
Setelah makan siang, aku dan Reza berpamitan pada Alfi dan Mayra, kami langsung menuju panti asuhan, bersamaan dengan sepeda-sepeda itu diantarkan.
Sewaktu kami sampai di halaman parkir panti, Reza memandangiku dengan senyuman. Waktu itu ada air mineral di tanganku, aku meminumnya tanpa sedotan. Dan pandangan mata Reza itu membuatku risih. Aku khawatir dia akan jahil atau akan mengatakan sesuatu yang bisa membuatku kaget hingga tersedak dan air itu akan tumpah tepat di wajahku. Tapi untunglah kala itu Reza tidak jahil. Dia hanya ingin bicara serius padaku. "Setiap kali kamu pergi, aku selalu berpikir kalau kamu akan pergi ke Bandung," katanya.
"Ke Bandung?" Untuk sesat aku merasa bingung, tapi setelahnya aku langsung mengerti. "Oh, maksudnya ke sungai Cikahuripan?" tebakku.
Reza mengangguk. "Ya. Aku takut kalau kamu sampai putus asa atas hubungan kita."
"Kalau putus asa, mungkin iya. Tapi kalau untuk memohon harapan, aku selalu ingat kok dengan janji dan sumpahku. Aku tidak akan ke sana untuk melempar koin. Tapi kalau untuk hunting foto, bolehlah."
Reza tersenyum.
Dan, karena melihatnya tersenyum sambil meraih tanganku -- karena itulah aku langsung mengatakan, "Jangan mengucapkan permintaan maaf. Kamu sudah terlalu sering mengucapkannya dan rasanya basi. Paham?"
"Bosan ya mendengar aku meminta maaf?"
Aku mengangguk. "Sudah terlalu sering, Mas. Kamu minta maaf seperti makan kacang. Enteng."
"Terus? Harus dengan cara apa aku meminta maaf?"
Kuangkat kedua bahuku. "Jangan tanya bagaimana harus meminta maaf. Tapi usahakan semaksimal mungkin jangan melakukan kesalahan. Itu. Dan kuharap kamu mengerti." Aku pun membuka pintu dan keluar.
Sangat senang rasanya bisa menapakkan kaki lagi di tempat itu. Tidak tahu kenapa aku mulai kerasan. Entah karena aku sudah menerima amanah itu sepenuh hati atau karena aku mulai menyukai dan menyayangi anak-anak di sana. Terutama Khiara, dia langsung menghambur ke pelukanku begitu dia melihatku.
"Khiala kangen, Tante," katanya.
Ah, gemas sekali. "Tante juga kangen... sekali pada Khiara." Kami pun berpelukan. Kalau saja anak itu tidak berat, pasti sudah kugendong dia dalam dekapanku. "Coba tebak, Tante ke sini mau apa?"
Khiara menggeleng.
"Tante... bawa... sepeda untuk Khiara...."
Waw, praktis Khiara kegirangan sambil melompat-lompat. Melihat senyumannya dan celoteh-celotehannya memberikan kebahagiaan tersendiri di hatiku. Kami pun bergegas menuju mobil pengangkut dan membuka penutup terpalnya. Maksudku -- petugas yang mengantar sepeda itu yang membuka terpalnya dan kami hanya melihat. Begitulah.
Sesaat kemudian Reza dan pengurus-pengurus panti pun keluar dengan membawa semua anak-anak panti ke halaman. Satu sepeda untuk satu anak, dan semuanya suka. Aku jadi berpikir, pasti dulu aku juga sesenang itu saat bibiku membelikan sepeda untukku.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah bersedia memenuhi permintaanku. I love you."
Hmm... lagi-lagi mataku berkaca, tapi kali ini karena terharu, bukan karena sedih.
__ADS_1
"Kalau bisa, aku ingin lebih dari sekadar ucapan terima kasih," bisiknya. Lalu dia nyengir lebar nan usil.
Apa coba?
