
Aku terbangun oleh suara azan yang berkumandang merdu. Kukerjap-kerjapkan mataku, dan pikiranku melayang pada saat-saat seratus empat puluh empat jam yang lalu, enam hari yang indah. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku terbangun dengan perasaan bahagia.
Waktu itu hampir jam empat pagi, tetapi Reza tidak ada di dekatku. Aku yang masih setengah mengantuk, berusaha untuk bangkit dan berjalan keliling mes sambil membisikkan namanya. Dia tidak ada. "Permisi. Mas tahu Mas Reza ada di mana?" aku bertanya pada karyawan resto yang kutemui pagi itu.
"Jam segini Mas Reza biasanya di musala, Mbak. Di sana," katanya seraya menunjukkan arah.
Aku pergi ke sana, dan mendapati Reza sedang bersimpuh, khusyuk dalam salatnya. Seperti jiwa yang memohon pengampunan. Seketika terlintas dalam pikiranku, dalam waktu dua kali dua puluh empat jam kami bersama, dia tidak pernah meninggalkan salat, sekali pun.
Dalam keterpakuanku, aku menyadari, secara tidak langsung dan tanpa niat, aku seperti setan yang menguji keimanannya agar melakukan dosa. Aku jadi berpikir, apakah hasrat lelakinya tidak berkecamuk saat dia berduaan denganku? Atau dia bertarung hebat antara hasrat, hati dan pikiran? Jika iya, aku kagum, meski ia tidak mampu menolak untuk bersamaku, tapi ia mampu menahan diri dan mengalahkan hawa nafsunya.
Aku kembali ke kamar saat dia selesai salat. Aku tidak ingin Reza melihatku ada di sana. Aku merasa kecil, merasa hina, dan merasa tidak pantas untuk lelaki sebaik dia. Sedangkan Reza baru kembali ke kamar di saat matahari sudah terbit, di saat ruang kamar itu sudah terang-benderang dengan cahaya yang menyilaukan.
"Kamu sudah mandi?" tanya Reza.
Aku tahu dia hanya basa-basi bukan bermaksud benar-benar bertanya, karena jelas aku sudah berganti pakaian, celana jeans warna biru tua dan atasan lengan panjang dengan warna yang senada, aku tidak perlu memakai jaket untuk perjalanan pulang.
"Aku sudah bangun dari jam empat."
"Oh...."
"Kamu ke mana tadi?" Aku pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Dari musala."
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?"
Reza tersenyum. "Aku belum berhak membangunkanmu dari tidur hanya untuk mengajakmu salat. Aku takut kamu terganggu, takut kalau aku membuatmu merasa tidak nyaman," katanya. Lalu dia mendekat, duduk berlutut di depanku, menggenggam tanganku seperti biasanya. "Nanti, di saat kita sudah menikah, saat kamu sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawabku, dan semua dosa dan kesalahanmu beralih ke pundakku, aku akan sesering mungkin mengimami kamu salat. Kamu mau?"
Aku diam sesaat, menundukkan wajahku yang seakan penuh dengan kotoran. "Aku... aku rasa aku tidak pantas untuk lelaki sebaik kamu. Dan kamu tahu buruknya aku, kenapa kamu tetap mau menjadikan aku sebagai istri?"
Sekali lagi, Reza tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku. "Kamu tidak buruk. Kamu hanya butuh seseorang yang bisa mendampingimu, memegang erat tanganmu, dan selalu ada untukmu. Dan ak berharap orang itu adalah aku. Tapi aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu yakin bahwa akulah lelaki yang tepat untukmu."
"Permisi." Seorang karyawan berdiri di depan pintu. Dia membawakan sarapan untuk kami. Aku pun buru-buru menyeka air mata yang mengalir di pipiku.
Hei! Kau seperti sutradara yang mengatakan "cut!" saat adegan berlangsung. Ingin aku mengatakan itu keras-keras kepadanya karena dia datang di saat yang tidak tepat.
