Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Happy Holiday


__ADS_3

Reza sedang menyusun barang-barang ke dalam mobil ketika aku keluar dari villa. Dia berdiri di belakang mobil dengan rambut yang sudah terikat rapi, hanya memakai celana jeans panjang dan T-shirt hitam yang senada dengan warna jeans-nya. Aku suka mengamat-amati dia tanpa sepengetahuannya, walaupun aku mendapat kesan dia selalu tahu sewaktu aku memandanginya. Seperti pagi itu, dia menoleh ke belakang dan mendapatiku yang sedang berdiri persis di depan pintu.


"Pagi, Sayang," sapanya sembari mendekat, memeluk, lalu mengecup pipiku.


Tanpa ragu aku bergelayutan memeluk pinggangnya. "Pagi, Mas," sahutku. Ia pun tak sungkan mengelus-elus rambutku, seolah tak ada siapa pun di sekitar kami.


"Ehm, dua sejoli ini, pagi-pagi sudah menebar kemesraan. Senang, deh, melihat kalian. Aku jadi kepingin pacaran lagi," ujar Mayra, yang hanya kami respons dengan cengiran.


Semua orang sudah siap berangkat pada jam enam pagi. Kami membagi rombongan menjadi tiga kelompok. Di mobil pertama, sebagai pemandu wisata dan penunjuk rute, ada Alfi dan dua teman sejawatnya, Reza dan Ari, beserta pasangan masing-masing, juga Tirta. Reza dan aku duduk di depan. Alfi, Mayra, dan Tirta duduk di kursi tengah. Sedangkan di kursi paling belakang ada Ari dan Zia. Waktu itu, aku tidak bisa melihat Zia dari depan, dia sedang mual, dan rebahan di pangkuan suaminya. Di mobil kedua ada Hengky dan Dimas dengan keluarga masing-masing. Hengky dan Dimas duduk di kursi depan, sedangkan istri dan anak-anak mereka tiduran di kasur mobil. Dan, di mobil ketiga, ada Ihsan, Aarin, Zaim, Zain dan Empat R bersaudara. Mobil kami beriring-iringan selayaknya sedang konvoi di jalanan.


"Wow, keren!" kataku sambil terperangah saat kami tiba di tempat tujuan pertama kami. Aku yang biasanya tidak suka ke tempat-tempat bersejarah, bangunan-bangunan kuno, atau tempat-tempat yang dikeramatkan, sangat berbanding terbalik ketika aku melihat destinasi-destinasi yang berada di sisi paling timur Pulau Dewata ini, yang menyimpan segudang potensi alam yang tiada duanya. Aku benar-benar takjub.


Tirta Gangga, tempat pertama yang kami datangi. Taman berkonsep istana air yang menjadi suguhan utama tempat itu. Banyak view yang keren dan instagramable, sungguh luar biasa kece. Aku sangat antusias melakukan sesi foto prewedding kami, meskipun aku cemas pada diriku sendiri, sebab aku masih saja nervous jika aku beradu pandang ataupun berhadap-hadapan dengan Reza yang berekspresi serius di hadapanku.


"Pakai ini," kata Mayra. Dia menyodorkan setelan dress panjang tanpa lengan, berwarna biru muda dan kemeja lengan panjang dengan warna senada. Reza dan aku menurut saja apa yang disuruh oleh tim photographer itu.


Sesaat setelah kami berganti pakaian, Zizi menekankan kepadaku dan Reza untuk ikut instruksinya. "Ingat," katanya, "abaikan semua orang-orang yang ada di sini, dan abaikan kalau di sini ada kamera. Anggap di sini tidak ada mata yang melihat dan tidak ada lensa kamera yang menyoroti apa yang kalian lakukan. Pandangan kalian jangan ke arah kamera. Oke?" perintahnya, ucapannya terdengar sangat tegas.


