, kita ke pantai," ajaknya. Tapi aku menggeleng. "Tolong. Kita harus bicara. Diam itu hanya membuat kita saling menyakiti, Sayang."

__ADS_1


Omong kosong! "Aku sudah terlanjur sakit. Apa bedanya?"


Aku ingin pergi.


"Tunggu...." Disambarnya tanganku. Aku menggigil. Lututku lemas. Dia menatapku tanpa bicara. Lalu dia menarik tanganku dengan cengkeramannya yang kuat. Aku tidak berontak, tidak ingin ada orang sekitar yang terganggu. Entah, mungkin juga memang karena nuraniku ingin melakukan itu. Aku menurut, seperti Anya mengikuti langkah Ale yang menggandeng tangannya dalam Critical Eleven. Bedanya, langkah kami berakhir di pantai, bukan di ranjang.


Reza mengajakku duduk. Kuikuti kemauannya. Kami duduk dalam diam beberapa saat sampai ia buka suara, "Yang semalam itu Salsya. Dia...."


"Aku tahu. Dia mantan pacarmu, si koki cantik andalan ibumu. Aku melihat fotonya yang masih kamu simpan di album keluarga. Bahkan sepertinya, kamu masih menyimpan dia di hatimu," tudingku tanpa melihat ke arahnya.


Dia nampak terkejut karena aku mengetahui semua hal yang kucetuskan itu. "Mengenai album itu... aku minta maaf."


"Kamu sudah terlalu sering meminta maaf dalam kedekatan kita yang bahkan belum genap satu bulan."


Dia mengangguk, lalu mendesa* dengan berat. "Aku tahu," ujarnya.


"Langsung saja. Apa yang kalian bicarakan semalam? Apa yang dia mau? Dan kenapa dia menemuimu? Atau, jangan-jangan kalian memang janjian bertemu di sini? Iya?" lagi-lagi aku menudingnya.


Dia menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak seperti itu," katanya. "Tolong, biar kujelaskan dulu. Kamu dengar, jangan menyela, oke?"


Kutelan ludah getir. Jika saja ini drama sinetron, tentu saja aku sudah dicerca para emak-emak haters karena mulutku yang terus saja menyerocos, menjawab ucapan-ucapan Reza. Terpaksa kuanggukkan kepala. "Silakan," kataku.


"Kemarin Salsya melihatku di Sanur. Dia mengikuti kita seharian. Dia sengaja ingin menemuiku. Merasa tidak punya celah karena kamu selalu di dekatku, makanya dia menitip pesan ke Raline. Sungguh, kami tidak janjian sama sekali. Dia menetap di sini beberapa bulan yang lalu. Belum lama ini kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Jadi...."


Aku mengangkat alis karena Reza tidak melanjutkan kalimatnya. "Jadi? Apa? Lanjutkan!"


Menundukkan kepala. Ada penyesalan dan rasa bersalah di wajah tampan kekasihku itu. Setidaknya itu yang kulihat. "Dia menuntut cerai pada suaminya. Dia tetap tidak bisa mencintai lekaki itu meski beberapa tahun bersama."


"Oh, nice. Dramatis sekali. Dengan kata lain, dia masih mencintaimu. Dia ingin kembali bersamamu. Menjalin kembali kisah cinta kalian yang sempat terhenti. Lalu, aku akan didepak dari hatimu karena itu tempatnya Salsya. Waw! Amazing." Kugigit bibir hingga terasa perih. Kerongkonganku seperti dicubit. Mataku memanas. Dengan susah payah aku menahan air mata yang mulai menggenang. Tapi sia-sia, ia tetap menetes tanpa izin. Aku menyerah, kubiarkan perih yang membelenggu hati luruh bersama derai air mata.


Kuhapus lelehan air yang meluncur dari sudut mata sambil mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku akan melepasmu dengan ikhlas. Mungkin kalian memang soulmate, cinta sejati. Sementara aku, aku hanya pendatang baru, pemeran pendukung yang tak berarti apa-apa. Hanya tempat persinggahan sementara. But, thanks. Kamu membuatku bahagia walau sesaat." Meskipun meninggalkan perih. Meski kamu mengoyak kembali hatiku yang sebenarnya bahkan belum menyatu secara utuh. Aku sakit, Mas. Batinku merontah. "Kamu bisa meninggalkan aku sekarang. Kamu kembali pada Salsya. Aku bisa melepasmu dengan ikhlas, sebab, kita belum menikah."


"Kalau kita sudah menikah? Apa yang akan kamu lakukan?"


Aku mengedikkan bahu, dan menggeleng pelan. "Entah. Mungkin aku akan membunuh kalian berdua. Terutama kamu. Aku tidak akan pernah menerima perselingkuhan. Aku tidak akan diam seperti Bunda. Minimal, akan kutelanjangi dia di depan umum."