"Jangan mancing, ya! Bahu dan pinggangmu terluka, jangan sampai aku refleks memukulmu tanpa sengaja."
Well, apa pun yang terjadi berikutnya di panti itu, semuanya menyenangkan.
Sepulang kami dari panti, Reza mengajakku mampir ke minimarket. Seperti biasa -- untuk membeli es krim. Awalnya aku menolak karena aku takut Reza jahil lagi atau hendak menge-prank-ku lagi. Tapi dia berjanji tidak akan melakukan itu. Dia hanya ingin mengobrol denganku katanya. Akhirnya aku setuju, kami mengobrol di dalam mobil sambil makan es krim. Dan itu menjadi kebiasaan kami.
"Aku mau kamu pulang ke Jakarta, hari ini."
What?
Aku tercengang. "Kenapa? Kenapa kamu menyuruhku pulang?" Aku celingak-celinguk mencari kamera, kupikir mungkin Reza benar-benar sedang menge-prank-ku lagi.
"Jangan berpikir macam-macam," katanya. "Tidak ada kamera, it is not a prank. Aku hanya ingin memintamu pulang ke Jakarta. Kita berpisah dulu untuk sementara. Hanya sementara sampai menjelang hari pernikahan kita. Hanya delapan hari lagi, kan? Anggap saja kita dipingit."
Dipingit? Aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak suka gagasan itu.
"Tidak ada alasan untuk kita tinggal bersama saat ini. Di Surabaya, di Bali, Bandung, Puncak, itu karena kita liburan. Di rumahku, itu karena suasana duka. Di rumah sakit, karena kamu menjagaku. Sekarang aku sudah membaik, aku bisa mengurusi diriku sendiri. Kamu pulanglah dulu. Lagipula situasi sekarang sedang tidak kondusif. Aku tidak mau kalau ada hal yang membuatmu salah paham dan pergi lagi."
Reza meraih dan menggenggam tanganku lalu menggelengkan kepala. "Aku harus check up ke rumah sakit minggu depan. Beresiko kalau aku sering melakukan perjalanan jarak jauh. Ke Jakarta, balik ke Bogor, ke Jakarta lagi, terus terbang ke Palembang."
"Ya. Aku paham," kataku -- masih dengan sedikit kecewa. "Apa harus kita berpisah sementara?"
Reza belum sempat menjawab pertanyaanku, tetapi sebuah mobil yang parkir di sebelah kami mengalihkan perhatianku. "Ihsan?"
"Dia ke sini untuk menjemputmu," sahut Reza. Lalu ia mengajakku keluar.
Aku menggeleng-gelengkan kepada kedua orang itu. Mereka suka sekali menentukan sesuatu di luar sepengetahuanku, tanpa bertanya bagaimana menurutku, aku setuju atau tidak, bahkan aku suka atau tidak mereka seakan tidak peduli. Walau sebenarnya aku tahu, yang mereka lakukan adalah hal yang baik dan terbaik untukku.
Reza dan Ihsan mengobrol sejenak. Entah membahas apa, aku tidak memerhatikan.
"Kamu sudah siap?" Ihsan bertanya padaku yang masih mematung -- berusaha mengerti dan menerima apa yang mereka inginkan dariku.
Tetapi pada akhirnya aku menggeleng. "Aku...," aku tidak bisa berpikir cukup cepat. Tidak tahu harus berkata apa.
Ihsan bergerak mendekat dan menempatkan wajahnya tepat di depan wajahku. "Dengar, Mas Reza telah berusaha menyampaikannya dengan jauh lebih baik daripada aku, tapi aku akan tetap membawamu pulang, terserah kamu suka atau tidak. Dari yang kulihat, kamu tidak memiliki banyak pilihan." Ia menatap kuku jemarinya lalu menjentik-jentikkan satu dengan yang lainnya. "Besok Bunda akan pulang ke Palembang, dan kamu ikut pulang bersama Bunda."
__ADS_1
Aku mendelik lalu menatap kepada Reza. "Say something, please! Ini bukan gagasan yang bagus."