Untuk di awal sesi pemotretan, Zia mengarahkan kami dengan pose yang gampang ditiru. Dia menunjukkan foto prewedding ala Chef Arnold dan Tiffany. Jadilah di tengah-tengah kolam air yang banyak ikan itu kami berpose saling berpelukan dan memejamkan mata, dengan latar belakang air mancur dan dengan warna pakaian yang senada, kami mampu menirukan pose sang chef dengan epik. Lalu, foto kedua, dengan pose duduk, Reza bertelanjang dada ala Randy Pangalila, dan aku rapat di belakangnya, ikan-ikan yang diberi makan itu berkerubung mendekati kami. Itu pertama kali aku melihat seorang Reza Dinata bertelanjang dada. Aku sempat terperangah melihatnya, hanya sesaat, beberapa detik, tapi hampir membuatku jatuh masuk ke kolam. Hampir saja aku berenang bersama ikan-ikan itu. Tapi meski tidak terjatuh, tetap saja, aku malu karena Reza menyadari keterpukauanku saat melihat tubuhnya yang seksi.


Kemudian, untuk foto ketiga, di atas tangga, setelah kami berganti pakaian, kami diminta menirukan salah satu pose prewedding ala Franda dan Samuel Zylgwyn, lalu foto keempat, di taman yang kedua sisinya diapit kolam air, taman di dekat jembatan, kami berpose seolah sedang berciuman ala Jennifer dan Irfan Bachdim, tanganku di leher Reza, sedangkan tangan Reza di pinggulku. Bayangkan saja, betapa manis dan romantisnya kami dalam foto-foto itu, meski sebenarnya aku deg-degan setengah mati, beruntung aku bisa menutupinya dengan senyuman.


Destinasi kedua yang kami kunjungi adalah Pura Lempuyang Luhur. Diperlukan perjuangan yang besar untuk mencapai puncak destinasi ini, sebab, pengunjung harus menaiki lebih dari seribu tujuh ratus anak tangga. Sebelum naik ke atas, kami menyempatkan untuk berfoto di depan ketiga tangga pura. Foto dengan pose ala Samuel dan Franda, lagi. Setelah itu, barulah kami naik ke puncak, kami berfoto dengan latar belakang gerbang pura. Berhubung di sana pengunjung diwajibkan memakai kain, jadilah Zia meminta kami berpose ala Marcel Chandrawinata dan Deasy Priscilla. Seperti halnya Deasy yang bersandar di dada bidang Marcel dan keduanya diselimuti kain, seperti itulah kami berpose, romantis dan sangat intim.


Selanjutnya, perjalanan kami menuju Kompleks Taman Sukasada Ujung, taman dengan sejumlah bangunan sejarah kerajaan Karangasem yang merupakan kombinasi dari arsitektur Bali - Eropa - Cina. Bentuk bangunannya sangat megah, kokoh serta khas, tampilan dalam bentuk perpaduan arsitektur lokal dan luar.


Saat memasuki area Taman Ujung, mata kita akan langsung disambut dengan kolam ikan yang luas, namun perhatian kita juga akan dicuri dengan bangunan berpilar tanpa atap yang letaknya paling tinggi dengan kurang lebih seratus anak tangga. Tim photographer itu mengajak kami langsung naik ke sana untuk sesi foto selanjutnya.

__ADS_1


Berlatar belakang bangunan berpilar tanpa atap, foto prewedding kami semakin sempurna dengan layered gown warna merah yang senada dengan setelan jas Reza. Kami berdua bak pangeran dan putri yang berpose seromantis Samuel dan Franda, kami berhadapan, tangan Reza di pinggangku, dan tanganku kuletakkan di pinggang Reza. Lalu dia menyentuhkan hidungnya di pipiku. "Mungkin kita adalah reinkarnasi dari pangeran dan putri yang terlahir kembali," bisiknya. Aku tertawa mendengar ucapannya yang gombal tapi garing. Saat itulah Zizi menangkap potret kami dengan angle yang begitu sempurna.