Reza tertawa -- ngakak.


Hmm... dia mengajakku bercanda? "Ini bukan momen yang tepat untuk bercanda," tandasku.


"Kan kamu yang mengambil kesimpulan sendiri. Salsya cuma bilang kalau dia mau kembali ke Bogor, dia ingin meminta pekerjaan di resto, jadi koki seperti dulu. Bukannya mengajak aku balikan."


Kuhapus air mataku sesaat. "Sebab itu dia menggenggam tanganmu seperti memohon?"


Reza mengangguk.


"Lalu? Kamu mengiyakan?"


"Kubilang akan kubicarakan dulu padamu."


"Dan sebab itu dia merasa senang lantas memelukmu? Dan, kamu menikmati pelukannya?"

__ADS_1


Reza menggeleng. "Jangan cemburu," katanya. "Aku hanya... emm... ada semacam rasa kaget, karena aku belum pernah melihatnya lagi semenjak dia datang ke rumah, dulu, waktu dia datang berpamitan pada Ibu dan bilang kalau dia akan menikah dengan lelaki lain."


"Lalu?"


"Itu lebih dari tiga tahun yang lalu."


"Lalu?"


"Aku kasihan padanya."


"Alasan!"


"Aku tidak tega kalau menolaknya."


"Mas, dia yang meninggalkanmu, ingat?"


"Aku kasihan. Dia...."


"Dia menjanda. Dia yatim piatu. Dia tidak punya siapa-siapa. Kamu ingin menolongnya, menjadi pahlawan atas keterpurukannya? Seperti super hero yang selalu ada? Kamu siap melakukan segala hal demi mantanmu? Seperti itu? Waw! Manis sekali. Hebat sekali!"


Reza hendak memegangi bahuku, tapi aku menepisnya. "Kenapa kamu marah-marah begitu? Kamu belum dengar...."


"Apa kamu ingin menerimanya?"


"Sayang...."


"Supaya bisa bertemu dia lagi, kan?"


"Bukan seperti itu."


"Jawab saja, ya atau tidak."


"Kamu tidak mengerti."


"Buat aku mengerti," sahutku, dengan suara jauh lebih keras daripada yang kuinginkan.


Reza tertawa lagi, terkikik-kikik.


Aku kesal. "Apanya yang lucu?"


"Kamu. Kamu yang lucu. Ingat tidak baru saja kamu bilang kalau kamu akan melepasku dengan ikhlas? Tapi sekarang, lihat, kamu malah marah-marah. Any way, aku suka melihatmu cemburu." Senyum Reza mengembang. Kemudian, ia menyandarkan aku ke dadanya. Satu tangannya merangkulku, satu lagi mengelus-elus kepalaku. "Aku hanya kasihan melihatnya. Bukan karena masih punya perasaan. Tidak sama sekali. Aku tidak punya perasaan lagi pada Salsya. Meskipun ada sejuta Salsya, yang aku mau cuma satu, kamu. Inara Dinata. Kamu satu-satunya yang ingin kujadikan istriku, ratuku, permaisuriku, bidadariku. Di dunia ini ataupun di surga nanti. Hanya kamu."


Ahhh... dia gombal. Tapi dia berhasil membuatku meleleh.


"Aku sangat mencintaimu. Sangat sangat sayang padamu. Jangan sedih lagi, ya. Lupakan soal Salsya. Oke?"


Kutatap ia dengan penuh harap. "Mas," kataku sambil terisak, "jangan terima dia bekerja di resto, ya? Aku bukannya bermaksud jahat. Tapi... tolong, jangan memberikan kesempatan untuk orang ketiga hadir di antara kita. Mungkin... awalnya bisa saja karena kamu kasihan, seperti ayahku dulu. Tapi apa, ujung-ujungnya dia tergoda, sekarang hidupnya dikelilingi janda, kanan kiri oke. Semuanya mau dijadikan pasangan dan rela digilir. Aku tidak mau, Mas. Jika kamu nanti jadi suamiku, aku tidak mau berbagi suami dengan siapa pun. Seperti aku yang hanya milikmu, seperti itu juga aku mau kamu satu-satunya milikku. Janji?"


"Aku janji. Tapi kamu punya hutang maaf karena sudah menamparku semalam."


Hah! Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak! Aku tidak akan meminta maaf untuk itu. Sebab kamu salah, kamu membiarkan dia memegang tanganmu, kamu juga membiarkan dia memelukmu. Kalau lain kali kamu melakukannya lagi, bukan hanya sekadar tamparan yang akan kamu terima."

__ADS_1


"Hmm... oke." Dia mendengus keras. "Kuakui, aku sangat mencintaimu meskipun kamu barbar. Baikan, ya? Mas Reza sayang kamu."


Uuuh... dasar gombal.


__ADS_2