"Aku belum berhak untuk itu," Reza menjawab.
Kuhela napas dengan berat -- melapangkan dada. "Baiklah. Aku menurut."
Aku langsung masuk ke mobil dengan sebal. Kulihat Reza dan Ihsan sedikit bercakap-cakap, lalu Ihsan pun masuk ke mobil. Sebelum melajukan mobil, Ihsan membuka kaca jendela di sampingku sehingga Reza bisa melihatku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan.
"Tunggu," kataku ketika Ihsan hendak keluar dari halaman parkir minimarket. "Ikut aku, ada yang perlu kubicarakan."
Aku membuka pintu dan keluar dari mobil, diikuti Ihsan yang sigap menghampiriku. Aku berdiri sejenak di sana -- masih ragu bagaimana menuturkan syarat pranikah yang ingin kuajukan.
"Ada apa?" Reza bertanya seraya menghampiri kami.
Well, kuhela napas dalam-dalam lalu berkata, "Ada yang ingin kubicarakan. Dan tolong dengarkan aku sampai aku selesai bicara."
Reza dan Ihsan mengangguk.
"Aku... aku ingin mengajukan satu syarat, sebagai syarat sah-nya akad pernikahan kita, dan halalnya aku sebagai pasanganmu."
Praktis, penuturanku membuat kening Reza mengerut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan menunggu sampai aku selesai bicara. Sorot matanya menyiratkan kalau dia menungguku menyebutkan apa syarat yang kumaksud.
"Aku menginginkan kesetiaanmu dan keseluruhan dirimu hanya milikku. Kamu tidak boleh berpoligami selama aku mampu menjalankan kewajibanku sebagai istri. Kalau kamu melanggarnya, maka seketika itu -- aku haram bagimu. Karena itu sama artinya kamu sudah menjatuhkan talak atas diriku. Dan syarat ini bisa gugur jika aku tidak mampu lagi menjalankan kewajibanku sebagai istri. Misalnya, jika aku mengalami sakit menahun atau sakit parah yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Maka kamu boleh menikah lagi. Syarat ini juga bisa gugur jika aku sendiri yang memberikanmu izin untuk menikah lagi, semisal jika aku tidak bisa memberikanmu keturunan, aku akan mengizinkanmu berpoligami. Apa kamu menerima syaratku?"
Reza mengangguk, lalu dia maju lebih dekat padaku. "Aku menerima syaratmu," katanya sambil menaruh tangan kanannya di atas kepalaku. "Ihsan saksinya. Aku bersumpah, aku akan setia. Aku akan hidup dan mati hanya untukmu."
Mataku berkaca-kaca, meluap dari lubuk hati yang sarat dengan cinta -- persis setelah Reza selesai mengikrarkan sumpahnya -- menghapuskan semua ketakutan dan keraguanku untuk memulai komitmen baru -- PERNIKAHAN.
Reza menarikku ke dalam pelukannya -- pelukan yang erat -- seolah ia sedang menyatakan betapa besar cintanya kepadaku -- dengan seluruh jiwa dan raganya.
"Pulanglah," katanya sejenak kemudian. "Kabari aku kalau sudah sampai. Kabari aku juga saat kamu akan pulang ke Palembang."
Aku mengangguk. "Tolong selesaikan urusanmu dengan Salsya. Aku tidak ingin dia mengacau di hari pernikahan kita."
"Ya, akan kubuat dia mengerti. Jangan pikirkan soal itu."
Kuanggukkan kepalaku sekali lagi, lalu Reza membukakan pintu mobil untukku. "Kamu akan datang, kan?" tanyaku. Pertanyaan yang sama yang selalu kutanyakan setiap hari selama delapan hari berikutnya. Dan aku selalu mendapatkan jawaban yang sama, jawaban yang kuinginkan.
"Ya," katanya. "Aku akan datang. Pasti. Aku mencintaimu."
__ADS_1