Tempat wisata di Karangasem ini memiliki tiga kolam besar yang terdapat dalam satu tempat. Satu kolam berada di bagian selatan dan dua kolam berada di bagian utara. Di tengah kolam bagian selatan, terdapat sebuah bangunan tanpa dinding bernama Bale Bengong yang berada di tengah kolam. Sedangkan kolam yang berada di utara, luasnya lebih besar daripada kolam yang berada di selatan. Di tengah-tengah kolam di bagian utara terdapat jembatan yang digunakan untuk melintasi kolam, bentuknya sangat megah dengan bahan beton dan terdapat ornamen berupa deretan enam gapura lambang kerajaan Karangasem di setiap jarak tiga meter. Di situlah kami mengambil foto berikutnya, foto ala Jedar dan Richard Kyle. Aku diminta duduk di atas penyangga sisi jembatan, dengan memakai two piece dress warna kuning, bagian atasnya memiliki potongan off shoulder dan bagian bawahnya berupa rok slit yang memiliki belahan sampai ke paha. Sedangkan Reza diminta mencondongkan tubuhnya persis di depanku sambil bertelanjang dada.


"Mas, kamu tidak marah, kan, aku berpakaian seperti ini?" tanyaku.


Reza mengangguk dan mengisyaratkan aku untuk diam plus menurut saja. "Tidak masalah. Asal tidak untuk sehari-hari," katanya.


"Jangan ngobrol, dong!" protes Zizi. "Fokus. Tangan kiri Nara di leher Mas Reza, tangan kanan di atas kepala. Dan... senyum...."


Cekrek... pose ala Jedar dan Richard Kyle pun berhasil kami tirukan.


Selanjutnya kami ke Pantai Perasi, pantai yang dikenal dengan nama Virgin Beach menjadi tempat tujuan kami selanjutnya. Tempat kami istirahat sekaligus makan siang, juga menikmati kelapa muda sambil bersantai di warung yang ada di dekat pantai.


Pose pertama sesi prewedding kami di Virgin Beach adalah pose ala Marcel Chandrawinata dan Deasy Priscilla. Di kursi panjang itu Reza merebahkan dirinya ala Marcel, dengan menopang kepalanya dengan tangan kiri yang dikepal. Sementara aku duduk dengan mencondongkan badan serta kepala di atas Reza. Hidung kami bersentuhan, dengan mata saling bertatapan dan tertawa bahagia. Benar-benar momen yang sangat manis meski dengan pakaian kasual.


Foto ketiga, kami meniru gaya timeless ala Fendy Chow dan Stella Cornelia. Dengan latar belakang kombinasi pantai pasir putih dan air laut yang jernih nampak berwarna biru, Reza bertelanjang dada dengan bawahan celana pendek ala pantai -- menggendongku yang memakai button front midi dress, dengan hidung kami yang bersentuhan, dan tanganku di lehernya, foto itu nampak begitu manis.


"Yakin mau ke Bias Tugel?" tanya Alfi setelah kami semua beranjak dari Virgin Beach.


Rata-rata dari kami mengangguk. "Memangnya kenapa?" tanya Zaza.


"Harus trekking lagi dari parkiran sampai ke pantai. Tidak jauh, tapi lumayan," jawabnya.


Ekspresi sebagian orang yang belum searching di google -- langsung ngeri membayangkan nasib kaki mereka nanti malam.


"Kepalang tanggung, ya. Nanti malam kita panggil jasa pijit," ujar Alfi, dia tersenyum dan langsung masuk ke mobil.

__ADS_1


Dalam waktu lebih dari empat puluh menit, kami pun sampai ke pantai Bias Tugel. Pesona alam pantai Bias Tugel hadir dengan gugusan batu karang hitam di ujung pantai sebelah selatan dan utara yang seolah membingkai pantai ini menjadi lebih cantik dan menarik. Di sana, posisi art director diambil alih oleh Aarin. Lagi-lagi Ihsan menahan tawanya.


"Aku berani taruhan, pasti kalian diminta berpose ala artis Bollywood," katanya Ihsan.