Setelah selesai memindahkan hidangan itu dari nampan ke atas meja, ia pun permisi lalu keluar dan menutup pintu. Entahlah, apa alasannya melakukan itu, padahal kan tidak ada seorang pun yang memintanya menutup pintu. Sudahlah, lupakan. Itu tidak penting.
"Sayang?"
"Emm?"
"Jawab aku. Kamu mau, kan?"
__ADS_1
"Tanya orang tua kita dulu," kataku. "Minta restu."
Reza mengangguk dan tampak sedikit kecewa. "Oke. Iya."
"Tapi... aku mau kamu selalu membangunkan aku untuk salat," kataku. "Aku mau menjadi makmum untukmu. Dan aku mau kamu menjadi imam yang akan selalu membimbingku."
Reza langsung tersenyum mendengar ucapanku, dan aku senang, aku menjadi alasan di balik senyuman itu. Seperti kata Raden Adjeng Kartini: Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.
Aku mencintainya, meski aku tidak mengatakannya. Cinta itu sudah bernaung di hatiku. Cinta yang aku yakini bahwa Reza merasakan -- meski tak kuutarakan. Cinta yang tumbuh hanya dalam hitungan hari, tapi sudah mengakar kuat di dalam hati.
Yeah, aku mencintai Reza Dinata, sosok lelaki biasa, namun dari lengan-lengannya terdapat serumpun bulu-bulu unggas yang terus mengembang menjadi sepasang sayap yang kokoh. Sayap itu lantas mengepak-ngepak membawaku terbang menuju sebuah padang yang dulunya hanyalah sebuah padang yang tandus. Tapi kini padang yang tandus itu tak lagi gersang. Hujan telah menyiraminya dan menjadikannya taman yang subur. Kini ia berubah menjadi surga dengan ribuan bunga penuh warna. Di sanalah aku, ke sanalah Reza membawaku. Sebuah tempat di mana aku mulai merajut mimpi-mimpi baru, mimpi-mimpi yang diwujudkan Reza satu per satu.
Singkatnya, aku tidak lagi merasa gersang sejak mataku melihat sosok Reza Dinata. Meski hari itu aku mesti terpisah sementara dengannya.
Well, sudah saatnya tiba. Hari itu aku tidak ikut mengantar Reza ke bandara. Justru dia yang mengantarku pulang ke tempat kost. Kuberikan padanya alamat adikku, Ihsan, di Jakarta Utara, ibuku tinggal di sana bersamanya.
"Aku akan mengirimkan oleh-oleh darimu untuk mereka," ucapnya tanpa melihat secarik kertas bertuliskan alamat itu, dia langsung menyimpannya ke saku kemejanya. Lalu dia melihat jam di pergelangan tangannya, meminta maaf, dan bilang dia harus pergi. Dengan dua tangan dimasukkan ke saku, dia menatapku sambil menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya hari itu aku mendapat kesan dia merasa nervous. Sambil terpaku menatap sepatunya, dia berkata, "Aku tahu aku belum memilikimu seutuhnya, tapi aku ingin mengatakan aku tidak mau kehilanganmu."
Aku tersenyum seraya maju selangkah ke arahnya, memeluknya dengan erat, supaya dia tahu bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Dia mengangkat wajah, mencondongkan badan, dan mengecup keningku. "Nanti kutelepon. Aku akan merindukanmu. Terima kasih untuk satu minggu yang indah. Aku menyayangimu."
Aku tidak menjawab. Kubiarkan ia melangkah pergi, sementara aku hanya berdiri memandanginya sampai dia berbelok di sudut sana dan sosoknya tidak kelihatan lagi.
__ADS_1
Aku menutup pintu, mendengarkan lagu-lagu dari playlist yang Reza download untukku, berulang-ulang. Aku rasanya bisa menghirup aroma Reza Dinata dalam suara-suara yang berkumandang dari earphone yang terhubung dengan ponselku.
Ah, aku sudah merindukan dirinya yang baru beberapa saat lalu bersamaku.