Benar saja, di atas hamparan pasir putih itu kami memulai sesi foto di Pantai Bias Tugel. Kami duduk berdua, menirukan pose Hrithik Roshan dan Katrina Kaif dalam film Bang Bang. Reza duduk dengan memainkan gitar, sementara aku duduk tertawa kecil di belakangnya dengan menyandarkan kepala di pundaknya yang kekar. Dan foto pertama itu berhasil kami tiru.


Pose kedua, kami berdiri di atas batu karang, tangan Reza di pinggulku, dan tanganku di bahunya. Sisi kanan kepalaku bersentuhan dengan keningnya, dan kami memejamkan mata.


Dalam pose ketiga, masih dengan pose ala Hrithik Roshan dan di tempat yang sama, tapi dengan Kangana Ranaut dalam film Krrish 3. Kami berdiri saling membelakangi sambil mendongakkan kepala dengan mata terpejam.


Pose keempat, foto dengan pose ala Shahrukh Khan dan Kajol Devgan dalam cover film Dilwale, tapi dalam kostum ala pantai.


"Sini," panggil Zia yang sudah mendapatkan inspirasi baru. "Tiru pose ala Sibad dan Krisjiana," katanya seraya menunjukkan gambar di ponselnya.


Aku menggeleng. "Bunda bisa marah kalau posenya seperti itu," protesku.


"Kamu kan pakai ini, Ra. Bukannya telanjang. Mau, ya?" kata Zaza menimpali, seraya menunjuk tank top crop kemben tanpa tali yang kupakai, supaya aku tidak repot bolak balik ke toilet untuk berganti pakaian.


Sejenak kemudian, Zizi memasang tampang imut untuk membujukku. "Tenang, aku sudah minta izin pada Bunda. Bunda mengizinkan apa pun konsepnya, apa pun posenya, dan apa pun style fashion-nya, sumpah. Kata Bunda, asal tidak kelewat batas, tidak kelewat seksi, dan tidak kelewat vulgar. Cuma begini doang. Lagipula kalian bukan seleb, tidak akan viral. Aku yang tanggung jawab. Kumohon, demi karirku," katanya.


Reza menarik tanganku, menggandengku masuk ke air, menandakan bahwa dia menyetujui ide gila sepupu-sepupuku itu. Aku melangkahkan kaki sambil menahan tawa karena merasa geli membayangkan kami berendam di dalam air dengan pose begitu mesra, pose ala Krisjiana yang memeluk dan mencium pundak Sibad di dalam kolam air. Bayangkan saja.


Aarin, teman dekat Ihsan, juga ikut menggila seperti sepupu-sepupuku. Dengan antusias dan semangat empat lima, dia searching pose-pose ala artis Bollywood dan meminta kami untuk mempraktikkannya. Jadi, di dalam air yang jernih itu, Reza dan aku berpose ala Hrithik Roshan dan Katrina Kaif dalam film Bang Bang lagi. Aku berpose tegak dengan lutut, tanganku merangkul kepala Reza yang bersandar di dadaku, sementara tangan Reza memeluk tubuhku.


Selanjutnya, Aarin meminta kami menirukan pose mesra ala Shahrukh Khan dan Kareena Kapoor dalam cover Raat Ka Nasha Official Audio Song - Asoka. Foto yang waw meskipun aku tidak seseksi Kareena Kapoor dan Reza tidak sekekar dan tidak seseksi Shahrukh Khan.


Dalam pose terakhir di Bias Tugel, darahku langsung berdesir ketika Aarin menunjukkan pose-pose yang harus kami tiru. Hanya empat foto lagi, tapi luar biasa membuat jantungku melompat ke luar. Bagaimana tidak, kami harus menirukan dua pose utama ala Deepika Padukone dan Ranveer Singh dalam film Ram-leela, juga dua pose Sharadda Kapoor dan Sidharth Malhotra dalam film Ekk-Villian. Intinya wow!

__ADS_1


__ADS_2